Lovely Couple – Chapter 3


lovelycouple2

Title : 

“Lovely Couple”

Main Cast :

Cho Kyuhyun Super Junior

Im Yoona SNSD

Choi Minho Shinee

Choi Sulli F(X)

Other Cast :

Lee Hyukjae Super Junior

Kwon Yuri SNSD

Seo Joo Hyun SNSD

Genre :

Comedy, Family, Friendship, Romance

Author :

Charisma Rahmayanti

Rating :

PG-15

Disclaimer :

FF ini asli buatan sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan jika alur cerita sama. Saya hanya meminjam nama tokoh dan tempat. Jangan memplagiat FF ini!

Attention :

Mohon komentarnya agar dapat meningkatkan kemampuan saya dan untuk perbaikan positif ke depannya dalam menulis FF. Hope you all like it.

Selamat membaca ^_^

Copyright©rismarii

Yoona menatap lurus ke arah televisi yang menyala. Hampir 2 jam ia menghabiskan waktunya di ruang tengah sembari asyik menonton tayangan yang disuguhkan sebuah channel televisi. Memang secara fisik dapat dilihat jika pandangan matanya tampak memandang ke arah televisi. Namun, pikirannya justru bertebaran entah ke mana. Reaksinya ini terjadi tiap kali mengingat insiden di perpustakaan tadi siang.

***

Yoona berusaha bangkit dari posisinya. Wajahnya tampak memerah padam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Kecelakaan kecil yang baru saja terjadi membuatnya kehabisan kata-kata.

“Mianhae.”

Hanya satu kata itu yang dapat keluar dari mulutnya. Wajahnya terus menunduk seolah tidak berani memperlihatkan kepada laki-laki di hadapannya.

“Ne, gwaenchana. Kau baik-baik saja?”

Yoona mencoba mendongakkan kepalanya perlahan. Ia sedikit terkejut saat melihat ekspresi wajah Kyuhyun yang tidak kalah berbeda dengannya. Wajah laki-laki itu juga memerah padam, seperti kepiting rebus.

“Ne, aku baik-baik saja. Kalau begitu, aku permisi. Aku harus segera pulang sekarang . . .”

Baru beberapa langkah berjalan, tanpa sengaja Yoona terjatuh. Ia merintih kesakitan sembari memegang pergelangan kaki kanannya. Melihat hal itu, Kyuhyun langsung berjalan mendekat lalu memapahnya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yoona kaget.

“Aku akan membawa ke ruang kesehatan,” jawab Kyuhyun.

“Ah, tidak perlu. Aku bisa sendiri,” ucap Yoona menolak.

Seketika Kyuhyun menoleh ke arah Yoona. Laki-laki itu tampak menatap lekat ke arah gadis yang tengah kesulitan berjalan itu. Sikapnya itu tanpa disadari justru membuat jantung Yoona berdebar tidak karuan.

“Aku yang sudah membuatmu celaka seperti ini. Ini salahku, mianhae . . .”

***

Noona . . .”

Yoona melonjak kaget saat melihat Minho sudah duduk di sebelahnya. Tangannya tampak mengusap-usap dadanya seolah berusaha menenangkan jantungnya yang nyaris keluar karena terlalu kaget dengan kehadiran adiknya.

“Kau mau membuatku mati terkena serangan jantung?” ucap Yoona kesal.

Minho mengerucutkan bibirnya. “Aku sudah berkali-kali memanggilmu, tapi kau sama sekali tidak merespon. Kenapa sekarang justru menyalahkanku?”

Mendengar argumen dari adiknya tersebut, Yoona langsung mengalihkan perhatiannya kembali ke layar kaca televisi dan mengabaikan kehadiran Minho.

Noona . . .”

“Ada apa?” balas Yoona kesal.

Minho menggaruk-garuk kepalanya. Terlihat ia kesulitan untuk memulai pembicaraan dengan kakaknya.

“Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?”

Yoona sedikit menoleh ke arah Minho. “Jangan katakan kau ingin menanyakan soal permusuhanku dengan Kyuhyun?”

Mendengar jawaban dari kakaknya, Minho justru tertawa kecil. “Kenapa kau sudah tahu jika aku ingin menanyakan hal itu? Kau benar-benar hebat. Tebakanmu sangat tepat.”

Yoona langsung menekan tombol power pada remote yang sedang dipegangnya. Lalu memusatkan perhatiannya pada adik laki-lakinya yang tampak tersenyum kecil ke arahnya. “Aish, kenapa kau sangat penasaran sekali dengan masalahku?”

“Aku hanya ingin tahu saja, apa tidak boleh? Lagipula, kau sudah tahu jika aku menjalin hubungan dengan Sulli, yang jelas-jelas adalah adik Kyuhyun-hyung,” jawab Minho jujur.

Yoona kembali terdiam. Ia tahu tidak bisa selamanya terus menghindari permintaan dari Minho.

“Baiklah, akan kuceritakan semua padamu . . .”

***

Ten months ago

Terlihat seorang gadis berlari menyusuri gedung perkuliahan di Inha University. Tampak di tangannya sedang membawa beberapa buku, salah satunya berupa makalah yang dimasukkan ke dalam map berwarna merah, yang harus dipresentasikan pagi ini, di hadapan Lee kangsanim yang terkenal killer bagi kalangan mahasiswa.

“Gawat, aku terlambat . . .” ucap Yoona seraya memperhatikan jam tangannya.

BRAK! Tanpa diduga ia justru bertabrakan dengan seorang laki-laki yang berjalan dari arah yang berlawanan dengannya. Seketika buku yang dipegangnya jatuh berserakan di lantai. Secara tidak sengaja, sebuah map yang dipegang laki-laki tersebut juga ikut terjatuh di sekitar barang milik Yoona.

“Ya! Apa kau tidak punya mata?! Gara-gara kau jadi jatuh semua!” bentak Yoona kesal.

“Apa katamu?!” laki-laki langsung menatap tajam ke arah Yoona. “Justru kau yang tidak lihat jalan! Seenaknya menyalahkan orang lain. Kau pikir gedung ini milikmu?!”

Yoona mengomel kesal ketika melihat laki-laki itu hanya mengambil barang miliknya saja tanpa membantunya membereskan barang milik Yoona yang jatuh berserakan.

“Huh, keterlaluan! Benar-benar tidak punya rasa bersalah!”

Gadis itu mempercepat gerakan tangannya. Bergegas membereskan barang miliknya yang berserakan di lantai, lalu kembali berjalan menuju ruang kelasnya. Beruntung ia datang tepat waktu walaupun dengan penampilan yang sedikit kacau karena berlarian menuju kelasnya.

“Apa yang terjadi? Kau hampir terlambat . . .” bisik Yuri.

“Aku . . .”

“Im Yoona!”

Panggilan Lee kangsanim sanggup menghentikan Yoona yang berniat ingin berbicara dengan Yuri. Suasana kelas berubah hening. Semua teman sekelasnya tampak terdiam.

“Bawa makalahmu padaku dan presentasikan laporanmu di depan kelas,” perintah Lee kangsanim.

Yoona mengangguk pelan dan berusaha tenang. Ia pun mengambil map yang berada di mejanya. Perlahan membuka dan mengeluarkan isi dari dalam map tersebut. Seketika wajahnya berubah pucat. Ia menyadari ada yang aneh. Map yang dipegangnya bukanlah miliknya, melainkan milik orang lain. Gadis itu tampak mengeja nama yang tertera dalam sebuah berkas yang dipegangnya itu.

“Cho Kyuhyun . . .”

“Yoona-ssi, apa kau tidak mendengarkan apa yang kuperintahkan padamu?”

Kepercayaan diri Yoona langsung menghilang. Ia tidak tahu harus berkata apa menghadapi Lee kangsanim. Gadis itu tampak beranjak dari kursi lalu berjalan mendekati meja dosennya.

“Mianhae, Lee kangsanim. Bolehkah saya mengatakan sesuatu padamu?”

“Apa?”

Yoona tampak menunduk. “Saya . . . saya tidak sengaja salah membawa map. Jadi makalah saya tertinggal.”

Seketika raut wajah Lee kangsanim berubah. Seolah bersiap mengeluarkan kata-kata pedasnya yang terkenal menyakitkan.

“Kau salah membawa map dan dengan mudahnya mengatakan makalahmu tertinggal, begitu?”

Walau tahu ia dalam masalah, Yoona hanya bisa mengangguk pasrah.

“Memangnya aku bisa terima alasanmu itu? Kenapa kau tidak mengakui jika kau memang belum membuatnya?”

Yoona menggeleng cepat. “Aniyo, saya sudah mengerjakannya. Ini hanya kesalahan teknis, sehingga saya salah membawa map dan makalah saya tertinggal.”

Lee kangsanim langsung tersenyum sinis mendengar jawaban dari Yoona. “Kalaupun memang benar, kau tahu jika aku tidak akan mentolerir apapun bentuk kesalahan yang dilakukan mahasiswaku bukan?”

“Tapi . . .”

“Sebagai hukumanmu, kau diharuskan membuat ulang makalahmu tapi tidak hanya satu, melainkan sepuluh makalah.”

“Sepuluh?”

“Hari ini kau tidak perlu ikut perkuliahanku, lebih baik kau segera ke perpustakaan dan kembali membuat makalah yang sudah kuperintahkan padamu. Aku hanya memberimu waktu dua hari. Kumpulkan makalahmu besok di mejaku . . .”

Tubuh Yoona terasa lemas mendengarnya. Dengan langkah pelan, gadis itu tampak berjalan mengambil tasnya yang berada di mejanya. Lalu kembali menghadap Lee kangsanim, kemudian membungkuk pelan sebelum keluar dari kelasnya.

“Aish, bagaimana bisa aku salah membawa map? Apa mungkin tertukar milik orang lain?” gerutu Yoona begitu keluar dari kelasnya. Sesaat ia mengingat kejadian yang menimpanya sebelumnya. Barulah ia sadari kemungkinan map yang dibawanya tertukar dengan orang yang bertabrakan dengannya.

“Pasti orang itu. Tidak salah lagi. Awas saja jika aku nanti bertemu dengannya. Akan kuberi pelajaran!”

*

Yoona berjalan menuju perpustakaan untuk menyelesaikan sepuluh makalah yang harus dibuatnya sebagai hukuman dari Lee kangsanim. Gadis itu terlihat tidak dapat menahan rasa kesalnya tiap kali mengingat kejadian yang membuatnya harus menanggung hukuman. Begitu tiba di perpustakaan, matanya tampak berkeliling menelusuri semua sudut perpustakaan. Perhatiannya berhenti pada sosok laki-laki yang tidak asing baginya. Orang yang sudah membuatnya terkena hukuman dari Lee kangsanim.

BRAK! Yoona langsung melemparkan map ke arah laki-laki yang tengah sibuk menyelesaikan tugas kuliah.

“Gara-gara kau, aku jadi terkena hukuman dari Lee kangsanim. Kau benar-benar menyebalkan, Cho Kyuhyun!”

“Jadi kau yang bernama Im Yoona?” tanya Kyuhyun sembari beranjak dari posisi duduknya. “Dengar ya! Kau pikir hanya dirimu saja yang terkena hukuman. Aku pun juga sama. Saat aku berniat mengumpulkan tugasku, ternyata map yang kubawa bukan milikku melainkan milik seorang gadis yang tidak tahu sopan santun sepertimu.”

“Mwo? Tidak tahu sopan santun?”

“Benar. Kau selalu membentak orang seenaknya. Tidak tahu kau sekarang sedang di mana? Ini perpustakaan dan segeralah pergi dari pandanganku. Kau membuat suasana hatiku semakin kesal saja . . .”

Tangan Yoona mengepal, ingin rasanya memukul Kyuhyun. “Kau selalu melimpahkan kesalahanmu pada orang lain. Tidak mau mengakui kesalahanmu sendiri. Memang siapa yang membuat map kita tertukar dan akhirnya kita sama-sama terkena hukuman. Bukankah kau yang salah mengambilnya saat kita bertabrakan tadi pagi?”

“Kau . . .”

“Cih, kau benar-benar membuatku marah. Selamanya aku tidak akan pernah memaafkanmu,” ucap Yoona kesal.

“Jangan harap aku juga mau memaafkan kesalahanmu!” balas Kyuhyun tidak mau kalah.

*****

“Karena itukah hubunganmu dengan Yoona-eonni seperti sekarang ini?”

Kyuhyun menoleh pelan ke arah Sulli. Keduanya tengah membicarakan masalah permusuhannya dengan Yoona sesuai permintaan Sulli.

Ne, memang itulah penyebabnya . . .” jawab Kyuhyun seraya mengangguk.

“Kau bilang padaku kalian bermusuhan sejak pertama kali masuk di kampus itu?” tanya Sulli.

“Memang tidak tepat saat pertama kali masuk. Kejadian itu terjadi 1 bulan setelah kami masuk di Inha University,” ralat Kyuhyun.

Sulli menatap tak percaya ke arah kakaknya. “Oppa, itu sungguh konyol. Bukankah itu masalah yang sangat sepele?”

“Sepele?” Kyuhyun meninggikan nada bicaranya. “Gara-gara gadis itu, aku terkena hukuman dari Park kangsanim. Itu peristiwa yang tidak bisa kulupakan. Selamanya aku tidak akan pernah memaafkannya.”

Sulli terdiam. Ia hanya menatap kakaknya dengan ekspresi malas.

“Kau benar-benar kekanakkan oppa . . .” ucap Sulli lalu berjalan masuk ke kamarnya.

Kyuhyun memandangi adiknya sampai tidak terlihat lagi. “Kekanakkan? Dasar, sudah diberitahu masalah sebenarnya malah mengejekku. Keterlaluan.”

ooOoo

Hari minggu yang begitu cerah, membuat suasana pagi bagi Yoona terasa menyenangkan. Pagi-pagi sekali gadis itu tampak sibuk membantu Kim ajussi menyiapkan sarapan.

“Apa Minho belum bangun?” tanya Kim ajussi pada Yoona.

Yoona yang sedang menyiapkan roti panggang beserta susu cokelat kesukaan adiknya tampak menoleh ke arah pamannya dan menghentikan kegiatannya.

“Kurasa belum, biar aku yang membangunkannya,” jawab Yoona lalu bergegas menuju kamar Minho.

Begitu tiba di kamar Minho, Yoona mengetuk pelan pintu kamar adiknya tersebut.

“Minho, ini sudah pagi. Ayo bangun!”

Hening. Tidak ada jawaban dari Minho. Perlahan Yoona menyentuh kenok pintu dan menggerakannya. Rupanya pintu kamar Minho tidak dikunci. Ia pun masuk ke kamarnya dan mendapati adiknya masih tertidur pulas dibalik selimutnya.

“Tidur jam berapa anak ini? Kenapa sampai sekarang belum bangun?” gumam Yoona lirih. Ia berniat menarik selimut yang dikenakan Minho, namun perhatiannya beralih pada sebuah kalender kecil yang berada di meja belajar Minho. Ia melihat ada lingkaran merah pertanda hari penting yang ditandai oleh Minho.

“Ulang tahun Sulli?” gumam Yoona lirih. “Bukankah hari ini?”

Dengan cepat Yoona langsung menarik selimut Minho dan sukses membuat adik laki-lakinya itu terbangun dari tidurnya.

Noona . . . apa yang kau lakukan? Aku sedang tidur,” ucap Minho malas.

Yoona mendesah. “Kau mau tidur sampai kapan? Ini sudah pagi, ayo cepat bangun dan segera sarapan.”

Minho tampak masih mengerjapkan matanya.

“Oh iya, aku melihat kalender di mejamu. Hari ini ulang tahun Sulli?”

Seperti terkena sengatan listrik, seketika wajah Minho tampak kaget menatap ke arah Yoona.

“Ada apa dengan reaksimu ini?” tanya Yoona bingung.

“Aku . . .”

DRRT! Ponsel Minho berdering. Laki-laki itu langsung meraih ponselnya yang berada di samping ranjangnya.

Yeoboseyo . . .”

“…”

Ne, malam ini aku tidak ada acara. Wae?

“…”

“Baiklah, aku akan datang bersama Yoona-noona.”

KLIK! Minho mematikan ponselnya dan segera bergegas beranjak dari ranjangnya.

“Ya! Ada apa denganmu ini?”

“Kau benar, hari ini hari ulang tahun Sulli. Tapi . . .” Minho menghentikan kalimatnya. “Aku lupa membeli kado untuknya.”

Yoona terlihat shock mendengar jawaban dari adiknya. “Mwo? Lupa membeli kado? Kekasih macam apa kau ini? Masa di hari ulang tahun yeojachingumu sendiri, kau tidak membelikan kado untuknya?”

“Aish, aku bukannya tidak membeli, tapi belum membeli. Karena dua hari kemarin aku terlalu fokus mengerjakan tugas sekolahku. Sampai-sampai aku lupa membelinya . . .” balas Minho berusaha membela diri.

“Kau ini . . .”

Noona, kumohon temani aku membeli kado, ne? Ini pertama kalinya aku memberikan sesuatu untuk seorang gadis. Aku tidak tahu selera gadis seperti apa dalam memilih barang. Kuharap kau bisa membantuku, noona . . .”

Yoona tersenyum geli melihat sikap adiknya yang terlihat lucu. “Baiklah, aku akan membantumu. Segeralah mandi lalu sarapan. Setelah itu kita pergi mencari kado untuk Sulli.”

*****

Saengil chukkae hamnida Sulli . . .

Sulli berteriak senang saat melihat kakaknya menyodorkan sebuah boneka beruang besar yang sudah lama diincarnya. Gadis itu tidak hentinya mengulum senyum.

Oppa, darimana kau tahu aku sangat menginginkan boneka ini?” tanya Sulli senang.

Kyuhyun tersenyum. “Aku ini kakakmu. Mana mungkin aku tidak tahu apa yang diinginkan adikku sendiri.”

Sulli langsung beranjak dari posisi duduknya dan memeluk Kyuhyun.

“Kalau begitu, bolehkah aku meminta satu permintaan lagi darimu?” tanya Sulli.

Kyuhyun mengernyitkan dahinya. “Permintaan?”

“Aku ingin mengadakan pesta ulang tahun secara sederhana saja,” jawab Sulli.

“Tidak seperti biasanya,” balas Kyuhyun tersenyum. “Baiklah, siapa yang akan kau undang?”

Sulli tersenyum. “Eunhyuk-oppa, Yuri-eonni, Minho dan juga . . .”

“Yuri? Bukankah itu temannya Yoona?”

Sulli mengabaikan pertanyaan kakaknya dan kembali menyebutkan satu nama orang terakhir yang diundangnya. “Lalu . . . Yoona-eonni.”

Mwo?

“Kau tidak bisa menolaknya dan berkata tidak. Pokoknya ini permintaanku. Jadi, kau harus mengabulkannya, oppa . . .” ucap Sulli sebelum mendapat protes keras dari kakaknya. Lalu gadis itu berjalan masuk ke kamarnya dan meninggalkan Kyuhyun yang terbengong di ruang tamu.

“Apa-apaan dia? Mengundang gadis itu seenaknya . . .”

*****

Sudah hampir 1 jam Yoona menemani Minho membeli kado untuk Sulli di sebuah toko pernak-pernik yang lokasinya tidak jauh dari rumah mereka. Keduanya tengah melihat-lihat berbagai barang yang dijual dalam toko tersebut.

“Kalung?”

Yoona mengangguki pertanyaan adiknya. “Kurasa itu sederhana, tapi sangat berarti bagi seorang gadis. Kau tahu, jika seorang gadis mendapat hadiah perhiasan berupa kalung, terutama dari kekasihnya, maka ia akan sangat senang menerimanya.”

Jinjja?

“Percaya saja apa yang kukatakan. Sulli pasti akan sangat senang menerimanya,” balas Yoona.

Minho mengangguk. “Baiklah, sesuai saranmu, aku akan menghadiahkan sebuah kalung untuknya.”

Yoona tersenyum saat melihat adik laki-lakinya tengah memilih beberapa kalung yang kira-kira sesuai dengan Sulli.

“Ah, aku pilih yang ini saja,” ucap Minho sembari mengambil kalung dengan bandul berbentuk bintang.

“Bintang?”

Minho tertawa kecil. “Sulli sangat menyukai bintang. Sejak kecil, ia ingin suatu saat nanti mengamati bintang di langit bersama orang yang sangat dicintainya. Aku berharap, dengan pemberian kalung ini, aku sudah mewakili menjadi bintang di hatinya.”

“Wah, ternyata kau pandai juga memilih hadiah untuk kekasihmu,” goda Yoona terkekeh. Sikapnya itu kontan membuat wajah Minho memerah.

“Kau juga harus membelikan kado untuknya, noona . . .” ucap Minho tiba-tiba.

“Memangnya kenapa?” tanya Yoona bingung.

“Sulli tadi meneleponku. Dia mengundang kita untuk menghadiri pesta di rumahnya malam ini. Sudah pasti pesta ulang tahunnya,” jawab Minho.

Yoona sedikit terkejut mendengar jawaban adiknya. “Ke rumahnya?”

Minho mengangguk. “Jangan katakan kau tidak mau datang karena ingin menghindari Kyuhyun-hyung . . .”

Yoona terlihat gugup menanggapi pertanyaan Minho. “Memang benar. Aku . . . aku tidak mau bertemu dengannya.”

Noona . . . tidak bisakah kau berbaikan dengan Kyuhyun-hyung?” tanya Minho.

“Tidak akan pernah, Minho. Aku mana mau berbaikan dengan laki-laki seperti dia,” tolak Yoona.

“Kudoakan suatu saat nanti kalian berpacaran . . .!” ucap Minho kesal.

Mwo?

*****

Kediaman Kyuhyun dan Sulli tampak sibuk. Dibantu Eunhyuk dan Yuri, keduanya tengah menyiapkan pesta ulang tahun Sulli yang dirayakan secara sederhana. Hal ini keinginan Sulli sendiri. Lagipula, sudah setahun ini Kyuhyun dan Sulli tinggal berdua sementara kedua orang tua mereka tinggal sementara di Perancis karena urusan pekerjaan.

Sejak tadi Sulli selalu melirik ke arah jam tangannya. Sikapnya itu jelas membuat Kyuhyun penasaran dengan adiknya.

“Minho belum datang?” tanya Kyuhyun.

Sulli mengangguk. “Mungkin sebentar lagi, oppa . . .”

Benar saja. Tak lama kemudian Minho tiba bersama Yoona. Wajah Sulli berubah cerah. Gadis itu langsung datang menghampiri Minho dan memeluknya.

Saengil chukkae hamnida chagi . . .” ucap Minho.

Gomawo chagi . . .” balas Sulli.

Sikap Minho dan Sulli sukses membuat kedua kakaknya terpana dengan kemesraan mereka. Tanpa disengaja mata Yoona dan Kyuhyun bertemu. Seketika keduanya langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Mereka masih mengingat kejadian terakhir kali yang cukup memalukan di perpustakaan.

Saengil chukkae hamnida Sulli. Ini kado dariku,” ucap Yoona sembari menyodorkan kado yang dipegangnya kepada Sulli lalu memeluknya.

Gomawo eonni . . .”

Kyuhyun berdeham. “Sebaiknya kalian segera masuk. Pesta segera dimulai.”

Semuanya pun segera berkumpul di halaman belakang rumah Kyuhyun dan Sulli. Tampak beberapa dekorasi pesta hasil kreasi Eunhyuk dan Yuri menghiasi halaman belakang rumah keduanya. Di tengah-tengah sudah disiapkan kue ulang tahun yang berukuran cukup besar yang sudah dipesan Kyuhyun.

Pesta dimulai. Semua orang tampak menyanyikan lagu happy birthday untuk Sulli.  Wajah Sulli terlihat ceria. Gadis itu tak henti-hentinya tersenyum. Begitu lagu selesai dinyanyikan, semuanya tampak membantu Sulli meniup lilin yang dipasang hampir memenuhi semua bidang kue ulang tahunnya.

Saengil chukkae hamnida . . .” seru Eunhyuk dan Yuri bersamaan. Semuanya bertepuk tangan untuk Sulli.

Minho tampak mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Laki-laki itu memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah pada Sulli.

“Ini hadiah dariku . . .”

Sulli tersipu malu. Dengan perlahan gadis itu membuka kotak kecil pemberian Minho. Seketika matanya terpana kala melihat sebuah kalung berbandulkan bintang yang terlihat sangat cantik dalam kotak tersebut.

“Cantik sekali . . .” ucap Sulli terharu.

Minho mengambil kalung tersebut dan memakaikannya pada Sulli. Yoona tersenyum melihat adegan romantis yang sedang dilakukan adiknya tersebut. Begitu juga dengan Kyuhyun. Ia ikut senang atas kebahagiaan yang dirasakan Sulli.

“Kuharap kau menyukainya,” kata Minho.

Sulli mengangguk. “Ne, aku sangat menyukainya. Gomawo . . .”

Keduanya pun berpelukan satu sama lain. Eunhyuk dan Yuri langsung bersorak. Sementara Yoona dan Kyuhyun hanya ikut tersenyum melihatnya.

*****

“Jelaskan padaku, bagaimana kau bisa datang ke pesta ulang tahun Sulli?” tanya Yoona pada Yuri. Keduanya tengah asyik menikmati minuman yang disajikan. Sementara Minho dan Sulli asyik berduaan, Kyuhyun tengah mengobrol bersama Eunhyuk.

Yuri tersenyum. “Aku datang bersama Eunhyuk. Lagipula aku juga diundang oleh Sulli. Ternyata adik Kyuhyun itu sangat cantik.”

“Eunhyuk? Sejak kapan kau dekat dengan teman laki-laki menyebalkan seperti Kyuhyun?”

Yuri mendesah. “Kau ini, apa tidak bosan bertengkar terus dengan Kyuhyun. Aku yang melihat dan mendengarkan keluhanmu saja sampai bosan.”

Mwo?

“Kalian memang selalu bertengkar, tapi kuyakin suatu saat nanti akan ada hubungan special di antara kalian,” celetuk Yuri.

“Hentikan, jangan mengatakan hal yang sama dengan Minho . . .”

“Tebakanku tidak mungkin salah . . .”

Eonni . . .

Yoona dan Yuri menoleh ke arah Sulli yang sudah datang menghampiri mereka.

“Ada apa, Sulli?” tanya Yoona.

“Bisakah kau mengantarkan boneka ini ke kamarku?” pinta Sulli sembari menyodorkan boneka beruang besar pada Yoona.

Yoona takjub melihat boneka yang dipegang Sulli. “Besar sekali bonekanya. Apa ini hadiah ulang tahunmu?”

Sulli mengangguk. “­Oppa . . . yang memberikannya untukku.”

Yoona masih menatap ke arah boneka yang kini dipegangnya. “Rupanya . . . dia begitu perhatian pada adiknya.”

“Kau mengatakan sesuatu eonni?” tanya Sulli penasaran.

Ani, aku tidak mengatakan apapun. Lalu dimana kamarmu?”

“Dari ruang tengah, kau bisa mengambil sisi kanan. Kau cari saja kamarku yang dinding di dalamnya dicat warna merah muda . . .” ucap Sulli.

Sebenarnya Yoona masih belum paham dengan penjelasan Sulli. Namun ia hanya mengangguk pelan lalu bergegas meletakkan boneka Sulli di kamarnya.

Yoona terlihat kebingungan saat memasuki ruang tengah. Ia pun mengambil sisi kanan yang sudah diberitahukan Sulli. Tapi, dia justru menemukan dua pintu kamar bersebelahan yang  membuatnya kembali bingung.

“Aish, yang mana pintu kamar Sulli?” gumamnya lirih.

Gadis itu nekat langsung membuka pintu kamar yang pertama. Ia terkejut saat mendapati kamar tersebut tampak rapi dan bersih. Jika dilihat dari cat dinding yang berwarna putih, ia bisa menebak kamar tersebut bukanlah kamar Sulli.

“Kurasa bukan kamar yang ini . . .” ucapa Yoona. Kedua matanya tampak memperhatikan isi kamar. “Mungkinkah ini kamar Kyuhyun?”

Ia mendapati ada foto Kyuhyun dalam bingkai yang diletakkan di atas meja belajarnya.

“Rupanya benar. Ini kamarnya. Tidak kusangka ternyata dia sangat menjaga kamarnya terlihat rapi dan bersih . . .”

Muncul niat jahil dalam benak Yoona. Ia tidak segera keluar dan bergegas ke kamar Sulli. Namun justru asyik memandangi kamar Kyuhyun. Ia memperhatikan koleksi-koleksi buku milik Kyuhyun. Lalu kembali memperhatikan bebarapa alat musik yang ada di kamar Kyuhyun. Gadis itu tersenyum. Kemudian kembali memperhatikan barang-barang yang ada dalam kamar tersebut. Perhatiannya pun beralih pada sebuah foto yang berada di meja belajar Kyuhyun. Ada dua foto di sana. Foto Kyuhyun dan foto seorang gadis yang terlihat sedang tersenyum.

“Siapa gadis ini?”

Karena penasaran, Yoona pun mengambil foto tersebut, lalu membalikkan bingkainya. Ia melihat ada sebuah tulisan di belakangnya.

My first love . . . Seo Joo Hyun.

KLEK! Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Yoona menoleh ke arah suara yang mengejutkannya dan mendapati Kyuhyun sudah berdiri di depan pintu.

-TBC-

Akhirnya jadi juga untuk kelanjutan FF ini. Maaf membuat kalian menunggu. Maaf juga kalo ada typo dan ceritanya yang kurang gimana gitu, hehe. Mungkin moment KyuNa nya belum banyak, saya usahain next chapter lebih banyak lagi. Untuk FF Look, at Me! masih proses pengerjaan. Ditunggu aja ya😉
Seperti biasa, saya tunggu  RCL dari kalian hehe, gomawo😀

48 thoughts on “Lovely Couple – Chapter 3

  1. zubaidah says:

    Hayoo..
    Yoona ketauan salah kamar
    Dan malah masuk kamar kyu
    Pasti kyu salah paham deh..
    Siapa itu seo joohyun?
    Pasti itu pacar kyu deh.

  2. angela says:

    Woahh daebak daebak
    Makin seru aj nih ceritanya
    Wahhh , gk sabar nih nunggu kelanjutannya hehehe
    Kalo bisa mah gk lama2 thor hehehe

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s