Prince as Bodyguard – Chapter 8


prncasbdygrd4a

Title : 

“Prince as Bodyguard”

Main Cast :

Cho Kyuhyun Super Junior

Im Yoona SNSD

Other Cast :

Oh Sehun EXO-K

Seo Joo Hyun SNSD

Lee Hyukjae Super Junior

Choi Sooyoung SNSD

Genre :

Comedy, Friendship, Romance

Author :

Charisma Rahmayanti

Rating :

PG-15

Disclaimer :

FF ini asli buatan sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan jika alur cerita sama. Saya hanya meminjam nama tokoh dan tempat. Jangan memplagiat FF ini!

Attention :

Mohon komentarnya agar dapat meningkatkan kemampuan saya dan untuk perbaikan positif ke depannya dalam menulis FF. Hope you all like it.

Selamat membaca ^_^

Copyright©rismarii

-Previous Story-

“Aku tidak peduli dengan keputusan appa, karena aku sudah memutuskan untuk tetap bersama Kyuhyun,” ucap Yoona bersi keras.

Kyuhyun tampak menatap miris ke arah Yoona yang dilihatnya tampak berkaca-kaca, seolah sedang menahan air mata yang hampir keluar dari mata indahnya.

Mr. Im terdiam sejenak. Kemudian berjalan mendekati Kyuhyun.

 “Cepat kemasi barangmu dan—” Mr. Im menatap lurus ke arah Kyuhyun. “Tinggalkan tempat ini!”

-End Previous Story-

Mata Yoona memerah ketika mendengar teriakan dari appanya yang menyuruh Kyuhyun untuk keluar dari rumah. Sepertinya, kemarahan yang dialami Mr. Im sudah mencapai batas. Wajah pria paruh baya itu terlihat marah luar biasa. Tidak ada lagi kesan hangat darinya. Yoona langsung mendekat dan memohon kepadanya untuk tidak mengusir Kyuhyun keluar dari rumahnya.

Appa, kumohon padamu, jangan usir dia. Jangan usir Kyuhyun dari rumah ini. Kumohon appa . . .” pinta Yoona sembari terisak.

“Tidak bisa. Dia harus segera pergi meninggalkan rumah ini. Kau jangan membantah dan turuti apa kataku,” balas Mr. Im menolak.

Kyuhyun hanya menundukkan kepala sedari tadi. Kedua matanya terus menatap ke arah lantai. Ia tidak bisa menolak perintah Mr. Im yang menyuruhnya untuk pergi meninggalkan rumahnya.

“Kenapa kau masih di sini?” tanya Mr. Im pada Kyuhyun. “Cepat kemasi barangmu!”

Kyuhyun mendongakkan kepalanya, kemudian ia membungkuk ke arah Mr. Im. Sesaat, ia menoleh ke arah Yoona yang dilihatnya memohon ke arahnya untuk tidak pergi. Pria itu hanya tersenyum tipis, kemudian ia berbalik memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan ruang tengah untuk mengemasi barang-barang di kamar tempat ia tinggal selama di rumah Yoona.

Melihat orang yang begitu ia cintai harus pergi, Yoona tidak dapat lagi membendung air matanya yang hampir turun membasahi wajah cantiknya. Wanita itu menoleh tajam ke arah appanya, menumpahkan semua rasa kekecewaannya pada Mr. Im.

Appa, sungguh keterlaluan!” teriak Yoona sembari berlari meninggalkan Mr. Im.

Pria paruh baya itu hanya terdiam dan tak berkata sedikitpun melihat reaksi putrinya yang begitu marah.

“Tuan . . .” Terlihat pengawal pribadi Mr. Im, yakni Pengawal Lee ikut khawatir dengan kondisi Yoona.

“Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja dan berjalan sesuai rencana,” ujar Mr. Im sebelum meninggalkan ruang tengah.

*****

Kyuhyun mengemasi dua koper besar miliknya. Beberapa pakaian dan barang-barang miliknya terlihat dimasukkan ke dalam dua koper tersebut. Wajahnya terlihat lesu. Ia termenung sejenak, memperhatikan seluruh sudut kamar yang ia tempati di rumah Yoona. Kemudian, perhatiannya tertuju pada ranjang yang biasa ia gunakan untuk tidur. Ia kembali teringat saat Yoona menungguinya sakit ataupun menunggunya bangun dari tidur. Senyum itu pun kembali muncul di wajah Kyuhyun, tapi kemudian kembali berubah menjadi kesedihan tiap kali mengingat ia harus meninggalkan rumah Yoona.

BRAK! Kyuhyun menoleh ke arah suara pintu kamar yang tiba-tiba terbuka lebar. Dilihatnya Yoona sudah berdiri dengan wajah sembap sembari menatapnya. Wanita itu langsung berjalan mendekatinya, kemudian mengeluarkan kembali barang-barang milik Kyuhyun yang sudah dimasukkan ke dalam koper.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kyuhyun bingung.

“Justru aku yang harusnya bertanya seperti itu. Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau mengemasi barang-barangmu seperti ini?!”

Kyuhyun menatap lurus ke arah wanita yang sudah berdiri di depannya dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajah cantiknya. Ya, Yoona memang tidak berhenti menangisi keputusan Mr. Im yang menyuruh Kyuhyun untuk segera pergi meninggalkan rumah mereka.

Perlahan, diusapnya wajah Yoona dengan lembut. Tangan Kyuhyun berusaha menghapus air mata Yoona yang terus mengalir. Ia tersenyum, namun kedua matanya tidak bisa berbohong jika pria itu juga turut bersedih dengan keputusan Mr. Im.

Mianhae, tapi aku harus menuruti keinginan appamu . . .” ujar Kyuhyun.

“Benarkah, kau ingin pergi dari sini?” tanya Yoona.

Kyuhyun kembali tersenyum mendengarnya. “Walau dalam hati memang terasa berat, bagaimanapun juga aku tetap harus menuruti keinginan appamu . . .”

“Lalu bagaimana denganku? Apa kau tidak peduli dengan perasaanku?” Emosi Yoona terlihat memuncak. “Jika kau pergi, bagaimana denganku?”

“Kau . . . Tuan Im sudah menjodohkanmu dengan seorang pria pewaris perusahaan ternama di Seoul. Kau akan segera menikah dengannya,” ujar Kyuhyun dengan wajah lesunya.

“Aku tidak mau! Sudah kubilang aku menolak perjodohan itu. Kaulah yang kupilih. Aku hanya mencintaimu dan hanya ingin menikah denganmu Cho Kyuhyun . . .” ucap Yoona terisak.

“Meskipun aku hanya seorang bodyguard . . . kau tetap ingin menikah denganku?” tanya Kyuhyun kemudian.

“Aku tidak peduli apapun status atau latar belakang keluargamu. Di hatiku, hanya ada kau dan tidak akan pernah ditempati oleh pria manapun. Karena itulah, kumohon jangan pergi . . . “

Kyuhyun terdiam sejenak. Sorot mata Yoona yang tampak memelas tengah menatapnya. Hatinya terasa sesak melihat hal tersebut.

Dengan berat hati, ia melepas genggaman tangan Yoona yang terus memegang tangannya dengan erat. Pria itu kembali membereskan kopernya kemudian membawanya sembari berjalan keluar meninggalkan kamar. Sebelum keluar, ia sempat melirik sekilas ke arah Yoona yang terus menatapnya dengan penuh harap jika Kyuhyun tidak akan pergi meninggalkannya.

“Jaga dirimu baik-baik . . .” ucap Kyuhyun lalu berjalan keluar meninggalkan kamar.

Yoona tak kuasa lagi menahan air matanya. Wanita itu terduduk lemas sembari menenggelamkan wajahnya. Ia menangis sejadi-jadinya.

Ketiga pengawalnya tampak cemas melihat kondisinya yang begitu larut dalam kesedihan. Kyuhyun, sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan rumah Yoona, ia tampak berbisik kepada salah satu ketiga pengawal Yoona.

“Tolong kau laporkan kepadaku kondisinya pasca aku pergi dari rumah ini,” ucap Kyuhyun.

Pengawal Jang, pria tersebut mengangguk kepada Kyuhyun. Dengan demikian, Kyuhyun akhirnya resmi keluar dari rumah Yoona.

*****

“Kau sudah pulang?”

Kyuhyun hanya mengangguk saat appanya datang menyambut kedatangannya. Ia memperhatikan sekeliling rumahnya yang tampak luas dan mewah. Satu bulan tinggal di rumah Yoona, ia sangat merindukan suasana di rumahnya.

“Jadi, apa hari ini sudah dimulai bagian terakhir dari misimu?” tanya Mr. Cho.

Ne, appa. Ini sudah memasuki tahap akhir, seperti yang sudah diperintahkan Tuan Im padaku,” jawab Kyuhyun.

Mr. Cho menepuk pelan bahu putranya. Ia melihat kesedihan dan kelelahan dalam wajah Kyuhyun.

“Bersabarlah. Hanya satu minggu, kau bisa bertahan bukan?”

Kyuhyun tidak menjawab dan hanya tersenyum tipis. Pria itu pun langsung masuk ke kamarnya. Sementara Mr. Cho langsung menyuruh para pelayan di rumah mereka untuk mengemasi dua koper yang dibawa oleh Kyuhyun.

Begitu masuk ke kamarnya, Kyuhyun langsung merebahkan tubuhnya di ranjang tempat ia biasa tidur. Kedua matanya menatap langit kamarnya. Ia kembali memikirkan kondisi Yoona.

Kyuhyun beranjak bangun, kemudian terduduk sejenak di salah satu sofa kamarnya. Ia mengambil ponselnya, lalu menekan sebuah nomor.

Yeoboseyo . . .” terdengar suara pria dari seberang.

“Bagaimana . . . kondisinya sekarang?”

“. . .”

“Dia masih menangis di kamarku?”

“. . .”

Arraseo, terus pantau kondisinya. Jika mengkhawatirkan, segera hubungi aku . . .”

KLIK! Kyuhyun mematikan ponsel lalu meletakkannya di atas meja. Kedua mata pria itu terpejam sejenak.

“Bersabarlah, Im Yoona. Hanya satu minggu saja,” desisnya pelan.

ooOoo

Yoona membuka kedua matanya. Ia baru menyadari jika ia tertidur di kamar Kyuhyun. Ia beranjak dari posisinya, kemudian menatap sekeliling kamar. Ia terus berharap jika peristiwa semalam hanyalah mimpi, namun ternyata tidak demikian. Tidak ada Kyuhyun. Pria itu sudah pergi. Tangan Yoona menyentuh dengan lembut selimut yang biasa digunakan Kyuhyun untuk tidur.

Yoona bergegas meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Kyuhyun. Terlalu larut dalam kesedihan, ia sampai lupa jika mempunyai nomor ponsel Kyuhyun dan bisa menghubungi pria itu. Wajahnya terlihat bersemangat saat menunggu Kyuhyun menjawab teleponnya.

“Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan hubungi beberapa saat lagi.”

Yoona mengernyitkan dahinya saat mendengar operator yang justru menjawabnya.

“Apa maksudnya ini? Kenapa ponselnya tidak aktif?” cemas Yoona. Ia mencoba meneleponnya kembali tapi selalu berakhir sama.

“Nona . . .”

Yoona menoleh ke arah pintu kamar. Ia melihat Kepala Pelayan Kim sudah berdiri di sana.

“Ada apa?”

“Tuan dan Nyonya sudah menunggu Anda untuk sarapan,” ujar Kepala Pelayan Kim seraya membungkuk.

Yoona meletakkan ponselnya dengan raut wajah kecewa dan hanya mengangguk pelan sambil beranjak dari posisinya. Kepala Pelayan Kim pun berbalik keluar meninggalkan Yoona.

Chakkaman . . .” cegah Yoona kepada Kepala Pelayan Kim.

Mendengar majikannya memanggil, wanita paruh baya itu menoleh dengan tatapan penuh tanya. “Ada apa, Nona?”

“Apa kau tahu tempat tinggal Kyuhyun?” tanya Yoona kemudian.

Kepala Pelayan Kim tampak terkejut mendengarnya. Ia hanya menunduk dengan kedua bola matanya yang terlihat gelisah, seolah berusaha menutupi sesuatu dari Yoona. Hanya saja, majikannya itu tidak menyadari gelagat aneh darinya.

Mianhae, Nona. Saya sama sekali tidak tahu tempat tinggalnya . . .” jawab Kepala Pelayan Kim dengan kepala tertunduk.

Helaan nafas Yoona memperlihatkan kekecewaannya.

“Ah, kalau nomor ponselnya, kau pasti punya bukan?” tanya Yoona dengan kedua mata yang berbinar. “Sebelumnya aku sudah punya, tapi nomornya tidak aktif saat kuhubungi tadi pagi. Mungkin saja dia sudah mengganti nomor ponselnya. Atau, dia memang memiliki dua nomor ponsel yang berbeda.”

Kepala Pelayan Kim kembali terkejut. Apalagi Yoona sudah berjalan mendekat dan berdiri tepat di hadapannya dengan sorot mata yang begitu memohon agar ia mau memberitahu nomor ponsel Kyuhyun.

Sebenarnya, ia merasa kasihan dengan kondisi majikannya tersebut. Tapi, bagaimana pun juga ia tidak bisa memberitahu nomor ponsel Kyuhyun padanya.

“Saya tidak tahu,” ucap Kepala Pelayan Kim. “Maafkan saya.”

Yoona kembali terlihat kecewa. Kemudian, ia melihat salah satu dari pengawalnya, Pengawal Jang, berjalan ke arah mereka.

“Pengawal Jang . . .”

Pria berperawakan tinggi itu terlihat berlari mendekati Yoona dan Kepala Pelayan Kim. Ia pun membungkuk ke arah Yoona.

“Anda memanggilku?” tanya Pengawal Jang pada Yoona.

Yoona mengangguk. “Aku membutuhkan bantuanmu.”

“Bantuan apa yang Nona inginkan?”

“Beritahu aku nomor ponsel Kyuhyun,” jawab Yoona kemudian.

Mwo?” Pengawal Jang terkejut dan terlihat melirik ke arah Kepala Pelayan Kim. Wanita paruh baya itu terlihat menggeleng ke arahnya.

Mianhae, saya tidak tahu,” ucap Pengawal Jang sembari menunduk.

“Mana mungkin kau tidak tahu,” paksa Yoona.

“Sekali lagi maafkan saya, Nona. Permisi . . .”

Pengawal Jang bergegas meninggalkan Yoona dan Kepala Pelayan Kim. Pria itu berhasil membuat Yoona kehabisan kesabarannya. Wanita itu mendengus kesal, kemudian pergi meninggalkan kamar Kyuhyun dan pergi menuju ruang makan untuk sarapan bersama kedua orang tuanya.

Di area taman rumah Yoona, terlihat Pengawal Jang terus memperhatikan ke arah belakangnya. Helaan nafas lega keluar darinya. Wajah paniknya sudah tidak terlihat. Ia pun mengeluarkan ponsel dari balik jasnya, kemudian bergegas menekan sebuah nomor.

Yeoboseyo . . .”

“Tuan, ini Pengawal Jang.”

“. . .”

“Nona memaksa saya untuk memberitahu nomor ponsel Anda padanya . . .”

“. . .”

“Tentu saja tidak. Tapi, saya merasa tidak enak dan juga kasihan pada Nona. Sejak semalam, ia tidur di kamar Anda . . .”

“. . .”

Arraseo. Saya akan selalu melaporkan kondisi Nona pada Anda . . .”

*****

Kyuhyun memandangi ponselnya. Berita yang diberikan Pengawal Jang membuat hatinya kembali sesak. Namun, Kyuhyun bergegas melupakannya dan kembali fokus pada kegiatan yang tengah dilakukan di kediaman pribadinya.

“Kau pergi dari rumah itu?”

Kyuhyun yang tengah menikmati permainan golf di kediaman pribadinya hanya mengangguk saat Eunhyuk menanyakan pertanyaan yang sudah diucapkannya berkali-kali. Sahabatnya itu sudah datang menemuinya begitu mendengar Kyuhyun sudah keluar dari rumah Yoona.

“Berapa kali kau sudah menanyakannya? Kau ingin melihat leherku patah karena terlalu banyak menjawab pertanyaanmu . . .” ucap Kyuhyun kemudian seraya mengayunkan stick golf miliknya.

Wajah Eunhyuk kembali shock. “Tapi . . . bagaimana bisa seperti itu? Kemarin aku melihat kalian mesra saat di pantai. Kenapa tiba-tiba sekarang kau mengatakan jika sudah keluar dari rumahnya?”

“Tentu saja ini bagian dari misi yang harus kujalani. Ini sudah memasuki tahap akhir,” jawab Kyuhyun kemudian.

“Bagian dari misi? Sebenarnya apa misimu itu? Aku sudah hampir mati penasaran karena kau tidak memberitahuku juga,” ucap Eunhyuk emosi.

“Satu minggu lagi kau akan tahu,” lanjut Kyuhyun.

Eunhyuk mendesah. Ia pun langsung mengayunkan stick golf miliknya dengan sangat keras. Kyuhyun yang melihat reaksi Eunhyuk itu hanya tertawa kecil.

“Kau selalu membuatku penasaran, Cho Kyuhyun . . .”

“Aku perlu bantuanmu,” ucap Kyuhyun tiba-tiba.

Eunhyuk menoleh dengan kedua alisnya yang bertaut. “Bantuan?”

“Yoona, pasti dia akan meminta Sooyoung untuk menanyakan nomor ponselku padamu. Kumohon, jangan beritahu dia tentang nomor ponselku . . .” pinta Kyuhyun.

“Kau yakin ingin aku melakukan hal itu? Tidak memberitahu nomor ponselmu pada mereka?” tanya Eunhyuk.

Kyuhyun mengangguk. Kemudian ia kembali mengayunkan stick golf miliknya.

“Bayarannya mahal. Kau harus memberitahuku tentang misi yang sedang kau lakukan hari ini juga,” ucap Eunhyuk.

Mwo? Sudah kubilang kau akan tahu satu minggu lagi. Tidak mau,” tolak Kyuhyun.

“Kalau begitu, jangan harap aku mengabulkan permintaanmu tadi . . .” ancam Eunhyuk seraya melipat kedua tangannya dan memalingkan wajah.

Kyuhyun mendengus kesal. “Jika aku beritahu, kau janji tidak akan membocorkannya pada siapapun dan menuruti permintaanku tadi?”

Eunhyuk mengangguk semangat. “Tentu saja.” Wajahnya terlihat bersemangat karena tidak sabar ingin segera mendengar misi Kyuhyun.

Kyuhyun menyuruh Eunhyuk untuk mendekat. Ia pun membisikkan sesuatu padanya.

“Sebenarnya, misiku adalah . . .”

Eunhyuk terlihat serius mendengarkan semua penjelasan Kyuhyun. Seketika wajahnya berubah kaget setelah Kyuhyun selesai memberitahukan semua misinya.

*****

Yoona tak ubahnya seperti patung. Usai sarapan bersama kedua orang tuanya, wanita itu tampak menghabiskan waktu dengan berdiam diri di kamar. Selama sarapan dengan kedua orang tuanya pun, Yoona sama sekali tidak berkata sedikit pun. Ia terlanjur kecewa dengan keputusan appanya yang mengusir Kyuhyun dan bermaksud menjodohkannya dengan pria lain.

“Aaargh!!” Yoona berteriak frustasi seraya melempar bantal di kamarnya.

Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti saat mendengar suara ketukan pintu kamarnya.

Nugu-ya?” tanyanya dari balik kamar.

Pintu itu terbuka perlahan dan masuklah seorang wanita yang tidak lain adalah Sooyoung. Wanita itu terlihat tersenyum lebar ke arahnya.

“Kau rupanya. Kukira siapa,” desah Yoona tak bersemangat.

Melihat reaksi sahabatnya itu, membuat dahi Sooyoung mengkerut. “Apa terjadi sesuatu?”

Yoona tidak menjawab dan menarik selimutnya. Ia tengah duduk di atas ranjangnya. Sooyoung berjalan mendekat sembari memberikan sesuatu kepada Yoona. Sebuah susu cokelat kesukaan Yoona.

Yoona mengernyitkan dahinya, menatap bingung ke arah susu cokelat yang dipegang Sooyoung. “Untuk apa kau memberikannya?”

“Mungkin bisa membuat suasana hatimu jauh lebih baik. Seseorang memberitahuku jika suasana hatimu saat ini sedang buruk,” ucap Sooyoung.

“Apa Kyuhyun yang memberitahumu?” tanya Yoona penasaran.

Sooyoung menggeleng. “Bukan, tapi Eunhyuk.”

“Eunhyuk?” Yoona terlihat bingung. Darimana Eunhyuk tahu jika saat ini suasana hatinya sedang buruk?

“Ah, pasti dia yang memberitahu Eunhyuk . . .” seru Yoona tiba-tiba dan membuat Sooyoung melompat kaget karena teriakan Yoona.

“Aish, kau mengagetkanku,” desah Sooyoung kesal.

“Boleh tidak aku meminta nomor ponsel Eunhyuk?”

“Nomor ponsel Eunhyuk?” Sooyoung kembali mengernyitkan dahinya. “Untuk apa?”

Yoona justru terdiam menanggapi pertanyaan Sooyoung. Kemudian ia menggeleng pelan lalu kembali fokus menatap sahabatnya. “Ah, tidak. Lebih baik, kau saja yang minta nomor ponsel Kyuhyun padanya.”

Sooyoung menarik tangan Yoona hingga berhasil membuat gerak-gerik sahabatnya yang terlihat heboh itu berhenti. Kedua matanya menatap lurus ke arah Yoona, berusaha mencari apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya tersebut.

“Ada apa sebenarnya? Aku sama sekali tidak mengerti situasi ini . . .” ujar Sooyoung.

Yoona, memang sejak kedatangan Sooyoung berusaha mati-matian menahan air matanya. Namun, berkat sorot mata Sooyoung memintanya untuk berterus terang, membuat pertahanan itu roboh dan akhirnya ia menangis keras dalam pelukan Sooyoung. Tak pelak, reaksinya itu semakin membuat sahabatnya kebingungan hebat.

“Jika kau terus menangis, darimana aku bisa tahu masalah apa yang kali ini menderamu, Im Yoona . . .” ucap Sooyoung berusaha menenangkan Yoona.

Yoona menatap sendu ke arah Sooyoung. Sahabatnya itu meyakinkannya untuk tetap tenang dan mau menceritakan semua permasalahannya.

*****

Seorang wanita tengah berjalan keluar dari kamar apartemennya. Ia bermaksud pergi ke suatu tempat, dimana lagi jika bukan memberikan pelatihan keterampilan khusus kepada Yoona. Ya, Seohyun terlihat sudah rapi dan kini tengah berdiri di depan lift.

DRRT! Dering ponselnya membuat perhatiannya beralih sejenak pada ponsel yang berada dalam tasnya. Ia melihat sebuah nama tertera di layar. Senyum kecil mengembang di wajahnya. Ia pun bergegas mengangkat panggilan yang masuk dalam ponselnya.

Yeoboseyo . . .”

“. . .”

“Aku sedang bersiap menuju rumah Yoona. Ada apa kau meneleponku, oppa?” tanya Seohyun.

TING! Saat pintu lift terbuka, Seohyun yang berniat masuk mendadak berhenti. Raut wajahnya terlihat kaget.

“Apa katamu?” Seohyun masih terlihat kaget dan tanpa sadar membiarkan pintu lift itu tertutup. “Kau keluar dari rumah itu?”

“. . .”

“Ke rumahmu? Sekarang?”

“. . .”

Arraseo, aku akan segera ke sana . . .” ucap Seohyun. Wanita itu mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia kembali menekan tombol lift.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Kyuhyun-oppa?” gumamnya cemas.

*****

“Kyuhyun diusir keluar oleh appamu?”

Yoona mengangguk. Mulut Sooyoung terlihat menganga lebar. Ia shock luar biasa dengan cerita yang baru saja diberitahukan oleh Yoona.

“Kau sedang tidak bercanda bukan?”

“Untuk apa aku bercanda di saat seperti ini . . .” ucap Yoona kesal. “Kemarin, saat kami baru saja pulang dari pantai, ternyata appa sudah tiba di rumah. Reaksinya, sudah bisa kutebak. Melihat kami pulang dengan mesra seperti itu, appa beranggapan jika terjadi sesuatu di antara kami.”

“Lalu?”

“Aku mengaku pada appa jika aku dan Kyuhyun memang sedang berpacaran,” jawab Yoona. “Lalu appa marah besar dan menampar Kyuhyun.”

“Menampar Kyuhyun?”

Anggukan Yoona terlihat pelan. Seolah tidak bersemangat menceritakan semuanya pada Sooyoung. “Appa melarang keras hubungan kami. Appa beranggapan aku tidak layak menjalin hubungan dengan Kyuhyun karena statusnya yang hanya seorang pengawal. Appa justru berniat menjodohkanku dengan pewaris tunggal sebuah perusahaan ternama di Seoul. Aku sama sekali tidak mengerti, kenapa appa bertindak seperti ini?”

Sooyoung terlihat bingung. Jelas ia tahu jati diri Kyuhyun yang sebenarnya. Selain itu, bukankah appa Yoona sudah tahu latar belakang keluarga Kyuhyun?

“Apa . . . ini termasuk bagian dari misinya?” gumam Sooyoung lirih.

“Apa katamu?” tanya Yoona penasaran.

Sooyoung langsung menggeleng cepat. “Bukan apa-apa.”

“Jelas-jelas kau mengatakan sesuatu tadi,” desak Yoona.

Sooyoung meringis, ia pun bergegas beranjak dari posisinya. “Mianhae, aku harus pergi. Ada hal yang harus kuselesaikan.”

“Ah, kau tidak bisa kabur dariku . . .”

Sooyoung berlari meninggalkan kamar Yoona. Sebelum keluar, ia melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum khasnya.

Yoona mengerucutkan bibirnya. Ia kesal. Rasa penasaran akan perkataan Sooyoung itu benar-benar menggelayuti hatinya.

“Jelas-jelas aku mendengar Sooyoung menyebut kata ‘misi’. Apa maksudnya?” gumam Yoona lirih.

Setelah keluar dari kamar Yoona, Sooyoung terlihat berlari kecil seraya mengeluarkan ponsel dari tasnya. Tangannya dengan cepat menekan sebuah nomor. Rasa tidak sabar itu terlihat di wajahnya saat menunggu orang yang tengah diteleponnya tak kunjung mengangkat ponselnya.

Palli . . .” gumam Sooyoung gemas.

Yeoboseyo . . .”

Begitu orang yang diteleponnya menjawab, wajah Sooyoung berubah semangat. “Eunhyuk-ah, kau dimana sekarang?”

*****

Seohyun tiba di rumah Kyuhyun. Rupanya, sepupunya tersebut sudah menunggunya di ruang tengah sembari menonton televisi. Seohyun yang semula merasa cemas, terlihat jauh lebih tenang saat melihat senyum di wajah Kyuhyun yang menoleh ke arahnya.

“Kau sudah datang?” tanya Kyuhyun.

Seohyun terdiam sejenak, ia menarik nafas lalu mengulum senyum ke arah Kyuhyun. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau keluar dari rumah Yoona?”

Bukan jawaban yang Seohyun dapatkan, namun sepupunya tersebut hanya tersenyum lebar.

Oppa . . .” Rasa penasaran Seohyun tak bisa dibendung lagi.

“Tentu saja ini bagian dari misiku,” jawab Kyuhyun kemudian.

Seohyun mengernyitkan dahinya. “Bagian dari misi?”

“Kau sudah dengar semua dari appa bukan?”

Seohyun mengangguk. “Ne, ahjussi sudah menceritakan semuanya padaku.”

“Tujuanku memanggilmu ke sini, aku ingin besok kau tetap datang ke rumah Yoona. Berpura-puralah kau tidak bisa menghubungiku jika dia menanyakan tentangku padamu, arraseo?” pinta Kyuhyun.

Arraseo. Lalu, bagaimana reaksi Yoona? Bukankah kau sudah resmi menjalin hubungan dengannya?” tanya Seohyun kemudian.

“Sepertinya dia terlalu shock. Sampai sekarang aku terus memantau kondisinya melalui komunikasi dengan salah satu pengawal pribadinya, yang sempat menjadi anak buahku di sana. Dia mengatakan jika semalam Yoona sampai tertidur di kamarku. Aku merasa kasihan padanya. Aku tak tega jika melihatnya bersedih. Tapi, mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi misiku dan juga perjanjianku dengan Tuan Im. Aku harus melakukannya,” ucap Kyuhyun seraya mengusap wajahnya. Pria itu berusaha keras menutupi kondisinya yang cukup kelelahan, tidak hanya secara fisik tapi juga batin.

Seohyun menyadari jika sepupunya itu kelelahan. Ia pun tersenyum seraya menepuk pelan bahu Kyuhyun. “Oppa, sebaiknya kau harus beristirahat. Kau kelihatannya lelah sekali.”

Kyuhyun tersenyum menanggapi saran Seohyun. “Baiklah. Kau harus berjanji padaku untuk tidak mengatakan apa-apa pada Yoona tentang misi yang sedang kujalani.”

Seohyun mengangguk. “Pasti.”

“Ah iya, bagaimana hubunganmu dengan Sehun?”

Seohyun mendongakkan kepalanya dan menatap bingung ke arah Kyuhyun. “Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hubunganku dengan Sehun?”

“Aku hanya ingin tahu saja. Memangnya tidak boleh?” goda Kyuhyun.

Mendengar hal itu, wajah Seohyun terlihat memerah. Kyuhyun dapat melihat dengan jelas rona bahagia di wajah sepupunya. Ia pun memutuskan untuk tidak memberitahu Seohyun, terkait Yoona yang sempat menyukai Sehun selama 15 tahun sejak keduanya bersahabat. Sekarang, Yoona sudah mencintainya sama seperti ia mencintai Yoona. Tanpa Seohyun sadari, Kyuhyun kembali menunduk dan terlihat murung. Walau baru satu hari tak bertemu, ia sudah sangat merindukan Yoona.

ooOoo

One week later . . .

Perlahan kesedihan itu semakin melanda diri Yoona. Sudah satu minggu sejak kepergian Kyuhyun dari rumahnya. Apakah kondisi wanita itu baik-baik saja? Tidak sama sekali. Ia menjadi murung dan lebih suka menghabiskan waktunya di kamar, seolah lebih suka mengurung diri. Tidak ada lagi Yoona yang gemar sekali belanja atau menghamburkan uang dan waktunya di mall.

Sejak Kyuhyun menjadi pengawal pribadi dan mendidiknya dalam beberapa hal, Yoona mengakui jika kini ia menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Banyak yang telah ia pelajari dari Kyuhyun. Mulai dari disiplin waktu, menghargai orang-orang yang sudah bekerja padanya, dan tidak menghamburkan kekayaan yang dimilikinya.

“Arrrgh!” Yoona kembali berteriak frustasi.

Sudah satu minggu sejak Kyuhyun pergi, ia sangat merindukan sosok pria itu. Pria yang pada awalnya sangat ia benci karena menurutnya menyebalkan, namun pada akhirnya ia harus mengakui jika pria itu juga telah mengisi hari-harinya dengan berbagai hal yang menarik dan juga menyenangkan. Kyuhyun selalu ada di sisinya saat ia sedih, terutama saat ia terpuruk karena Sehun. Kyuhyun mampu membimbingnya menjadi pribadi yang lebih baik. Kehadiran Kyuhyun memang sudah membuat hari-hari Yoona terasa lebih menyenangkan dan berwarna.

Yoona berusaha keras untuk mencari alamat ataupun nomor ponsel Kyuhyun yang lain. Tapi selalu berakhir dengan kekecewaan. Sampai sekarang ia belum bisa mendapatkannya. Baik para pengawalnya, terlebih Sooyoung ataupun Seohyun yang tidak lain adalah sepupu Kyuhyun sendiri tidak bisa membantunya.

“Yoona . . .”

Yoona bergegas mengusap air matanya saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Ia menoleh ke arah pintu kamarnya dan mendapati eommanya sudah berdiri seraya tersenyum ke arahnya.

Ne, eomma . . .”

Mrs. Im berjalan mendekati putrinya lalu mengusap wajah Yoona. Seberapa keras Yoona menutupi air matanya, tetap saja ketahuan oleh eommanya.

“Hari ini, kau akan bertemu dengan calon suamimu. Apa kau ingat?” tanya Mrs. Im.

Yoona terdiam sejenak. Ia kembali teringat ucapan appanya saat hari di mana Kyuhyun keluar dari rumahnya.

Ne, aku ingat jika appa memberitahuku, aku sudah dijodohkan dengan pewaris tunggal perusahaan ternama di Seoul. Tapi, aku tidak pernah diberitahu jika aku akan bertemu dengannya hari ini . . .” jawab Yoona.

Mrs. Im tersenyum mendengar jawaban polos dari putrinya. “Appa sama sekali tidak memberitahumu?”

Yoona menggeleng pelan sambil memasang wajah cemberutnya. Mrs. Im mengusap lembut wajah Yoona.

“Kau harus segera bersiap. Kita akan makan malam dengan calon suamimu dan juga keluarganya,” ucap Mrs. Im. “Eomma, akan mendandanimu secantik mungkin. Calon suamimu pasti akan senang melihatmu tampil cantik.”

Yoona hanya mengerucutkan bibirnya. Ia masih belum bisa menerima masalah perjodohan yang akan dilakukannya.

“Apa eomma sudah melihat seperti apa calon suamiku itu?” tanya Yoona penasaran.

“Tentu saja. Kau pasti akan menyukainya jika bertemu dengannya,” jawab Mrs. Im.

Aniyo, aku tidak akan menyukai siapapun selain Kyuhyun,” tegas Yoona.

Eomma berani bertaruh, kau akan menyukainya setelah bertemu dengannya nanti,” ucap Mrs. Im.

Baru saja Yoona ingin menolak lagi pernyataan eommanya, ia sudah ditarik dan disuruh duduk di depan meja rias kamarnya. Mrs. Im langsung dengan sigap merias wajah putrinya agar terlihat cantik. Yoona tidak bisa berbuat apa-apa saat eommanya sudah mengoleskan make up di wajahnya.

Malam ini, seperti yang dikatakan Mrs. Im pada Yoona, ia akan dipertemukan oleh calon suami pilihan appanya. Yoona sudah terlihat cantik dan tampak berbeda. Kedua orang tuanya tampak tersenyum melihat penampilannya.

Kajja, kita harus berangkat sekarang,” ajak Mr. Im.

Yoona tidak berkata lagi dan mengikuti kedua orang tuanya dengan langkah pelan menuju mobil yang akan mereka naiki. Rasa gugup itu terus Yoona rasakan. Rasanya ia ingin sekali berteriak dan menolak keras acara perjodohan itu. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa pasrah menuruti kemauan appanya. Sesaat sebelum masuk ke dalam mobil, Yoona kembali teringat ucapan Kyuhyun terakhir kali sebelum pria itu keluar dari rumahnya.

Meskipun aku hanya seorang bodyguard . . . kau tetap ingin menikah denganku?”  

Langkah Yoona terhenti di depan mobil limousine milik keluarga mereka. Kedua orang tuanya yang melihat putrinya hanya berdiri dan tak bergegas masuk ke mobil terlihat saling menatap.

“Yoona . . .”

Suara Mrs. Im berhasil membuyarkan lamunan Yoona. Wanita itu berusaha keras untuk kembali fokus dan akhirnya masuk ke dalam mobil. Mobil mewah itu pun mulai berjalan meninggalkan rumah mereka.

“Apa kau merasa gugup?” tanya Mrs. Im saat melihat putrinya terus menunduk selama perjalanan.

Yoona terdiam dan hanya memilih mengangguki pertanyaan eommanya tanpa berkata sedikitpun. Mrs. Im kembali menatap suaminya yang hanya tersenyum melihat reaksi putrinya tersebut.

“Kau pasti tidak akan menyesal setelah menuruti perkataan appa. Percayalah.” ucap Mr. Im kemudian.

“Kuharap begitu . . .” balas Yoona malas dan tidak sedikitpun memandang ke arah appanya.

Tanpa disadari, mobil yang dinaiki Yoona dan kedua orang tuanya berhenti di depan sebuah restoran mewah di kota Seoul. Salah seorang pelayan yang sudah berdiri di depan restoran tersebut, bergegas membukakan pintu mobil untuk Yoona dan kedua orang tuanya. Yoona, wanita itu terlihat anggun dengan balutan gaun putih yang begitu cantik dan sangat pantas dikenakannya. Make up wajah yang natural semakin membuat wanita itu terlihat sangat cantik. Hanya saja, semua itu tidak sebanding dengan kondisi hatinya yang sebenarnya tidak menginginkan perjodohan itu. Ya, hari ini, Yoona akan dipertemukan oleh pria pilihan appanya, yang dilansir sebagai pewaris tunggal perusahaan ternama di Seoul.

Yoona, berjalan dengan langkah kaki yang begitu pelan di belakang kedua orang tuanya. Ingin rasanya ia kabur dari acara perjodohan itu. Bagaimana pun juga, saat ini hatinya tengah tersiksa sejak keluarnya Kyuhyun dari kediaman mereka seminggu yang lalu.

“Kau kenapa?” tanya Mr. Im pada Yoona saat melihat putri semata wayangnya itu berhenti. “Ayo, cepat jalan.”

Yoona menatap malas ke arah appanya. Namun, akhirnya ia paksakan juga untuk terus berjalan hingga akhirnya mereka berhenti di salah satu meja yang sepertinya sudah dipesan sebelumnya. Meja makan dengan kesan yang sangat mewah dan sudah ditempati pula oleh seorang pria paruh baya yang kini tengah tersenyum ke arah mereka. Pria itu langsung beranjak dari duduknya dan menyalami kedua orang tua Yoona.

“Kau sudah datang rupanya . . .” sapa Mr. Im seraya tersenyum.

“Tentu saja. Aku sudah tidak sabar ingin segera melihat calon menantuku,” jawab pria tersebut. Usai menyalami kedua orang tuanya, kini pria itu tengah menatap Yoona.

“Yoona, beri salam pada Tuan Cho Phil Nam,” suruh Mr. Im.

“Ini pertama kalinya kita bertemu, Im Yoona. Ternyata kau memang sangat cantik. Lebih cantik aslinya daripada yang ada di foto.”

Yoona hanya mengangguk dengan senyum malu di wajahnya. Ia kembali memperhatikan pria paruh baya yang berdiri di depannya. Siapa dia? Kenapa bisa kebetulan sekali marganya sama seperti Kyuhyun?

“Apa putramu sudah datang?” tanya Mr. Im.

Mr. Cho melirik ke arah jam tangannya. “Sebentar lagi. Sebaiknya kita tunggu saja kedatangannya dengan mengobrol. Aku ingin mengenal lebih dekat lagi calon menantuku.”

Kedua orang tua Yoona mengangguk. Mereka pun duduk bersama, menunggu kedatangan putra dari Cho Phil Nam akan dijodohkan dengan Yoona. Mr. Cho, ia tidak bisa berhenti tersenyum saat melihat Yoona yang merasa gugup duduk di depannya.

“Putraku sangat menyukaimu. Kau pasti akan cocok sekali dengannya,” ujar Mr. Cho pada Yoona.

Yoona kembali tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ia tahu, calon mertuanya itu sedang berusaha menenangkan rasa gugup yang menderanya.

“Ngg . . . siapa nama putra Anda?” tanya Yoona tiba-tiba.

Semua orang menatap kaget ke arahnya. Sementara kedua orang tua Yoona hanya bisa saling memandang satu sama lain. Cho Phil Nam, pria paruh baya itu pun terlihat tersenyum.

“Apa kau belum memberitahu putrimu?” tanyanya pada appa Yoona.

Mr. Im hanya tersenyum menanggapinya. Yoona semakin penasaran dengan reaksi dua pria paruh baya tersebut.

“Baiklah, aku akan memberitahumu,” ucap Mr. Cho pada Yoona. “Putraku . . .”

Yoona tampak penasaran dan terlihat serius menunggu Mr. Cho melanjutkan kalimatnya.

“Putraku, ia bernama . . .”

Mianhae, aku datang terlambat!”

Sebuah suara terdengar di sela-sela pembicaraan mereka. Yoona menoleh ke arah sumber suara dan terkejut saat melihat sosok pria yang sudah berdiri di belakang kursi Mr. Cho. Wanita itu tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Mulutnya seolah terasa kaku saat berusaha mengatakan sesuatu. Pria itu tampak tersenyum ke arahnya, dengan senyum khas yang sudah lama Yoona rindukan.

“Cho Kyuhyun?”

-TBC-

Yey, kelar juga nulis kelanjutan FF ini.
Lama ya? (Banget thor, minta ditimpuk nih, #plak# ^^v).   Jujur cukup sulit untuk menulis part ini.  Kayaknya ide menulis lagi tersendat. Maaf ya sudah membuat kalian menunggu lama. Semoga kalian suka dengan kelanjutannya😉
Walaupun di part sebelumnya sudah ada clue yang bisa kalian tebak, mungkin di part ini semakin kelihatan dan sudah terjawab. Hayo, siapa yang tebakannya bener? Acungkan jari! (abaikan😀 )

FF ini udah mau tamat, rencana 1 part lagi mungkin udah kelar. Nah, bocoran untuk part selanjutnya lebih banyak bahas misi Kyuhyun dan kelanjutan hubungan KyuNa.
So, keep waiting readers😉

84 thoughts on “Prince as Bodyguard – Chapter 8

  1. Kim rae gun says:

    Tuuhkaaaan aq bilanng … *bilang apa luu?* ahahahahhaha yaaa kan d jodohin ama kyu .. Cieeeee seneng binggo doong,yoong

  2. Dinnur says:

    Mian, baru tahu kalo udah dipost lanjutannya
    Wah dugaanku bener,
    kasian juga kyuna harus berpisah seminggu,
    lanjut baca final part

  3. @RickaAsnita says:

    Yap* tersenyum evil kkk~ tepat dugaan, kuharap di chap selanjutnya sampe kyu oppa sam yoon unnie itu punya anak, dan happy ending pastinya^^

  4. Elvi says:

    Akhir ny publish jg..
    Kyuppa yg di jodohin ma yoona..
    Jadi itu misi Kyuppa?
    Gmn reaksi yoona setelah tau..
    Apa dia marah dan kecewa?
    Di bkin konflik dkt lagi bgus deh..
    Yoona jgn lgsg nyetujui perjodohan ntu..
    dy marah dan kecewa karena udah di boongi..
    Oleh appa dan kyu..
    Serta tmn2 ny..

  5. kadek says:

    ye akhirnya mereka ketemu juga, semoga yoona gak marah sama kyu karena sudah di bohongi. Mreka bisa bersatu n happy ending

    Next next

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s