Just For You – Chapter 1


justforyou

Title : 

“Just For You”

Main Cast :

Cho Kyuhyun Super Junior

Im Yoona SNSD

Lee Donghae Super Junior

Jung Jessica SNSD

Other Cast :

Park Jungsoo Super Junior

Kim Taeyeon SNSD

Genre :

Romance, Sad

Author :

Charisma Rahmayanti

Rating :

PG-15

Disclaimer :

FF ini asli buatan sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan jika alur cerita sama. Saya hanya meminjam nama tokoh dan tempat. Jangan memplagiat FF ini!

Attention :

Mohon komentarnya agar dapat meningkatkan kemampuan saya dan untuk perbaikan positif ke depannya dalam menulis FF. Hope you all like it.

Selamat membaca ^_^

Copyright©rismarii

Author POV

Sebuah rumah mewah tampak berdiri megah di kota Seoul. Rumah bergaya Eropa itu mampu membuat tiap orang yang lewat di depannya menatap takjub.

Matahari sudah lama menyapa sejak beberapa jam yang lalu. Terlihat di sebuah kamar yang cukup luas yang dihiasi atribut kemewahan, seorang namja masih tertidur pulas di balik selimutnya.

“Tuan Muda . . .”

Namja itu tidak bergeming walaupun kepala pelayan di rumahnya terlihat berusaha membangunkannya sejak tadi. Sampai akhirnya namja itu membuka selimutnya dan terlihat memperhatikan ke luar jendela dengan mata masih setengah terpejam. Silau matahari membuat namja itu memalingkan wajahnya ke arah kepala pelayan yang sudah berdiri di samping ranjangnya.

Mianhae, Tuan Muda Kyuhyun. Semua sudah berkumpul di ruang makan. Anda harus segera bersiap.”

Namja bernama Kyuhyun itu hanya mengangguk sembari beranjak dari ranjangnya. Penampilannya terlihat acak-acakan. Kepala pelayan yang membangunkannya tampak keluar dari kamarnya.

Cho Kyuhyun, putra dari pengusaha kaya raya di Seoul. Walau berasal dari keluarga yang berada, bukan berarti namja itu memiliki kepribadian baik seperti anggapan kebanyakan orang. Kyuhyun sering menghabiskan waktunya hanya untuk bersenang-senang, menghamburkan uang appanya. Tak pernah sekalipun ia membantu mengurus perusahaan appanya. Padahal appanya sudah menyuruh Kyuhyun untuk bekerja, tapi ditolak mentah-mentah olehnya.

Kyuhyun berjalan keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju ruang makan. Tampak semua anggota keluarga sudah berkumpul. Kyuhyun melirik ke arah sosok namja yang duduk di sebelah appanya. Raut wajahnya kembali menunjukkan rasa malas untuk sarapan pagi bersama.

“Kenapa kau baru bangun? Semalam dari mana saja?”

Kyuhyun tidak menjawab pertanyaan appanya. Namja itu lebih memilih diam sembari mengambil makanannya.

“Kenapa kau diam saja dan tidak menjawab pertanyaan appa?

Kyuhyun langsung menoleh tajam ke arah namja di depannya. Lee Donghae, secara hukum sudah sah menjadi saudara tirinya, saat appanya memutuskan untuk menikah dengan eommanya Donghae.

“Untuk apa aku menjawabnya, Lee Donghae?”

“CHO KYUHYUN!”

Kyuhyun hanya menoleh sekilas ke arah appanya. Namja itu langsung beranjak dari kursinya.

“Selera makanku hilang, lebih baik aku pergi,” ucapnya sembari berjalan keluar dari ruang makan.

Tampak Mr. Cho memandang kesal ke arah putranya itu. Donghae hanya menatap adik tirinya itu dengan raut wajah menahan kesal.

“Bersabarlah, aku yakin sikap Kyuhyun suatu hari pasti akan berubah,” tutur Mr. Cho.

Ne, appa . . .

Donghae hanya tersenyum tipis sembari memandang ke wajah eommanya yang tampak terlihat sedih.

Kyuhyun POV

Aku berjalan menuju mobil sport berwarna hitam milikku yang sudah terparkir di depan rumah. Kunyalakan mesin dan melajukan mobilku menuju suatu tempat. Hampir setiap hari, acara sarapan pagiku berakhir seperti ini. Sampai bosan, rasanya aku ingin keluar saja dari rumah ini.

Sejak appa memutuskan kembali menikah, aku sangat membencinya. Bagaimana tidak? Appa menikah hanya berselang 1 tahun setelah eomma meninggal. Sampai sekarang pun aku belum bisa menerimanya. Bagiku mereka hanyalah orang asing. Aku benar-benar muak melihatnya. Tidak peduli sebaik apapun eomma tiriku itu, aku belum bisa menerimanya. Terutama dengan kakak tiriku, Lee Donghae.

Aku meraih ponselku dan memasang earphone.

“Kau dimana?” tanyaku pada temanku, Park Jungsoo, atau biasa dipanggil Leeteuk.

Aku mendengarkan sembari fokus mengemudi. “Baiklah, aku segera ke apartemenmu.”

Kupercepat laju mobilku menuju apartemen Leeteuk. Tak berapa lama, akhirnya mobilku berhenti di sebuah gedung apartemen elite di kota Seoul. Aku memarkirkan mobilku di basement dan bergegas menemui Leeteuk. Menaiki lift menuju lantai 5.

“Kau sudah sampai?” tanya Leeteuk saat membukakan pintu kamar apartemennya. Aku sudah berdiri di depan kamarnya dan hanya terdiam sembari mengangguk.

“Masuklah . . .”

Aku langsung masuk dan duduk di sofa ruang tamunya. Sedikit merebahkan tubuhku yang kurasa sangat lelah.

“Apa sarapan pagimu kembali terganggu?” tanya Leeteuk seperti biasa. Ia memang sudah hafal dengan masalah yang menderaku.

“Seperti biasa . . .” jawabku singkat.

Kulihat Leeteuk membuatkan secangkir kopi untukku. “Tidak bisakah kau merubah sikapmu itu? Mau sampai kapan kau terus menolak kehadiran mereka? Bagaimanapun juga kalian ini sudah resmi menjadi saudara.”

“Kau tidak bosan mengatakannya? Aku sendiri sampai bosan mendengarnya.”

Leeteuk hanya memandangku sembari menggelengkan kepalanya. Ia berjalan mendekat dan meletakkan secangkir kopi di meja depanku. Aku langsung beranjak dari posisiku dan mengambil minumanku.

“Apa kau ingin mengajakku kembali makan di luar?” tanya  Leeteuk padaku.

Aku hanya tersenyum tipis. “Kau pasti sudah tahu bukan? Untuk apa kau tanyakan lagi . . .”

Leeteuk tersenyum. “Bagiku tidak masalah. Asalkan jangan aku yang mengeluarkan biaya tiap kali kau mengajakku makan di luar.”

Mwo?!

“Hei, kalau kau yang mengeluarkan uang, tidak masalah karena kau memang terlahir sebagai orang kaya. Sedangkan aku? Aku harus bekerja keras sendiri baru bisa sukses seperti ini . . .”

Aku hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan temanku itu. “Arraseo, arraseo. Kajja . . . aku sangat lapar.”

“Jika memang sangat lapar kenapa tidak makan di rumah? Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikapmu ini . . .”

Kudiamkan saja pendapat Leeteuk saat aku berjalan keluar dari kamar apartemennya. Leeteuk bergegas mengikutiku dari belakang. Kami pun berjalan menuju basement tempat mobilku terparkir.

Author POV

“Yoong . . .”

Seorang yeoja menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia mengambil tongkatnya lalu berjalan menuju suara. Yeoja itu tampak berjalan perlahan dengan berhati-hati. Tongkatnya ia pergunakan untuk mengetahui keadaan sekitarnya.

Yeoja bernama Im Yoona, mengalami kecelakaan saat kecil hingga membuatnya kehilangan kedua orang tuanya dan penglihatannya. Wajah cantiknya tampak tersenyum seolah tidak memperlihatkan kekurangannya kepada orang lain. Meskipun kondisi kedua matanya itu tidak bisa melihat, Yoona tetap tidak putus asa dalam menjalani hidupnya. Yeoja itu tampak tegar dan berusaha bangkit mengumpulkan biaya untuk operasi kedua matanya.

“Ada apa, Taeyeon-ah?” tanya Yoona lembut kepada temannya, Kim Taeyeon.

“Aku mau mengantarkan bunga pesanan Tuan Choi, tidak terlalu jauh dari sini. Apa kau mau ikut?”

Yoona mengangguk. “Tentu. Aku ingin sekali.”

Taeyeon mendekat lalu menggandeng lengan Yoona. “Kau jangan pernah lepaskan tanganmu dariku, ne?

“Kau ini, bukankah aku sudah ada tongkat? Untuk apa menggandengku segala?”

“Aish, aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu. Pokoknya kau harus menuruti perkataanku.”

Yoona kembali tersenyum. “Arraseo, aku akan patuh padamu.”

Walau ia tak dapat melihat wajah temannya, dapat Yoona rasakan bahwa Taeyeon tersenyum ke arahnya.

Keduanya bergegas keluar dari toko bunga peninggalan orang tua Yoona. Bersama dengan Taeyeon, Yoona mempertahankan toko bunga yang didirikan oleh orang tuanya. Keduanya bekerja keras mengumpulkan uang hasil penjualan bunga untuk biaya operasi mata Yoona. Kedua mata Yoona memang buta, tapi tidak permanen. Artinya, masih dapat melihat kembali dengan jalan operasi mata.

Sesampainya di lokasi yang dituju, Taeyeon menyuruh Yoona untuk menunggu sebentar di luar.

“Kau tunggu sebentar, aku segera kembali,” ucap Taeyeon.

Yoona mengangguk. Taeyeon bergegas masuk untuk mengantarkan pesanan bunga. Tak lama kemudian, Taeyeon kembali keluar dan menghampiri Yoona.

“Sudah selesai?” tanya Yoona saat ia merasakan tangan Taeyeon menggandengnya.

Ne, sebelum pulang, kita mampir sebentar untuk membeli makanan, eotohge?

“Baiklah,” jawab Yoona.

Keduanya berniat membeli makanan di area seberang jalan. Taeyeon tampak menggandeng Yoona saat keduanya akan menyeberang. Tiba-tiba, sebuah barang yang berada dalam tas Taeyeon terjatuh, yeoja itu terlihat membungkuk untuk mengambilnya. Tanpa disadarinya, tangannya terlepas dari tangan Yoona sehingga membuat Yoona tampak sudah berjalan lebih dulu darinya.

Taeyeon terkejut dan bergegas mengejarnya hingga disadarinya ada mobil yang melaju kencang dari arah kiri.

“YOONA!”

CKIT! Mobil itu tampak langsung berhenti nyaris tak ada jarak dengan Yoona. Yeoja itu tampak kaget dan langsung terduduk.

“Hei! Apa kau tidak punya mata?! Menyeberang sembarangan tanpa melihat ada mobil yang melaju kencang!”

Taeyeon langsung menghampiri Yoona yang terlihat mencari tongkatnya yang  terlepas. Yeoja itu membantu Yoona berdiri dan langsung menatap tajam ke arah namja yang mengendarai mobil.

“Bicaramu sungguh keterlaluan!” bentak Taeyeon sembari menarik Yoona bergegas ke seberang jalan.

Kyuhyun POV

Aku menatap tajam ke arah yeoja yang baru saja membentakku. Kupalingkan wajahku ke arah lain.

“Kyuhyun-ah . . . lihatlah! Dia memang tidak bisa melihat,” tiba-tiba Leeteuk menyikutku dan membuatku menoleh ke arah yeoja yang berjalan di depan kami. Sontak aku terkejut. Kulihat yeoja itu memegang tongkatnya dan berjalan pelan dengan digandeng temannya. Seketika aku merasa bersalah padanya karena sudah mengatakan hal yang buruk padanya.

Aku langsung menginjak pedal gas dalam-dalam dan melajukan mobilku dengan cepat. Kubuang jauh-jauh pikiran yang menggangguku tadi.

Mobilku berhenti di sebuah restoran yang cukup ternama. Aku dan Leeteuk bergegas masuk ke restoran. Perhatianku langsung tertuju pada sosok yeoja yang tampak sedang duduk di salah satu meja pengunjung. Kulihat ia melambaikan tangan ke arahku. Aku berjalan mendekat ke arahnya.

“Kau datang . . .” ucapnya sembari memelukku. Aku pun membalas pelukannya.

“Sudah lama menunggu?” tanyaku padanya. Kulihat ia hanya menggeleng sembari tersenyum.

“Hei, Jessica! Lama tidak bertemu!” sapa Leeteuk.

Jessica Jung, dia adalah kekasihku. Kami sudah berpacaran selama 2 tahun. Latar belakang keluarganya sama sepertiku. Sama-sama berasal dari kalangan orang berada.

“Kau tahu, saat perjalanan ke sini. Kami hampir saja menabrak orang,” tutur Leeteuk.

Jinjja?” Kulihat Jessica melirik ke arahku. Aku sedang menikmati makanan yang kupesan, sementara ia meneguk segelas orange juice. Perhatianku langsung beralih pada Leeteuk yang tampak memesan makanan lebih banyak daripada aku.

“Sudahlah, aku tidak mau membahasnya. Lebih baik kita nikmati makanan yang sudah dipesan,” ucapku. “Lihat dirimu! Kau memesan lebih banyak daripada aku. Dasar.”

Leeteuk hanya terkekeh sembari memandangku. Jessica juga turut tersenyum melihatnya.

“Besok, apa kau mau ikut aku?” tanyaku pada Jessica.

“Kemana?”

“Aku akan pergi ke makam eomma. Besok adalah hari peringatan kematiannya.”

“Aku ingin sekali ikut, tapi masih banyak hal yang harus kukerjakan. Tidak apa kan?”

Sebenarnya aku sedikit kecewa mendengarnya. Sudah berapa kali aku mengajaknya tapi Jessica selalu menolaknya.

“Baiklah. Aku akan pergi bersama Leeteuk,” ucapku.

Mwo? Kenapa aku?”

“Kau sudah makan gratis hari ini. Besok kau harus ikut denganku!”

Kulihat wajah Leeteuk saat memandangku. Benar-benar terlihat konyol.

Yoona POV

Mianhae, Yoong. Kau hampir saja tertabrak mobil karena aku,” ucap Taeyeon.

Aku tersenyum mendengarnya. “Sudahlah, berapa kali kau mengatakan itu padaku?”

“Tetap saja aku merasa bersalah. Aku benar-benar ceroboh.”

“Taeyeon-ah . . .”

“Apa yang sedang kalian perdebatkan?”

Aku mencoba mengenali suara yang mengejutkanku.

“Donghae-ah?” Aku mencoba menebak si pemilik suara.

“Benar, ini aku. Yoona-ya . . .”

Dapat kurasakan namja itu tersenyum padaku.

“Kenapa kau terlihat sedikit murung, Taeyeon-ah?” tanya Donghae pada Taeyeon. Aku hanya menunggu keduanya sembari tersenyum.

“Hampir saja Yoona tertabrak mobil karena aku.”

“Aish, kau lagi-lagi mempermasalahkan itu. Sudah kubilang lupakan saja, lagipula aku selamat bukan?”

Aku tertawa kecil dan berusaha menenangkan Taeyeon yang masih saja merasa bersalah.

“Taeyeon-ah, bolehkah aku meminjam temanmu sebentar?”

Aku terkejut mendengar penuturan Donghae.

“Ah, baiklah. Aku akan kembali dulu ke toko. Kalian berdua pergilah,” ucap Taeyeon dan kudengar langkah kakinya yang menjauh dari kami.

“Ada perlu apa denganku?” tanyaku pada Donghae.

Kurasakan tangan Donghae menggenggam lembut tanganku. “Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Kemana?”

Author POV

Donghae tampak membawa Yoona ke sebuah taman bunga. Yoona tampak berpegangan pada Donghae. Yeoja itu terlihat bingung dan penasaran.

“Ini dimana?” tanya Yoona.

Donghae tersenyum. “Coba kau rasakan sebentar. Gunakan saja indra penciumanmu.”

Yoona tampak terdiam dan mencoba memejamkan matanya. Seketika raut wajahnya berubah cerah.

“Ini taman bunga?” tanyanya bersemangat.

“Benar.”

Donghae memandangi yeoja di sampingnya. Wajahnya terlihat bersemangat walau tetap ada kesedihan di balik senyumannya.

“Kau sudah jauh-jauh mengajakku ke sini? Tapi, aku sama sekali tidak bisa melihatnya,” tutur Yoona.

“Biar aku yang menjadi mata untukmu. Kajja . . .

Dengan penuh perhatian, Donghae tampak menggandeng Yoona dan mengajaknya berkeliling taman bunga. Namja itu menceritakan semua bunga yang ada dan menyuruh Yoona untuk memegangnya. Yoona tampak antusias mendengarkan semua yang dituturkan oleh Donghae.

Usai menikmati pemandangan taman bunga, keduanya tampak beristirahat sejenak di sebuah kursi taman yang tampak kosong. Donghae kembali memperhatikan yeoja yang duduk di sampingnya.

“Apa kau senang?” tanya Donghae sembari tersenyum.

Yoona mengangguk. “Sangat senang. Walaupun aku tidak bisa melihatnya secara langsung, melalui ceritamu dan bahkan menyentuh beberapa bunga yang ada di sini, aku sudah bisa membayangkan betapa indahnya taman bunga ini.”

“Kau benar, taman bunga ini memang sangat indah,” tutur Donghae.

Yoona tersenyum. Dapat ia rasakan Donghae sedang menatapnya.

“Apa bisnis bunga peninggalan orang tuamu berjalan lancar?”

Yoona mengangguk. “Sedikit demi sedikit, aku pasti bisa mengumpulkan uang untuk operasi kedua mataku.”

“Kenapa kau sama sekali tidak mau menerima bantuanku? Kau tidak perlu bekerja keras seperti ini . . .”

Ani, kau tidak perlu membantuku. Kau sudah terlalu banyak menolongku, aku tidak mau merepotkanmu,” ucap Yoona.

Yeoja itu dapat merasakan Donghae kembali menggenggam tangannya. “Aku melakukan semua ini hanya untukmu. Tidak bisakah kau menerimanya?”

“Donghae-ah . . .”

Kyuhyun POV

Begitu tiba di rumah, aku langsung masuk ke kamarku.

“Kyuhyun-ssi . . .”

Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Kulihat eomma tiriku tampak berjalan mendekat ke arahku.

“Kau baru pulang?”

Aku mengangguk dan kembali berjalan menuju kamarku.

“Makan malam sudah siap, ayo kita makan bersama.”

Aku menoleh dan memandang wajah yeoja paruh baya di depanku ini. “Aku mau langsung tidur.”

“Kyuhyun-ssi . . .”

Aku hanya menatap tajam ke arah eomma tiriku.

“Aku tahu kau memang tidak bisa menerimaku sebagai eommamu. Tapi, bisakah kau bersikap baik pada Donghae? Dia sama sekali tidak bersalah, aku dan appamu yang justru memaksakan kehendak kami demi kebahagian kami sendiri tanpa memperdulikan perasaan kalian.”

Aku hanya diam dan tidak membalas pernyataannya. Rasanya aku sudah bosan mendengarnya. Aku berbalik, meninggalkan eomma tiriku dan bergegas masuk ke kamar. Dapat kurasakan jika eomma tiriku itu masih memandangiku dari belakang.

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Aku memperhatikan langit-langit kamarku. Kupejamkan mataku sejenak. Sesaat, aku kembali teringat kejadian tadi siang. Hampir saja aku menabrak seseorang. Kupikir sebelumnya karena orang itu yang sudah gila saat menyeberang tidak memperhatikan jalan. Setelah mengetahui kebenarannya, aku justru merasa bersalah padanya karena rupanya dia tidak bisa melihat. Jika Leeteuk tidak memberitahuku, aku tidak akan tahu kondisi yang sebenarnya.

Jika diperhatikan baik-baik, yeoja tadi tampak cantik. Matanya begitu indah. Sayang kenapa ia tidak bisa melihat. Ah, kenapa sejak tadi yeoja itu terus terngiang dalam pikiranku?

Yoona POV

“Kau harus segera tidur, besok pagi kita akan mengunjungi makam kedua orang tuamu.”

Aku mengangguki ucapan Taeyeon. Kurasakan temanku itu membantu posisi tidurku dan menarik selimutku.

“Taeyeon-ah, aku tidak tahu harus berkata apa padamu. Kau selalu membantuku, gomawo . . .

“Aish, kau ini bicara apa? Sejak kedua orang tuamu meninggal, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjagamu. Apalagi, saat kau akhirnya kehilangan penglihatanmu. Aku sangat sedih, dan bertekad akan membantumu mengumpulkan uang untuk biaya operasi kedua matamu.”

Kurasakan tangan Taeyeon menggenggam tanganku. Aku tersenyum mendengarnya.

“Ngomong-ngomong, kau dan Donghae tadi pergi kemana?”

“Dia mengajakku ke taman bunga.”

Jinjja? Kurasa dia benar-benar menyukaimu, Yoong . . .”

Aku sedikit tersipu mendengarnya. “Hentikan, jangan menggodaku.”

“Hei, aku benar bukan? Dia itu benar-benar tulus padamu. Bahkan menawarkan diri untuk membantu biaya operasi matamu.”

“Aku tidak mau merepotkannya. Lagipula, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak bergantung pada orang lain,” ucapku pada Taeyeon.

Arraseo, arraseo. Sudahlah, lebih baik kita segera tidur.”

Author POV

Kyuhyun tampak menunggu Leeteuk di depan apartemennya. Di bagian belakang mobilnya sudah ada bunga yang ia persiapkan khusus untuk mengunjungi makam eommanya. Dilihatnya Leeteuk keluar dari gedung apartemen dan segera menghampiri Kyuhyun.

“Lama sekali,” ucap Kyuhyun kesal.

“Aish, sudah bagus aku mau menemanimu,” balas Leeteuk santai.

Kyuhyun hanya memandang kesal ke arah temannya itu. Namja itu langsung menyalakan mesin dan melajukan mobilnya menuju lokasi makam eommanya.

Begitu tiba di lokasi, Kyuhyun dan Leeteuk tampak berjalan menyisiri area pemakaman yang berada di wilayah Seoul. Keduanya berhenti di depan sebuah makam. Kyuhyun tampak memberikan bunga yang dibawanya lalu memberi hormat di hadapan makam eommanya. Leeteuk juga melakukan hal yang sama dengan Kyuhyun.

“Apa kabarmu, eomma?” tutur Kyuhyun. Namja itu terlihat berusaha tegar di depan makam eommanya.

Ahjumma . . . ini aku Leeteuk. Bagaimana kabarmu di sana? Kuharap kau selalu bahagia,” ucap Leeteuk yang berdiri di samping Kyuhyun.

Eomma, aku tahu kau pasti sedih dan kecewa melihatku bertengkar dengan appa,” Kyuhyun tampak meneteskan air matanya. Leeteuk berusaha menguatkan temannya yang kembali larut dalam kesedihan.

“Sampai kapanpun aku tidak bisa menerima keputusan yang diambil appa untuk menikah lagi. Itu terlalu sulit, dan sangat menyiksaku. Bagiku mereka orang asing, aku belum bisa menerima kehadiran mereka, eomma . . .”

Namja itu langsung tertunduk ke arah makam eommanya. Hatinya benar-benar sedih dan kalut tiap ia mengunjungi makam eommanya. Rasa sedih itu terus terngiang kala mengingat kepergian eommanya akibat penyakit leukimia.

Usai mengunjungi makam eommanya, Kyuhyun dan Leeteuk bergegas menuju mobil Kyuhyun yang terparkir di luar area pemakaman. Leeteuk tampak memperhatikan sekeliling dan matanya berhenti pada satu titik. Dilihatnya dua orang yeoja yang tampak tidak asing baginya. Namja itu langsung bergegas mendekati keduanya dan meninggalkan Kyuhyun yang berjalan di belakangnya.

“Kau mau kemana?” tanya Kyuhyun pada Leeteuk.

Leeteuk tidak menjawab. Namja itu terus berjalan meninggalkan Kyuhyun. Mau tidak mau Kyuhyun mengikuti temannya itu.

Leeteuk semakin dekat dengan dua orang yeoja yang tengah memberikan penghormatan di depan dua makam.

“Ah, ternyata penglihatanku tidak salah!” serunya kencang.

Seketika dua orang yeoja itu menoleh ke arahnya.

“Kau masih mengingatku? Kalian yang kemarin bukan . . .” Leeteuk tampak bersemangat mengajak yeoja di depannya untuk berbicara.

Kyuhyun mempercepat langkahnya dan segera menyusul Leeteuk.

“Sebenarnya apa yang kau . . .”

Kalimat Kyuhyun terhenti saat melihat sosok yeoja yang berada di hadapan Leeteuk. Yeoja yang hampir saja ia tabrak sebelumnya.

-TBC-

Akhirnya part 1 jadi juga. Mian kalo agak lama, jujur untuk FF yang ini emang agak susah kubuat *curhat*abaikan* hehe. Mudah2an ceritanya sesuai deh dan part selanjutnya lebih baik, oke? Gomawo😀

signature

33 thoughts on “Just For You – Chapter 1

  1. thefoursix says:

    Donghae gencar banget deh ya kayanya pedekate ke Yoona-nya wkwk yaelah si Kyuhyun harusnya pertemuan pertama mah buat yang berkesan lah ini… gapapa ding kalau ga gitu kan ga bakal ketemu Yoona terus kepikiran, ngerasa bersalah, dan berakhir bersama ya, Kyu? Wkwkwk. Hayolooooh mau ngomong apa deh tuh si Kyuhyun ketemu sama Taeyeon & Yoona, mana keknya si Taeyeon bakalan judesin si Kyuhyun grgr udah ngomong kasar ke Yoona. Next ya kaaak😀

  2. Mayang says:

    kirain jessi di jodohin am kyu , ehh ternyata emang pacaran , hehehe
    uda ngebayangin seh pasti KyuNa bakal sulit buat sama” banyak halangan dan rintangan nya:/
    ya tetep aja seh berharap slalu happy ending🙂

  3. zubaidah says:

    Pertemuan pertama yang gk mengenakan..
    Ngmng2 wania yang bertemu leeteuk dipemakaman
    Itu taeyeon sama yoona ya?
    Kira2 bagaimana reaksi kyuhyun kalo ketemu lagi sama yoona
    Perempuan yang udah dikatain sma dia
    Mnta maaf kah atau sebaliknya.

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s