Lovely Couple – Chapter 9 End


lovelycouple5a

Title : 

“Lovely Couple”

Main Cast :

Cho Kyuhyun Super Junior

Im Yoona SNSD

Choi Minho Shinee

Choi Sulli F(X)

Other Cast :

Lee Hyukjae Super Junior

Kwon Yuri SNSD

Seo Joo Hyun SNSD

Genre :

Comedy, Family, Friendship, Romance

Author :

Charisma Rahmayanti

Rating :

PG-15

Disclaimer :

FF ini asli buatan sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan jika alur cerita sama. Saya hanya meminjam nama tokoh dan tempat. Jangan memplagiat FF ini!

Attention :

Mohon komentarnya agar dapat meningkatkan kemampuan saya dan untuk perbaikan positif ke depannya dalam menulis FF. Hope you all like it.

Selamat membaca ^_^

Copyright©rismarii

-Previous Story-

Yoona dapat merasakan pesawat yang perlahan mulai bergerak. Gadis itu tampak tersenyum. Mungkin ini keputusan yang terbaik saat ini. Pergi ke Jepang dengan membawa semua perasaanya pada Kyuhyun.

“Selamat tinggal, Cho Kyuhyun . . .”

-End Previous Story-

DRAP! DRAP! Terdengar suara langkah kaki yang cukup keras di sekitar pintu masuk bandara Incheon. Sang pemilik langkah kaki tersebut terlihat berlarian panik begitu tiba di bandara Incheon. Nafasnya terengah-engah. Kedua matanya tampak memperhatikan sekeliling, berusaha menemukan sosok gadis yang ia harapkan masih ada. Hingga akhirnya ia berhenti pada satu titik, dimana ia melihat beberapa orang yang terlihat bersiap untuk keluar meninggalkan bandara Incheon. Dengan cepat ia bergegas menyusul mereka hingga kini berhasil berdiri di hadapannya. Kehadirannya tak pelak membuat orang-orang tersebut menatap kaget ke arahnya.

“Dimana Yoona?”

Kyuhyun, suaranya tampak bergetar saat menanyakannya pada Minho, Sulli, Eunhyuk dan Yuri yang terlihat hanya menunduk dan terdiam.

“Kenapa kau baru datang Kyuhyun-ssi? Keponakanku sudah masuk pesawat beberapa waktu yang lalu dan pesawat itu sudah lepas landas,” jawab Kim ajussi.

Tubuh Kyuhyun terasa kaku mendengarnya. Sementara empat orang di hadapannya itu hanya bisa menatap sedih melihat nasibnya.

“Tidak mungkin dia sudah berangkat? Aku sudah berupaya keras untuk sampai di sini tepat waktu. Tidak mungkin . . .”

***

Kyuhyun masih terpaku pada minuman yang belum habis diteguknya. Tatapannya tampak kosong. Raganya mungkin saat ini memang sedang bersama Seohyun, namun pikirannya jelas jauh tidak berada di tempat yang sama. Sedari tadi, ia terus memikirkan Yoona.

Seohyun sepertinya menyadari sikap Kyuhyun tersebut. Ia tahu, berkali-kali mengajaknya bercanda tawa, namun tak sedikitpun Kyuhyun membalasnya. Laki-laki itu hanya tersenyum tipis. Bahkan sampai hampir tidak terlihat gurat senyum di wajahnya.

“Kyu . . .”

Kyuhyun terlalu fokus dalam pikirannya, hingga tidak menyadari bahwa Seohyun tengah memanggilnya.

“Kyuhyun-ah . . .”

“Ah, ne?”

Seohyun tersenyum tipis. Ia yakin, jika Kyuhyun sama sekali tidak menikmati kebersaman mereka.

“Mianhae,” ucap Seohyun kemudian. Tak pelak ucapannya tersebut membuat dahi Kyuhyun mengkerut. Untuk apa Seohyun meminta maaf.

“Sebenarnya, aku—” Seohyun tampak memutar-mutar kedua bola matanya. “Aku akan segera menikah.”

“MWO?”

“Aku sudah dijodohkan dengan orang lain oleh kedua orang tuaku. Tidak lama lagi kami akan segera menikah,” lanjut Seohyun.

Kyuhyun masih menatapnya shock. “Lalu . . . apa arti ucapanmu kemarin? Jika ternyata kau sudah akan—”

“Aku hanya sedang memastikan perasaanmu. Apakah, sampai sekarang kau masih mencintaiku ataukah—” Seohyun menunjukkan wajah seriusnya. “Kau sudah jatuh cinta pada orang lain?”

Kyuhyun tersentak. Ia masih bingung dengan sikap Seohyun. “Seo Joo Hyun . . .”

“Sekarang aku sudah menemukan jawabannya,” ucap Seohyun sembari tersenyum kecil. “Di hatimu, sudah tidak ada lagi tempat untukku. Kurasa, di hatimu sekarang sudah terisi oleh Yoona. Apa aku salah?”

Kyuhyun terdiam. Kemudian mengangguk membenarkan pertanyaan Seohyun.

“Tujuanku kembali ke Korea, aku hanya ingin melihat kondisimu. Memastikan apakah kau sudah menemukan kebahagiaan lain yang jauh lebih berarti dibandingkan diriku. Awalnya, saat aku datang ke rumahmu dan melihat Yoona di kamarmu, aku sudah menduga, jika gadis itulah yang telah mengisi relung hatimu yang kesepian karena diriku,” ucap Seohyun.

Kyuhyun masih menatap serius ke arah Seohyun.

“Akupun juga menguji perasaan Yoona padamu. Suatu hari, aku pernah datang ke rumahnya dan memberinya ancaman agar menjauhi dirimu. Dugaanku tepat, dia langsung bereaksi dan terakhir kali sikapnya saat kita berpelukan di taman hiburan Seoul, semakin meyakinkanku jika dia juga sangat mencintaimu . . .” ucap Seohyun.

Kyuhyun tercengang. Jadi ancaman Seohyun kah yang sedang disembunyikan Yoona darinya?

“Kenapa kau lakukan ini? Tidakkah kau membuat hubungan kami menjadi—”

“Aku tahu, aku salah. Tapi, ini hanya cara terakhir yang bisa kugunakan, untuk membuatmu terlepas dari semua kehidupan masa lalu kita. Anggaplah itu sebagai kenangan terakhir. Kau jangan terlalu berlarut dalam kesedihan karena aku. Kau harus hidup bahagia,” ucap Seohyun. “Sekali lagi maafkan aku.”

***

Mata laki-laki itu tampak menatap ke arah langit, melihat pesawat yang sudah terbang perlahan menjauh dan tak terlihat lagi. Ada kekecewaan dalam benaknya, yang tidak mau mengakui bahwa ia memang mencintai gadis yang kini tengah berada dalam pesawat yang dilihatnya tersebut.

“Kuharap kita bisa bertemu lagi, suatu saat nanti, Im Yoona . . .”

ooOoo

3 Years Later . . .

“Minho!”

Sosok laki-laki yang merasa namanya dipanggil itu tampak menoleh ke belakang. Wajahnya tersenyum senang begitu melihat gadis yang berlari mendekat ke arahnya.

“Sulli . . .”

“Kau mau kemana?” tanya Sulli.

“Ke perpustakaan,” jawab Minho sembari menunjukkan beberapa buku yang sedang dibacanya.

Sulli tersenyum. “Kau memang sama dengan kakakmu. Selalu menghabiskan waktu di perpustakaan jika sudah berada di kampus.”

Laki-laki itu hanya tersenyum menanggapi pernyataan gadis yang sudah menjadi kekasihnya selama 3 tahun itu. Kini keduanya sudah menjadi mahasiswa dan mahasiswi di kampus yang sama dengan kedua kakak mereka, Inha University. Namun, berbeda dengan kedua kakak mereka yang mengambil jurusan yang sama, Minho dan Sulli mengambil jurusan yang berbeda.

“Bagaimana kabar Yoona-eonni?” tanya Sulli kemudian.

“Baik. Kurasa beberapa hari lagi dia akan kembali ke Korea,” jawab Minho. “Kyuhyun-hyung juga pergi ke Jepang setelah menyelesaikan studinya di sini. Apakah dia berhasil bertemu dengan kakakku?”

Sulli mengangkat bahunya perlahan. “Entahlah. Kuharap mereka berdua memang bisa bertemu.”

*****

Tokyo, Japan

Di sebuah gedung apartemen yang berdiri cukup megah dan mewah, terlihat seorang wanita yang berpenampilan dewasa tampak berjalan menuju kamar apartemennya. Di tangan kanannya tampak memegang ponsel karena sedang berbicara dengan seseorang.

Ne, eomma. Jangan khawatir. Begitu aku selesai dengan administrasi studiku, aku akan datang ke rumah menemui kalian . . .”

“. . .”

Im Yoona, ia tidak berhenti tersenyum saat berbicara dengan eommanya. Saat ini, ia sudah menyelesaikan studi kuliahnya di Tokyo University. Selama menjalani studi kuliahnya, ia memutuskan untuk tinggal sendiri secara terpisah dengan kedua orang tuanya di Tokyo. Sebelum menjalani pekerjaannya usai menyelesaikan studi kuliahnya, ia berniat untuk kembali ke Seoul selama beberapa hari.

Langkahnya terhenti begitu tiba di depan pintu kamarnya. Perhatiannya tertuju pada setangkai bunga mawar yang sudah diletakkan di depan pintu kamarnya. Ia pun mengambil bunga itu dan melihat kembali tulisan yang tertera di kartu ucapannya.

~Aku sangat merindukanmu, saranghae~

Lagi-lagi tidak ada nama pengirimnya. Yoona membuka kunci pintu kamar apartemennya, kemudian berjalan masuk menuju ruang tengah. Ia meletakkan bunga tersebut di antara puluhan bunga yang sudah terkumpul di salah satu sudut ruang. Sudah hampir 2 bulan terakhir ini, ia selalu menerima pesan yang sama dengan bunga mawar yang diletakkan di depan kamarnya.

“Siapa orang yang selalu memberikan bunga dan juga pesan ini? Aku benar-benar penasaran,” gumam Yoona lirih.

Yoona terdiam cukup lama, seolah berpikir untuk mencari siapa pengirim bunga misterius itu.

“Lebih baik, aku cari tahu siapa pengirimnya . . .” ucap Yoona kemudian. Ia pun berjalan menuju balkon apartemennya. Mencoba menikmati pemandangan kota Tokyo dari kamar apartemennya. Tidak terasa sudah 3 tahun ia tinggal di Jepang. Meninggalkan Korea dan juga semua kenangan di sana. Terlebih kenangan akan Kyuhyun, orang yang sampai sekarang tidak bisa dilupakannya. Harus Yoona akui, perasaannya terhadap Kyuhyun tidak pernah hilang, bahkan semakin kuat. Berkali-kali ia berusaha untuk melupakan pria itu, tapi tidak pernah berhasil.

Hal yang selalu ada dalam benak Yoona, ia tidak mungkin pernah bisa bersatu dengan Kyuhyun. Sampai sekarang, ia selalu berpikir jika Kyuhyun menjalin hubungan kembali dengan Seohyun. Entah apa yang akan dilakukan Yoona selanjutnya dalam menghadapi perasaannya terhadap Kyuhyun. Ia selalu berharap, jika saat ini Kyuhyun tidak menjalin hubungan kembali dengan Seohyun. Walaupun pada akhirnya, Yoona tahu itu hanyalah tinggal harapan semata.

Yoona memusatkan perhatiannya ke arah langit yang perlahan berubah warna menjadi warna jingga. Sekilas, ia melihat bayangan wajah Kyuhyun yang sedang tersenyum.

“Bagaimana kabarmu, Kyu?”

ooOoo

Yoona keluar dari kamar apartemennya. Ia tampak memperhatikan sekeliling. Mencoba untuk memeriksa situasi. Begitu mengetahui situasi sudah tepat, ia tampak menuliskan sebuah memo lalu menempelkannya di depan pintu kamar apartemennya. Ia berniat untuk mencari tahu siapa pengirim bunga misterius. Dalam memo itu tertulis keinginannya mengajak sang pengirim bunga misterius itu untuk bertemu secara empat mata.

Kau siapa? Bisakah kita bertemu?

Yoona kembali memperhatikan tulisan dalam memo itu. Ia tersenyum puas. Semoga saja rencananya itu berhasil.

“Semoga saja aku bisa bertemu denganmu, Tuan pengirim bunga . . .” gumamnya lirih lalu bergegas pergi meninggalkan apartemennya.

Tak lama kemudian, sesuai dengan perkiraan Yoona, terlihat seorang pria yang berperawakan tinggi keluar dari kamar apartemen yang berada persis di depan kamar apartemen Yoona. Ia pun berjalan menuju kamar apartemen Yoona. Seolah sudah menduga jika sang pemilik kamar apartemen sudah pergi, pria itu langsung meletakkan kembali setangkai bunga mawar dengan pesan yang sudah terikat pada tangkai bunga tersebut. Saat ia bersiap pergi, perhatiannya tertuju pada sebuah memo yang tertempel di depan pintu kamar apartemen Yoona. Pria itu membaca sejenak, kemudian gurat senyum tergambar di wajahnya. Ia mengeluarkan sebuah pena lalu menuliskan sesuatu pada memo tersebut, kemudian baru pergi meninggalkan kamar apartemen Yoona.

Sesekali ia berhenti sejenak begitu menyadari ponselnya berdering. Ia pun bergegas mengambil ponselnya dari saku celananya, kemudian menekan tombol untuk menjawab panggilan telepon yang masuk.

Yeoboseyo . . .”

“. . .”

Ne, Sulli-ah! Aku baik-baik saja di sini. Kau sendiri?”

“. . .”

Senyum pria itu terus mengembang di wajahnya begitu mendengar pembicaraan dari adiknya.

“Kau jangan khawatir. Sebentar lagi, kami pasti akan segera bertemu . . .”

Pria itu tampak tersenyum yakin sambil memandangi pintu kamar apartemen Yoona. Ia pun berbalik dan bergegas meninggalkan gedung apartemen untuk pergi ke suatu tempat.

*****

Usai bertemu dengan kedua orang tuanya, Yoona kembali ke apartemennya. Dalam hati, ia berharap agar memo yang ia tulis untuk sang pengirim bunga misterius mendapat balasannya. Yoona mempercepat laju jalannya karena tak sabar ingin segera melihat memo itu. Tepat seperti dugaannya, memo tersebut sudah ada tulisan lain di bawah tulisannya. Ia pun membaca tulisan tersebut.

Jam 4 sore di Taman Ueno

Ia melirik jam tangan yang dikenakannya. Seketika matanya terbelalak. Jarum jam sudah menunjukkan angka 4 lewat. Itu artinya, pengirim bunga misterius itu pasti sudah menunggu di sana. Tanpa masuk ke kamar apartemennya, Yoona langsung berbalik meninggalkan apartemennya menuju lokasi yang sudah dijanjikan untuk bertemu dengan sang pengirim bunga misterius.

Yoona berjalan menuju basement tempat mobilnya terparkir. Kemudian mengeluarkan kunci mobil dan menekan tombol pembuka kunci otomatis, lalu masuk ke dalamnya. Lalu menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju Taman Ueno.

Tidak butuh waktu lama bagi Yoona untuk sampai di Taman Ueno. Lokasinya memang tidak jauh dari gedung apartemennya. Yoona bergegas keluar dari mobil lalu berjalan menuju sebuah kursi taman. Ia pun berdiri sejenak sembari memperhatikan sekeliling. Di sela pencarian sosok sang pengirim bunga misterius, ia tampak menikmati pemandangan bunga seroja yang indah. Cukup lama ia mencari, namun ia tidak menemukan sosok yang ia duga adalah sang pengirim bunga tersebut.

“Lama tidak bertemu . . .”

DEG! Sebuah suara membuat jantung Yoona berdebar. Tubuhnya berdiri mematung dan tak bergerak sedikitpun. Ia pun berbalik dan mendapati sosok pria sudah berdiri di belakangnya. Seketika mata Yoona terbelalak begitu dapat melihat dengan jelas siapa pria tersebut. Pria yang selama ini berusaha ia hilangkan dari hatinya namun tidak pernah berhasil.

“Kyuhyun?”

Ne, ini aku,” jawab Kyuhyun kemudian dengan senyum khas di wajahnya.

Yoona masih menatap tak percaya. Ia pun refleks menepuk kedua pipinya, berusaha menyadarkan bahwa ini bukanlah mimpi melainkan kenyataan. Tak pelak reaksinya itu membuat Kyuhyun terkejut.

“Yoona . . .” panggil Kyuhyun berusaha menenangkan wanita di hadapannya itu.

“Kau—” Yoona memutar kedua bola matanya. “Benar kau Cho Kyuhyun?”

Mendengar pertanyaan Yoona tersebut, ekspresi Kyuhyun langsung berubah malas. “Ya! Masa kau tidak percaya? Sudah tiga tahun kita tidak bertemu, inikah ucapan yang keluar dari mulutmu setelah kita bertemu kembali?”

Yoona mengerucutkan bibirnya. “Aku hanya terkejut. Tidak perlu berteriak.”

“Kau terkejut?” Kyuhyun menyipitkan kedua matanya lalu berjalan mendekat hingga tidak ada jarak dengan Yoona. “Kau terkejut karena aku semakin tampan, benar kan?”

Yoona memaksakan diri untuk tersenyum. “Kau sama sekali tidak berubah.”

“Tentu saja berubah. Kau tidak lihat, aku sudah menjadi pria dewasa?”

“Hanya penampilan yang berubah, tidak menjamin isi di dalamnya juga berubah,” balas Yoona.

Kyuhyun tersenyum. “Tentu ada. Di hatiku, ada yang berubah.”

Yoona terdiam. “Apa maksudmu?”

Kyuhyun menatap Yoona serius. “Seseorang yang kini berada di dalam lubuk hatiku, adalah orang yang berbeda. Bukan lagi cinta pertamaku, tapi—”

Tangan Kyuhyun perlahan tampak menggenggam tangan Yoona, membuat wanita itu menatapnya bingung.

“Kau . . .”

DEG! Yoona kembali merasakan debaran jantungnya yang tidak beraturan. Hawa panas juga ia rasakan di sekitar wajahnya. Ia bisa membayangkan saat ini wajahnya tengah memerah.

SET! Dengan cepat Yoona langsung melepas tangannya dari genggaman tangan Kyuhyun.

“Kau jangan bercanda,” elak Yoona.

“Aku sedang tidak bercanda,” tegas Kyuhyun. “Kau tidak bisa merasakan ketulusan hatiku ini dari pesan yang kukirim dengan bunga mawar setiap hari padamu? Apa kau tidak bisa merasakannya?”

Yoona tercengang. Selama ini pengirim bunga misterius itu adalah Kyuhyun. Ia sama sekali tidak menduganya.

“Apa aku kembali mengejutkanmu?” tanya Kyuhyun kemudian saat melihat Yoona menatap diam ke arahnya.

“Kau memang tidak pernah bisa ditebak,” jawab Yoona kemudian. “Untuk apa kau melakukan semua ini?”

Kyuhyun terdiam. Keseriusan terlihat jelas di wajahnya. Tidak ada keraguan lagi dalam diri Kyuhyun untuk memperjuangkan cintanya yang seharusnya ia lakukan sejak 3 tahun silam.

“Untuk memperjuangkan cintaku padamu, apapun akan kulakukan, Im Yoona . . .”

“Kau pikir aku akan semudah itu percaya dengan semua ucapan dan tindakanmu selama ini?” Yoona kembali berusaha menyangkal semua perasaan Kyuhyun yang ditujukan padanya. “Kau seharusnya bersama Seohyun, kenapa justru sekarang ada di sini dan menemuiku?”

“Aku sama sekali tidak ada niat untuk menjalin hubungan kembali dengan Seohyun, dia—”

“Cukup! Aku tidak mau dengar apapun darimu,” potong Yoona lalu berbalik dan bergegas masuk ke mobilnya.

“Yoona!” teriak Kyuhyun sembari mengejar Yoona yang sudah masuk ke mobilnya.

Namun wanita itu mengabaikannya dan memilih untuk tetap melajukan mobilnya, walaupun Kyuhyun terus mengetuk jendela kaca mobilnya.

Mobil Yoona perlahan semakin menjauh. Kyuhyun mulai kehabisan akal untuk meyakinkan perasaannya pada Yoona.

“Apa yang harus kulakukan, agar kau percaya pada perasaanku ini . . .”

*****

Yoona memperhatikan sosok pria itu dari kaca spion mobilnya. Ia melihat raut wajah Kyuhyun yang terlihat sedih.

Mianhae, Kyu. Ini terlalu mengejutkan, aku tidak bisa berpikir apapun . . .”

Perlahan air mata Yoona menetes. Semua perasaan itu bercampur aduk dalam dirinya.

DRRT! Tiba-tiba ponselnya berdering. Yoona segera menghapus air matanya kemudian memasang earphone untuk menerima panggilan telepon yang masuk.

Yeoboseyo . . .”

“ . . .”

“Ada apa kau meneleponku, Minho?”

“. . .”

“Besok aku akan berangkat ke Korea.”

“. . .”

Ne, eomma dan appa baik-baik saja.”

“. . .”

Arraseo, begitu aku berangkat dari Jepang, aku akan mengirimmu pesan terlebih dahulu.”

KLIK! Yoona melepas earphonenya dan kembali fokus mengemudikan mobilnya menuju apartemennya. Tanpa ia duga, ia justru bertemu dengan Kyuhyun, satu hari menjelang hari keberangkatannya ke Korea.

ooOoo

Sesuai rencana, hari ini Yoona akan kembali ke Seoul selama beberapa hari. Minho dan Kim ajussi sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengannya, karena itulah ia memutuskan untuk berlibur beberapa hari di Seoul. Dengan satu koper yang ditariknya dan juga tas yang dikenakannya, Yoona sudah bersiap menuju Narita International Airport.

“Sudah siap berangkat?”

Sosok pria sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan barang yang sama dengan Yoona. Kehadirannya itu sukses membuat Yoona kaget.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Yoona sedikit berteriak saat melihat Kyuhyun.

Kyuhyun mengambil tiket dan passpor yang dipegang Yoona.

“Hari ini kau kembali ke Korea. Kebetulan sekali penerbangan kita sama,” jawab Kyuhyun terkekeh sembari menunjukkan tiket dan passpornya.

“Darimana kau tahu?” tanya Yoona penasaran.

“Sudah kubilang, apapun akan kulakukan untuk membuktikan cintaku padamu. Aku pasti tahu semua hal tentang dirimu,” jawab Kyuhyun.

Yoona terdiam sejenak. Kemudian ia teringat obrolannya dengan Minho kemarin.

“Pasti Minho yang memberitahu Sulli, dan pada akhirnya Sulli yang memberitahumu,” ucap Yoona dengan raut kesalnya.

Kyuhyun hanya meringis menanggapi analisa Yoona yang tepat.

“Tidak ada salahnya kita berangkat bersama ke Seoul,” balas Kyuhyun.

“Terserah kau sajalah,” ucap Yoona menyerah.

Yoona berjalan mendahului dan meninggalkan Kyuhyun yang melompat kegirangan karena ada kesempatan untuk menikmati perjalanan berdua dengan Yoona ke Korea

*****

Narita International Airport

Yoona mempercepat langkahnya menuju boarding pass. Sementara Kyuhyun yang ikut berjalan di belakangnya tidak bisa berhenti tersenyum melihat tingkah Yoona.

“Apa?!” tanya Yoona sembari menoleh ke arah Kyuhyun.

“Tidak ada,” jawab Kyuhyun singkat namun tetap sambil tertawa kecil.

Yoona tidak bertanya lagi dan terlihat fokus pada petugas di area boarding pass. Begitu pengecekkan selesai, baik Yoona ataupun Kyuhyun langsung masuk ke pesawat. Yoona tampak bergegas memilih kursi penumpang. Begitu ia duduk di salah satu deretan kursi penumpang yang masih kosong, Kyuhyun ikut mengambil posisi duduk di sebelahnya. Yoona langsung menatap tajam ke arah Kyuhyun.

“Kenapa kau duduk di sini? Carilah tempat lain,” pinta Yoona.

Kyuhyun menyipitkan kedua matanya. “Shireo! Aku mau duduk di sini. Kau tidak berhak melarangku.”

Yoona menggigit bibirnya, gemas dengan sikap Kyuhyun yang seperti anak kecil. Padahal ia ingin menjauh dari Kyuhyun. Tapi, setelah 3 tahun, kenapa Kyuhyun tiba-tiba muncul kembali di hadapannya? Selain itu, kenapa saat ini juga ia harus bersama bahkan duduk bersebelahan dalam perjalanannya kembali ke Seoul dengan Kyuhyun?

“Aish, jika kau tidak mau pindah, lebih baik aku saja yang pindah . . .” ucap Yoona kemudian. Ia pun bersiap beranjak dari posisinya untuk berpindah kursi, namun tiba-tiba ada seorang pramugari yang berjalan mendekatinya.

Mianhae, Nona. Pesawat sebentar lagi akan lepas landas. Anda harus duduk dan mengenakan seat belt,” ucap sang pramugari.

Tindakan pramugari tersebut sukses mempermalukan Yoona di hadapan Kyuhyun. Pria itu kembali tertawa kecil.

“Ah, baiklah . . .” balas Yoona pelan. Ia pun kembali pada posisinya dan terpaksa harus duduk di sebelah Kyuhyun.

“Bagaimanapun juga, jika sudah berjodoh, kita tidak bisa dipisahkan oleh siapapun,” bisik Kyuhyun.

Yoona menoleh tajam ke arah Kyuhyun. Ia heran, kenapa Kyuhyun bisa berbicara se-frontal sekarang dibandingkan sebelumnya?

Pesawat pun perlahan mulai meninggalkan landasan.

Selama perjalanan ke Korea, Yoona merasa canggung dengan Kyuhyun. Sudah tiga tahun mereka tidak bertemu. Selain itu, ia yang sedang berjuang mati-matian untuk melupakan perasaannya terhadap Kyuhyun, namun tidak pernah bisa, kembali harus menerima kenyataan bahwa sebenarnya ia masih mencintai pria yang duduk di sebelahnya itu.

Kyuhyun sendiri juga sedang memikirkan berbagai cara untuk meyakinkan Yoona bahwa ia sangat mencintai wanita itu. Ia tidak peduli, jika Yoona menganggapnya gila atau apa dengan semua sikap frontalnya yang terlihat mengejar Yoona secara terang-terangan dibandingkan sebelumnya.

Penerbangan dari Jepang ke Korea kurang lebih memakan waktu hampir 2 jam. Selama perjalanan, tentu rasa lelah itu ada. Seperti yang sedang dialami oleh Yoona. Kyuhyun sedari tadi memperhatikan Yoona yang terlihat tidak nyaman untuk tidur. Wanita itu tampak terkantuk-kantuk dengan kepalanya yang berkali-kali hampir menunduk.

Dengan sigap, Kyuhyun memegang kepala Yoona secara hati-hati, kemudian menyenderkan di bahunya. Sehingga Yoona bisa tidur dengan nyaman sembari bersender di bahu Kyuhyun. Pria itu memperhatikan wajah polos Yoona yang sedang tertidur. Perlahan tangannya tampak mengusap lembut wajah Yoona. Tanpa sadar, Yoona tersenyum dalam tidurnya. Kyuhyun yang melihatnya juga tersenyum. Ia letakkan tangannya di atas tangan Yoona, hingga kedua tangan mereka bertaut dalam genggaman erat. Perlahan, Kyuhyun juga ikut larut dan terlelap tidur.

Siapapun yang melihat keduanya, pasti beranggapan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

*****

Incheon International Airport

Minho dan Sulli terlihat menunggu di dekat pintu kedatangan bagi penumpang yang tiba di bandara Incheon. Wajah keduanya terlihat bersemangat mengingat Kyuhyun dan Yoona akhirnya kembali ke Korea dalam satu pesawat.

“Kau senang sekali?” tanya Minho saat melihat raut wajah Sulli.

“Tentu,” jawab Sulli. “Aku sudah tidak sabar ingin segera mendengar kabar bahagia dari mereka.”

Minho mengernyitkan dahinya. “Kabar bahagia?”

“Aku berharap mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih,” lanjut Sulli.

“Sepertinya masih membutuhkan waktu,” balas Minho.

Sulli harus mengakui apa yang dikatakan Minho benar.

Tak lama kemudian, terdengar pemberitahuan jika pesawat dengan pemberangkatan Jepang sudah tiba. Minho dan Sulli tampak memperhatikan ke arah penumpang yang mulai keluar dari pintu kedatangan. Kemudian perhatian mereka tertuju pada sosok wanita dan pria yang berjalan berurutan.

Wajah Yoona tampak memerah, sementara Kyuhyun tak berhenti untuk tersenyum Minho dan Sulli saling memandang.

Noona . . .” panggil Minho dan sukses membuat Yoona menoleh ke arahnya. Yoona langsung berjalan mendekat. Kemudian memeluk adiknya tersebut lalu melakukan hal yang sama pada Sulli..

Annyeong eonni, lama tidak bertemu,” sapa Sulli.

Yoona tersenyum kemudian melirik tajam ke arah Kyuhyun yang berdiri di sebelahnya. Ia pun langsung menarik Minho.

Kajja, kita pulang!” ajak Yoona.

“Tapi . . .” Minho berusaha menolak tapi gagal karena Yoona terus menariknya hingga menjauh dari Kyuhyun dan Sulli.

Melihat sikap Yoona tersebut, Sulli yakin ada hubungannya dengan Kyuhyun.

“Apa yang terjadi?” tanya Sulli penasaran.

Kyuhyun terdiam, tapi kemudian kembali tersenyum.

***

Pesawat sudah berhenti. Penumpang lain tampak mulai berhamburan keluar dari pesawat. Kyuhyun perlahan membuka kedua matanya, kemudian memperhatikan Yoona yang masih tertidur di sebelahnya. Ingin rasanya ia membangunkan tapi tak tega. Akhirnya ia memilih membiarkannya dan menunggu semua penumpang turun.

Pramugari tampak datang menghampirinya.

“Mianhae, Tuan. Pesawat sudah tiba di bandara Incheon. Anda bisa segera . . .”

Tiba-tiba Yoona terbangun dari tidurnya karena mendengar suara pramugari tersebut. Betapa terkejutnya wanita itu saat mendapati di dalam pesawat tampak kosong dan hanya terlihat pramugari dan juga petugas lainnya, serta Kyuhyun.

Wanita itu tampak menoleh ke arah Kyuhyun yang tersenyum. Yoona baru sadar jika sejak perjalanan dari Jepang, ia tertidur di bahu Kyuhyun.

“Kenapa tidak membangunkanku?” tanya Yoona kesal. Wajahnya tampak memerah.

Tanpa menunggu Kyuhyun menjawab, Yoona langsung beranjak dari posisinya sambil mengambil tasnya. Kemudian berjalan keluar melewati pramugari dan keluar dari pesawat. Kyuhyun  yang melihatnya hanya tertawa kecil lalu berjalan mengikuti Yoona dari belakang.

***

Yoona terdiam di ruang tengah. Ia kembali teringat kejadian selama perjalanan dari Jepang ke Korea. Rasanya benar-benar malu. Kenapa harus tertidur di bahu Kyuhyun?

Perhatian Yoona beralih pada Minho yang berjalan melewati ruang tengah.

“Kenapa kau melakukannya?” tanya Yoona kesal pada Minho.

Minho menoleh. “Melakukan apa?”

Yoona mendesah. “Memberitahu alamat apartemen dan juga jam pemberangkatanku kembali ke Seoul pada Kyuhyun. Kenapa kau melakukannya? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidak memberitahu pada siapapun khususnya Kyuhyun?”

Minho seolah menahan rasa kesal terhadap reaksi Yoona tersebut. “Aku melakukannya karena aku mau. Selain itu, Seohyun-noona sudah menikah, dan kupikir ini adalah satu-satunya kesempatan agar kau bisa menjalin hubungan dengan Kyuhyun-hyung.”

Yoona terkejut. “Mwo?

“Seohyun-noona sudah menikah. Kyuhyun-hyung sangat mencintaimu . . .” lanjut Minho. “Hanya ini yang bisa kulakukan dan kukatakan padamu. Selebihnya, terserah kau saja noona.

Kedua mata Yoona tampak menatap lurus ke arah Minho yang perlahan masuk ke kamar.

Seohyun sudah menikah? Kenapa kemarin Kyuhyun tidak memberitahukan sebelumnya?

ooOoo

Suara kicauan burung berhasil membangunkan Yoona yang masih tertidur pulas di kamarnya. DRRT! Dering ponsel juga menambah kekuatan Yoona untuk segera membuka kedua matanya. Ia pun beranjak dari tidurnya sembari mengerjapkan kedua matanya, kemudian mengambil ponselnya. Rupanya ada sebuah pesan masuk.

Noona, aku meletakkan secarik kertas di bawah pintu kamarmu

-Minho-

Kedua alis Yoona bertaut, seolah penasaran dengan kertas yang diletakkan Minho. Ia pun beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju pintu kamarnya. Sedikit merendahkan badan lalu mengambil kertas putih yang sudah diletakkan di bawah pintu kamarnya.

Kutunggu di Namsan Tower jam 10 pagi

Jika kau datang, artinya kau menerima cintaku

Jika kau tidak datang, artinya kau menolak cintaku

-Kyuhyun-

Raut wajah Yoona berubah serius. Ia menduga jika tulisan ini adalah tulisan Minho, bukan Kyuhyun. Sepertinya pria itu tampak berjuang keras hingga meminta bantuan adiknya dan juga Sulli.

“Apa kau sungguh-sungguh mencintaiku, Cho Kyuhyun?”

Yoona terdiam sejenak. Ia kembali teringat ucapan Minho semalam.

“Seohyun-noona sudah menikah. Kyuhyun-hyung sangat mencintaimu . . .”

Terdiam cukup lama, ada perasaan frustasi yang menggelayuti hati Yoona. Ia kembali memperhatikan kertas yang dipegangnya. Datang atau tidak? Apa yang harus dipilihnya? Ingin rasanya Yoona datang, namun ia masih belum merasa yakin sepenuhnya. Hingga akhirnya, wanita itu memilih meletakkan kertas itu di atas mejanya, kemudian berjalan keluar dari kamar. Ia masih membutuhkan waktu untuk berpikir.

*****

Merasa bosan, Yoona memutuskan untuk bernostalgia dengan kampusnya yang dulu. Ia memutuskan untuk makan siang di sebuah cafe yang lokasinya tidak jauh dari Inha University. Di sela-sela makan siangnya, tiba-tiba ada seorang wanita yang berjalan mendekati mejanya

“Im Yoona . . .”

Yoona mendongakkan kepalanya dan seketika terkejut saat melihat Seohyun sudah berdiri di depannya.

“Seohyun . . .”

Seohyun hanya tersenyum kemudian duduk di kursi kosong di depan Yoona.

“Kapan kau kembali ke Seoul?” tanya Seohyun.

“Kemarin,” jawab Yoona singkat. Kemudian perhatiannya tertuju pada cincin yang tersemat di jari tangan Seohyun. Jika dilihat sekilas, memang seperti cincin pernikahan. Tapi, apa mungkin yang dikatakan Minho memang benar jika Seohyun sudah menikah.

“Kau datang bersama siapa?” tanya Yoona mencoba memastikan.

Tak berapa lama kemudian, sosok pria datang menghampiri keduanya. Pria itu langsung memeluk Seohyun dengan mesra.

“Aku datang bersama suamiku,” jawab Seohyun kemudian. “Kenalkan, dia suamiku, Jung Yonghwa.”

Yoona tercengang. Ia pun menyalami pria yang diakui Seohyun sebagai suaminya. Ia masih tidak percaya karena sebelumnya ia menduga jika Seohyun akan kembali melanjutkan hubungannya dengan Kyuhyun.

“Kau terkejut?” Seohyun seolah sudah bisa menebak apa yang dipikirkan Yoona saat melihat reaksi wanita tersebut.

Ne. Aku sedikit terkejut,” jawab Yoona. “Karena kupikir kau akan—”

“Menjalin hubungan kembali dengan Kyuhyun?” potong Seohyun. “Itu yang kau pikirkan?”

Yoona mengangguk pelan. Seohyun tersenyum. Perlahan tangannya tampak menggenggam erat tangan Yoona.

“Aku sudah mengatakan semuanya pada Kyuhyun. Kurasa, akan lebih baik jika kau mendengar sendiri darinya,” ucap Seohyun. “Aku hanya ingin, kau dan Kyuhyun selalu bersama. Berbahagialah dengannya . . .”

“Seohyun . . .”

“Kyuhyun sangat mencintaimu. Maafkan atas sikapku padamu sebelumnya. Waktu itu, sebenarnya aku sedang menguji perasaanmu pada Kyuhyun. Ceritanya panjang. Lebih baik kau mendengarnya langsung dari Kyuhyun. Kau harus segera menemuinya. Jangan ragu untuk mengakui perasaanmu padanya. Kalian berdua harus hidup bersama karena aku tahu, kalian berdua saling mencintai . . .” lanjut Seohyun.

Seperti mendapat pencerahan saat mendengar penuturan Seohyun tersebut. Yoona mengangguk, kemudian bergegas menuju tempat yang seharusnya sejak beberapa jam yang lalu ia datangi.

*****

Kyuhyun memperhatikan jam tangannya. Sudah hampir 3 jam, tapi Yoona tak kunjung datang. Mungkinkah wanita itu benar-benar tidak ingin bertemu lagi dengannya. Tanpa diketahuinya, empat orang tengah bersembunyi tak jauh dari posisinya. Dua pasang kekasih itu juga terlihat sedih karena Yoona belum juga datang.

“Apakah, kau sungguh tidak mau bertemu lagi denganku?” gumam Kyuhyun lirih.

Merasa putus asa, Kyuhyun pun beranjak dari posisinya, kemudian berjalan, berniat pergi meninggalkan Namsan Tower.

“Cho Kyuhyun!”

DEG! Sebuah suara sukses membuat langkahnya terhenti. Pria itu pun berbalik. Matanya tampak menatap tak percaya ke arah wanita yang sudah berdiri tak jauh dari hadapannya.

“Yoona . . .”

Yoona yang baru saja tiba di Namsan Tower langsung berlari menghampiri Kyuhyun.

Mianhae, aku datang terlam—”

SET! Tanpa perlu menunggu wanita itu menyelesaikan ucapannya, Kyuhyun langsung memeluknya. Tidak peduli keduanya berada di tempat umum, saat ini ia sangat senang

“Kenapa kau baru datang? Aku sudah menunggumu lama sekali . . .” ucap Kyuhyun lirih.

Perlahan tangan Yoona ikut memeluk tubuh Kyuhyun. Saat mendengar penuturan Kyuhyun tersebut, ia dapat merasakan ketulusan hati Kyuhyun terhadapnya.

“Aku sudah bertemu dengan Seohyun. Ternyata dia sudah—”

“Menikah dengan pria bernama Jung Yonghwa. Aku sudah tahu. Bahkan waktu di Jepang saat itu, aku ingin memberitahumu,” potong Kyuhyun.

“Kenapa kau tidak segera memberitahuku? Aku jadi salah paham terhadapmu,” ucap Yoona merasa bersalah.

“Kau yang tidak memberiku kesempatan untuk bicara,” balas Kyuhyun.

Arraseo, arraseo. Aku yang salah,” ucap Yoona sembari mengerucutkan bibirnya.

Kyuhyun tersenyum. “Setidaknya sekarang kau menyadari perasaanku yang tulus padamu, Im Yoona.”

“Benarkah . . .” Yoona kembali memastikan perasaan Kyuhyun. “Kau sungguh-sungguh mencintaiku?”

Kyuhyun menyipitkan kedua matanya. “Perlukah aku berteriak keras dan mengatakannya di depan semua orang tentang perasaan cintaku padamu?”

“Ah, tidak perlu. Nanti aku bisa mati karena terlalu malu . . .” tolak Yoona.

Kyuhyun tertawa kecil melihat reaksi Yoona tersebut, sedangkan Yoona hanya tersipu malu.

Saranghae . . .” ucap Kyuhyun kemudian.

Nado saranghae,” balas Yoona.

Kedua pasang mata itu tampak saling menatap serius satu sama lain. Perlahan Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke arah Yoona. Sementara Yoona tampak memejamkan kedua matanya. Keduanya seolah larut dan tidak memperdulikan dengan kondisi sekitar mereka. Saat bibir keduanya hampir bersentuhan, tiba-tiba . . .

BRUK! Sebuah suara yang cukup keras berhasil menghentikan Kyuhyun dan Yoona. Keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya mereka saat mendapati dua pasang kekasih, dimana Minho dan Eunhyuk sudah jatuh terjembab di lantai, sedangkan Sulli dan Yuri hanya menatap panik ke arah kekasih mereka masing-masing. Kemudian keduanya memperhatikan ke arah Kyuhyun dan Yoona dan baru menyadari kehadiran mereka sudah diketahui oleh sepasang kekasih yang gagal melakukan ciuman karena ulah mereka. Sulli dan Yuri meringis, begitu juga dengan Minho dan Eunhyuk yang langsung beranjak bangun dari posisi mereka.

Keempat orang itu langsung melambaikan tangan ke arah Kyuhyun dan Yoona dengan senyum yang dipaksakan. Kyuhyun tidak dapat menyembunyikan kekesalannya karena merasa keempat orang itu sudah mengganggu kemesraanya dengan Yoona. Sedangkan Yoona sendiri justru terlihat malu dan menutupi wajahnya yang memerah.

“Kalian bisa melanjutkan kembali, kami akan segera pergi . . .” ucap Eunhyuk justru terdengar bodoh.

Mata elang Kyuhyun langsung menatap tajam ke arah dua pasang kekasih yang berupaya melarikan diri setelah berhasil merusak suasana kemesraannya dengan Yoona. “Ya! Kalian harus mengembalikan waktuku dengan Yoona!”

Kyuhyun bergegas berlari mengejar Minho, Sulli, Eunhyuk dan Yuri yang sudah melarikan diri. Sebelumnya, ia menarik Yoona hingga akhirnya keduanya tampak berlari bersama. Dua pasang kekasih yang tengah mereka kejar tampak tertawa senang sembari bergandengan tangan. Begitu juga dengan Kyuhyun dan Yoona. Walaupun kemesraan mereka sempat terganggu, setidaknya hari ini mereka telah mengakui dan mengungkapkan perasaan cinta masing-masing.

Tiga pasang kekasih yang tengah dimabuk asmara tampak berlari membelah lautan manusia yang berlalu-lalang di sekitar Namsan Tower dengan tawa dan canda. Mereka meyakini jika perjalanan cinta mereka dengan pasangan masing-masing sangatlah mengesankan. Memang benar jika Minho, Sulli, Eunhyuk dan Yuri sudah merasakannya lebih dulu. Tapi bagi Kyuhyun dan Yoona, perjalanan cinta mereka baru saja dimulai. Tidak ada yang menduga jika Kyuhyun dan Yoona yang semula bermusuhan, kini telah berubah menjadi sepasang kekasih yang bersiap menjalani hari-hari mereka dengan dipenuhi cinta di antara keduanya.

-THE END-

Maaf, saya baru bisa menyelesaikan kelanjutan FF ini. Kegiatan saya padat sekali. Part akhir memang cukup panjang. Untuk typo dan alur cerita atau bahkan ending yang kurang memuaskan, saya minta maaf. Semoga kalian suka. Terima kasih sudah mengikuti ceritanya dari awal sampai akhir. Gomawo😉

69 thoughts on “Lovely Couple – Chapter 9 End

  1. Mayang says:

    rasa nya penjelasan seo telat kan yoona juga uda pergi kan -_-
    tapi salut banget deh sama perjuangan kyu buktiin cinta dya ke yoona🙂
    semua happy ending😀
    bang hyuk am mpok yuri pacaran ,chukae ^^
    minho sulli akurrr bangettt ^^

  2. zubaidah says:

    Huwaaaaaaaa….
    Ininkeren
    Akhirnya mereka bisa bersama lagi
    Dgn status baru..
    Semoga mereka langgeng ya.

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s