Look, at Me! – Chapter 9


lookatme5

Title : 

“Look, at Me!”

Main Cast :

Im Yoona SNSD

Cho Kyuhyun Super Junior

Other Cast :

Lee Donghae Super Junior

Jung Jessica SNSD

Kwon Yuri SNSD

Genre :

Angst, Family, Married Life, Romance

Author :

Charisma Rahmayanti

Rating :

PG-15

Disclaimer :

FF ini asli buatan sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan jika alur cerita sama. Saya hanya meminjam nama tokoh dan tempat. Jangan memplagiat FF ini!

Attention :

Mohon komentarnya agar dapat meningkatkan kemampuan saya dan untuk perbaikan positif ke depannya dalam menulis FF. Hope you all like it.

Selamat membaca ^_^

Copyright©rismarii


-Previous Story-

Begitu tiba di ruang UGD, tim medis tampak menghalangi Kyuhyun dan Yuri yang berniat ikut masuk.

“Mianhae, kalian tidak diperbolehkan masuk,” ucap salah satu tim medis.

“Tapi . . .”

Kyuhyun tidak berkata lagi saat Yuri menepuk bahunya. Ia pun membiarkan pintu ruang UGD itu ditutup. Pria itu tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya terhadap kondisi Yoona. Ia takut terjadi hal buruk pada istrinya tersebut.

“Dia pasti baik-baik saja,” ucap Yuri berusaha menenangkan. Walaupun ia sendiri juga merasakan hal yang sama dengan Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk pelan. Lalu kembali memperhatikan ruang UGD. Dalam hati, ia terus memanjatkan doa untuk keselamatan Yoona.

“Kuharap kau baik-baik saja, Yoona . . .”

-End Previous Story-

 

Satu jam bagaikan satu tahun. Kembali perasaan itu dirasakan oleh Kyuhyun. Kecemasan tergurat jelas di wajahnya yang berlumuran darah akibat pukulan yang diberikan oleh ayah mertuanya. Yuri merasa kasihan dengan kondisi pria yang tengah berdiri tegap di depan pintu ruang UGD tersebut. Kondisi Kyuhyun juga tidak kalah mengkhawatirkan.

“Kyu—” Yuri menepuk pelan bahu Kyuhyun. “Sebaiknya lukamu harus segera diobati.”

Kyuhyun menggeleng keras menanggapi ucapan Yuri. “Tidak perlu. Lukaku tidak parah jika dibandingkan dengan kondisi Yoona.”

Yuri terdiam. Ia tahu saat ini Kyuhyun sangat mengkhawatirkan kondisi Yoona. Jauh lebih khawatir dibandingkan dirinya.

Tak berapa lama kemudian, Dokter Kim keluar dari ruang UGD. Kyuhyun tak dapat lagi menahan rasa penasarannya terhadap kondisi istrinya.

“Bagaimana kondisi Yoona, Dokter Kim?” tanya Kyuhyun.

“Syukurlah kami berhasil menghentikan pendarahan. Kalian datang tepat pada waktunya hingga nyawa Yoona—”

“Yoona baik-baik saja kan?” kali ini Yuri yang bertanya pada Dokter Kim.

Ne, kondisi Yoona dan janin yang berada dalam kandungannya baik-baik saja,” jawab Dokter Kim.

Hening. Kyuhyun dan Yuri berdiri mematung di hadapan Dokter Kim. Keduanya saling memandang dengan ekspresi bingung.

“Janin? Apa maksud—”

Kyuhyun semakin bingung dengan pernyataan Dokter Kim tersebut.

Ne, janin yang sedang dikandung Yoona. Saat ini istrimu sedang mengandung 2 minggu,” ucap Dokter Kim.

MWO?!

Reaksi yang sama keluar dari Kyuhyun dan Yuri. Keduanya berteriak kaget saat mengetahui kondisi Yoona yang diketahui tengah mengandung 2 minggu.

“Hei, ada apa dengan kalian berdua ini?” tanya Dokter Kim bingung. “Memangnya kalian tidak tahu jika Yoona tengah hamil?”

Kyuhyun tidak berkata lagi. Perasaan campur aduk tengah dirasakannya. Sementara raut wajah Yuri terlihat senang mendengar kabar bahagia tersebut.

“Kyu, sebentar lagi kau akan menjadi appa,” ucap Yuri sambil menepuk pelan bahu Kyuhyun.

Pria itu tersentak dan tersadar dari lamunannya. Kyuhyun menoleh ke arah Yuri dengan tatapan masih tidak percaya di matanya.

“Apa maksudmu, Yuri?”

Yuri mendesah. Ia menyadari bahwa Kyuhyun terlalu lambat menangkap kabar bahagia tersebut.

“Kau masih belum paham?” tanya Yuri gemas. “Appa, Kyu! Appa! Kau akan segera menjadi appa dan Yoona menjadi eomma.”

Seketika raut wajah Kyuhyun berubah. Kesedihan itu perlahan berubah menjadi kebahagiaan. Rasanya sudah tidak sabar ia ingin segera bertemu dengan Yoona.

“Bolehkah aku menemuinya sekarang, Dokter Kim?” tanya Kyuhyun.

“Setelah Yoona dipindahkan ke ruang inap pasien, kalian bisa menemuinya,” jawab Dokter Kim.

Kyuhyun dan Yuri tersenyum mendengarnya. Kini, keduanya berharap semua permasalahan segera selesai dengan hadirnya kabar membahagiakan tersebut.

*****

Di kediaman orang tua Yoona, Mr. Im terlihat terduduk lemas di ruang tengah didampingi istrinya. Wajah pria paruh baya itu tampak tegang sekaligus cemas menantikan kabar tentang kondisi putrinya.

“Apakah sikapku sudah keterlaluan pada mereka?” tanya Mr. Im tiba-tiba.

Mrs. Im menghela nafas. “Aku tahu kau sedang emosi, tapi tidak seharusnya kau melakukan hal seperti tadi. Seharusnya kau bisa mengendalikan emosimu. Sekarang lihat akibat dari perbuatanmu. Putri dan menantumu sama-sama terluka. Luka Kyuhyun mungkin masih bisa disembuhkan, tapi bagaimana dengan Yoona?”

Kembali rasa penyesalan itu dirasakan oleh Mr. Im. Pria paruh baya itu tertunduk lemas. Sementara Mrs. Im tak kuasa menahan air matanya yang mulai menetes karena terlalu mengkhawatirkan kondisi Yoona.

KRING! Terdengar suara telepon rumah yang berbunyi. Dengan cepat, Mrs. Im langsung meraih gagang telepon dan berharap akan segera mendengar kabar tentang kondisi putrinya.

Yeoboseyo . . .”

Mrs. Im tampak serius mendengarkan suara Yuri yang meneleponnya. Sementara Mr. Im turut penasaran dan terlihat menunggu sembari memperhatikan raut wajah istrinya.

“Bagaimana kondisi Yoona?”

“. . .”

Seketika raut wajah Mrs. Im berubah cerah. “Jinjja? Kondisinya baik-baik saja?”

Mengetahui kondisi putrinya dalam keadaan baik, raut wajah Mr. Im turut berubah cerah. Keduanya saling memandang sambil tersenyum.

“Syukurlah kalau kondisi Yoona—” Kalimat Mrs. Im terhenti saat Yuri kembali mengatakan sesuatu. Mr. Im menjadi penasaran ketika melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat kembali berubah. Tak berlangsung lama, Mrs. Im meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya, namun dengan raut wajah yang terlihat seolah shock.

“Ada apa? Kenapa raut wajahmu berubah seperti itu?” tanya Mr. Im panik.

Mrs. Im menoleh ke arah suaminya. Hening. Belum ada kata yang keluar dari bibirnya. Kondisi ini semakin menambah rasa cemas yang dirasakan oleh Mr. Im.

“Istriku . . .” panggil Mr. Im gemas sekaligus cemas.

Tiba-tiba Mrs. Im meraih tangan suaminya sembari menggenggam erat.

“Suamiku—” Mrs. Im tampak kesulitan untuk mengatakan sesuatu. “Sebentar lagi kau akan menjadi halabeoji . . .”

Mr. Im terdiam. Dahinya tampak mengkerut seolah belum paham dengan pernyataan yang diucapkan istrinya. “Apa maksudmu?”

Kali ini Mrs. Im kembali meneteskan air mata, namun air mata haru yang menggambarkan kebahagiaan yang tengah dirasakannya.

“Istriku . . .”

“Yuri bilang—” Mrs. Im menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. “Yoona tengah hamil 2 minggu.”

MWO?”  Mr. Im terkejut mendengar penuturan istrinya tersebut. “Kau yakin Yuri mengatakan hal itu?”

Mrs. Im mengangguk dengan air mata yang kembali menetes membasahi wajahnya. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata haru karena mendapat kabar bahagia tentang Yoona yang sedang hamil 2 minggu.

Reaksi yang sama juga diperlihatkan oleh Mr. Im. Air matanya juga menetes. Perasaan bercampur aduk tengah dirasakannya. Bahagia, namun juga menyesal karena hampir saja menghilangkan nyawa dari calon cucunya yang tengah berada dalam kandungan Yoona.

“Kita harus segera ke rumah sakit sekarang. Aku ingin segera bertemu dengan putriku,” ucap Mr. Im.

Mrs. Im mengangguk. Keduanya pun tampak bersiap dan bergegas menuju rumah sakit tempat Yoona dirawat. Namun saat membuka pintu rumah, keduanya dikejutkan dengan kehadiran kedua orang tua Kyuhyun, Donghae dan Jessica yang sudah berdiri di depan pintu rumah mereka.

“Ada apa?” tanya Mr. Im.

*****

Seoul Hospital

Yoona sudah dipindahkan ke ruang inap pasien. Gadis itu masih terbaring lemah dikelilingi beberapa peralatan medis yang terpasang di sekitar ranjangnya. Kyuhyun terus berada di sisi Yoona. Tangannya tak pernah lepas sedetikpun dari istrinya tersebut. Luka di tubuhnya juga sudah diobati atas saran dari Yuri.

“Kau baik-baik saja?” tanya Yuri saat memperhatikan raut wajah Kyuhyun yang terus fokus memandangi Yoona.

Kyuhyun mengangguk. “Nan gwaenchana.”

Yuri tersenyum mendengarnya. Kali ini ia kembali dapat melihat ketulusan hati Kyuhyun yang memang sudah membuka pintu hatinya untuk Yoona.

“Aku bisa melihat dan merasakan ketulusan hatimu pada sepupuku. Kuharap, kau jangan pernah lagi membuatnya menderita, arraseo?” pinta Yuri.

Ne, kau bisa mempercayaiku. Aku tidak akan membuatnya menderita lagi,” balas Kyuhyun.

Keduanya tersenyum dan kembali memperhatikan Yoona yang terbaring di ranjang pasien. Seperti yang sudah dikatakan oleh Dokter Kim, kondisi gadis itu sudah berangsur membaik.

Kyuhyun kembali menggenggam tangan kanan Yoona. Sangat erat sembari mengecupnya.

“Kau harus kuat. Kita mulai lagi dari awal . . .” ucap Kyuhyun lirih.

Tiba-tiba, Kyuhyun merasakan jari-jemari Yoona yang perlahan mulai bergerak. Pria itu terkejut. Perhatiannya ia alihkan pada wajah istrinya. Seolah ada air es yang mengguyur tubuhnya ketika melihat pergerakan kedua mata Yoona hingga akhirnya gadis itu membuka kedua matanya di hadapan Kyuhyun dan Yuri.

“Yoona, kau sudah sadar? Kau bisa melihatku?” tanya Kyuhyun dengan nada yang begitu senang.

Yoona menggerakkan kepalanya perlahan, berusaha menoleh ke arah Kyuhyun. Begitu dapat melihat suaminya dengan jelas, gadis itu tak kuasa menahan air matanya.

Oppa . . .”

Tangan Kyuhyun mengusap perlahan wajah Yoona, menyeka air matanya yang turun membasahi wajah cantiknya. “Syukurlah, kau baik-baik saja. Aku sangat takut, jika terjadi apa-apa denganmu.”

Yoona kembali menangis. Begitu juga dengan Kyuhyun. Terlihat kerinduan yang mendalam di antara keduanya karena tidak bertemu selama 2 minggu.

“Sudahlah, lebih baik kau tetap tenang, Yoona. Jika kau stress, itu akan berpengaruh pada kondisi janinmu,” ucap Yuri.

Dahi Yoona mengernyit. Ia tak paham dengan maksud pernyataan sepupunya.

“Apa maksudmu, eonni?” tanya Yoona bingung, lalu menoleh ke arah Kyuhyun yang dilihatnya sedang tersenyum.

Kyuhyun semakin mempererat genggaman tangannya. “Ini kabar bahagia. Kau pasti senang mendengarnya.”

“Apa?”

Kyuhyun menoleh ke arah Yuri. Sepertinya ia membutuhkan bantuan gadis itu untuk memberitahukan semuanya pada Yoona.

“Kau—” Yuri tak dapat menahan senyumnya yang terus mengembang. “Kau sedang hamil 2 minggu. Sebentar lagi kau akan menjadi eomma.”

Yoona terkejut mendengarnya. Kaget tapi sekaligus perasaan senang yang tengah dirasakannya.

Oppa, apakah berita ini tidak bohong? Maksudku, apakah aku benar-benar sedang hamil?” tanya Yoona masih tidak percaya.

Kyuhyun mengangguk. Lalu tangannya menarik tangan Yoona, mengarahkan pada bagian perutnya lalu mengusapnya perlahan.

“Sekarang, di dalam tubuhmu sedang tumbuh calon buah hati kita. Syukurlah kejadian yang menimpamu tidak membahayakan kondisi janin yang sedang kau kandung,” ucap Kyuhyun.

Yoona terdiam. Perhatiannya tertuju pada luka yang dialami Kyuhyun di bagian wajah dan juga tangan.

“Apakah, kondisimu baik-baik saja? Tubuhmu penuh luka seperti ini karena appa, aku sangat khawatir jika sampai terjadi sesuatu padamu, oppa . . .” ujar Yoona.

Kyuhyun tersenyum. “Kau jangan khawatir. Kondisiku baik-baik saja. Kau jangan terlalu stress, harus tetap tenang dan menjaga kesehatanmu demi calon buah hati kita.”

Yoona mengangguk sembari tersenyum. Keduanya pun berpelukan satu sama lain.

Oppa, aku sangat bahagia,” ucap Yoona.

“Aku juga sangat bahagia. Mulai sekarang, kita mulai lagi dari awal. Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakan ataupun membuatmu menderita lagi,” balas Kyuhyun.

Keduanya tampak menatap dalam satu sama lain. Perlahan wajah keduanya mendekat hingga nyaris tidak ada jarak. Kyuhyun sudah bersiap mendaratkan sebuah kecupan di bibir Yoona, tapi . . .

Ehem! Memangnya kalian lupa jika aku masih ada di sini?” celetuk Yuri merusak suasana romantis yang tengah dirasakan Kyuhyun dan Yoona.

Kontan pernyataannya tersebut membuat wajah Kyuhyun dan Yoona merah padam. Sementara Yuri hanya tertawa melihat reaksi yang diperlihatkan dua orang di hadapannya tersebut.

*****

“Jadi, kau dan Kyuhyun sudah tidak ada hubungan lagi?”

Jessica menatap Donghae yang duduk di sebelahnya, kemudian mengangguk pelan seolah mengiyakan pertanyaan yang diberikan oleh Mr. Im. Jawaban tersebut membuat kedua orang tua Yoona tampak tersenyum, begitu juga dengan kedua orang tua Kyuhyun.

“Aku tahu, apa yang sudah kulakukan selama ini salah. Aku dan Kyuhyun memang sama-sama telah melakukan kesalahan besar. Menjalin hubungan terlarang hingga membuat orang yang sangat mencintai kami menjadi menderita. Kyuhyun sudah lama berkeinginan untuk mengakhiri hubungan kami, tapi aku terus menolak dan berupaya keras agar bisa tetap menjalin hubungan dengannya. Sampai akhirnya aku melihat Donghae mengalami kecelakaan karena melindungiku, membuatku sadar bahwa dialah orang yang pantas untukku, bukan Kyuhyun. Kyuhyun milik Yoona, bukan aku. Aku terlalu egois, jeongmal mianhae . . .” ucap Jessica menyesal terhadap perbuatannya.

Ne, Jessica. Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi, bagi kami, pengakuanmu ini sudah cukup untuk menjernihkan semua masalah yang terjadi di keluarga kami,” balas Mr. Cho.

“Maukah kau memaafkan Kyuhyun, ajussi?” tanya Jessica pada Mr. Im. “Kumohon jangan pisahkan dia dari Yoona. Kyuhyun tidak salah sepenuhnya, tapi aku.”

Mr. Im tersenyum lalu mengangguk. Jessica dan Donghae tampak saling memandang dengan senyum yang mengembang di wajah mereka.

“Tentu aku akan memaafkan Kyuhyun. Selain itu, mana mungkin aku akan memisahkannya dari Yoona. Karena—” Mr. Im tersenyum ke arah istrinya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. Sikapnya tersebut membuat semua orang penasaran.

“Karena bayi yang sedang dikandung Yoona, jelas membutuhkan ayahnya . . .” lanjutnya sambil tersenyum.

Semua orang tampak kaget mendengarnya. Kedua orang tua Kyuhyun terlihat masih tidak percaya dengan kabar membahagiakan tersebut, sementara Jessica dan Donghae langsung berpelukan menunjukkan kebahagiaan yang mereka rasakan.

“Maksudmu—” Mrs. Cho tampak terbata-bata untuk mengatakan sesuatu. “Yoona sedang hamil?”

Mrs. Im mengangguk. “Ne, kita akan segera memiliki cucu.”

Mrs. Cho dan  Mrs. Im pun langsung berpelukan dengan air mata haru. Sementara Mr. Cho dan  Mr. Im berjabat tangan sambil tersenyum.

“Kabar ini sungguh membahagikan bagi kita. Lebih baik kita lupakan semua masalah yang menimpa keluarga kita dan memulai lagi dari awal. Percayalah pada Kyuhyun, kuyakin dia pasti akan membahagiakan Yoona,” ucap Mr. Cho.

Mr. Im mengangguk dan tersenyum. “Ne, kali ini aku percaya putramu tidak akan mengecewakan putriku. Kita mulai lagi dari awal.”

Jessica dan Donghae tidak berhenti tersenyum ketika melihat dua keluarga di hadapan mereka tampak menyatu dan semua masalah sudah selesai. Mereka pun bergegas menuju rumah sakit Seoul untuk menemui Yoona.

*****

Seoul Hospital

Kedua orang tua Yoona dan Kyuhyun langsung masuk ke ruang inap tempat Yoona dirawat. Mereka terlihat bahagia saat mengetahui kondisi Yoona yang tengah hamil 2 minggu. Kyuhyun terus mendampingi Yoona. Pria itu terlihat bahagia, begitu juga dengan Yoona terus tersenyum dalam pelukan Kyuhyun.

Jessica tersenyum ketika memperhatikan suasana yang membahagikan di ruang inap Yoona. Ia pun berbalik dan mengurungkan niatnya untuk ikut masuk ke dalamnya. Donghae yang melihat sikapnya tersebut tidak bertanya lagi dan memilih untuk menemani Jessica. Keduanya tampak berjalan menuju taman rumah sakit.

“Kau baik-baik saja?” tanya Donghae sedikit khawatir.

Jessica mengangguk. “Melihat keluarga yang begitu bahagia, hatiku terasa tenang dan damai. Kurasa, keputusanku ini memanglah keputusan yang terbaik. Aku dan Kyuhyun, kali ini sudah berakhir. Benar-benar telah selesai.”

Donghae tersenyum karena senang Jessica mau melepas Kyuhyun untuk Yoona. Bagaimana pun juga, cinta yang dipaksakan itu sangatlah tidak tepat.

Jessica terdiam sejenak sembari menoleh ke arah Donghae. “Ada yang ingin kukatakan padamu.”

Donghae sedikit terkejut saat melihat wajah serius Jessica. “Apa?”

“Aku—” Jessica menundukkan wajahnya seolah sulit untuk mengungkapkannya pada Donghae. “Aku berencana untuk pergi ke Amerika.”

Hening. Donghae terdiam seribu basa mendengar apa yang diucapkan oleh Jessica tersebut. “Amerika?”

Jessica mengangguk. “Jujur, semua permasalahan ini membuatku stress. Aku hanya ingin menenangkan diri dan kembali ke rumah orang tuaku di sana.”

Donghae menghela nafas. Ia memahami jika perasaan Jessica demikian. Pria itu hanya tersenyum lalu memeluk Jessica dengan erat.

“Jika itu memang keputusanmu, aku tidak bisa menghalanginya. Kembalilah jika kau sudah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, arraseo?” pinta Donghae.

Air mata Jessica menetes. Baru ia sadari jika selama ini sudah bertindak bodoh dengan mengabaikan perasaan pria yang sangat mencintainya tersebut.

Ne, aku pasti akan kembali menemuimu,” ucap Jessica.

Donghae melepas pelukannya lalu berganti menggenggam erat tangan Jessica. “Saat kau kembali nanti, saat itulah kita akan segera mengucap janji suci di pernikahan kita.”

Jessica terkejut. “Donghae, kau—”

Donghae tersenyum lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berada dalam saku celananya. Jessica menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya dalam kotak kecil tersebut ketika Donghae membukanya. Sebuah cincin yang ia yakini bahwa Donghae sedang melamarnya.

“Maukah kau menikah denganku? Menjadi istriku dan juga ibu dari anak-anakku?”

Jessica tak kuasa menahan air matanya. Tanpa ragu ia mengangguk. Donghae tampak menyematkan cincin itu pada jari tangan Jessica. Keduanya pun berpelukan dan terlihat bahagia karena berhasil menyelamatkan hubungan mereka yang hampir saja berakhir karena keegoisan Jessica sebelumnya. Kini mereka berjanji akan selalu setia dan saling mencintai satu sama lain.

*****

“Kyuhyun, maafkan kesalahanku yang telah membuat tubuhmu penuh luka seperti ini. Aku terlalu emosi, mianhae . . .” ucap Mr. Im.

Aniyo, appa. Aku mengerti perasaan appa. Wajar jika appa marah padaku karena aku memang terlalu sering membuat kesalahan dan membuat Yoona menderita. Seharusnya aku yang meminta maaf, bukan appa . . .” balas Kyuhyun.

Keduanya pun berpelukan untuk saling memaafkan kesalahan satu sama lain. Yoona terharu melihat pemandangan di hadapannya. Begitu juga dengan kedua orang tua Kyuhyun, Mrs. Im dan Yuri.

“Kuharap kau akan selalu membuat putriku bahagia,” pinta Mr. Im.

Kyuhyun mengangguk. “Ne, appa. Aku berjanji akan selalu membahagiakan Yoona.”

Masa depan yang baru telah menanti Kyuhyun dan Yoona. Keduanya kini benar-benar telah saling mencintai satu sama lain. Hidup berdampingan sebagai suami istri akan mereka lakukan selamanya, sampai akhir hayat mereka. Tidak ada lagi keraguan dalam diri Kyuhyun untuk menerima Yoona sebagai istrinya dan penantian panjang Yoona agar Kyuhyun mau menerimanya pun berakhir dengan manis. Kini keduanya akan menunggu kehadiran buah hati mereka di tengah keluarga kecil mereka.

ooOoo

Berbagai persiapan menjelang kelahiran anak pertama Kyuhyun dan Yoona sudah dipersiapkan. Mulai dari menyiapkan kamar bayi dan juga berbagai kebutuhan bayi lainnya juga sudah dipersiapkan. Kyuhyun selalu memberikan perhatian penuh pada Yoona. Tak pernah sedetikpun ia melewatkan pemeriksaan kandungan Yoona, sampai rela mengorbankan waktu untuk pekerjaannya demi Yoona dan calon buah hati mereka.

Kyuhyun dan Yoona tengah berada di kamar baru untuk anak mereka nantinya yang diberikan nuansa warna ceria.

“Kau sengaja memilih warna netral untuk kamar anak kita?” tanya Yoona.

Kyuhyun mengangguk. “Karena belum tahu jenis kelaminnya, aku sengaja memilih warna netral.”

“Kau benar, oppa. Warna netral memang lebih cocok,” balas Yoona.

Kyuhyun mendekati Yoona. Tangannya tampak mengusap perlahan perut Yoona yang sudah membesar. Hal ini wajar mengingat usia kandungan Yoona yang sudah memasuki bulan ke-9.

“Apa kau sudah tidak sabar ingin segera melihatnya lahir ke dunia?” tanya Yoona sembari tersenyum.

Kyuhyun mengangguk. Lalu mendekat ke arah Yoona dan bersiap untuk melakukan kebiasaan yang sering dilakukannya. Mengajak berbicara pada anaknya walaupun masih berada dalam kandungan Yoona.

“Bagaimana kabarmu hari ini, anakku? Appa dan eomma sudah tidak sabar ingin segera melihatmu lahir ke dunia,” ucap Kyuhyun. Yoona terus tersenyum melihat perhatian yang diberikan suaminya tersebut.

Kyuhyun mendekatkan telinganya. Raut wajahnya perlahan berubah cerah dan tampak antusias ketika mendengar suara kecil yang menunjukkan bahwa anak mereka mendengar apa yang disampaikannya.

Oppa, dia menendang. Apa kau mendengarnya?” tanya Yoona.

Ne, aku mendengarnya,” jawab Kyuhyun. Namun telinganya tetap terus berada di dekat perut Yoona. “Semakin lama semakin sering kudengar.”

Kyuhyun mendongakkan kepalanya. Ia terkejut ketika mendapati raut wajah Yoona yang berubah. Istrinya tersebut tampak terdiam namun sesekali merintih kesakitan sembari memegangi perutnya.

“Kau kenapa?” tanya Kyuhyun mulai merasa panik.

Yoona menggeleng. “Entahlah, oppa. Kenapa perutku tiba-tiba terasa sakit?”

Kyuhyun terdiam. Pria itu terlihat gusar, saat melihat raut wajah Yoona yang kembali berubah dan tampak semakin kesakitan.

Oppa—” Yoona tampak menggigit bibirnya sembari memegangi perutnya. “Kurasa ini sudah waktunya. Sepertinya aku akan segera melahirkan.”

MWO?

-TBC-

Halo, akhirnya jadi publish juga untuk kelanjutan FF ini. Banyak yang lagi nungguin kah? Hehe ^^v

Untuk FF ini sebentar lagi memang sudah tamat. Part ini untuk nuansa sedihnya memang sudah saya kurangi, jadi lebih dominan untuk penyelesaian semua masalah. Alurnya kecepatan?  Maaf ya jika ceritanya kurang karena sepertinya memang imajinasi saya tidak semulus biasanya dan ceritanya juga yang sudah mau habis. Semoga di part terakhir nanti, saya bisa membuat ending cerita sesuai dengan harapan kalian. Gomawo😉

83 thoughts on “Look, at Me! – Chapter 9

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s