My Jealous Girl


my jealous girlMy Jealous Girl

by cloverqua | main cast Cho Kyuhyun – Im Yoona

other cast Victoria Song – Park Jiyeon

genre Fluff – Romance – School Life | rating PG 15 | length Oneshot

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

“Yoong, tunggu!”

Kyuhyun mempercepat langkah kaki saat gadisnya—Yoona, tak mengurangi kecepatan lari sedikitpun. Gadis itu tetap berlari keluar meninggalkan gedung sekolah. Wajahnya memerah dengan mata sembap yang beruraian air mata. Kyuhyun tahu Yoona telah salah paham. Mengira dirinya melakukan sesuatu dengan teman sekelasnya—Victoria. Padahal Kyuhyun hanya menolong Victoria yang matanya kemasukan debu. Tanpa diduga, Yoona datang ke kelasnya. Saat itulah dia berteriak marah dan langsung pergi meninggalkan Kyuhyun.

“Yoona!” Kyuhyun berteriak sekeras mungkin agar gadis itu mau berhenti. Namun sepertinya Yoona benar-benar marah sampai tak mau mendengarkannya. Ia tetap berlari jauh di depan Kyuhyun.

Lelaki itu berhenti sejenak, mengatur nafas yang terengah-engah. Keringat mengalir dari pelipis kepala. Matanya menyipit, mencoba memandangi Yoona yang semakin jauh di depannya. Gadis itu mulai masuk ke dalam bis yang baru tiba di halte, yang lokasinya tak jauh dari sekolah mereka. Kyuhyun menyerah. Gadis itu tak mungkin terkejar.

“Aish, dia sudah masuk ke dalam bis,” desah Kyuhyun. Sesekali ia terbatuk karena kelelahan. Kyuhyun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

Kyuhyun meraih ponselnya, bermaksud menghubungi Yoona. Tapi, seperti yang sudah ia duga, Yoona me-reject panggilan darinya. Kyuhyun hanya mendengar suara operator yang menjawabnya.

TRANG!

Kyuhyun menendang keras sebuah kaleng bekas di depannya. Ia tumpahkan semua emosinya pada kaleng tak bersalah itu. Sayang, kaleng itu mendarat tepat mengenai kepala seseorang yang melintas tak jauh di depan Kyuhyun. Pria bertubuh kekar itu merintih kesakitan sembari memandangi kaleng yang ditendang Kyuhyun. Matanya melotot dengan wajahnya yang memerah.

Kyuhyun meringis. Ia refleks membungkukkan badan ke arah pria itu.

“Maafkan aku,” ucapnya seraya membalikkan badan. Dalam hitungan detik, Kyuhyun berlari secepat mungkin saat pria itu bersiap mengejarnya.

“HEI, TUNGGU!” suara keras pria itu membuat Kyuhyun mengerahkan langkah kaki seribu.

Sial! Hari ini aku benar-benar sial! pikir Kyuhyun.

.

.

.

BLAM!

Yoona menutup pintu rumah cukup keras, hingga membuat ibunya yang asyik menonton TV melonjak kaget. Nyonya Im beranjak dari sofa dan menghampirinya dengan wajah bingung.

“Ada apa?” tanya Nyonya Im cemas. Terlebih saat melihat wajah putrinya yang kusut dengan mata sembapnya.

Yoona tak dapat lagi menahan air matanya. Gadis itu langsung memeluk Nyonya Im, “Eomma . . .

“Ada apa? Kenapa kau menangis?” tanya Nyonya Im kian bingung.

Oppa berselingkuh, eomma. Aku melihatnya,” jawab Yoona terisak. Lalu melepas pelukan dan menatap intens wajah Nyonya Im. “Aku melihatnya ingin berciuman dengan teman sekelasnya. Dia berselingkuh, eomma . . .”

“Selingkuh?” suara Nyonya Im tiba-tiba meninggi karena terlalu kaget. “Itu tidak mungkin. Aku tahu persis siapa Kyuhyun. Dia tidak mungkin mengkhianatimu.”

“Aku melihatnya sendiri, eomma,” ucap Yoona kesal. “Saat aku ke kelasnya, aku melihat oppa dengan teman sekelasnya, Victoria-sunbae. Aku melihat mereka berdua berciuman.”

Nyonya Im meremas bahu Yoona agar gadis itu menghentikan tangisnya. Ia tak langsung percaya dengan penuturan yang disampaikan putrinya.

“Tidak, aku percaya pada Kyuhyun. Dia tidak mungkin melakukannya. Mungkin saja kau hanya salah paham,” ucap Nyonya Im berpikir realistis.

Yoona mendengus seraya mengerucutkan bibir, “Jadi eomma lebih percaya padanya daripada putrimu sendiri?”

Nyonya Im menggeleng, “Bukan seperti itu, eomma hanya—”

Belum selesai perkataan Nyonya Im, Yoona langsung melenggang pergi menuju kamarnya.

“Yoona?” Nyonya Im berusaha memanggil sang putri namun tetap tak direspon. Wanita itu menghela nafas pelan. Bingung dengan sikap putrinya yang begitu mudah tersulut emosi.

Begitu melihat ranjang, Yoona langsung menjatuhkan diri di atas kasur empuk itu. Ia tenggelamkan wajahnya dibalik bantal. Gadis itu kembali menangis, sambil mengumpat lelaki yang sudah melukai perasaannya.

Oppa, kau benar-benar keterlaluan!”

.

.

.

“Kau baru pulang, Kyu?”

Kyuhyun hanya mengangguk pelan saat disambut pulang oleh ibunya. Ia memang pulang terlambat, hampir mendekati jam 5 sore. Lelaki itu langsung berjalan masuk ke kamarnya. Tanpa berkata apapun. Tak pelak sikapnya itu membuat dahi Nyonya Cho berkerut.

“Ada apa dengan anak itu?” gumam Nyonya Cho. Ia memandangi punggung anaknya sampai tak terlihat lagi.

“Ah, pasti bertengkar lagi dengan Yoona,” ujarnya tersenyum seraya menggelengkan kepala. Ia kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

Sementara di kamarnya, Kyuhyun langsung melempar tas ke meja. Ia menjatuhkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Mata lelaki itu terpejam sejenak. Ia berulang kali menghela nafas kasar.

Kyuhyun meraih ponselnya. Ia mencoba sekali lagi menelepon Yoona. Suara operator yang lagi-lagi menjawabnya, membuat lelaki itu mendesah kesal.

“Apa kau begitu marah padaku, Yoong?” gumam Kyuhyun. Ia tak tahu harus berbuat apa untuk meyakinkan Yoona. Salah paham itu harus disudahi.

KLEK!

Kyuhyun terkesiap saat mendengar suara pintu kamarnya. Ia mendapati ibunya sudah berdiri di depan kamar dengan celemek yang masih melekat di tubuh.

“Sedang apa kau? Kenapa tidak segera ganti pakaian?” tanya Nyonya Cho bingung.

Kyuhyun hanya tersenyum seraya bangkit, “Ne, eomma. Aku akan segera pergi mandi dan ganti pakaian.”

Nyonya Cho memperhatikan perubahan raut wajah Kyuhyun. Ia langsung menarik tangan putranya agar mendekat. “Apa kau sedang ada masalah?”

Kyuhyun terdiam. Sedetik kemudian ia mengangguk pelan dan duduk kembali di ranjangnya.

“Bertengkar dengan Yoona lagi?” tanya Nyonya Cho seraya tersenyum.

Ne, aku tidak tahu harus berbuat apa,” jawab Kyuhyun berterus terang. “Ini hanya salah paham, eomma. Aku tidak melakukan apapun dengan Victoria, teman sekelasku.”

“Victoria?”

Reaksi bingung dari ibunya membuat Kyuhyun menunduk dalam. Ia sadar, seharusnya menceritakannya secara pelan dan tidak terburu-buru.

“Sepulang sekolah, aku berjalan keluar kelas dengan Victoria. Tiba-tiba matanya kemasukan debu. Aku menolongnya membersihkan debu itu dengan meniup pelan matanya. Saat itulah, Yoona datang ke kelasku. Mungkin dia hanya melihatku dari sisi lain, sehingga mengira aku dan Victoria sedang melakukan ciuman,” jelas Kyuhyun panjang lebar.

“Benarkah?” Nyonya Cho tampak tak bisa menahan tawanya.

“Apa yang harus kulakukan, eomma? Dia tidak mau mendengarkan penjelasanku. Begitu melihat kami, dia berteriak marah dan langsung pergi. Sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk berbicara,” keluh Kyuhyun.

Nyonya Cho tersenyum melihat wajah kusut putranya. Jelas reaksinya itu membuat Kyuhyun semakin kesal.

Eomma, kenapa tersenyum? Eomma senang melihatku bertengkar dengan Yoona?” rengek Kyuhyun.

Tangan Nyonya Cho mengusap lembut bahu Kyuhyun, berusaha menurunkan emosi yang menguasai putranya.

“Tenanglah, Kyu. Mana mungkin aku senang melihat kalian bertengkar,” sahut Nyonya Cho. “Aku hanya kaget. Selama ini aku belum pernah melihat putraku begitu tersiksa dengan masalah cinta. Wajahmu terlihat begitu muram.”

Kyuhyun menghela nafas, “Itu karena aku takut jika Yoona tak mau memaafkanku, eomma. Bagaimana jika dia mengakhiri hubungan kami? Tanpa memberiku kesempatan menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Ah, memikirkannya saja kepalaku serasa mau pecah.”

Nyonya Cho tertawa geli. Kali ini ia berganti membelai kepala Kyuhyun.

“Yoona sampai marah seperti itu, artinya dia begitu mencintaimu, Kyu. Dia tidak bisa mengendalikan diri, saat melihatmu bersama gadis lain. Itu tanda bahwa ia tengah cemburu buta. Seharusnya kau tidak perlu sepanik ini. Bukankah kau sudah mengenalnya sejak kecil? Kau tahu persis sifat Yoona yang selalu ingin agar kau tetap memperhatikannya, bukan gadis lain,” terang Nyonya Cho seraya bangkit. Penjelasan itu berhasil menenangkan suasana hati putranya.

“Bicaralah baik-baik dengannya,” ucap Nyonya Cho sebelum keluar dari kamar Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum. ia senang berbagi cerita dengan ibunya.

“Cepat mandi dan ganti pakaian. Sebentar lagi makan malam, Kyu,” ulang Nyonya Cho sambil menyembulkan kepalanya dibalik pintu kamar Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk, “Ne, eomma.”

.

.

.

Yoona duduk di kursi kamar, setelah menikmati makan malam dengan orang tuanya. Mata gadis itu masih terlihat bengkak, usai menangis selama berjam-jam. Ia duduk termenung, seraya memandangi boneka rilakkuma pemberian Kyuhyun. Wajah Kyuhyun terlintas dalam kepalanya. Tapi sial, Yoona justru mengingat kembali kejadian tadi siang saat pulang sekolah.

Bibir gadis itu merucut. Ia mendengus kesal dan kembali mengumpat Kyuhyun. Tangannya memukul berkali-kali boneka itu, hanya untuk menumpahkan semua kekesalannya pada Kyuhyun.

Setelah puas mengeluarkan emosi, Yoona meraih ponsel yang diletakkan di atas meja. Ponsel itu dalam keadaan mati. Yoona sengaja melakukannya karena tak ingin Kyuhyun menghubunginya. Gadis itu menekan tombol ponsel untuk menyalakannya kembali. Begitu ponsel menyala, Yoona langsung menerima pemberitahuan panggilan dari Kyuhyun sebanyak 30 kali. Mata gadis itu melebar, menatap tak percaya ke arah ponselnya.

“Dia menghubungiku sebanyak ini?”

DRRT!

Yoona melonjak kaget saat mengetahui ada pesan masuk untuknya. Jari-jemari gadis itu bergerak cepat menekan tombol untuk membuka pesan tersebut.

Jangan salah paham
Aku dan Victoria sama sekali tidak ada apa-apa
-Kyuhyun-

Yoona membelalakkan matanya. Pesan yang baru dibacanya membuat gadis itu terdiam. selang beberapa detik, terdengar kembali nada pesan yang masuk.

Percayalah padaku, Yoong
Kau hanya salah paham
-Kyuhyun-

Yoona menatap tak percaya ke arah ponselnya yang langsung dipenuhi pesan singkat dari Kyuhyun. Hampir semua isi pesan sama. Menyuruh Yoona untuk tidak salah paham dengan Kyuhyun. Persis seperti yang dikatakan Nyonya Im saat Yoona tiba di rumah.

“Sepertinya dia tidak berbohong. Apa mungkin aku terburu-buru menyimpulkan keadaan?” gumam Yoona sedikit menyesal.

Tapi rasa penyesalan itu langsung sirna, tiap kali gadis itu mengingat kejadian tersebut.

“Aish, sudahlah! Oppa memang salah. Seharusnya dia tahu jika aku tidak suka melihatnya terlalu dekat dengan gadis lain,” umpat Yoona seraya bangkit dari kursinya. Ia langsung naik ke atas ranjang. Mengatur posisi tidur lalu menarik selimutnya. Mungkin tidur bisa mengobati rasa lelahnya, baik secara fisik maupun mental.

.

.

.

.

.

.

SRET!

Bunyi tarikan keras dari sebuah korden di kamar Yoona, seolah tak berhasil membuat gadis yang masih bersembunyi di balik selimut itu untuk bangun. Nyonya Im berkacak pinggang, sambil menatap gemas ke arah putrinya.

“Yoona, ayo bangun! Ini sudah hampir jam 8 pagi . . .”

Hening. Tak ada jawaban dari Yoona. Hal itu membuat Nyonya Im kian gemas. Ia tak punya pilihan. Terpaksa harus menarik Yoona agar mau bangun dari ranjang.

“Yoona, cepat—” kalimat Nyonya Im terhenti saat ia menarik selimut Yoona. Matanya membulat sempurna, ketika mendapati putrinya tampak aneh. Yoona menggigil dan wajahnya berkeringat.

“Yoona?” Nyonya Im tampak bingung. Tangannya perlahan menyentuh kening Yoona. merasakan suhu yang begitu panas, wajah wanita itu langsung berubah panik.

“Astaga, panas sekali,” teriak Nyonya Im. Ia langsung berlari keluar dari kamar Yoona. Pergi ke dapur, mengambil baskom yang diisi air. Lalu ia mengambil handuk kecil di dekat kamar mandi. Tak lupa Nyonya Im menyiapkan madu untuk Yoona.

Sesampainya di kamar Yoona, Nyonya Im segera mengompres kening Yoona dengan handuk yang sudah dibasahi air. Saat itu Yoona tampak mengerjapkan kedua matanya.

Eomma . . .”

“Sudah jangan banyak bicara. Kau demam tinggi, sebaiknya beristirahat. Untuk sementara tidak masuk sekolah sampai kondisimu benar-benar pulih,” ucap Nyonya Im.

Yoona mengangguk dan kembali mengatur nafasnya. Pantas saja semalam ia sempat merasa kurang enak badan setelah makan malam. Ternyata itu gejala demam.

Nyonya Im menyuapkan madu untuk Yoona. Gadis itu tak berkomentar banyak dan mengikuti apa yang dilakukan sang ibu.

“Setelah ini, eomma akan membuatkan bubur. Kau harus memakannya,” ucap Nyonya Im. Ia melirik ke arah jam dinding di kamar Yoona.

“Ada apa, eomma?” Yoona penasaran dengan raut wajah bingung ibunya.

“Sebenarnya jam 9 nanti, eomma ada keperluan di tempat nenekmu. Eomma sudah berjanji akan datang ke sana hari ini. Tapi, kau sekarang justru terbaring sakit. Mana bisa eomma meninggalkanmu sendirian di rumah,” ucap Nyonya Im cemas. Saat ini Yoona memang hanya tinggal berdua dengan ibunya, sementara ayahnya sedang bertugas di Jepang.

Yoona tersenyum, “Tak apa. Eomma pergi saja ke rumah nenek. Setelah aku meminum madu ini dan tidur beberapa jam, pasti kondisiku akan segera pulih. Aku tidak apa-apa jika di rumah sendiri, eomma.”

“Kau yakin?” tanya Nyonya Im memastikan.

Anggukan pelan dari Yoona tetap membuat Nyonya Im ragu. Tapi sorot mata Yoona yang begitu yakin, membuat Nyonya Im tak punya pilihan. Ia tetap pada rencananya yang berniat pergi ke rumah nenek Yoona.

.

.

.

Kyuhyun terlihat berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Kyuhyun datang lebih pagi dari biasanya. Hal ini ia lakukan untuk bertemu dengan Yoona. Ia tak mau kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan gadis itu.

Namun, sudah hampir mendekati jam masuk sekolah, Kyuhyun tak kunjung melihat Yoona. Dahi lelaki itu berkerut.

“Apa dia sudah berangkat lebih awal dan berada di kelasnya sekarang?” gumam Kyuhyun. Sedetik kemudian ia berlari cepat menuju kelas Yoona. Keduanya berbeda tingkat. Saat ini Kyuhyun sudah duduk di kelas 3 SMA, sementara Yoona duduk di kelas 1 SMA.

Kyuhyun berjalan menuju kelas 1-A, kelas Yoona. Ia mengintip dari luar jendela, mencoba mencari sosok Yoona.

“Kyuhyun-ssi, apa yang sedang kau lakukan di sini?”

Suara Guru Jang berhasil mengalihkan perhatian Kyuhyun. Lelaki itu terkesiap dan langsung membungkuk ke arah Guru Jang.

“Maaf, seosaengnim . . .”

“Pelajaran pertama sudah hampir dimulai. Sebaiknya kau kembali ke kelasmu,” ucap Guru Jang mengingatkan.

Kyuhyun menghela nafas. Raut wajahnya tampak kecewa. Ia pun hanya mengangguk dan kembali memberi hormat pada Guru Jang, sebelum kembali ke kelasnya.

“Sebaiknya aku datang lagi ke kelasnya jam istirahat nanti,” ujar Kyuhyun dengan nada pelan.

“Kyu . . .”

Kyuhyun mendongakkan kepala saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Ia terkejut mendapati Victoria tampak menunggunya di depan kelas. Lelaki itu langsung berjalan cepat menghampirinya.

“Kau baru saja dari kelas Yoona kan?” tanya Victoria. “Apa dia masih marah?”

Kyuhyun menggeleng seraya menunduk dalam, “Aku belum bertemu dengannya.”

Victoria terdiam. Tampak gurat penyesalan di wajahnya.

“Maafkan aku, Kyu. Semua salahku, kalian jadi bertengkar seperti ini,” sesal Victoria.

“Ini bukan salahmu. Tapi, salahku,” balas Kyuhyun dengan senyum khasnya. Ia menepuk pelan bahu Victoria sambil berlalu masuk ke kelasnya.

.

.

.

Nyonya Im sudah berpenampilan rapi dengan berbagai barang yang dibawanya. Ia terdiam sejenak. keheningan itu kembali melanda dalam suasana rumah. Ia melirik ke arah kamar Yoona. Tak ada tanda-tanda gadis itu akan keluar dari kamar. Hal itu mendorong Nyonya Im untuk masuk ke kamar Yoona. Setelah masuk, ia mendapati putrinya masih tertidur pulas di ranjang, dengan handuk kecil yang masih menempel di keningnya.

Diambilnya handuk kecil itu, lalu Nyonya Im memegang kening Yoona. suhu tubuh gadis itu sudah kembali normal, tidak lagi panas seperti sebelumnya. Hanya saja, gadis itu belum memakan bubur yang sudah dibuatkannya. Sehingga bubur itu menjadi dingin.

Nyonya Im keluar dari kamar Yoona, bermaksud menghangatkan bubur tersebut. Namun waktu sudah mendesaknya untuk segera pergi ke rumah Nenek Yoona.

“Bagaimana ini? Aku harus pergi, tapi Yoona sendirian di rumah,” gumam Nyonya Im bingung.

Wanita itu tampak berpikir keras, mencoba mencari solusi untuk kondisi tersebut. mendadak sinar matanya berubah cerah. Sebuah ide cemerlang langsung terlintas dalam benaknya.

Ia mengambil ponsel dari dalam tas. Jari-jemari tangannya bergerak cepat, menuliskan sebuah pesan yang ditujukan pada seseorang. Bibirnya melengkung, ia tersenyum menyeringai.

.

.

.

“Dia tidak masuk?”

Anggukan pelan dari teman sekelas Yoona membuat Kyuhyun shock. Apalagi setelah mengetahui jika Yoona sedang terbaring sakit di rumah.

Ne, oppa. Aku diberitahu seosaengnim jika Yoona tidak masuk karena sakit demam,” ujar teman sekelas Yoona yang bernama Jiyeon.

Kyuhyun mengatupkan bibirnya rapat. Sesekali ia mengusap wajahnya sambil menghela nafas kasar. Kondisi Yoona itu membuat dirinya kian didera rasa bersalah.

“Aish, kenapa jadi begini?” runtuk Kyuhyun kesal. Jiyeon hanya menatapnya dengan wajah bingung. Ia tak pernah melihat wajah Kyuhyun tampak begitu menderita seperti sekarang.

“Apa terjadi sesuatu antara kalian berdua?” tanya Jiyeon penasaran. Jiyeon memang cukup dekat dengan Yoona dan tahu hubungan gadis itu dengan Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk, “Bertengkar, seperti biasa. Tapi, kurasa kali ini dia sangat marah padaku.”

Jiyeon terdiam sejenak, lalu memeriksa ponselnya. Ia tersenyum tipis setelah memeriksa pesan ataupun panggilan masuknya.

“Sepertinya begitu. Dia sama sekali tidak mengirim pesan atau meneleponku. Biasanya jika kalian bertengkar, Yoona akan menghubungiku,” ucap Jiyeon. Hal itu membuat wajah Kyuhyun semakin kusut. Lelaki itu tampak frustasi dan bingung harus melakukan apa.

“Jangan khawatir, oppa. Aku yakin kalian akan segera berbaikan. Yoona hanya butuh waktu untuk menenangkan diri,” ujar Jiyeon. “Bagaimana jika kau datang ke rumah untuk menjenguknya? Aku yakin kedatanganmu akan menyentuh hatinya. Dengan begitu, dia bisa memaafkanmu.”

Kyuhyun terdiam sejenak, lalu menoleh cepat ke arah Jiyeon. Gadis itu tersenyum ke arahnya.

“Kau benar, Jiyeon. Aku akan datang ke rumahnya,” balas Kyuhyun semangat. Lalu berlari meninggalkan kelas Yoona dan Jiyeon. Gadis itu hanya menatap Kyuhyun sambil tersenyum geli.

Kyuhyun berhenti di depan pintu kelas saat tiba-tiba mendapat pesan masuk di ponselnya.

Kyu, bisakah kau datang ke rumah?
Yoona sedang sakit dan sendirian sekarang
Ahjumma harus pergi ke rumah neneknya

-Im Ahjumma-

Mata Kyuhyun membulat sempurna usai membaca isi pesan tersebut. Ia sangat berterima kasih pada ibu Yoona, yang sudah mengizinkannya untuk datang ke rumah. Dengan begitu, kesempatannya untuk berbaikan dengan Yoona semakin terbuka lebar.

Kyuhyun berlari menyeruak masuk ke dalam kelas. Ia tampak terburu-buru, sampai tak sengaja menabrak beberapa teman sekelasnya. Victoria yang duduk di sebelah bangku Kyuhyun terlihat bingung dengan sikapnya.

“Ada apa, Kyu?” Dahi Victoria kian berkerut saat Kyuhyun justru membereskan peralatan sekolah yang langsung dimasukkan ke dalam tas.

“Aku harus pergi ke rumah Yoona. Dia sedang sakit dan sendirian di rumah,” jawab Kyuhyun cepat seraya berjalan keluar dari ruang kelas. Victoria buru-buru mengejarnya lantaran jam sekolah masih berlangsung.

“Tapi—”

“Sampaikan izinku pada seosaengnim, Victoria. Terima kasih!” teriak Kyuhyun saat berbalik sejenak ke arah Victoria yang berdiri di depan pintu kelas. Lelaki itu mengulum senyum sebelum kembali berlari meninggalkan kelasnya.

.

.

.

Yoona mengerjapkan kedua matanya. Beruntung rasa pusing yang sempat mendera kepalanya sudah berkurang. Ia merasa jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Yoona mengusap keningnya yang berkeringata. Gadis itu mencoba beranjak bangun, walau tubuhnya masih sedikit terasa lemas. Ia terduduk sejenak, sambil memandangi sekeliling kamarnya.

KROEK!

Terdengar suara cukup keras yang memecah keheningan di kamarnya. Yoona terkekeh geli saat menyadari dirinya tengah lapar. Ia pun memutuskan untuk pergi ke dapur. Seingat Yoona, ibunya sudah memasakkan bubur untuknya. Ia harus memakan bubur tersebut, lalu kembali meminum obat agar kondisinya segera pulih.

Yoona berjalan keluar dari kamar dengan langkah pelan. Sesekali gadis itu berpegangan pada sofa saat melewati ruang tengah. Mungkin karena belum makan, Yoona tubuhnya terasa lemas. Kesadaran gadis itu belum sepenuhnya terkumpul. Ia kembali merasakan pusing di kepalanya.

Saat melangkahkan kaki di dapur, Yoona kehilangan keseimbangan tubuhnya karena semakin lemas. Tubuhnya terhuyung ke depan dan bersiap menyentuh bibir lantai.

SET!

Tiba-tiba ada seseorang yang berhasil menangkap tubuhnya yang nyaris ambruk. Yoona menyibakkan rambutnya. Mata gadis itu melebar saat melihat sosok lelaki yang sudah berdiri sambil memeluk tubuhnya.

Oppa?

“Fiuh, hampir saja,” ucap lelaki itu tersenyum lega.

Yoona segera membenarkan posisinya dan mencoba berdiri tegap. Ia langsung menjaga jarak dengan Kyuhyun yang tanpa diketahuinya sudah berada di dalam rumah. Entah kapan dan bagaimana lelaki itu datang, Yoona tampak tak senang dengan kehadirannya.

“Untuk apa datang ke sini?”

Nada ketus Yoona membuat Kyuhyun terdiam. Rupanya gadis itu masih marah padanya.

“Tentu saja datang menjenguk gadisku,” ujar Kyuhyun spontan. Mendengar kata ‘gadisku’ yang meluncur bebas dari mulut Kyuhyun, wajah Yoona memerah.

“Aku tidak perlu dijenguk, oppa bisa pulang sekarang,” balas Yoona ketus.

“Tidak mau. Ibumu sudah menyuruhku datang ke sini untuk menjagamu. Aku tidak akan pulang sampai ahjumma kembali ke rumah,” sahut Kyuhyun.

Yoona menoleh kaget, “Apa? Eomma yang menyuruhmu datang ke sini?”

Kyuhyun mengangguk. Ia tersenyum menyeringai. Nyatanya, ibu Yoona sendiri berpihak padanya. Meski Yoona berusaha mengusirnya pulang, Kyuhyun tetap tinggal karena ia merasa sudah mengantongi izin dari ibu Yoona.

“Jadi, hari ini aku akan merawatmu sampai kau sembuh,” lanjut Kyuhyun.

Yoona terdiam. Ia memandangi Kyuhyun dengan seksama. Yoona baru menyadari, lelaki itu masih mengenakan seragam sekolah lengkap. Ia juga tahu jika jam sekolah masih berlangsung. Itu artinya, Kyuhyun rela meninggalkan sekolah hanya untuknya?

HUP!

Mata Yoona terbelalak saat merasakan tubuhnya terasa ringan. Ia melotot ke arah Kyuhyun yang tanpa seizinnya, menggendong tubuhnya ala bridal style. Yoona yang masih mengenakan piyama terlihat gugup dengan wajahnya yang memerah. Sementara Kyuhyun justru terlihat senang.

“Apa yang kau lakukan, oppa? Turunkan aku!” titah Yoona kesal.

Kyuhyun menggeleng, “Tidak. Jika kemarin kau tidak mau mendengarkan ucapanku, hari ini kau harus mau menuruti apapun perintahku.”

“Apa?” Suara Yoona meninggi. Ditatapnya tajam lelaki yang masih asyik menatapnya itu.

“Hari ini aku menjadi perawatmu. Seorang pasien tidak boleh membangkang dari perawatnya,” lanjut Kyuhyun seraya mengedipkan mata.

Yoona terdiam. Ingin rasanya ia memberontak. Tapi tangan Kyuhyun begitu kuat, seolah tak mau melepaskannya dengan mudah. Gadis itu menghela nafas pelan. Tak ada yang bisa dilakukannya, selain menuruti Kyuhyun. Meski ia masih marah pada lelaki itu, tapi dengan kedatangannya yang merelakan waktu sekolah hanya untuk dirinya, sukses membuat hatinya tersentuh. Apalagi, jika Yoona tak mau menuruti perintah Kyuhyun yang ditugaskan ibunya sendiri, bisa-bisa lelaki itu dengan gamblangnya akan mengadu pada ibunya. Yoona sendiri yang akan terkena dampaknya.

.

.

.

KLEK!

Kyuhyun menyalakan kompor di dapur rumah Yoona. Ia tengah menghangatkan bubur yang sudah dimasak oleh Nyonya Im sebelumnya. Lelaki itu memang sudah diberitahu oleh ibu Yoona untuk menghangatkan kembali bubur tersebut, sebelum disantap oleh Yoona.

Perhatian Kyuhyun beralih pada ponselnya yang tiba-tiba berdering. Ada sebuah panggilan masuk untuknya. Kyuhyun pun bergegas menekan tombol hijau di layar ponselnya.

Yeoboseyo . . .”

Apa kau sudah di rumah, Kyu?

Suara ibu Yoona membuat mata Kyuhyun bersinar, “Ne, ahjumma. Aku sedang menghangatkan bubur untuk Yoona, sesuai permintaanmu.”

Benarkah? Baguslah kalau begitu. Apa Yoona masih tidur?

“Tidak, dia sudah bangun. Sekarang masih berbaring di kamarnya, ahjumma,” jawab Kyuhyun. Ia mematikan kompornya setelah bubur yang tengah diaduknya dirasa sudah panas.

Baguslah. Tolong jaga dia selagi aku pergi, Kyu. Rawatlah dengan baik. Aku tahu kalian sedang bertengkar. Jadikan ini kesempatan bagimu untuk memperbaiki hubungan kalian.

Bibir Kyuhyun melengkung sempurna. Ia senang Nyonya Im membantunya berbaikan dengan Yoona.

Ne, arraseo. Ahjumma tidak perlu khawatir. Aku pasti akan menjaga Yoona dengan baik,” balas Kyuhyun.

Kyuhyun memutus obrolannya dengan Nyonya Im usai berbicara cukup panjang dengan wanita itu. Lelaki itu segera menyiapkan bubur yang sudah dihangatkan untuk Yoona. Kyuhyun meletakkannya dalam mangkuk berukuran sedang, lalu membawanya ke kamar Yoona dengan nampan. Saat masuk ke dalam kamar Yoona, ia mendapati gadis itu masih bersender dengan wajah kusut. Kyuhyun tak peduli dengan apa yang ada dalam pikiran Yoona sekarang. Ia hanya ingin fokus menjaga dan merawat Yoona selagi ibunya pergi.

Saat Kyuhyun meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja—di samping ranjang Yoona, gadis itu bersiap mengambil sendok untuk melahap bubur. Namun, Kyuhyun bergerak cepat dan mengambil sendok itu lebih dulu.

Oppa?

“Biar aku suapi,” ucap Kyuhyun seraya tersenyum.

Yoona mendesah, “Tidak mau. Aku bisa makan sendiri.”

Kyuhyun memicingkan matanya, “Ikuti saja perintahku.”

Melihat tatapan tajam Kyuhyun, Yoona tampak gugup sambil menelan saliva-nya. Ia tidak tahu, kenapa dirinya bisa selemah itu jika menghadapi ketegasan Kyuhyun. Bukankah saat ini Yoona sendiri yang sedang marah dengan Kyuhyun?

Sementara Kyuhyun, ia justru terlihat senang melakukan tugasnya. Ia tepiskan suasana hati Yoona yang tengah marah padanya. Kyuhyun tersenyum senang dan menatap Yoona secara intens.

“Apa?” tanya Yoona galak karena Kyuhyun terus menatapnya.

Kyuhyun tidak menjawab dan justru meringis lebar. Memamerkan giginya yang berjejer rapi. Hal itu membuat kesabaran Yoona habis.

Oppa, hentikan!” teriak Yoona. “Kau seharusnya tahu jika aku sedang marah padamu, oppa. Kita sedang bertengkar. Kenapa kau bersikap seolah tidak terjadi apa-apa?”

Kyuhyun terdiam sejenak. bola matanya berputar malas sebelum fokus kembali pada Yoona.

“Aku tahu. Tapi—” Kyuhyun menghentikan kalimatnya sejenak.“Aku sama sekali tidak menganggap kita benar-benar bertengkar, Yoong. Karena menurutku ini hanya salah paham.”

“Salah paham?” Yoona naik pitam dan kembali menajamkan tatapannya. “Bagaimana bisa kau menyimpulkan ini salah paham? Jelas-jelas aku melihatmu dan Victoria-sunbae ingin berciuman? Kau masih mengelak dan tidak mau mengaku?”

“Untuk apa aku mengakui kesalahan yang tidak pernah kulakukan, Yoong?” Kyuhyun mulai terpancing emosi dengan kecemburuan yang dimiliki Yoona. Namun lelaki itu masih berusaha bersikap tenang.

Yoona terdiam. Nafasnya yang menderu cepat mulai tenang kembali. Gadis itu menatap wajah Kyuhyun. Sorot mata Kyuhyun membuat Yoona menyadari bahwa lelaki itu berkata jujur.

“Lalu—apa yang kalian lakukan kemarin?” tanya Yoona pelan.

Kyuhyun tersenyum. Ia membelai lembut kepala Yoona, “Aku hanya membantu membersihkan mata Victoria yang kemasukan debu.”

“Benarkah? Aku tidak percaya,” balas Yoona seraya memalingkan wajahnya. “Aku tahu kalian begitu dekat. Pasti ada apa-apa di antara kalian berdua.”

“Dia itu hanya teman sekelasku, Yoong. Tidak lebih,” sahut Kyuhyun meyakinkan Yoona.

Yoona kembali terdiam. Ia tak tahu harus percaya atau tidak dengan Kyuhyun. Pasalnya, ia sempat mendengar rumor dari teman-teman sekelasnya tentang Victoria yang menyukai Kyuhyun.

“Kau tidak percaya padaku?” tanya Kyuhyun dengan tatapan memohonnya.

Yoona menggeleng, “Tidak.”

Kyuhyun menghela nafas, sembari menggaruk kepalanya. Ia menatap gemas ke arah Yoona yang menunduk dalam.

“Baiklah, sepertinya tak ada pilihan lain. Hanya ini yang bisa kulakukan agar kau percaya padaku,” ucap Kyuhyun kemudian.

Yoona mendongakkan kepalanya. Ia terkejut saat mengetahui wajah Kyuhyun sudah mendekat. Terlebih ketika bibir lelaki itu begitu mulus menyentuh bibir mungilnya. Tatapan Yoona seketika kosong. Namun perlahan ia mulai kembali fokus dan justru menikmati ciuman itu.

Nafas keduanya menderu usai mereka melakukan ciuman dalam waktu cukup lama. Wajah Yoona merah padam, sementara Kyuhyun hanya tersenyum ke arahnya.

“Huh, kau curang! Bagaimana bisa kau selalu berhasil menaklukkanku, oppa?” runtuk Yoona kesal.

Dahi Kyuhyun berkerut, “Menaklukkanmu?”

Ne. Kau selalu berhasil membuat amarahku mereda. Menyebalkan,” ucap Yoona seraya merengut.

Tawa Kyuhyun meledak mendengar penuturan Yoona. Apalagi gadis itu masih menggembungkan kedua pipinya seraya memalingkan wajah. Yoona terlihat sangat lucu.

“Kau sendiri, kenapa selalu cemburu seperti ini, Yoong? Tahukah kau betapa aku sangat stress tiap kali melihatmu marah sampai tak mau berbicara denganku?” tanya Kyuhyun gemas.

“Tentu saja. Kau itu siswa populer di sekolah. Banyak gadis yang menyukaimu. Aku harus bekerja keras menjagamu supaya tidak jatuh ke tangan mereka. Tapi kau sama sekali tidak peduli dan selalu bersikap ramah pada gadis-gadis itu. Termasuk Victoria-sunbae,” jelas Yoona panjang lebar. “Pokoknya aku tidak ma—”

Kalimat Yoona terhenti saat jari telunjuk Kyuhyun menempel di bibirnya. Lelaki itu tersenyum, memberi isyarat pada Yoona untuk berhenti berbicara.

“Tenang saja, Yoong. Aku hanya menganggap mereka itu teman, tidak lebih. Karena gadis yang aku cintai hanya kau seorang,” ucap Kyuhyun kemudian.

Semburat rona merah menghiasi wajah Yoona. Gadis itu menunduk dalam, tak mau memperlihatkannya pada Kyuhyun.

“Hentikan. Kata-katamu itu terlalu manis. Aku tidak tahan mendengarnya,” ucap Yoona tersipu.

Kyuhyun tertawa, “Justru kata-kata seperti inilah, yang paling disukai gadis pencemburu seperti dirimu. Benar kan?”

“Kau mengataiku gadis pencemburu?” tanya Yoona dengan nada meninggi.

Kyuhyun mengangguk, “Memang. Sikap cemburumu itu selalu berlebihan. Tapi, aku menyukainya. Itu artinya kau sangat mencintaiku. Sehingga kau begitu marah tiap kali melihatku bersama gadis lain.”

Bibir Yoona melengkung. Gadis itu mencubit gemas pipi Kyuhyun. Lelaki itu berteriak kesakitan akibat ulahnya.

“Sakit! Kenapa kau mencubitku, Yoong?”

Yoona meringis lebar, “Karena aku senang melakukannya.”

Kyuhyun memicingkan matanya. Ia bersiap membalas perlakuan Yoona dengan mencubit pipi gadis itu. Namun Yoona berusaha melawan dan berkali-kali menghalangi aksi Kyuhyun. Tak kehabisan akal, Kyuhyun justru menggelitiki tubuh Yoona sampai gadis itu tertawa terpingkal-pingkal. Yoona meminta Kyuhyun menghentikannya namun lelaki itu tetap saja melakukan aksinya.

Setelah puas membalas Yoona, Kyuhyun menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Keduanya saling menatap dengan wajah bahagia mereka.

Oppa, berjanjilah kau harus berada di sisiku selamanya,” pinta Yoona.

Kyuhyun mengangguk. Ia membelai rambut Yoona dan menyelipkannya di belakang telinga.

“Percayalah padaku, Yoong. Aku akan selalu di sisimu untuk selamanya,” balas Kyuhyun. Yoona tersenyum senang. Ia memeluk Kyuhyun dengan begitu erat.

Kyuhyun sendiri merasa lega dan bersyukur. Masalah pertengkarannya dengan Yoona telah berhasil ditanganinya. Apakah nantinya kejadian tersebut akan terulang kembali atau tidak, Kyuhyun tidak peduli. Ia akui, Yoona memang gadis tipe pencemburu. Tapi Kyuhyun sangat mencintainya. Tak ada yang bisa menggantikan sosok Im Yoona di hati seorang Cho Kyuhyun.

­-THE END-

Halo, kali ini aku buat FF Oneshot. Lumayan panjang juga sih (lebih dari 4000 kata, hehe).

Maaf untuk alur cerita yang kurang memuaskan dan typo yang bertebaran *bow*

Terima kasih sudah membaca, semoga kalian suka❤😉

39 thoughts on “My Jealous Girl

  1. Mayang says:

    ada baik nya kl ke eomma nya yoona bahasa nya lebih baku aja ,agak gimana gtu pas baca nya , hehehe *mian
    trus ada kalimat yang kayak nya kurang pas deh , waktu eomm nya yoona bilang ,aq percaya pada kyuhyun , itu kurang pas deh mungkin kl eomma percaya pada kyuhyun ,itu kayak nya pas , dan ada baik nya waktu bincang” kyu am eomma nya yoona gg usah pake aq kamu seh ,lebih pas lgy kl eomma nya yoon manggil diri sendiri ahjumma kl aq kurang pas , mian ya jd sok” ngasih tau , heehehehe

  2. RedandGreen says:

    Ngubek-ngubek yang genre fluff dan ketemu sama fanfiksi ini
    enak, serius, bacanya enak banget /kayak ada manis-manisnya gitu/ Bacanya bikin saya senyum-senyum gak jelas😄
    Omong-omong, author ini juga author di YoongEXO kah?

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s