Wind


wind_kyunaWind

by cloverqua | main cast Cho Kyuhyun – Im Yoona

other cast Kim Jongdae – Kim Taeyeon – Tiffany Hwang

genre Angst – Romance – Sad | rating PG 15 | length Oneshot

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

[Also published in YoongEXO with YoonHun version]

Angin.

Tak bisa kau lihat ataupun kau sentuh. Tapi, dia bisa menyentuhmu untuk memperlihatkan kehadirannya di sekitarmu.

.

.

.

Yoona membuka kedua matanya, ketika merasakan silaunya cahaya yang berhasil menembus jendela kamar tempatnya dirawat. Ia mencoba beranjak bangun dari tidurnya. Perhatiannya kini beralih pada selang infus yang terpasang di tangan kanannya. Ia terdiam, dalam keheningan yang membuat dirinya dilanda rasa bosan. Ia memberanikan diri untuk turun dari ranjang, berniat mendekati jendela untuk menghirup udara segar.

Sayang, kondisinya yang tidak memungkinkan untuk terlalu banyak bergerak, akhirnya membuat Yoona jatuh terhuyung dari atas ranjangnya.

BRUK! Suara yang cukup keras terdengar bersamaan tubuhnya yang sukses menyentuh bibir lantai. Yoona merintih kesakitan sambil berusaha bangkit dari posisinya dengan berpegangan pada tiang-tiang penyangga ranjang.

KLEK!

Terdengar suara decitan pintu seiring dengan teriakan orang yang membukanya. “YOONG!”

Pria itu mengerahkan langkah kaki seribunya ke dalam kamar Yoona, begitu mendapati sang penghuni kamar terjatuh dari ranjangnya.

Yoona membiarkan pria itu—Kyuhyun—membantunya kembali ke atas ranjang. Wajah cemas pria itu semakin kentara karena rintihan Yoona.

“Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Perlukah aku memanggil Chen untuk memeriksamu?” cecar Kyuhyun dengan kepanikan yang melandanya.

Yoona menggeleng, lalu menarik kerah pakaian Kyuhyun saat pria itu hendak bersiap keluar dari kamar. “Tidak perlu. Aku tidak apa-apa.”

Kyuhyun menggenggam erat tangan Yoona, masih dengan raut kecemasan di wajahnya. “Kumohon, Yoong. Jangan membahayakan dirimu jika kau sedang sendirian. Aku bisa mati lemas jika terjadi apa-apa denganmu.”

Sudut bibir Yoona terangkat membentuk lengkungan senyum. Ia begitu senang mendapat perhatian dari pria yang berstatus sebagai kekasihnya itu.

“Kenapa kau tersenyum? Kau senang membuatku khawatir seperti ini?” tanya Kyuhyun sambil memicingkan kedua matanya.

Yoona menggeleng pelan. “Tidak. Tapi, aku senang dengan perhatian yang kau berikan padaku.”

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. Reaksinya itu semakin menambah rasa senang Yoona yang semakin melebarkan tawanya.

“Yoong . . .”

Sebuah suara menyela pembicaraan Kyuhyun dan Yoona. Mereka melihat kehadiran dua teman mereka. Seorang wanita yang berpenampilan sederhana dan pria yang mengenakan atribut seragam dokternya.

“Apa yang terjadi?” tanya Taeyeon terkejut, ketika melihat rambut Yoona tampak sedikit berantakan.

Reaksi yang sama juga ditunjukkan oleh Chen—dokter yang menangani Yoona, sekaligus sahabat Kyuhyun. Pria itu segera memeriksa kening Yoona yang terlihat memar. “Kau terjatuh?”

Anggukan pelan keluar dari Yoona, yang terlihat meringis ke arah Chen. “Maaf, aku hanya ingin turun dan berjalan mendekati jendela, karena aku merasa bosan sendirian di kamar. Tapi, aku justru terjatuh di lantai.”

Chen menghela nafas dalam. Merasa gemas dengan kebiasaan Yoona yang selalu mengabaikan larangannya. “Sudah berapa kali kukatakan, kau harus sangat berhati-hati, Yoong. Jangan sampai ada bagian tubuhmu yang mengalami luka. Kau tahu kan, penyakitmu sangat rentan terhadap kondisi ini?”

Yoona mengangguk. “Aku tahu. Aku sampai hafal karena kau sering mengatakannya padaku, Chen.”

“Jika sudah tahu, seharusnya kau menuruti perkataannya,” sahut Taeyeon ikut merasa gemas.

“Sudahlah, jangan berdebat lagi,” potong Kyuhyun. “Setidaknya Yoona sudah tidak apa-apa. Untung saja aku berhasil memergokinya saat ia terjatuh tadi.”

“Baiklah. Kurasa Kyuhyun benar,” ucap Chen begitu selesai memeriksa kondisi kening Yoona. “Lukamu tidak terlalu parah dan tidak akan mempengaruhi kondisimu. Akan kusuruh suster untuk mengobatinya. Kyuhyun, bisakah kita bicara sebentar?”

Kyuhyun terkesiap saat mendengar ajakan Chen. Pria itu segera menyanggupi dan berjalan mengekori Chen yang sudah keluar lebih dulu dari kamar Yoona. Meninggalkan Yoona, Taeyeon dan seorang suster yang terlihat masuk.

“Apa yang ingin mereka bicarakan?” tanya Yoona penasaran dengan matanya yang terus mengikuti Kyuhyun dan Chen.

“Entahlah,” jawab Taeyeon singkat seraya mengedikkan bahunya.

.

.

.

Chen mengajak Kyuhyun berbicara secara serius di ruangannya. Kyuhyun sebenarnya tahu, arah pembicaraan yang akan mereka lakukan. Namun pria itu memilih untuk bersikap setenang mungkin.

“Kau ingin membicarakan masalah kondisi Yoona?” sela Kyuhyun sebelum Chen yang memulai obrolan.

Chen tersenyum kaget. “Hebat. Ternyata kau sudah tahu.”

“Ayolah, Chen. Aku selalu hafal dengan kebiasaanmu yang menarikku ke sini tiap kali ingin membicarakan kondisi Yoona. Mana mungkin aku tidak tahu,” balas Kyuhyun dengan mimik kesal yang tertutupi oleh rasa cemasnya.

“Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi lagi,” ucap Chen. Kemudian memperhatikan berkas pemeriksaan milik Yoona yang sudah berada di mejanya. Kyuhyun yang penasaran akhirnya menarik kursi di depan Chen.

Hening. Belum ada suara yang keluar dari Chen. Pria itu terlihat masih fokus membaca berkas pemeriksaan Yoona. Tak pelak sikap Chen membuat Kyuhyun tidak sabar dan semakin didera rasa khawatir.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Kyuhyun tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.

Chen terdiam sejenak, lalu menatap Kyuhyun dengan mimik serius. Ia lalu menggeleng pelan dengan desahan nafas yang keluar darinya.

“Apa maksudmu?” Kyuhyun sepertinya mengerti dengan isyarat yang ditunjukkan Chen padanya.

“Maaf aku harus mengatakannya,” ucap Chen. “Penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Penyakit kanker darah yang menyerangnya sudah terlampau parah.”

Tubuh Kyuhyun gemetar, mendengar penuturan yang disampaikan Chen. “Tidak, itu tidak mungkin.”

Kyuhyun bangkit dari posisinya lalu berpindah mendekati jendela yang berada di ruangan Chen. Ia memukul pelan bagian dinding yang berada di dekat jendela. Berusaha menenangkan diri, dari kenyataan pahit yang baru saja diterimanya.

“Kudengar dari Taeyeon, ayah Yoona juga meninggal karena penyakit ini,” lanjut Chen.

Kyuhyun menoleh kaget ke arah Chen yang sudah berjalan mendekatinya. Mimik cemasnya semakin terlihat jelas.

“Faktor genetik, bisa menjadi pemicu seseorang mengidap penyakit yang sama. Pada kasus Yoona, dia mengidap kanker karena keturunan, dari ayahnya,” lanjut Chen.

“Lantas apakah Yoona juga harus mengalami nasib yang sama dengan ayahnya? Menyerah terhadap penyakit kanker yang menyerang mereka?” tanya Kyuhyun sambil menatap tajam ke arah Chen.

Chen menepuk pelan bahu Kyuhyun. Berusaha meredam emosi yang menyelimuti diri Kyuhyun.

“Maafkan aku, Kyuhyun. Tapi—”

“Kumohon selamatkan dia, Chen. Aku mohon,” pinta Kyuhyun. Kristal bening itu perlahan menggenangi pelupuk matanya.

Chen terdiam. Ia tidak tega melihat tatapan Kyuhyun yang begitu memohon padanya.

“Akan aku usahakan, sebisaku. Semaksimal mungkin,” lanjut Chen.

Kyuhyun tertunduk. Ia tampak frustasi dan hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan Chen.

.

.

.

Yoona tengah berada di atas kursi roda yang didorong oleh Taeyeon. Sesuai permintaannya, Taeyeon pergi menemani Yoona untuk menikmati suasana taman yang ada di rumah sakit. Namun, saat ia menyisiri lorong, tanpa sengaja ia justru bertemu dengan seseorang yang langsung mempengaruhi kondisi hatinya.

“Lihat, siapa yang kutemui saat aku mengunjungi rumah sakitku?”

Pria paruh baya itu menatap sinis ke arah Yoona. Tatapan tajamnya berhasil membuat Yoona tertunduk dan seolah berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain. Taeyeon yang berdiri di belakang Yoona menatap geram pada pria paruh baya itu.

“Tiffany, kau pasti sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Kyuhyun?”

Wanita yang mengenakan jas dokter itu mengangguk sambil tersenyum. “Ne, ahjussi. Aku ingin sekali, bertemu dengan Kyuhyun.”

Tak pelak obrolan dua orang itu membuat Yoona mengerutkan dahinya. Ada hubungan apa wanita itu dengan Kyuhyun?

“Baiklah. Akan kutemani kau sampai bertemu dengan putraku.”

Pria paruh baya itu—Tuan Cho Seung Jae—merupakan ayah Kyuhyun sekaligus pemilik dari rumah sakit tempat Yoona dirawat. Sikapnya yang begitu sinis terhadap Yoona bukan tanpa alasan. Sejak awal hubungan Yoona dengan putranya, Tuan Cho tak pernah menyetujuinya. Ia beralasan bahwa status keluarga antara Yoona dengan Kyuhyun tidaklah sama. Mengingat bahwa Yoona hanyalah anak yatim piatu yang tinggal bersama temannya—Taeyeon. Sementara Kyuhyun merupakan pewaris tunggal dari Cho Corporation, sekaligus penerus rumah sakit yang dikelola ayahnya tersebut.

Yoona memilih diam dan membiarkan dua orang itu pergi melewatinya. Sementara Taeyeon yang sedari tadi menahan emosi, langsung mengeluarkan kekesalannya dengan sindiran.

“Dia benar-benar orang terkejam yang pernah kutemui,” umpat Taeyeon kesal.

“Sudahlah, Taeyeon. Biarkan saja,” ujar Yoona berusaha meredam emosi Taeyeon.

“Tapi, Yoong—“

Disentuhnya dengan lembut tangan Taeyeon. Yoona tampak tersenyum ke arahnya. “Aku tidak apa-apa.”

Taeyeon termenung, dan kembali terdiam. Hatinya merasa miris tiap kali melihat kesabaran Yoona dalam menghadapi perlakuan kasar ayah Kyuhyun.

.

.

.

Kyuhyun berjalan menelusuri lorong rumah sakit, setelah keluar dari ruangan Chen. Ia bermaksud menemui Yoona, dan mengajaknya jalan-jalan ke taman rumah sakit, tempat favoritnya menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya itu. Namun tanpa diduga, ia justru bertemu dengan ayahnya yang memaksanya untuk menghentikan langkahnya sejenak.

Kyuhyun membungkuk ke arah Tuan Cho saat berpapasan dengannya di dekat lobi.

“Kebetulan sekali appa bertemu denganmu di sini,” ujar Tuan Cho seraya tersenyum. Lalu menoleh ke arah wanita yang datang bersamanya.

Kyuhyun terdiam. Matanya tampak memperhatikan ke arah wanita yang berdiri di sebelah ayahnya.

“Kyuhyun, ini putri teman appa. Namanya Tiffany Hwang. Dia bekerja sebagai dokter spesialis penyakit jantung di rumah sakit Seoul. Appa sengaja mengajaknya ke sini untuk memperkenalkannya denganmu,” ujar Tuan Cho.

Raut wajah Kyuhyun berubah malas. Ia tahu tujuan ayahnya memperkenalkan wanita itu padanya. Sudah pasti, perjodohan.

“Tiffany,” ujar Tiffany sambil mengulurkan tangannya.

Kyuhyun menyambut uluran tangan tersebut. “Kyuhyun.”

“Kalau kau tidak keberatan, temani Tiffany untuk melihat-lihat rumah sakit kita,” suruh Tuan Cho.

“Maaf, appa. Lain kali saja. Masih ada hal yang harus kukerjakan,” jawab Kyuhyun sinis.

Tak pelak jawaban Kyuhyun membuat Tuan Cho geram dan kesal. Ditatapnya dengan tajam putra tunggalnya itu, dengan raut kemarahan yang semakin terlihat di wajahnya. Tanpa menunggu balasan dari sang ayah, Kyuhyun memilih langsung pergi meninggalkan mereka.

“Maafkan atas sikap putraku, Tiffany. Kyuhyun memang selalu seperti itu. Sibuk dengan pekerjaannya,” ujar Tuan Cho bersikap baik. Padahal dalam hatinya sangat marah dengan sikap Kyuhyun. Ia tahu kemana putranya itu pergi. Menemui wanita yang sejak awal tak pernah disetujuinya untuk menjalin hubungan dengan Kyuhyun.

“Tidak apa-apa, ahjussi,” balas Tiffany. Pandangan matanya terus menatap ke arah punggung Kyuhyun yang semakin lama menjauh dari hadapan mereka.

.

.

.

Yoona duduk termenung di salah satu bangku taman, yang ada di kawasan rumah sakit. Ia tepikan kursi roda di sebelahnya. Kini mata Yoona terlihat fokus memperhatikan kolam yang berada di depannya. Ketenangan dan kesejukan yang terpancar dari tempat tersebut, selalu menjadi kesukaan Yoona tiap kali mendatanginya. Di tempat inilah, Yoona bisa menenangkan suasana hatinya.

Tak jauh dari posisinya, terlihat Kyuhyun berlari-lari kecil menghampiri Yoona. Sesaat wajah Kyuhyun tampak murung. Hal ini wajar mengingat pembicaraan yang baru saja dilakukannya dengan Chen. Namun begitu sampai di tempat Yoona, wajah Kyuhyun berubah cerah layaknya tak ada beban pikiran yang sedang ditanggungnya.

“Taeyeon mana?”

Yoona terkejut saat mendengar suara tiba-tiba Kyuhyun. “Kau mengagetkanku.”

Kyuhyun terkekeh, lalu mengambil posisi duduk di sebelah Yoona. “Kali ini, apa yang sedang kau lihat?”

Yoona bergumam lirih, sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Lalu tersenyum ke arah Kyuhyun. “Angin.”

“Angin?” Kyuhyun mengernyitkan dahinya.

Yoona mengangguk. “Ne, aku sedang melihat angin.”

Tawa kecil keluar dari Kyuhyun. “Angin tidak bisa kau lihat, Yoong.”

“Secara kasat mata, kau memang tidak bisa melihatnya. Tapi, kau bisa merasakan kehadirannya,” sahut Yoona. “Pejamkan matamu.”

“Untuk apa?” tanya Kyuhyun bingung.

“Akan kuberitahu bagaimana caranya kau bisa melihat angin,” ujar Yoona dengan senyum khasnya.

Kyuhyun tersenyum geli, lalu menutup kedua matanya sesuai perintah Yoona. Sementara Yoona yang duduk di sebelahnya, terlihat bersiap memberikan petunjuk untuknya.

“Sekarang, gunakan telingamu. Dengarkan suara angin yang mulai datang menghampirimu,” ujar Yoona.

Kyuhyun terdiam. Ia ikuti petunjuk Yoona dan terlihat larut dalam suasana tenang di sekitar mereka. Suara angin itu perlahan mulai bermuara di telinganya. Kyuhyun bisa merasakan sentuhan lembut dari angin yang menghampirinya. Senyum itu pun menghiasi wajah Kyuhyun. Seperti yang dikatakan Yoona, ia bisa melihat angin hanya dengan mendengar suara dan merasakan sentuhannya.

“Kau bisa melihatnya?” tanya Yoona saat Kyuhyun membuka kedua matanya.

Kyuhyun menoleh ke arah Yoona, lalu mengangguk tersenyum. “Ne, aku bisa melihatnya. Bagaimana kau tahu tentang ini?”

“Mendiang ayahku yang selalu mengatakannya. Ayahku berkata, angin selalu ada di sekitar kita. Meskipun kau tak bisa melihatnya, tapi kau bisa merasakan kehadirannya. Dengarkan suaranya dan rasakan sentuhannya, maka kau bisa melihat angin,” jelas Yoona.

Kyuhyun tersenyum mendengar penjelasan yang diberikan Yoona. Matanya tak pernah lepas sedetikpun dari Yoona yang tampak bahagia saat menceritakan kisah angin.

Menyadari kekasihnya hanya diam, Yoona pun penasaran dan menoleh ke arah Kyuhyun. Ia terkejut, saat mendapati Kyuhyun menatap sendu padanya.

“Ada apa?”

Kyuhyun tidak menjawab panggilan Yoona. Ia justru mendekatkan wajahnya ke arah Yoona, hingga wajah keduanya nyaris tak ada jarak. Perlahan bibirnya dengan lembut menyentuh bibir Yoona. Setelah mendaratkan ciuman di bibir Yoona, Kyuhyun menarik tubuh Yoona ke dalam pelukannya. Tak pelak sikapnya itu membuat Yoona sedikit bingung.

“Kyuhyun?”

Kyuhyun mulai terisak. Ia tidak mampu menahan kegelisahan hatinya setiap kali berhadapan dengan Yoona. Ia begitu takut akan datangnya saat di mana wanita di hadapannya itu akan pergi dari sisinya.

“Sebentar saja, Yoong,” ucap Kyuhyun. “Aku ingin memelukmu, sebentar saja.”

Yoona terdiam. Tapi ia bisa merasakan apa yang tengah dirasakan Kyuhyun. Tanpa sepengetahuan Kyuhyun, Yoona pun meneteskan air matanya.

.

.

.

Setelah kembali ke kamarnya, entah kenapa Yoona kembali didera rasa bosan. Ia pun memutuskan untuk keluar sejenak tanpa menaiki kursi roda. Ia berjalan pelan, sambil bertumpu pada dinding ruangan yang ada sepanjang lorong rumah sakit. Saat Yoona melewati sebuah ruangan, tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan serius yang terjadi dalam ruangan tersebut.

“Mau sampai kapan kau terus berhubungan dengan wanita itu?”

Yoona terkejut. Ia sangat mengenal suara itu—suara ayah Kyuhyun. Dengan hati-hati, Yoona mencoba melihat dari sela pintu ruangan yang sedikit terbuka. Mata Yoona membulat sempurna, ketika ia juga melihat Kyuhyun berada dalam ruangan tersebut. Yoona segera bersender ke sisi lain agar tidak terlihat oleh Kyuhyun dan ayahnya. Ia bermaksud untuk mendengar semua pembicaraan yang dilakukan ayah dan anak itu.

“Akhiri hubunganmu dengan Yoona, dan mulailah hubungan baru dengan Tiffany,” lanjut Tuan Cho.

Kyuhyun menatap tajam ke arah Tuan Cho. “Shireo! Aku tidak akan pernah meninggalkan Yoona. Aku akan tetap berada di sisinya, selamanya.”

“Kenapa kau begitu keras kepala?!” bentak Tuan Cho.

“Karena aku sangat mencintainya, appa. Tidak akan kubiarkan siapapun menghalangiku untuk tetap bersama Yoona, termasuk ayahku sendiri,” balas Kyuhyun tetap pada pendiriannya.

“Untuk apa kau menggantungkan masa depanmu pada orang yang sebentar lagi akan mati?!”

Kyuhyun terperanjat. Ia tidak menduga jika ayahnya begitu tega mengatakan kalimat tak berperasaan seperti itu. Kemarahan Kyuhyun memuncak. Ia tidak mau lagi mendengar apapun yang dikatakan ayahnya.

Appa keterlaluan!” bentak Kyuhyun. “Perkataan appa sungguh kejam!”

Appa berbicara seperti ini karena appa ingin yang terbaik untuk masa depanmu!”

Perdebatan itu masih terjadi di dalam ruangan ayah Kyuhyun. Dan, wanita yang mendengarkan pembicaraan itu terlihat tak kuasa menahan buliran air matanya. Tubuhnya gemetar. Kondisinya kali ini benar-benar terpuruk hingga membuatnya tak mampu berpikir jernih. Yang terlintas dalam kepalanya hanyalah segera pergi sejauh mungkin, meninggalkan ruangan tersebut. Bahkan jika diperlukan, ia ingin pergi meninggalkan rumah sakit itu.

.

.

.

Kyuhyun keluar dari ruangan ayahnya dengan penuh kemarahan. Ucapan ayahnya telah menyinggung perasaan Kyuhyun.

“Keterlaluan!” runtuk Kyuhyun kesal. Nafasnya menderu, wajahnya tampak memerah dengan emosi yang kian kentara. Kyuhyun berhenti sejenak saat hampir mendekati tujuan langkah kakinya. Setelah berhasil mengendalikan diri, Kyuhyun kembali berjalan menuju kamar inap Yoona.

Namun sebuah pemandangan mengejutkan justru dilihatnya saat Kyuhyun tiba di depan kamar Yoona. Taeyeon dan Chen keluar dari kamar Yoona dengan raut cemas mereka.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun bingung.

Kehadiran Kyuhyun membuat Taeyeon dan Chen terkejut.

“Ada apa?” ulang Kyuhyun. Ia mulai didera rasa cemas.

“Yoona—” Taeyeon tampak kesulitan berucap. “Yoona menghilang.”

MWO?!

“Saat kami kembali mendatangi kamarnya, kami tidak melihatnya. Kamarnya kosong. Kami sudah mencarinya di sekitar kamar, tapi kami tidak berhasil menemukannya,” lanjut Chen.

Tubuh Kyuhyun melemas. Wajahnya seketika berubah panik. “Kau yakin tidak menemukannya di mana pun?”

Taeyeon dan Chen saling memandang, lalu mengangguk bersamaan. Melihat reaksi dua orang itu, Kyuhyun berbalik dan berlari meninggalkan mereka. Secepat mungkin ia harus segera menemukan keberadaan Yoona. Ia khawatir, jika sampai terjadi hal buruk pada Yoona.

Langkah Kyuhyun membawa pria itu menuju taman rumah sakit yang biasa ia datangi bersama Yoona. Ia berharap semoga Yoona ada di sana. Sayang, harapannya belum terwujud. Ia sama sekali tidak melihat batang hidung Yoona di taman itu. Kyuhyun mendesah. Ia segera berlari menelusuri seluruh area rumah sakit untuk mencari keberadaan Yoona. Namun hasilnya tetap sama. Ia tidak menemukan Yoona.

“Apa mungkin Yoona keluar dari rumah sakit?” gumamnya lirih. Walau terdengar mustahil mengingat keadaan Yoona yang begitu lemah, namun Kyuhyun merasa yakin jika wanita itu pergi meninggalkan rumah sakit.

Tanpa pikir panjang, Kyuhyun berjalan menghampiri mobilnya yang terparkir di luar gedung rumah sakit. Ia segera menyalakan mesin, lalu melajukan mobil meninggalkan rumah sakit. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya terus mencari dan berdoa untuk keselamatan Yoona.

Di tempat lain, jalanan ramai yang memasuki kawasan pusat perbelanjaan, terlihat seorang wanita dengan pakaian pasien yang masih melekat di tubuhnya, berjalan dengan tatapan kosong. Ia abaikan pandangan orang di sekitarnya yang menatap bingung ke arahnya. Wanita itu terus berjalan tanpa arah yang pasti. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk duduk di halte bis yang tak jauh dari hadapannya. Dan kehadirannya di sana membuat para calon penumpang yang tengah menunggu bis langsung berlari meninggalkan halte.

Wanita itu—Yoona—tetap memilih duduk di halte bis, meskipun orang-orang yang melihatnya menganggapnya gila ataupun aneh karena pakaian yang dikenakannya. Yoona hanya ingin seorang diri tanpa siapapun. Merenungi semua pembicaraan yang menyakitkan, yang didengarnya beberapa saat lalu.

“Untuk apa kau menggantungkan masa depanmu pada orang yang sebentar lagi akan mati?!”

“Appa keterlaluan! Perkataan appa sungguh kejam!”

“Appa berbicara seperti ini karena appa ingin yang terbaik untuk masa depanmu!”

Helaan nafas panjang keluar dari Yoona, seiring matanya yang perlahan terpejam. Walau terdengar menyakitkan, Yoona menyadari bahwa perkataan ayah Kyuhyun ada benarnya. Seorang ayah pasti memang menginginkan yang terbaik demi anaknya.

“Seharusnya sejak awal, aku tidak pernah menjalin hubungan dengan Kyuhyun,” gumam Yoona lirih.

Meskipun ia tahu perasaan Kyuhyun padanya sangatlah besar, namun Yoona juga menyadari bahwa tidak ada kebahagiaan apapun yang dapat ia berikan pada pria itu. Ia hanya menjadi beban bagi Kyuhyun. Wanita yang tidak memiliki masa depan seperti dia karena mengidap penyakit mematikan, mana pantas bersanding di sisi Kyuhyun—pewaris tunggal dari Cho Corporation.

Tak jauh dari posisi Yoona, sebuah mobil sedan berwarna hitam tampak berhenti. Saat menyadari orang yang tengah dicarinya berhasil dilihatnya, pengemudi mobil tersebut bergegas keluar. Raut wajah pria itu terlihat lega setelah berhasil menemukan orang yang sedari tadi dicarinya.

“Yoong . . .”

Yoona membuka kedua matanya dan terkejut saat mendapati Kyuhyun sudah berdiri di depannya.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini? Aku mencarimu ke mana-mana, begitu tahu kau tidak ada di kamarmu. Aku sangat cemas, Yoong,” ucap Kyuhyun.

Yoona belum merespon Kyuhyun. Ia masih menatap lurus ke arah jalanan ramai yang dilalui kendaraan.

“Kita kembali ke rumah sakit. Kau harus banyak beristirahat,” ajak Kyuhyun sambil menarik tangan Yoona.

SET! Tanpa disangka, Yoona justru menepis tangan Kyuhyun. Pria di hadapannya itu pun menatap bingung padanya.

“Yoong?”

“Kenapa kau begitu peduli padaku?” tanya Yoona. Nada bicaranya terdengar dingin.

Kyuhyun mengernyitkan dahinya. Ia merasa ada yang aneh dengan Yoona. “Apa maksudmu? Tentu saja aku peduli pada wanita yang sangat kucintai.”

“Tapi wanita yang sangat kau cintai itu, hanya menjadi beban bagimu, Kyuhyun,” lanjut Yoona.

“Yoong?”

Yoona kembali menghela nafas. “Aku sudah mendengar, pembicaraanmu dengan ayahmu.”

DEG! Kyuhyun terperangah. Kini ia merasa yakin alasan Yoona tiba-tiba menghilang. Tidak lain karena perdebatan dengan ayahnya yang berhasil didengar oleh wanita itu.

“Ayahmu benar, Kyuhyun. Tidak sepantasnya kau menggantungkan masa depan kepada orang yang sebentar lagi akan mati sepertiku,” ujar Yoona.

Mata Kyuhyun melebar. Ia menarik paksa tubuh Yoona hingga wanita itu bangkit dari posisinya. Tangan Kyuhyun meremas bahu Yoona dengan kuat. Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Yoona membuat hati Kyuhyun serasa tercabik-cabik.

“Apa yang dikatakan ayahku tidak benar!” teriak Kyuhyun.

Yoona menatap dalam bola mata Kyuhyun. “Ayahmu benar. Aku tidak pantas berada di sisimu. Aku ini hanyalah beban. Tidak ada kebahagiaan yang bisa kuberikan untukmu. Waktuku tidak banyak. Sebentar lagi aku akan mati.”

“HENTIKAN!!” Suara keras Kyuhyun membuat orang yang berada di sekitar mereka menoleh kaget. Yoona terkejut saat melihat kristal-kristal bening itu turun membasahi wajah tampan Kyuhyun.

“Kau akan tetap hidup,” ucap Kyuhyun lirih.

“Jangan berusaha menghiburku! Aku tahu, penyakitku ini sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Aku akan mati, sama seperti mendiang ayahku!” teriak Yoona.

SET! Kyuhyun segera menarik Yoona ke dalam dekapannya. Perlahan kedua tangannya memeluk tubuh Yoona dengan erat. Semakin lama semakin erat, seolah tak ingin melepaskan wanita itu sedetik pun. Tubuh Kyuhyun gemetar. Buliran air matanya kian mengalir deras.

“Kumohon jangan berkata seperti itu, Yoong,” pinta Kyuhyun terisak. “Kau tidak akan mati, kau akan tetap hidup.”

Yoona terdiam, namun perlahan isak tangis mulai terdengar darinya. Tangisannya semakin terdengar kencang. Yoona tak dapat lagi menyembunyikan kesedihan yang selama ini dirasakannya. Keduanya pun larut dalam kesedihan yang melanda hati mereka.

.

.

.

Setelah mengantar Yoona kembali ke rumah sakit dan memastikan kondisinya lebih tenang, Kyuhyun segera pulang ke rumah. Pria itu tiba di rumahnya larut malam. Rupanya kedatangannya sudah ditunggu oleh Tuan Cho. Pria paruh baya itu tampak berdiri di depan tangga utama rumah mereka.

“Kau baru pulang?” tanya Tuan Cho sinis.

Kyuhyun tidak menjawab. Ia memilih terus berjalan menuju kamarnya tanpa berkata apapun.

“Aku tanya sekali lagi, kau mau memutuskan hubunganmu dengan Yoona atau tidak?” tanya Tuan Cho menghentikan langkah kaki Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh tajam ke arah ayahnya. “Jawabanku tetap sama. Tidak.”

Tangan Tuan Cho mengepal. Fokus pandangannya kini beralih pada para bodyguard yang berada di rumah mereka. Ia segera memberi perintah pada mereka, dengan satu isyarat yang tidak diketahui oleh Kyuhyun.

Kyuhyun terkejut saat para bodyguard itu menarik lengannya dan menahan langkah kakinya.

“Kurung dia di kamarnya dan pastikan anak itu tidak akan pernah keluar dari rumah!” titah Tuan Cho.

“Baik, Tuan!” balas para bodyguard bersamaan.

Kyuhyun terperanjat. Para bodyguard itu mulai menjalankan tugas yang diberikan ayahnya. Ia dibawa dengan paksa ke dalam kamarnya.

BLAM! Pintu langsung ditutup begitu Kyuhyun sudah berada di kamarnya. Kyuhyun mencoba membuka pintu itu, namun ternyata pintu itu sudah dikunci dari luar.

“BUKA PINTUNYA!!” teriak Kyuhyun emosi. Ia berusaha mendobrak pintu itu dengan tenaga yang dimilikinya. Namun pintu yang terbuat dari kayu jati itu, tidaklah mudah dirobohkan begitu saja dengan tenaga manusia.

“Jika kau mau mengakhiri hubunganmu dengan Yoona, barulah appa membebaskanmu dari hukuman ini,” ucap Tuan Cho saat berdiri di depan pintu kamar Kyuhyun.

Kyuhyun menggeram. Ia sangat kesal dengan sikap ayahnya. “Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakhiri hubungan kami!”

“Kalau begitu, nikmatilah waktumu sepanjang hari di dalam kamar,” ujar Tuan Cho lalu segera pergi meninggalkan kamar Kyuhyun.

Mengetahui ayahnya sudah pergi, Kyuhyun kembali menggebrak pintu kamarnya. Usahanya pun berakhir sia-sia. Kyuhyun berteriak frustasi untuk meluapkan semua emosinya akibat perlakuan keras dari ayahnya.

.

.

.

.

.

.

Chen segera keluar dari rumah, begitu mendapat panggilan dari Taeyeon. Ia abaikan suasana langit yang masih gelap karena belum diterangi oleh hangatnya sinar mentari. Setibanya di rumah sakit, Chen berlari menuju kamar Yoona. Ia terperangah saat mendapati Yoona mengerang kesakitan dan berguling-guling di atas ranjang. Taeyeon sendiri terlihat panik dengan keadaan Yoona.

“Chen?”

Didampingi para suster yang datang bersamanya, Chen segera memberikan perintah. “Bawa pasien ke ruang ICU.”

Para suster tersebut mengangguk, lalu segera menarik ranjang pasien Yoona. Mereka membawa Yoona ke ruang ICU. Taeyeon yang melihatnya pun semakin didera rasa ketakutan. Ia berlari mengekori Chen yang sudah berlari keluar lebih dulu.

“Chen?” Taeyeon berusaha meminta penjelasan terkait kondisi Yoona.

Chen berbalik, lalu menggenggam tangan Taeyeon dengan erat. “Cepat beritahu, Kyuhyun!”

Mwo?

Wajah Chen terlihat panik. “Aku . . . aku tidak tahu berapa lama lagi Yoona akan bertahan, Taeyeon. Sepertinya, kondisinya sudah semakin parah. Cepat kau beritahu, Kyuhyun!”

Taeyeon mengangguk. “Tolong, selamatkan dia!”

“Akan kulakukan semaksimal mungkin,” ucap Chen lalu segera masuk ke dalam ruang ICU.

Setelah memastikan Chen masuk ke dalam ruangan, Taeyeon segera mengeluarkan ponselnya. ia mencoba menghubungi Kyuhyun. Sayang, tidak ada jawaban dari pria itu.

Taeyeon mendesah. Ia mencoba kembali mengubungi Kyuhyun untuk kesekian kalinya. Namun lagi-lagi hasilnya tetap sama.

“Aish, kenapa tidak diangkat?!” runtuk Taeyeon semakin panik.

Taeyeon semakin kebingungan mengingat sudah 2 hari Kyuhyun tidak mendatangi rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi dengan pria itu?

.

.

.

Situasi yang sama masih terjadi di rumah Kyuhyun. Kemarahan Kyuhyun yang diambang batas, sudah mengakibatkan kondisi kamarnya tampak seperti kapal pecah. Beberapa perabotan rumah yang terbuat dari kaca, sukses menjadi pelampiasan kemarahan Kyuhyun. Pria itu bahkan memukul cermin di kamarnya hingga tangan kanannya berdarah.

Para bodyguard yang berjaga di depan kamar Kyuhyun, mulai khawatir dengan kondisinya. Terlebih lagi Kyuhyun selalu menolak makanan yang diberikan untuknya. Salah satu dari mereka pun akhirnya melaporkan kondisi Kyuhyun pada Tuan Cho yang tengah menikmati sarapannya.

“Tuan . . .”

Tuan Cho hanya menatap datar ke arah bodyguard yang mendatanginya. “Ada apa?”

“Kondisi Tuan Muda kian mengkhawatirkan. Kami selalu mendengarnya memecahkan barang-barang yang ada di dalam kamar. Selain itu, Tuan Muda juga selalu menolak makanan yang kami berikan,” ucap bodyguard tersebut.

Tuan Cho mendesah. Lalu memukul pelan meja makannya. “Anak itu benar-benar keras kepala.”

Tuan Cho segera meninggalkan ruang makan, lalu bangkit dari posisinya dan berjalan menuju kamar Kyuhyun.

Sementara di kamarnya, Kyuhyun terduduk lemas di dekat pintu dengan kondisinya yang menyedihkan. Ia bahkan nekat membenturkan kepalanya berkali-kali pada pintu.

DRRT!! Akhirnya setelah beberapa kali ia mengabaikan panggilan masuk pada ponselnya, kini tangan Kyuhyun tampak meraih ponsel yang diletakkan di dekatnya.

Yeoboseyo . . .”

Kyuhyun-ah. Kau di mana? Kenapa tidak segera mengangkat teleponku?

Kyuhyun yang kondisinya masih lemas hanya menghela nafas saat mendengar suara panik  Taeyeon.

“Maaf, ada apa meneleponku?” tanya Kyuhyun kemudian.

Namun yang terdengar justru isak tangis Taeyeon. Kyuhyun yang sudah fokus dengan pembicaraan mereka pun terlihat bingung.

“Taeyeon?”

Yoona dalam kondisi kritis.

MWO?

Kondisinya kian memburuk, Kyuhyun. Sekarang dia ada di ruang ICU. Chen sedang menanganinya. Tapi, Chen bilang dia tidak tahu berapa lama lagi Yoona akan bertahan.

Kyuhyun terperangah. Ponselnya pun terlepas dari genggaman tangannya.

Kyuhyun, kau masih mendengarku? Kyuhyun?

Panggilan berkali-kali dari Taeyeon pun ia abaikan. Kyuhyun mencoba mendobrak kembali pintu kamarnya. Kini pria itu didera kepanikan luar biasa.

“BUKA PINTUNYA!!!” teriak Kyuhyun. Ia semakin frustasi. Mendapat kabar tentang kondisi Yoona yang kritis, membuat kondisi Kyuhyun semakin kalut.

“AKU BILANG BUKA PINTUNYA!!!” teriak Kyuhyun untuk kedua kalinya.

Salah satu bodyguard yang masih berjaga dan masih peduli dengan Kyuhyun, merasa tidak tega dengan kondisinya. Ia pun nekat membukakan pintu kamar Kyuhyun.

BRAK! Begitu pintu kamar itu terbuka, Kyuhyun segera berlari secepat mungkin namun berhasil dihalangi oleh bodyguard itu.

“Tuan Muda, saya mohon tenanglah,” ucapnya merasa cemas.

“Lepaskan aku!” bentak Kyuhyun meronta.

“Cho Kyuhyun! Jangan bersikap seperti anak kecil!”

Kyuhyun terkesiap saat melihat kedatangan ayahnya. Tuan Cho pun terkejut saat melihat kondisi putranya yang begitu menyedihkan. Sesaat ia memang masih peduli dengan Kyuhyun, namun keegoisan hatinya berhasil mengalahkan semuanya.

“Siapa yang telah berani membuka pintu kamarnya?!” tanya Tuan Cho murka.

Bodyguard yang tengah memegangi Kyuhyun tampak menunduk. “Maafkan atas kelancangan saya, Tuan. Tapi, saya tidak tega dengan kondisi Tuan Muda.”

“Kau—” Tuan Cho sudah bersiap ingin memberikan hukuman dengan bodyguard tersebut namun niatnya sudah dihalangi oleh Kyuhyun yang langsung maju mendekatinya.

Appa, kumohon. Izinkan aku pergi menemuinya,” pinta Kyuhyun.

“CHO KYUHYUN!”

“Kondisi Yoona sekarang kritis, appa. Kemungkinan ini terakhir kalinya bagiku untuk bertemu dengannya. Kumohon appa, izinkan aku pergi menemuinya,” ujar Kyuhyun memohon.

Tuan Cho terdiam, ia lalu berbalik dan tetap berkeras hati. “Tidak. Kau tidak boleh pergi.”

Kyuhyun terperanjat. Ia semakin meronta saat dihalangi oleh para bodyguard.

Eomma meninggal karena penyakit kanker yang dideritanya. Di saat terakhir sebelum kepergiannya, hanya aku yang menemaninya. Appa sangat sedih karena tidak berada di sisi eomma di saat-saat terakhirnya. Aku tahu, appa begitu kehilangan eomma, wanita yang sangat appa cintai. Dan sekarang, apakah appa tega nasib yang sama juga terjadi padaku? Menghalangiku agar aku tidak bisa mendampingi orang yang sangat kucintai, di saat-saat terakhirnya?”

Bagai ada petir yang menyambar Tuan Cho, hingga membuatnya teringat akan masa lalunya yang kelam. Ia menyadari bahwa selama ini ia sudah menjadi ayah yang kejam untuk putranya sendiri. Selama ini lari dari kesalahan yang selalu mengikatnya. Dan ia melampiaskannya pada Kyuhyun.

Appa . . .”

Tuan Cho menunduk. “Lepaskan dia.”

Kyuhyun terdiam. Dilihatnya bodyguard yang memegangi lengannya tampak merenggangkan pegangannya.

Tuan Cho berbalik dan menatap Kyuhyun dengan perasaan bersalah.

“Selama ini aku telah dibutakan oleh harta dan kekuasaan. Kesuksesan yang telah kuraih, telah membuatku lupa akan alasan kenapa aku mendirikan rumah sakit untuk penderita kanker,” ujar Tuan Cho. “Aku ingat, rumah sakit untuk penderita kanker ini kudirikan untuk mendiang ibumu.”

Kyuhyun menatap sendu ke arah ayahnya. Ia bisa melihat penyesalan yang tergambar di wajah ayahnya.

“Maafkan atas kesalahan appa selama ini,” ucap Tuan Cho mulai terisak.

Kyuhyun tertegun saat melihat mata ayahnya yang mulai memerah dan berlinang air mata.

“Pergilah. Temui dia,” ujar Tuan Cho.

Senyum haru muncul menghiasi wajah Kyuhyun. Pria itu mengangguk lalu segera berlari meninggalkan rumah.

Sepeninggalan Kyuhyun, kondisi Tuan Cho tampak lemas karena menyesali perbuatan yang selama ini sudah dilakukannya.

“Tuan . . .” Salah satu bodyguard dengan sigap segera menopang tubuhnya.

Tuan Cho tersenyum tipis. “Aku tidak apa-apa.”

.

.

.

Taeyeon memandangi layar ponselnya dengan cemas. Obrolan dengan Kyuhyun yang terputus, membuatnya raut cemasnya semakin kentara. Tak lama kemudian, Chen tampak keluar dari ruang ICU. Wajah pria itu tak kalah berbeda dengan Taeyeon.

“Bagaimana kondisinya?” tanya Taeyeon cemas.

Chen menggeleng pelan. “Sudah tidak ada harapan lagi, Taeyeon.”

Taeyeon tak dapat lagi menahan air matanya. Wanita itu segera masuk ke dalam ruang ICU untuk melihat kondisi sahabatnya. Hatinya terasa sakit, saat melihat kondisi Yoona yang memilikuan dengan dikelilingi peralatan medis di sekitar ranjangnya. Wajah sahabatnya itu tampak semakin pucat.

“Kyuhyun . . . Kyuhyun . . .”

Taeyeon terkesiap saat mendengar suara Yoona yang terus-menerus memanggil nama Kyuhyun. Ia segera berjalan mendekati Yoona lalu menggenggam erat tangannya.

“Yoong . . .”

Perlahan Yoona membuka kedua matanya, lalu menoleh pelan ke arah Taeyeon.

“Taeyeon, di mana Kyuhyun?” tanya Yoona lirih. “Aku ingin bertemu dengannya.”

Taeyeon menangis. Dibelainya dengan lembut kepala Yoona, lalu semakin mempererat genggaman tangannya. “Dia pasti datang. Bersabarlah.”

Chen yang menyaksikan pemandangan itu semakin merasa sedih. Ia pun keluar dari ruangan dan mencoba menghubungi Kyuhyun. Desahan pelan lagi-lagi keluar darinya karena gagal menghubungi pria itu.

DRAP! DRAP! Suara derap langkah kaki berhasil mengalihkan perhatian Chen. Pria itu segera menoleh ke arah kanan. Ia terperangah, saat melihat kedatangan sahabatnya dengan penampilan berantakan dan berkeringat. Belum lagi wajah sahabatnya yang tampak pucat dan tangan kanannya yang berdarah.

“Di mana dia?”

Chen belum menjawab pertanyaan Kyuhyun. Ia masih memikirkan kondisi sahabatnya. “Apa yang terjadi denganmu?”

Kyuhyun tidak memperdulikan pertanyaan Chen. “Di mana Yoona?”

Chen kembali fokus dengan situasi yang terjadi. Jari tangannya pun menunjukkan ke arah pintu. “Sudah tidak ada harapan lagi.”

“Tidak mungkin,” Kyuhyun bergegas masuk. Tubuh Kyuhyun pun terasa semakin lemas begitu melihat pemandangan di dalam ruangan.

Taeyeon yang duduk di sebelah Yoona terkejut saat melihat kedatangan Kyuhyun. Ia kebingungan dengan penampilan Kyuhyun yang terlihat kacau. Ia segera menghampiri pria yang masih berdiri di dekat pintu itu.

“Kyuhyun, apa yang terjadi denganmu?” tanya Taeyeon cemas.

“Tidak perlu mengurusi kondisiku. Bagaimana dengan Yoona?”

Taeyeon terdiam, lalu menundukkan kepalanya seraya menggeleng pelan. Ia kembali menangis di hadapan Kyuhyun. Tak pelak reaksinya itu membuat hati Kyuhyun semakin kalut.

Kyuhyun berjalan pelan mendekati ranjang tempat Yoona dirawat. Ia pandangi satu per satu peralatan medis yang ada di sekitar Yoona. Lalu Kyuhyun menarik pelan sebuah kursi yang sebelumnya digunakan Taeyeon.

“Kyuhyun . . . Kyuhyun . . .”

Suara Yoona membuat leher Kyuhyun tercekat. Kyuhyun meraih salah satu tangan Yoona, kemudian menggenggamnya seerat mungkin sembari mengecupnya.

“Aku di sini, Yoong. Apa kau bisa mendengarku?”

Dengan tenaga yang tersisa, Yoona kembali membuka kedua matanya. Pandangannya memang sempat kabur, namun akhirnya ia bisa melihat dengan jelas sosok pria yang sudah duduk di sebelahnya.

“Kyuhyun, akhirnya kau datang menemuiku,” ujar Yoona senang.

Kyuhyun tersenyum. “Tentu saja. Mana mungkin aku tidak datang untuk menemuimu. Maaf aku datang terlambat.”

Yoona tersenyum. Namun raut wajahnya perlahan berubah sedih. “Ada apa dengan wajahmu? Kenapa kau tampak pucat? Kenapa tanganmu juga berdarah?”

Hati Kyuhyun tersayat mendengar rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Yoona. Bahkan di saat kondisi kritis pun, Yoona masih sempat memperhatikan kondisinya.

“Aku tidak apa-apa. Hanya terjatuh,” ucap Kyuhyun lirih, berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya dari Yoona.

Yoona terdiam. Ia tahu Kyuhyun sedang berbohong. “Kau bertengkar dengan ayahmu?”

Kyuhyun tersenyum. Percuma saja berbohong pada Yoona. Wanita itu selalu tahu fakta yang sebenarnya hanya dengan melihat air muka Kyuhyun.

“Awalnya memang iya, tapi sekarang sudah tidak lagi. Ayahku sudah merestui hubungan kita,” ucap Kyuhyun akhirnya mengaku.

Wajah Yoona seketika berubah cerah. “Benarkah? Ayahmu merestui hubungan kita?”

Kyuhyun mengangguk. Namun raut wajahnya tidak terlihat senang, melainkan terlihat semakin sedih. Buliran air matanya mulai mengalir membasahi wajahnya. Tangan Yoona perlahan mengusap lembut wajah Kyuhyun.

“Kenapa kau menangis? Apa kau tidak senang?” tanya Yoona lirih. Tenaganya kian berkurang karena kondisinya yang semakin melemah.

Kyuhyun menggeleng, lalu segera mengusap air matanya. “Aku senang. Aku sangat bahagia.”

Yoona tersenyum senang. “Syukurlah. Aku bisa pergi dengan tenang sekarang.”

Kyuhyun mengatupkan kedua bibirnya. Ia semakin menggenggam erat tangan Yoona yang mulai terasa dingin.

“Aku senang bisa mengenalmu, Kyuhyun,” ucap Yoona.

Kyuhyun menundukkan kepalanya. Ia tak berani melihat wajah Yoona.

“Terima kasih, kau selalu berada di sisiku,” lanjut Yoona.

Air mata Kyuhyun mengalir semakin deras.

“Aku mencintaimu . . .”

SET! Tangan Yoona terlepas dari genggaman tangan Kyuhyun, bersamaan dengan bunyi panjang yang terdengar dari mesin kardiograf. Tubuh Kyuhyun seketika membeku. Tatapannya kosong.

“Yoong . . .” Suara serak  Kyuhyun berusaha memanggil nama Yoona.

Hening. Tidak ada jawaban yang terdengar dari Yoona. Kyuhyun memejamkan kedua matanya sejenak, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk melihat wajah Yoona. Apa yang ditakutkannya pun terjadi juga pada hari itu.

Kyuhyun tak mampu berucap sepatah kata pun. Ia menangis dalam diamnya, sambil memeluk tubuh Yoona dengan erat. Kesedihan mendalam begitu ia rasakan terhadap kenyataan pahit yang harus diterimanya. Perasaan yang sama pun dirasakan oleh Taeyeon dan Chen. Taeyeon menangis dalam pelukan Chen yang sedari tadi berusaha menenangkannya. Mereka telah kehilangan sosok yang begitu ceria dan selalu bersemangat dalam menjalani hidup. Yoona—telah pergi dari dunia ini, untuk selamanya.

.

.

.

.

.

.

Area pemakaman itu kini tampak sepi. Semua pelayat yang mengantarkan Yoona sampai ke peristirahatan terakhirnya, sudah berhamburan meninggalkan lokasi pemakaman. Terlihat dari kejauhan, Tuan Cho yang masih berdiam di dalam mobil menyuruh sang supir untuk segera melajukan mobilnya. Rupanya tanpa diketahui putranya, Tuan Cho turut hadir dalam acara pemakaman Yoona.

Kini di sekitar pusaran makam Yoona, yang masih tinggal hanyalah Kyuhyun, Taeyeon, dan Chen. Chen memberi isyarat pada Taeyeon untuk meninggalkan Kyuhyun seorang diri. Taeyeon pun mengerti dan berjalan mendekati  Kyuhyun. Tatapan Kyuhyun masih tertuju pada batu nisan yang bertuliskan nama Yoona. Perlahan Taeyeon mengeluarkan sepucuk surat dari dalam mantel. Lalu menyerahkannya pada Kyuhyun.

“Dua hari sebelum kepergiannya, Yoona sempat menulis sebuah surat. Dia berpesan, untuk memberikan surat ini padamu, setelah dia pergi,” ucap Taeyeon.

Kyuhyun menoleh. Dipandanginya sepucuk surat yang ada di tangan Taeyeon. Ia pun menerima benda tersebut dengan tatapan kosongnya.  Setelah memberikan surat Yoona, Taeyeon menepuk pelan bahu Kyuhyun, sebelum akhirnya pergi bersama Chen meninggalkan area pemakaman.

Kyuhyun masih terdiam sambil memandangi surat yang kini dipegangnya. Kemudian ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, dan berhasil menangkap sebuah bangku yang berada di luar area pemakaman. Kyuhyun berjalan mendekati bangku tersebut, kemudian duduk di atasnya sambil berusaha menenangkan suasana hatinya yang masih dirundung duka. Perlahan ia merobek amplop tersebut, lalu membaca isi surat yang ada di dalamnya.

.

.

.

Untuk Kyuhyun

Terlepas dari semua permasalahan yang kita alami, aku sangat bahagia setiap kali berada di sisimu. Kau adalah orang yang telah memberiku kenangan terindah semasa hidupku. Cinta tulus yang kau berikan padaku, membuat hidupku semakin berarti.

Mereka yang telah pergi, kehidupan mereka selama di dunia telah berakhir. Namun bagi mereka yang ditinggalkan, tetap harus melanjutkan kehidupan mereka seperti semula.

Setelah kepergianku, kuharap kau tetap melanjutkan kehidupanmu, Kyuhyun. Jangan berhenti di satu titik, hanya karena aku tidak lagi berada di sisimu. Aku ingin kau tetap menjadi Cho Kyuhyun, yang pantang menyerah dan tegar menghadapi semua permasalahan kehidupan yang kau alami selama ini.

Kau pernah bertanya padaku, jika aku terlahir kembali, aku ingin menjadi apa. Kurasa, aku sudah menemukan jawabannya.

Aku ingin terlahir kembali menjadi angin.

Kadang aku merasa, kau seperti rumput yang selalu terikat dengan tanah,  tidak bisa bergerak bebas seperti yang kau inginkan. Sama halnya seperti kau yang terikat pada kemauan keras ayahmu, yang membuatmu sulit untuk bergerak bebas.

Kenapa aku ingin menjadi angin? Karena angin sangat berkaitan erat dengan rumput.

Dalam kisah kita, kau ibarat rumput, sementara aku adalah angin.

Angin memiliki warna dan bentuk. Meskipun tidak bisa melihatnya, namun saat rumput mulai berayun, kita tahu bahwa di sana ada angin. Jika tidak ada rumput, angin pun akan kehilangan jati dirinya.

Rumput memang diam dan terikat pada tanah. Tapi saat ada angin yang menghampirinya, rumput mulai berayun mengikuti gerakan angin yang datang. Meskipun rumput selalu terikat pada tanah, namun rumput tidak pernah merasa kesepian. Karena ada angin yang akan selalu menemaninya.

Sama halnya sepertiku. Meskipun kau seorang diri tanpa ragaku yang menemanimu, tapi kau harus percaya. Jiwaku akan senantiasa bersamamu. Selamanya.

Terima kasih karena telah memberikan cintamu untukku.

Aku mencintaimu, Kyuhyun.

-Im Yoona-

.

.

.

Tes.

Kristal bening itu kembali turun membasahi wajah Kyuhyun untuk kesekian kalinya. Kyuhyun menggenggam erat surat dari Yoona yang baru saja selesai dibacanya. Surat yang ditulis Yoona sangat menyentuh perasaan Kyuhyun. Hingga membuat pria itu tak sanggup menahan kesedihan mendalam karena kepergian Yoona.

Kyuhyun menengadahkan kepalanya, lalu memejamkan kedua matanya. Ia kembali melakukan hal yang sama seperti yang pernah diajarkan oleh Yoona. Kyuhyun ingin melihat angin, karena ia sangat merindukan keberadaannya.

Suara angin itu perlahan terdengar di telinganya. Kyuhyun juga bisa merasakan sentuhan lembut dari angin yang mulai menghampirinya. Kyuhyun tersenyum. Ia bisa melihat sosok Yoona tengah menatapnya dengan rona bahagia. Yoona memperlihatkan senyuman terindahnya, yang selama ini belum pernah dilihat oleh Kyuhyun.

Kau benar, Yoong.  Angin akan selalu menemani rumput. Seperti jiwamu yang akan selalu berada di sisiku. Aku bisa merasakan kehadiranmu, saat angin mulai datang menghampiriku.

Kyuhyun membuka kedua matanya, lalu menatap ke arah langit yang tampak cerah. Ia kembali tersenyum.

Aku mencintaimu, Yoong. Selamanya, perasaanku tidak akan pernah berubah. Karena pada kisah kita, hanya ada Im Yoona di hati Cho Kyuhyun.

-THE END-

Hehe, ini memang re-make, seperti keterangan di atas. Selagi nunggu FF terbaru kelar, aku publish untuk kalian. Ini termasuk FF favoritku hehe. Maaf untuk typo, sepertinya masih ada beberapa yg salah tulis setelah diedit lagi *bow*

Mungkin sudah ada yang pernah membaca dengan versi sebelumnya. Terima kasih sudah membaca❤😉

36 thoughts on “Wind

  1. Mayang says:

    nyesek sekaligus kesel am tuan cho -_-:/
    uda telattttttt ngasih restu nya juga -_-
    gpp cinta gg harus saling memilikidan bersama ,setiap pertemuan pasti ada perpisahan kan ,

  2. parkcelya22 says:

    hwaaaaaaa jadi pengen nangis:'( yang pailng ngena banget itu surat yoona buat kyuhyun deabakk banget:'( kata2 nya bagus di suratnya:’tapi paling suka kalimat terakhirnya,
    ” Karena pada kisah kita, hanya ada Im Yoona
    di hati Cho Kyuhyun.”

  3. Ana29 says:

    Walau udah baca di YoongEXO tetep aja nangis lg. Aku nangis loh, sumpah sampe sm Mama ditanyain knp mataku sampe merah?😀 Tp udah, jgn banyakin yg sad ending yah? Sakiiit :”

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s