Saranghaeyo, My Boss! – Chapter 2


srghyomyboss

Title : 

“Saranghaeyo, My Boss!”

Main Cast :

Im Yoona SNSD

Cho Kyuhyun Super Junior

Choi Sooyoung SNSD

Choi Siwon Super Junior

Other Cast :

Lee Donghae Super Junior

Jung Jessica SNSD

Genre :

Friendship, Romance

Author :

Charisma Rahmayanti

Rating :

PG-15

Disclaimer :

FF ini asli buatan sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan jika alur cerita sama. Saya hanya meminjam nama tokoh dan tempat. Jangan memplagiat FF ini!

Attention :

Mohon komentarnya agar dapat meningkatkan kemampuan saya dan untuk perbaikan positif ke depannya dalam menulis FF. Hope you all like it.

Selamat membaca ^_^

Copyright©rismarii

 

Author POV

Kyuhyun dan Yoona langsung beranjak dari posisi mereka. Perhatian keduanya tertuju pada sosok yeoja yang tengah berdiri di depan restoran. Yeoja itu terlihat sedikit terkejut memandangi keduanya.

“Sooyoung-ah . . .”

Yoona masih memperhatikan sosok yeoja yang tampak anggun dan terlihat cantik itu. Rambut panjangnya terurai dan wajahnya yang dipoles dengan make up natural, sesaat membuat Yoona tampak takjub melihatnya. Perlahan yeoja itu mendekati keduanya.

“Karena kau lama sekali, aku menyusul masuk,” tuturnya sambil tersenyum.

Kyuhyun terlihat canggung sembari menggaruk-garuk kepalanya. “Apa yang kau lihat bukan seperti yang kau bayangkan,” bisiknya lirih.

Yeoja itu tersenyum. “Arraseo. Apa dia karyawan barumu?” tanyanya sambil melirik ke arah Yoona.

Ne.” Kyuhyun menoleh ke arah Yoona. “Dia temanku, Choi Sooyoung.”

Yeoja bernama Sooyoung itu tersenyum pada Yoona sembari mengulurkan tanganya. “Sooyoung imnida.

Yoona terlihat gugup. “Yoona imnida.”

“Cepat selesaikan pekerjaanmu dan pulanglah. Jangan lupa kunci pintunya, nanti berikan kuncinya pada Shin ajussi, arraseo?” suruh Kyuhyun.

Yoona mengangguk. Dilihatnya Kyuhyun bergegas masuk ke ruang kerja dan tampak mengambil suatu barang. Lalu namja itu keluar dari restoran bersama Sooyoung. Begitu keduanya pergi, Yoona hanya menatap mobil yang mereka naiki tampak semakin menjauh. Sesaat yeoja itu tampak terdiam.

“Jika dibandingkan denganku, aku memang tidak ada apa-apanya,” ucap Yoona lirih.

Kyuhyun POV

Aku mengantar Sooyoung pulang ke rumahnya. Kulirik yeoja yang duduk di sampingku ini. Dia adalah teman dekatku sejak SMA. Sebenarnya diam-diam sudah lama aku menyukainya. Tapi, dia justru memilih berpacaran bahkan bertunangan dengan kakak kelas kami.

“Tidak seperti biasanya kau memintaku untuk mengantarmu pulang,” ucapku padanya.

Sooyoung menoleh ke arahku sembari tersenyum tipis. “Kau tahu sendiri jika dia sangat sibuk.”

“Sebaiknya kalian itu segera menikah. Bukankah kalian sudah bertunangan selama 3 tahun?”

Aku memang tidak memperhatikan Sooyoung secara langsung karena fokus mengemudi. Tapi, dapat kurasakan jika yeoja di sampingku ini tampak memendam sesuatu.

Wae? Apa kalian bertengkar?” tanyaku penasaran.

Kulihat Sooyoung menggeleng pelan. “Ani, hanya saja aku merasa kesepian karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.”

Aku langsung memberhentikan mobilku di pinggir jalan. Kulihat yeoja di sampingku ini tetap diam.

“Entah kenapa, aku justru merindukan saat aku menikmati waktu bersamamu, Kyu . . .”

Aku menoleh kaget ke arahnya. Jujur saja jantungku berdegup kencang usai mendengar penuturannya itu.

“Soo . . .”

“Ah, aku mulai bicara yang tidak-tidak. Mianhae . . .” ucapnya lirih. Kulihat dia seperti menyeka air matanya yang nyaris keluar.

“Aku sama sekali tidak keberatan jika kau memang ingin menemuiku dan membutuhkanku, kapanpun dan dimanapun, aku akan selalu ada untukmu . . .”

Sooyoung tersenyum memandangku. Ia menyenderkan kepalanya di bahuku.

Ne, kau memang teman terbaikku,” ucapnya.

Teman? Sampai kapanpun apakah aku hanya menjadi temanmu? Tidak bisakah kau mencintaiku juga, Choi Sooyoung? Aku hanya tersenyum tipis mendengarnya. Walau dalam hati rasanya aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku yang selama ini kusembunyikan darinya.

Yoona POV

“Kau yakin tidak apa-apa jika pulang sendiri?”

Aku tersenyum ke arah Shin ajussi. “Ne, aku sudah terbiasa.”

“Baiklah, hati-hati. Beristirahatlah,” tutur Shin ajussi.

Usai memberikan kunci restoran, aku bergegas kembali pulang ke rumah. Sebelumnya aku berniat mampir ke sebuah supermarket untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Begitu selesai berbelanja di supermarket, aku terkejut saat mendapati ketiga orang yang menggangguku di restoran tadi siang sudah berdiri di luar supermarket.

“Mau apa kalian?” tanyaku sedikit gugup. Aku berusaha bersikap tenang di hadapan mereka. Kulihat ketiga orang itu justru tersenyum menyeramkan ke arahku. Aku berjalan mundur, mereka justru mendekat. Hingga salah satu dari mereka menarik tanganku.

“Lepaskan!!” bentakku berusaha meronta.

“Sudahlah, ayo ikut kami!” tutur salah seorang dari mereka.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk meloloskan diri.

“Aku bilang lepaskan!”

“Lihatlah, saat marah dia semakin cantik!”

Aku terkejut mendengarnya. Rupanya gertakanku sama sekali tidak ditanggapi oleh mereka. Kembali aku meronta berusaha melepaskan genggaman tangan mereka.

“Lepaskan dia!”

Aku menoleh ke arah suara yang mengejutkanku. Kulihat sosok namja yang tampak mengenakan jas rapi sudah berdiri di belakang ketiga orang itu.

“Siapa kau? Mengganggu saja!”

Namja itu langsung melakukan serangan terhadap ketiga orang itu. Aku takjub saat melihatnya dengan mudah mampu melumpuhkan lawan dalam sekejap seorang diri. Ketiga orang itu langsung berlari terbirit-birit meninggalkan kami.

“Kau tidak apa-apa?” tanya namja berperawakan jangkung itu padaku. Aku sedikit gugup melihatnya, namja itu benar-benar tampan. Sesaat perhatianku tidak bisa lepas dari sosoknya yang tampak seperti seorang pangeran.

“Nona . . .”

Aku tersadar dari lamunanku. “Ne, gomawo. Aku sangat tertolong.”

“Apa kau mengenal mereka?”

Ani, aku sama sekali tidak mengenalnya. Sekali lagi aku sangat berterima kasih padamu, Tuan . . .”

Kulihat namja itu tersenyum ke arahku dan mengulurkan tangannya. “Choi Siwon imnida. Kau bisa memanggilku Siwon.”

Im Yoona imnida. Panggil saja Yoona.”

“Bolehkah aku mengantarkanmu pulang?” tawar namja bernama Siwon itu padaku.

“Ah, kau tidak perlu melakukannya. Aku tidak mau merepotkanmu,” tolakku secara halus.

Gwaenchana, aku tidak bisa membiarkan seorang gadis berjalan sendirian malam-malam begini.”

Wah, dia benar-benar seperti seorang pangeran. Berbeda sekali dengan sikap bosku.

Eotohge?

Aku tersenyum ke arahnya dan mengangguki tawarannya. Kuikuti Siwon yang berjalan menuju mobilnya, akupun diantar pulang oleh namja yang telah menolongku itu.

ooOoo

Author POV

Kyuhyun keluar dari kamarnya dengan rambut acak-acakan. Namja itu terlihat baru saja bangun dari tidurnya. Dilihatnya Shin ajussi tengah menyiapkan sarapan untuk keduanya.

“Kau baru bangun?” tanya Shin ajussi.

Kyuhyun mengangguk pelan lalu menarik kursi dan mengambil posisi duduk.

“Semalam dari mana? Kau pulang larut sekali.”

Kyuhyun terlihat asyik menikmati sarapan paginya. Namja itu hanya menatap Shin ajussi sembari menyantap sepiring roti bakar di mejanya.

“Aku pergi bersama Sooyoung, kuantar dia pulang,” jawab Kyuhyun.

Shin ajussi terlihat memandang keponakannya yang tampak menikmati sarapan. “Apa sampai sekarang kau masih mencintainya?”

Kyuhyun sedikit terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Namja itu mengangguk pelan sembari fokus menghabiskan sarapannya.

“Aish, apa kau tidak bisa mencari orang lain? Sampai kapan kau mau menunggunya? Sadarlah, dia itu sudah bertunangan,” tutur Shin ajussi.

“Sulit bagiku untuk melupakannya. Kurasa tidak ada orang yang dapat menggantikan posisi Sooyoung di hatiku,” balas Kyuhyun sembari meneguk segelas susu di meja.

“Ah, Yoona-ssi!”

PRAT! Kyuhyun tersedak saat mendengar nama Yoona keluar dari mulut Shin ajussi. Namja itu terlihat terbatuk-batuk sembari mengusap-usap dadanya.

Wae?” tanya Shin ajussi sembari mengambil tissue untuk membersihkan meja yang terkena cipratan susu yang diminum Kyuhyun. Namja paruh baya itu mendekati keponakannya dan terlihat mengusap-usap punggungnya agar kondisinya lebih stabil.

Ajussi, kenapa kau tiba-tiba menyebutkan nama Yoona. Mengagetkanku saja,” ucap Kyuhyun kesal.

Shin ajussi mengernyitkan dahinya. “Yoona? Ah, aku tadi hanya teringat padanya karena semalam dia mengantarkan kunci restoran padaku. Ini.”

Kyuhyun menerima kunci restoran yang diberikan Shin ajussi. Namja itu terlihat masih kesal.

“Atau, bisa jadi ucapanku tadi akan menjadi kenyataan,” kata Shin ajussi terkekeh.

“Apa maksudnya?”

Shin ajussi tersenyum ke arah keponakannya. “Mungkin saja Yoona bisa menggantikan posisi Sooyoung di hatimu.”

Mwo? Mana mungkin aku dengannya. Yeoja ceroboh seperti dia, sama sekali bukan tipeku. Lagipula, dia sering bertindak kurang sopan terhadapku. Sama sekali tidak menghargai aku sebagai bosnya,” kata Kyuhyun.

“Itu karena kau terlalu kasar dan keras terhadapnya. Dia itu masih karyawan baru, tidak seharusnya kau berlaku dingin padanya,” balas Shin ajussi.

“Sudah seharusnya sebagai bos aku bersikap keras dan tegas terhadap bawahanku sendiri,” ucap Kyuhyun.

“Tidak selamanya semua bawahan mau menerima perlakuan bos sepertimu,” kata Shin ajussi lalu berjalan menuju dapur. Meninggalkan Kyuhyun yang tampak terdiam usai mendengar ucapannya.

Yoona POV

Hari ini terasa cerah. Aku sedikit merenggangkan tubuhku sejenak saat tengah sibuk membereskan restoran yang hendak dibuka. Sesekali aku tersenyum kala mengingat kejadian semalam. Choi Siwon, namja yang usianya 6 tahun di atasku itu, benar-benar orang yang baik. Walau kami baru bertemu kemarin, tidak kusangka kami langsung berteman baik.

*

“Kau pernah belajar beladiri sebelumnya?” tanyaku saat Siwon tengah mengantarku pulang.

Kulihat namja itu tersenyum sembari menoleh ke arahku. “Ne. Bagiku itu sangat penting.”

“Pantas, kau terlihat seperti pendekar.”

Siwon terlihat menahan tawa. “Pendekar?”

Aku mengangguk sembari fokus memperhatikan jalan. “Kau berhasil melumpuhkan mereka yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan denganmu. Benar-benar cepat sekali. Hebat.”

Seketika tawa Siwon meledak usai mendengar penuturanku. Aku hanya menatap bingung ke arahnya.

“Wae?”

“Ani, aku belum pernah bertemu dengan gadis lucu sepertimu. Berapa usiamu?”

Aku terkejut mendengar pertanyaannya. “20 tahun.”

“Wah, ternyata aku lebih tua 6 tahun darimu,” ucap Siwon.

“Jinjja? Berarti seharusnya aku memanggilmu dengan sebutan Oppa,” tuturku kaget.

Siwon menggeleng sembari tersenyum. “Ah, tidak perlu. Kau memanggil namaku saja tidak masalah. Justru terdengar lebih akrab.”

Aku tertawa kecil mendengarnya. Dalam waktu singkat, aku dan Siwon tampak sudah akrab.

*

 

“Kenapa tersenyum sendiri?”

Aku menoleh ke arah suara yang membuyarkan lamunanku. Kulihat bosku sudah berdiri tepat di depanku.

“Kau ini, mengagetkanku saja.”

Kyuhyun hanya tersenyum sinis. “Bukannya bekerja malah berdiri diam sambil melamun, cepat lanjutkan pekerjaannmu!”

“Kau ini memang tidak pernah bersikap ramah terhadap bawahanmu sendiri. Terutama denganku,” ucapku kesal padanya.

“Itu karena kau selalu bertindak kurang ajar terhadapku. Hanya kau satu-satunya bawahan yang berani melawan bosnya sendiri,” kata Kyuhyun.

“Kapan memangnya aku bertindak kurang ajar padamu?”

Kyuhyun mendekatkan wajahnya tepat di hadapanku. Jantungku sedikit berdegup kencang saat wajahnya nyaris tidak ada jarak. Saat kuperhatikan, ternyata Kyuhyun memiliki wajah yang tampan. Dapat kurasakan hawa panas di wajahku.

“Sudah sejak awal harusnya kau kupecat. Tapi, kau selalu merengek dan memohon padaku agar tidak memecatmu. Apa itu tidak menunjukkan bagaimana sikap kurang ajarmu padaku?”

Aku menahan emosiku yang meluap. Rasanya ingin sekali aku memukulnya saat kulihat bosku itu berjalan menuju ruang kerjanya. Benar-benar membuatku kesal.

Kyuhyun POV

Entah kenapa aku terus memikirkan perkataan Sooyoung semalam. Sesaat aku merasa kasihan terhadapnya. Kenapa raut wajahnya semalam menunjukkan kesedihan yang sangat mendalam. Mungkinkah dia bertengkar dengan tunangannya?

DRRT! Ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku tersentak dan bergegas menjawab panggilan masuk.

Yeoboseyo . . .”

“Kyuhyun-ah, kau sedang sibuk?” terdengar suara Sooyoung dari seberang telepon.

Ani, aku hanya sedang memeriksa beberapa berkas saja,” tuturku padanya.

“Sebentar lagi jam makan siang, apa kau mau pergi denganku?”

Ada rasa senang saat mendengar ajakannya itu. Tanpa pikir panjang aku langsung menyanggupi ajakannya. “Baiklah, nanti kau kujemput. Aku selesaikan pekerjaanku secepatnya.”

KLIK! Kuletakkan ponselku kembali. Aku bergegas menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin.

TOK! TOK! Kudengar seseorang mengetuk pintu ruang kerjaku.

“Masuklah . . .”

Aku menoleh ke arah Yoona yang tengah mengantarkan secangkir teh untukku. Kulihat yeoja itu datang sembari memasang raut wajah cemberut. Seketika perhatianku teralihkan padanya.

“Apa begitu caramu melayani orang lain?”

Yeoja di depanku itu hanya menatapku dengan diam. Diletakkannya secangkir teh di atas mejaku.

“Im Yoona!”

“Apa?!”

Aku terkejut mendengar reaksinya yang justru berteriak keras padaku.

“Kau . . . berani sekali kau membentak bosmu! Kau ingin segera kehilangan pekerjaanmu?!” ancamku sembari menatap ke arahnya.

“Tidak, tidak!” ucapnya sembari memohon padaku. “Kau ini suka sekali mengancamku dengan pekerjaan.”

“Itu karena kau berbuat salah. Kenapa saat mengantarkan minumanku kau sama sekali tidak tersenyum, justru memasang raut wajah cemberut seperti itu. Apa saat kau melayani pengunjung juga melakukan hal yang sama? Bisa-bisa mereka lari dari restoranku,” kataku kesal.

Ani, jika dengan pengunjung, aku tersenyum. Hanya padamu saja, aku tidak bisa melakukannya.”

Aku langsung menatap tajam ke arah yeoja yang berdiri di depanku. Belum pernah aku bertemu dengan orang seperti Yoona. Hanya dialah satu-satunya karyawan yang berani melawanku.

“Lakukan sekali lagi! Tapi, kau harus tersenyum,” suruhku tegas.

Kulihat yeoja itu tidak bergerak dan hanya menatapku dengan wajah kesalnya.

“Cepat!”

Dalam hati aku sedikit menahan tawa saat melihatnya kembali mengambil secangkir teh itu dan berjalan keluar ruang kerjaku. Kulihat Yoona kembali masuk dan wajahnya seketika berubah dari sebelumnya. Ia tersenyum walau aku tahu yeoja itu berusaha menahan kesal menghadapiku. Sesaat aku terpesona melihat senyumannya. Yoona terlihat cantik saat tersenyum.

Ah, tunggu dulu! Pasti aku sudah tidak waras. Aku memalingkan wajahku ke arah berkas yang kupegang. Aku berusaha mencuri pandang saat Yoona meletakkan secangkir teh di meja kerjaku. Ia masih tersenyum. Aku kembali merasakan debar di jantungku.

“Kau boleh keluar.”

Kulihat Yoona  membungkuk ke arahku lalu bergegas berjalan keluar ruang kerjaku. Begitu yeoja itu keluar, aku menarik nafas dalam-dalam. Berusaha menata diriku yang tampak aneh. Ada apa denganku ini? Kenapa sesaat bisa terpesona dengan yeoja seperti Yoona?

Yoona POV

Aku kembali ke pantry dengan wajah kesal. Donghae yang sedang menata pesanan untuk pengunjung tampak menatapku bingung.

Wae? Bukankah kau baru saja mengantarkan minuman untuk bos? Kenapa wajahmu cemberut seperti itu?”

“Dia adalah orang yang sangat menyebalkan yang pernah aku temui. Kau tahu apa yang dilakukannya padaku?”

Donghae menggeleng pelan sembari mengulum senyum.

“Hanya karena aku tidak tersenyum saat memberikan minuman untuknya, dia memarahiku dan menyuruhku untuk mengulanginya,” ucapku sembari meneguk segelas air putih yang ada.

Donghae tertawa mendengar penuturanku.

“Apa bos memang selalu berbuat seperti itu terhadap bawahannya?”

“Tidak juga. Bos memang orang yang tegas dan selalu menuntut apapun itu dilakukan dengan sempurna dan sesuai dengan keinginannya. Mungkin karena kau satu-satunya bawahan yang berani melawannya, makanya dia berbuat demikian,” ucap Donghae.

Jinjja? Kalian hanya diam saja saat mendengar kata-kata pedas dari mulutnya?”

Donghae mengangguk pelan. “Itu sudah etika kita sebagai bawahan untuk selalu menghormati atasan kita. Apapun yang dilakukannya, posisinya lebih tinggi daripada kita.”

“Aish, aku sendiri tidak tahan saat mendengarnya berucap sembari mengeluarkan kata-kata pedasnya itu. Sangat menyakitkan dan membuat telingaku panas. Tanpa basa-basi aku pasti langsung membalas ucapannya,” ucapku pada Donghae.

Donghae tertawa kecil. “Tapi, sebenarnya bos itu orang yang baik dan sangat perhatian. Jika kau lebih mengenalnya, kau dapat melihat kebaikan yang ada pada dirinya.”

Aku terdiam saat mendengar penuturan Donghae. Mungkin saja apa yang dikatakan Donghae benar. Dibalik sikap bosku yang sangat dingin dan juga perhitungan itu, siapa tahu ada kebaikan yang tersembunyi.

Author POV

Jam makan siang pun tiba. Banyak pengunjung yang datang untuk menikmati waktu istirahat mereka. Semua karyawan tampak sibuk melayani pengunjung. Yoona tampak kelelahan. Donghae melirik ke arah yeoja yang tengah terduduk lemas itu.

“Kau terlihat lelah, sebaiknya kau makan siang dulu,” tutur Donghae.

“Benar aku boleh istirahat dulu?” tanya Yoona.

Donghae melirik ke arah Jessica yang berdiri di meja kasir. “Dia boleh istirahat dulu kan?”

Yoona memandang Jessica yang terlihat sedikit berpikir.

“Baiklah, tidak lebih dari setengah jam. Kau harus segera kembali begitu selesai,” tutur Jessica.

Yoona mengangguk, lalu tersenyum ke arah Donghae yang juga ikut tersenyum padanya. Yoona bergegas keluar dari restoran.

DRRT! Tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Yeoboseyo . . .”

“Yoona-ya, ini aku Siwon.”

Wajah Yoona berubah cerah. “Ah, kau rupanya. Ada apa?” Yeoja itu berjalan sembari mengobrol dengan Siwon melalui telepon.

“Apa kau ada waktu? Aku berniat mengajakmu makan siang,” ucap Siwon.

“Kebetulan sekali, aku sedang jam istirahat, kita mau makan siang dimana?”

Langkah Yoona terhenti sejenak. Yeoja itu tampak serius mendengarkan lokasi yang diberitahukan Siwon. “Ah, baiklah. Aku segera ke sana.”

KLIK! Yoona memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Yeoja itu terlihat bergegas menemui Siwon di tempat yang sudah diberitahukan sebelumnya.

Yoona berjalan menuju sebuah restoran yang lokasinya tidak terlalu jauh darinya. Restoran itu khusus menyajikan makanan ala barat. Yoona tersenyum pada pelayan yang menyapanya dengan ramah. Kemudian ia mencari sosok namja yang sedang menunggunya. Matanya melakukan pencarian menelusuri seluruh sudut restoran. Pencariannya terhenti pada sosok namja yang terlihat memandangnya sembari melambaikan tangan ke arahnya. Yoona pun bergegas menghampirinya.

“Kau sudah lama menunggu?” tanya Yoona.

Ani, aku baru saja datang,” jawab Siwon. “Pesanlah makanan. Aku yang traktir.”

Yoona tersenyum tipis. “Seharusnya aku yang mentraktirmu, kemarin kau sudah menyelamatkanku. Paling tidak aku harus membalasnya.”

Siwon tersenyum. “Gwaenchana. Lagipula aku memang ingin mentraktirmu. Sebagai awal pertemanan kita.”

“Baiklah. Tapi, lain kali biar aku yang mentraktirmu. Eotohge?

Siwon tertawa kecil sembari mengangguk ke arah Yoona. Keduanya tampak memilih pesanan makanan yang mereka inginkan. Sambil menunggu pesanan datang, Yoona dan Siwon tampak asyik mengobrol untuk lebih mengenal satu sama lain.

“Saat aku mengantarkanmu pulang kemarin, apa kau tinggal sendirian?”

Yoona mengangguk pelan.

“Kedua orang tuamu?”

Sesaat Yoona terdiam. “Mereka sudah meninggal 3 tahun lalu akibat kecelakaan.”

Siwon terkejut mendengarnya. “Mianhae, aku tidak bermaksud . . .”

Gwaenchana,” tutur Yoona.

Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Keduanya tampak berhenti mengobrol sejenak untuk menyantap makan siang.

Kyuhyun POV

Mobilku berhenti di depan sebuah restoran favorit Sooyoung. Aku bergegas keluar dan membukakan pintu mobil untuk Sooyoung. Yeoja itu tersenyum memandangku. Kami berjalan masuk ke restoran.

Sooyoung tampak berbicara dengan salah seorang pelayan. Sementara aku tengah memperhatikan seluruh sudut restoran. Seketika pandanganku terhenti pada sosok yeoja yang tampak sedang menikmati makan siang bersama seorang namja. Tunggu, bukankah itu Im Yoona?

Tanpa ragu aku berjalan mendekat ke arahnya. Kurasakan Sooyoung langsung bergegas mengikutiku dari belakang.

“Sedang apa kau disini?”

Yoona menoleh ke arahku dan tampak terkejut. “Kau? Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku tanya padamu, sedang apa kau disini?”

Yoona kembali memperlihatkan raut wajah kesalnya. “Tentu saja menikmati jam makan siangku. Aku sudah minta izin pada Donghae dan Jessica.”

Aku menahan kesal saat melihatnya menatapku dengan tatapan sinisnya. Perhatianku langsung tertuju pada namja yang duduk di hadapan Yoona. Namja itu menoleh  ke arahku. Seketika aku terkejut.

Hyung . . . sedang apa kau . . .”

Tanpa kusadari Sooyoung sudah berdiri di belakangku. “Kyuhyun-ah . . . kenapa kau tiba-tiba . . .” Kalimatnya terhenti saat melihat sosok namja yang menoleh ke arah kami. “Siwon oppa?”

“Sooyoung-ah . . . kalian pergi bersama?”

Aku terdiam dan tidak berkata apapun. Perhatianku langsung beralih pada Yoona yang tampak memandangi kami bertiga dengan wajah bingungnya.

-TBC-

Huah, cukup susah juga untuk nulis part 2 nya. Gimana menurut kalian? Ini aku tambah 1 halaman dibanding part sebelumnya, mian jika masih kurang panjang. Untuk FF Just For You, sampai sekarang aku belum bisa membuatnya, masih harus sabar dulu ya, hehe🙂
Gomawo😀

signature

31 thoughts on “Saranghaeyo, My Boss! – Chapter 2

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s