Saranghaeyo, My Boss! – Chapter 4


srghyomyboss4

Title : 

“Saranghaeyo, My Boss!”

Main Cast :

Im Yoona SNSD

Cho Kyuhyun Super Junior

Choi Sooyoung SNSD

Choi Siwon Super Junior

Other Cast :

Lee Donghae Super Junior

Jung Jessica SNSD

Genre :

Friendship, Romance

Author :

Charisma Rahmayanti

Rating :

PG-15

Disclaimer :

FF ini asli buatan sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan jika alur cerita sama. Saya hanya meminjam nama tokoh dan tempat. Jangan memplagiat FF ini!

Attention :

Mohon komentarnya agar dapat meningkatkan kemampuan saya dan untuk perbaikan positif ke depannya dalam menulis FF. Hope you all like it.

Selamat membaca ^_^

Copyright©rismarii

Yoona POV

“Kau kupecat!”

Aku terdiam memandang bosku yang berdiri di depanku. Sungguh aku sangat kecewa terhadap perlakuannya.

“Kau bisa segera mengemasi barang-barangmu.”

Aku membiarkan bosku melewatiku begitu saja. Kurasakan mataku mulai berlinang air mata. Aku sedikit terisak, tapi berusaha kututupi karena tahu Shin ajussi dan Donghae berada di belakangku.

“Aku ke toilet sebentar,” ucapku pada mereka.

Kurasakan Donghae dan Shin ajussi tampak memandang sedih ke arahku. Sementara Jessica justru terlihat lebih senang daripada mereka.

Aku membasuh wajahku dengan air. Berusaha menutupi air mataku yang mulai mengalir. Sungguh aku benar-benar kecewa dengan perlakuan Kyuhyun padaku. Memangnya apa salahku? Hanya karena aku diantar oleh Siwon, dengan mudahnya dia memecatku.

Langkah kakiku membawaku berhenti di depan loker kerjaku. Aku mengambil beberapa barang milikku dan berkemas.

“Yoona-ya . . .”

Kulihat Donghae sudah berdiri di belakangku. Tampak Shin ajussi dan Jessica juga berdiri di sampingnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Donghae padaku.

Aku tersenyum tipis. “Gwaenchana. Gomawo, atas bantuan kalian selama ini.”

“Kuharap kau bisa segera menemukan pekerjaan baru,” tutur Shin ajussi.

Jessica hanya menatapku sekilas. “Aku tidak yakin . . .”

Aku hanya memandang sebentar ke arah Jessica yang seolah senang dengan berhentinya aku bekerja di sini. Aku berjalan melewati ruang kerja bosku. Tadinya aku berniat untuk berpamitan dengannya, tapi kuurungkan niatku itu. Lebih baik aku pergi tanpa berbicara sepatah katapun padanya.

Aku berjalan menuruni tangga restoran. Entah kenapa, suhu tubuhku terasa panas. Pandanganku sedikit kabur. Aku terdiam sebentar. Setelah kurasa kondisiku mulai stabil, aku kembali berjalan. Tapi, aku tidak tahu apa yang terjadi. Seketika pandanganku gelap.

Author POV

Beberapa pengunjung restoran tampak panik dan mendekat ke arah yeoja yang terjatuh dan terguling dari tangga.

“Nona! Nona!”

Pengunjung yang lain bergegas memanggil Donghae dan Jessica yang tengah membereskan meja.

Mianhae, ada gadis yang terjatuh dari tangga dan sekarang ia pingsan,” ucap pengunjung itu. Donghae dan Jessica langsung bergegas turun, diikuti Shin ajussi. Betapa terkejutnya mereka saat mendapati Yoona tak sadarkan diri.

“Yoona!!”

“Kenapa bisa begini?” tanya Jessica terlihat panik.

“Jessica, cepat kau beritahu Kyuhyun!” suruh Shin ajussi.

“Baik,” ucap Jessica.

Jessica bergegas menuju ruang kerja Kyuhyun. Tanpa pikir panjang ia langsung membuka pintu ruang kerja bosnya hingga membuat Kyuhyun kaget dan nyaris jatuh dari kursinya.

“Jessica! Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu?!” bentak Kyuhyun.

Mianhae! Bos harus segera turun sekarang!” ucap Jessica.

“Memang kenapa? Ada masalah?” tanya Kyuhyun heran.

“Yoona . . . dia . . .”

Kyuhyun terlihat semakin penasaran dengan ucapan Jessica. “Kenapa dengan Yoona?”

Jessica justru terdiam. Kyuhyun langsung bergegas turun dan meninggalkan Jessica yang terbengong.

Kyuhyun terkejut saat mendapati kerumunan orang di bawah restoran, dilihatnya ada Shin ajussi dan Donghae, lalu Yoona yang tak sadarkan diri.

“YOONA!” Kyuhyun bergegas turun dan menghampiri Yoona.

“Yoona! Kau bisa mendengarku?” ucapnya panik.

“Kyuhyun, kita harus membawanya ke rumah,” usul Shin ajussi.

Ne, ajussi! Donghae, segera kau hubungi dokter!” suruh Kyuhyun. Namja itu langsung membopong Yoona dan membawanya ke rumah dibantu Shin ajussi.

Yoona dibaringkan di kamar Kyuhyun. Wajahnya terlihat pucat, ia masih tidak sadarkan diri. Tak lama kemudian, dokter datang dan bergegas memeriksa kondisi Yoona. Kyuhyun terlihat gelisah, begitu juga dengan Shin ajussi. Sementara Donghae dan Jessica menunggu di restoran. Restoran langsung ditutup sementara.

“Hanya karena Yoona pingsan, kenapa restoran ditutup?” gerutu Jessica kesal.

“Jessica! Kau tahu saat ini sedang genting, bicaramu keterlaluan,” balas Donghae.

“Bos terlalu berlebihan,” ucap Jessica.

“Hentikan! Jika Bos mendengar perkataanmu, kau pasti akan kena masalah,” ancam Donghae.

Jessica buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Kyuhyun POV

Aku masih memperhatikan dokter yang memeriksa kondisi Yoona. Kulihat yeoja itu masih tidak sadarkan diri, keningnya seperti terluka karena membentur tangga. Entah kenapa sejak tadi perasaanku sangat gelisah melihat kondisinya.

“Bagaimana kondisinya, Dokter?” tanya Shin ajussi.

“Dia hanya demam, kurasa kelelahan. Harus banyak beristirahat, luka di keningnya juga hanya lecet saja, tidak parah,” jawab dokter.

Aku lega mendengar penuturan dokter. Perhatianku langsung beralih pada Shin ajussi yang tampak tersenyum padaku.

Ajussi . . . kenapa tersenyum?”

Ani, bukan apa-apa. Hanya sedang memikirkan sesuatu saja,” jawab Shin ajussi kembali tersenyum.

“Kalian hanya perlu memberinya obat penurun demam dan beberapa vitamin agar kondisi tubuhnya kembali pulih.”

“Baik, Dokter.”

Kulihat Shin ajussi mengantar Dokter keluar dari kamarku. Aku terdiam dan kembali memandang Yoona. Mendadak ada rasa bersalah dalam diriku. Membuatnya kelelahan hingga jatuh pingsan seperti ini. Aish, kenapa aku harus bertengkar hebat dengannya? Kuakui aku tersinggung mendengarnya membandingkanku dengan Siwon-hyung. Aku langsung kalap dan kata-kata itu muncul begitu saja dari mulutku. Jika dipikir-pikir lagi, aku yang salah, bukan dia. Kurasa sikapku tadi sungguh keterlaluan.

Hampir 1 jam aku menemaninya di kamarku. Mengganti kompresnya, menyuapinya obat walau dalam keadaan terbaring, aku terus berada di sisinya. Shin ajussi masuk ke kamarku dan tampak tersenyum memandangku.

“Apa demamnya sudah turun?” tanya Shin ajussi.

“Kurasa begitu,” jawabku sembari mengganti kompres.

“Apa kau menyesal telah memecatnya?”

Aku tersentak mendengar pertanyaan Shin ajussi.

“Entahlah, aku tidak tahu.”

“Sebaiknya kau pikirkan kembali ucapanmu. Kau jangan salah paham terhadap Yoona, dia itu hanya diantar pulang oleh Siwon karena kebetulan saja, tidak disengaja. Lagipula, semua ini kan salahmu sendiri. Kenapa membiarkan seorang gadis membawa barang begitu banyak?”

Aku terdiam mendengar penjelasan Shin ajussi. Perhatianku masih tertuju pada Yoona.

“Kau ini terlalu berlebihan jika menyangkut masalah Sooyoung. Mau sampai kapan kau menjadi pelindungnya? Dia itu sudah bertunangan, dan Siwonlah yang berkewajiban untuk melindunginya, bukan dirimu. Kenapa kau tidak mencoba memikirkan kebahagiaanmu sendiri?”

Shin ajussi memang benar. Kurasa aku sudah bersikap berlebihan. Melimpahkan semua kesalahanku pada Yoona.

“Coba aku tanya, kau marah Yoona terlalu dekat dengan Siwon, karena kau tidak mau Sooyoung terluka atau karena kau cemburu melihat Yoona lebih bersikap baik terhadap Siwon daripada denganmu?”

Kontan aku menoleh kaget ke arah Shin ajussi. Kulihat ia tersenyum lebar.

“Cemburu? Mana mungkin? Sudah kubilang jangan berpikiran yang macam-macam,” elakku.

“Baiklah, tapi menurutku, kurasa kau memang mulai tertarik dengan Yoona bukan? Walaupun kalian sering bertengkar, kau justru terlihat lebih memperhatikannya dibanding siapapun.  Kau selalu berdalih, saat memarahi Yoona karena terlalu dekat dengan Siwon demi Sooyoung, padahal kau sendiri yang memang tidak suka melihat kedekatan antara mereka.”

Ajussi . . .

Shin ajussi hanya tertawa melihatku. Dalam hati aku sedikit kesal karena mulai menyadari pendapat yang dituturkannya ada benarnya. Ah, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Yoona POV

Aku membuka kedua mataku dan terkejut saat melihat diriku berada di tempat yang tidak kukenal sebelumnya. Dimana ini? Seingatku aku tadi baru keluar dari restoran. Aku mencoba memperhatikan sekelilingku. Perhatianku langsung beralih pada kompres yang berada di keningku. Apa yang terjadi?

Aku beranjak bangun dari posisi tidurku. Aku terkejut saat mendapati sosok namja telah tertidur di sampingku. Kulihat wajahnya tampak kelelahan.

Dalam hati aku senang saat mengetahui Kyuhyun yang merawatku. Tapi, aku teringat kembali perlakuannya padaku kemarin. Jika mengingat hal itu, rasa sedih tidak bisa lepas dariku.

“Ngg . . .”

Aku menunggu Kyuhyun yang tampak mulai terbangun dari tidurnya. Kulihat namja itu langsung memandang ke arahku saat membuka matanya.

“Kau sudah bangun?” tanyanya dengan raut wajah ceria.

Aku hanya mengangguk pelan. Lalu beranjak dari ranjang dan bersiap untuk kembali ke rumahku.

Gomawo, kau sudah merawatku. Aku akan pulang,” ucapku sembari membungkuk.

Chakkaman . . . kau ini masih lemas. Sebaiknya malam ini menginap saja,” ucap Kyuhyun.

Aku terkejut melihat perubahan sikapnya ini. Tapi kuabaikan pikiranku itu dan bersi keras untuk segera pulang ke rumah.

Ani, aku akan segera pulang,” ucapku ngotot dan berjalan mengambil tas slempangku.

“Hei, kenapa kau tidak mau mendengarkanku?!”

Aku langsung menoleh tajam ke arahnya. “Memangnya kau siapa? Kau bukan lagi bosku, untuk apa aku menuruti ucapanmu . . .”

Kulihat wajah Kyuhyun terkejut mendengar ucapanku. Walau dia sudah berbuat baik padaku, tetap saja aku masih kecewa dengannya.

“Aish, pokoknya kubilang menginap, ya menginap saja!”

Kyuhyun mengambil tasku dan meletakkannya di kursi. Namja itu langsung menarikku menuju ruang makan.

“Duduklah! Akan kusiapkan makanan untukmu,” kata Kyuhyun.

Ada apa dengannya? Kenapa berubah perhatian seperti ini? Kuperhatikan namja di depanku yang tampak menyiapkan makanan untukku. Tak berapa lama, makanan yang dibuatnya selesai dan segera menyajikannya untukku. Aku memperhatikan semangkuk bubur abalon yang dibuatnya.

“Ini, makanlah! Selagi masih hangat,” ucap Kyuhyun.

Aku terdiam sejenak. Lalu kuambil sendok dan memakan bubur yang sudah disiapkannya.

“Bagaimana rasanya?” tanya Kyuhyun.

Aku mengangguk sembari tersenyum, bubur yang dimasaknya sangat lezat.

Jinjja? Padahal baru pertama kali ini aku membuatnya,” ucapnya sembari tersenyum.

Aku terpesona melihat senyumnya itu. Sungguh. Image yang sangat berbeda dari yang selama ini kulihat. Kyuhyun telah memperlihatkan sisi baiknya padaku. Aku jadi teringat perkataan Donghae terakhir kali.

Mianhae, aku jadi merepotkanmu . . .” ucapku sembari menunduk.

“Sudahlah. Lagipula aku justru merasa bersalah padamu,” kata Kyuhyun.

“Bersalah padaku?”

Aku bingung dengan perkataan Kyuhyun. Mendadak wajahnya sedikit memerah karena malu. “Aish, jangan dibahas lagi. Lebih baik kau minum obat lalu segera tidur, supaya kondisimu kembali pulih,” ucap Kyuhyun. Lalu kulihat ia bergegas pergi menuju kamar Shin ajussi.

Aku terdiam. Sikapnya benar-benar berubah. Dapat kurasakan debaran jantungku yang mulai tidak terkendali.

Aku masuk ke kamar Kyuhyun, kembali merebahkan tubuhku dan mencoba beristirahat. Hanya saja, entah kenapa aku tidak bisa tidur. Aku melirik ke arah jam dinding. Rupanya sudah jam 2 pagi.

Aku kembali memikirkan kejadian kemarin. Kurasa aku sudah menyinggung perasaannya karena telah membandingkan sikapnya dengan Siwon. Di sisi lain, aku juga tersinggung saat melihatnya lebih membela Sooyoung daripada diriku.

Aku tahu, aku dan Kyuhyun memang sering bertengkar. Aku justru suka saat berdebat dengannya. Melihat wajah kesalnya tiap kali bertengkar denganku justru menjadi kesenangan bagiku. Kurasa aku telah jatuh cinta padanya. Tapi, aku tak mau terlalu jauh dan terluka dengan perasaanku ini. Karena aku tahu, Kyuhyun sepertinya lebih memilih Sooyoung daripada aku.

Author POV

Kyuhyun melirik ke arah jendela kamar. Cahaya matahari terlihat cerah, menembus celah jendela sehingga membangunkannya. Namja itu bergegas keluar dari kamar. Dilihatnya Shin ajussi sudah menikmati sarapan yang tersedia di meja makan.

“Kau bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan semua ini? Pantas, kau terlihat begitu lelah,” ucap Shin ajussi sambil menikmati sarapan.

Kyuhyun mengernyitkan alisnya. “Sarapan? Bukan aku yang menyiapkannya.”

Shin ajussi terdiam. “Benarkah? Lalu siapa?”

“Kurasa Yoona. Biar aku yang mengajaknya sarapan bersama. Padahal dia baru sembuh tadi malam, kenapa memaksakan diri segala.”

Kyuhyun bergegas menuju kamarnya. Diketuknya pintu kamarnya, memanggil Yoona untuk mengajaknya sarapan. Namun tidak ada balasan dari dalam kamar. Kyuhyun tampak bingung. Ia segera membuka kamarnya dan terkejut saat mendapati kamarnya kosong. Yoona tidak ada di kamarnya. Spontan ia panik dan bergegas turun.

Ajussi, Yoona tidak ada di kamar!” serunya pada Shin ajussi.

“Apa dia sudah pulang?” tanya Shin ajussi bingung. Kyuhyun terdiam. perhatiannya tertuju pada secarik kertas yang berada di atas meja makan. Kyuhyun bergegas mengambil dan membaca tulisan dalam kertas itu.

Untuk Cho Kyuhyun

Aku sangat berterima kasih karena kau telah merawatku semalam. Mianhae, jika selama ini aku menjadi karyawan yang paling sering membuatmu kesal dan marah. Walau aku tahu kau juga bos yang sangat kejam dan perhitungan, dengan sikapmu semalam, telah membuka mataku bahwa kau adalah orang yang baik. Sekali lagi kuucapkan terima kasih atas bantuanmu selama ini dan sudah mengizinkanku bekerja di restoranmu.

Im Yoona

Shin ajussi tampak penasaran dengan kertas yang dipegang keponakannya. “Apa isinya?”

Raut wajah Kyuhyun terlihat sedih. “Yoona sudah pergi. Ini surat darinya, ajussi . . .

Shin ajussi masih menikmati sarapannya. “Kenapa wajahmu tampak murung?”

Kyuhyun tidak menjawab. Namja itu terlihat tidak bersemangat.

“Aku tahu, kau pasti sedih karena Yoona pergi. Apalagi kau belum sempat menarik kembali ucapanmu perihal pemecatannya bukan? Tanpa sadar, kau memang memiliki perasaan khusus terhadapnya. Aku benar kan?” tanya Shin ajussi sembari menggoda keponakannya itu.

Mendengar hal itu, wajah Kyuhyun langsung memerah. Ia berusaha mengelak kembali argumen pamannya. “Mana mungkin? Jangan konyol!” ucapnya lalu bergegas ke kamarnya. Shin ajussi hanya tertawa melihat tingkah keponakannya itu.

Di dalam kamar, hati Kyuhyun semakin tidak tenang. Namja itu terlihat gusar dan gelisah.

“Ada apa ini? Apa yang terjadi denganku?” gumamnya bingung.

Namja itu terlihat merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Sesaat ia kembali teringat peristiwa semalam, saat Yoona terbaring lemas karena demam. Kyuhyun kembali terdiam dalam lamunannya. Begitu sadar, wajahnya tiba-tiba memerah.

“Ah! Perasaan apa ini? Kenapa dia terus berada dalam pikiranku?”

Sementara di sisi lain, terlihat Yoona tengah berjalan sendirian sambil melamun, menyisiri area pertokoan sampai akhirnya berhenti di depan sebuah restoran kecil. Di depan pintu tertempel lowongan pekerjaan. Yoona bergegas masuk dan mencoba peruntungannya. Berharap ia dapat memperoleh pekerjaan baru sebagai pelayan di restoran tersebut. Berbekal pengalaman saat ia bekerja di restoran Kyuhyun sebelumnya.

“Baiklah, Nona! Kau bisa mulai bekerja,” ucap pemilik restoran.

Yoona tersenyum. “Ne, aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh.” Yeoja itu tampak bersiap-siap menjalankan pekerjaan barunya tersebut. Ia pun tampak menikmati pekerjaan barunya di restoran baru.

Hampir 1 minggu sejak kepergian Yoona, Kyuhyun terlihat sering melamun. Kontan membuat Donghae dan Jessica merasa penasaran.

“Bos kenapa sih? Akhir-akhir ini sering melamun, tidak banyak bicara,” bisik Jessica kepada Donghae.

“Mana aku tahu, mungkin sedang ada masalah,” balas Donghae ikut berbisik.

“Ehem!” tiba-tiba Shin ajussi sudah muncul di belakang Donghae dan Jessica. Keduanya meloncat kaget.

“Sedang apa kalian? Bukannya bekerja malah bergosip,” ucap Shin ajussi.

Donghae meringis lebar. Jessica justru makin penasaran dan bertanya pada Shin ajussi. “Apa yang terjadi dengan bos, ajussi?

Shin ajussi melirik ke arah Kyuhyun yang sedang terduduk di ruang kerjanya. Keponakannya itu terlihat tidak ada semangat. “Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Sikapnya ini sejak Yoona pergi . . .”

Mendengar nama Yoona disebut, Jessica kontan terkejut. “Mwo?

“Jangan-jangan, bos memang ada perasaan khusus terhadap Yoona?” tebak Donghae.

“Aku sependapat,” balas Shin ajussi. Keduanya tertawa bersama, kecuali Jessica yang tampak memasang wajah kesalnya.

Kyuhyun POV

Aku memperhatikan jam dinding. Entah kenapa waktu terasa begitu lama bagiku. Aku sendiri heran, sejak Yoona tidak bekerja lagi di sini, kenapa sering melamun. Aku merasa ada yang hilang. Rasanya aku merindukan saat-saat berdebat ataupun bertengkar dengannya.

Kutenggelamkan wajahku ke dalam kedua tanganku. Tiba-tiba ponselku berdering. Aku melirik, ada panggilan masuk dari Siwon-hyung. Aku segera mengambil ponselku. Rupanya Siwon-hyung berencana mengajakku makan siang bersama dengan Sooyoung juga. Awalnya aku ragu untuk menyanggupi ajakannya. Akhirnya aku menerimanya dan bergegas keluar dari ruang kerjaku.

Ajussi, aku keluar sebentar! Aku akan makan siang dengan Siwon-hyung dan Sooyoung,” ucapku lalu pergi meninggalkan Shin ajussi dan kedua karyawanku yang terlihat bingung.

Aku pergi menuju restoran tempat janjian dengan Siwon-hyung dan Sooyung. Aku bergegas masuk dan mendapati keduanya tampak sudah menunggu dan memesan meja. Aku pun bergegas menghampiri keduanya.

“Sudah lama menunggu?” tanyaku.

Ani, kami baru saja datang,” ucap Sooyung tersenyum.

“Pesanlah makanan,” kata Siwon-hyung pada Sooyoung. Kemudian Sooyoung memanggil pelayan untuk meminta daftar menu. Pelayan itu bergegas datang sambil membawa daftar menu yang diminta Sooyoung. Perhatianku masih tertuju ke luar restoran.

“Yoona?”

Aku terkejut saat mendengar Siwon-hyung memanggil nama yang tidak asing di telingaku. Aku langsung menoleh ke arah pelayan yang berdiri di samping meja kami. Seketika mataku terbelalak saat melihat Yoona sudah berdiri dengan seragamnya.

“Sedang apa kau disini?” tanya Siwon-hyung. “Bukankah kau bekerja di restoran Kyuhyun?”

Aku tidak memperdulikan Siwon-hyung yang menatapku. Perhatianku tidak lepas dari Yoona yang terlihat menunduk. Kulihat yeoja itu bergegas kembali ke dapur. Aku beranjak dari posisiku. Mencoba mencari sosok yeoja itu yang tampak menghilang. Tak lama kemudian aku melihatnya sudah berganti pakaian dan bergegas keluar dari restoran. Tanpa pikir panjang aku langsung menyusulnya, meninggalkan Siwon-hyung dan Sooyoung yang tampak bingung dengan sikapku.

“Yoona!”

Kulihat yeoja itu terus berjalan dan mempercepat langkahnya tanpa menghiraukan panggilanku. Aku semakin penasaran dan mengejarnya, hingga akhirnya bisa mengimbangi langkah kakinya yang semakin cepat.

Chakkaman . . .” Aku sukses menarik tangan Yoona dan membuat langkah yeoja itu terhenti.

“Ada apa? Kenapa kau mengikutiku?” tanya Yoona sinis.

“Justru aku yang bertanya padamu, kenapa kau seperti menghindariku?” tanyaku penasaran. Aku kecewa melihat reaksinya itu. “Kenapa kau ini? Kita kan sudah lama tidak bertemu, apa itu kata pertama yang keluar dari mulutmu?”

“Lalu aku harus bilang apa?” tanya Yoona dengan nada meninggi.

Aku tertegun. “Kau ini!”

“Aku tidak ada waktu! Mianhae!” ucap Yoona sambil berlalu. Membuatku harus kembali mengejarnya.

“Aku perlu bicara denganmu,” ucapku tegas. Lalu menyuruh Yoona untuk mengikutiku.

Kami berhenti di sebuah taman. Aku mengajaknya untuk duduk pada salah satu bangku taman yang kosong. Suasana menjadi hening. Entah kenapa aku merasa gugup untuk memulai pembicaraan, sedangkan kulihat Yoona berusaha menjaga jarak denganku.

“Kau sudah mendapatkan pekerjaan baru?”

“Dari yang kau lihat bagaimana?”

Aku benar-benar kecewa mendengar ucapannya. “Kenapa kau jadi dingin padaku?”

Kulihat Yoona tampak memandang tajam ke arahku.

“Jika tidak ada lagi yang dibicarakan, aku pamit!” Yoona tampak beranjak dari posisinya. Aku langsung mengatakan apa yang ada dalam pikiranku.

“Kembalilah ke restoranku!”

Langkah Yoona terhenti saat mendengar penuturanku. Aku berjalan mendekat ke arahnya.

“Kembalilah ke restoranku. Kau bisa bekerja kembali di sana,” ucapku. “Waktu kau sakit itu, sebenarnya aku berniat memperkerjakanmu kembali. Aku merasa bersalah karena telah memecatmu secara sepihak. Tapi, belum sempat aku mengatakannya, kau terlanjur memutuskan untuk pergi.”

Yoona POV

Aku memperhatikan wajah Kyuhyun. Aku tahu pernyataannya itu tulus, namun aku merasa tak pantas untuk menerimanya. Bukan karena aku tidak suka bekerja di sana, aku justru sangat merindukan mereka. Shin ajussi, Donghae, Jessica walau dia sering memarahiku, bahkan dengan Kyuhyun sendiri. Aku sangat merindukan mereka semua, terutama Kyuhyun. Aku tidak tahu pasti, hanya saja perasaanku ada yang berbeda terhadap namja yang duduk di depanku ini. Ada perasaan lain. Mungkinkah aku benar-benar jatuh cinta padanya?

Mianhae, aku tidak bisa,” ucapku.

“Kenapa dengan sikapmu ini? Kau seperti menghindariku,” tanya Kyuhyun penasaran.

Aku menghela nafas pelan. “Sebaiknya, kita tidak perlu bertemu lagi. Itu akan membuatku merasa tidak nyaman, kebaikanmu ini akau membuatku salah paham.”

“Apa maksudmu?” Kyuhyun semakin bingung dengan pernyataanku.

“Aku tidak ada hak untuk menerimanya, aku bukan temanmu juga bukan karyawanmu. Lebih tepatnya mantan karyawan. Aku merasa tidak pantas untuk menerimanya.”

Kulihat Kyuhyun tampak terkejut mendengar penuturanku. Aku tahu niatnya itu tulus. Sebenarnya aku ingin sekali menerima tawarannya itu, tapi aku takut terlalu jauh dengan perasaanku ini. Aku takut tidak bisa mengendalikan perasaanku terhadap Kyuhyun, yang nantinya akan membuatku sendiri yang terluka.

“Aku pamit.”

Aku membungkuk ke arahnya dan bergegas meninggalkan Kyuhyun. Dapat kurasakan namja itu masih memandangku dari belakangku. Kurasakan mataku kembali berlinang air mata. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahannya agar tidak keluar.

Aku bergegas kembali ke rumahku. Karena tanpa sengaja aku melihat Kyuhyun di restoran tempat bekerjaku yang baru, aku langsung pamit kepada bosku untuk segera pulang karena merasa tidak enak badan. Tujuanku tidak lain karena menghindari namja itu. Apalagi saat kulihat Siwon dan Sooyoung juga ada di sana. Ah, hari ini benar-benar mengejutkan bagiku. Tidak kusangka akan kembali bertemu dengan mereka.

Aku mempercepat langkahku dan sudah sampai di depan rumah.

“Yoona-ya . . .”

Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Aku terkejut saat mendapati sosok namja sudah berdiri di belakangku.

“Siwon?”

Kulihat namja itu tersenyum padaku.

Author POV

Kyuhyun kembali ke restoran dengan wajah muram. Shin ajussi yang melihatnya menjadi penasaran dengan kondisi keponakannya itu.

Wae? Kenapa kau pulang dengan wajah murung begitu?” tanya Shin ajussi.

Kyuhyun duduk di salah satu meja pengunjung. Wajahnya terlihat masih murung seperti yang diucapkan Shin ajussi.

“Aku bertemu dengan Yoona, ajussi . . .” ucap Kyuhyun.

Jinjja? Bagaimana kabarnya?” tanya Shin ajussi.

“Kurasa baik, dia sudah menemukan pekerjaan baru. Sekarang dia bekerja sebagai pelayan di restoran saat aku hendak makan bersama dengan Siwon-hyung dan Sooyoung tadi,” jawab Kyuhyun tidak bersemangat.

“Bukankah itu kabar bagus. Kenapa ekspresimu itu justru terlihat sedih dan tidak bersemangat?”

Kyuhyun menghela nafas. “Begitu tahu aku ada di restoran itu, Yoona langsung pergi keluar restoran. Dia seperti menghindariku. Aku berusaha mengejarnya hingga akhirnya kami bisa berbicara bersama. Aku menawarkan padanya untuk bekerja kembali di sini. Tapi ditolak olehnya. Bahkan dia menyuruhku agar kami tidak bertemu lagi. Memangnya apa salahku? Kenapa sikapnya benar-benar berubah dan menjadi dingin padaku?”

“Salahmu itu banyak sekali, masa kau tidak bisa menyadarinya . . .” celetuk Shin ajussi.

Ajussi . . .” Kyuhyun terlihat kesal mendengar penuturan Shin ajussi.

Shin ajussi tertawa melihat reaksi keponakannya.

“Jika kau memang masih penasaran dengannya, kenapa tidak kau coba untuk mendatangi rumahnya?”

Kyuhyun sependapat dengan usulan Shin ajussi. Wajahnya terlihat cerah.

“Kau benar, ajussi . . .

Namja itu tampak langsung memanggil Donghae yang terlihat sedang membereskan meja pengunjung.

“Donghae!”

Karyawannya itu datang menghampirinya. “Bos memanggilku?”

“Apa kau tahu alamat rumah Yoona?” tanya Kyuhyun.

Donghae tampak terdiam untuk berpikir sejenak. “Kurasa aku tahu. Dia pernah menuliskannya padaku. Aku akan mengecek di loker kerjaku sebentar.”

Kyuhyun mengangguk dan membiarkan Donghae pergi menuju loker kerjanya. Tak lama kemudian namja itu kembali dan membawa secarik kertas di tangannya.

“Ini alamatnya.”

Kyuhyun tersenyum. Lalu ia beranjak dan bergegas keluar dari restoran. Shin ajussi dan Donghae terlihat tersenyum jahil melihat sikapnya itu.

Kyuhyun POV

Aku mengemudikan mobilku menuju alamat yang tertulis di kertas ini. Ternyata alamat rumah Yoona tidak terlalu jauh dari restoranku. Rasanya aku masih penasaran dengannya. Kenapa sikapnya itu mendadak berubah dingin padaku? Yoona seperti menghindariku. Apa ucapanku terakhir kali benar-benar menyinggung perasaannya.

Aku melewati sebuah kawasan rumah yang tampak sederhana. Sesekali aku mengecek alamat yang tertulis di kertas. Mencari-cari alamat rumah Yoona. Hingga akhirnya perhatianku beralih di depanku. Aku menghentikan mobilku sejenak. Bukankah itu Yoona? Sedang bersama siapa dia? Aku memajukan mobilku perlahan agar dapat melihat sosok namja yang berdiri di samping Yoona dengan jelas. Seketika kuhentikan laju mobilku.

Kulihat Yoona tampak asyik bersenda gurau dengan Siwon-hyung. Untuk pertama kalinya aku melihat yeoja itu tertawa lepas. Kenapa? Kenapa harus dengan Siwon-hyung? Kenapa tidak denganku?

DEG! Perasaan apa ini? Kenapa dadaku terasa sesak saat melihat Yoona tertawa bersama Siwon-hyung? Saat Yoona masih bekerja di restoranku, ketika aku melihatnya tertawa bersama Donghae, tidak pernah kurasakaan perasaan seperti ini. Kenapa saat ia bersama Siwon-hyung, selalu ada perasaan marah dalam diriku? Bukan karena Sooyoung, tapi aku merasa seperti ada kecemburuan dalam diriku. Mungkinkah aku mulai menyukai yeoja itu?

-TBC-

Yey, udah nyampe part 4 nih, hehe. Gimana menurut kalian? Nggak tahu kenapa lagi sibuk dengan tugas kuliah, tetep aja seneng dan bisa nyempatin ngelanjutin ni FF, hehe. Gomawo chingu🙂

signature

41 thoughts on “Saranghaeyo, My Boss! – Chapter 4

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s