Sincerely 2


sincerely2Sincerely

by cloverqua | main cast Cho Kyuhyun – Im Yoona

other cast Wu Yi Fan – Kim Taeyeon – Park Jungsoo – Jung Jessica – Seo Joo Hyun

genre Hurt – Romance | rating PG 15 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

Teaser + Introduce Cast | 1

 

DRAP! DRAP!

Suara derap langkah kaki terdengar di koridor gedung kantor Kepolisian Seoul. Sepasang suami istri berlarian menuju ruangan tempat putri mereka berada. Tampak raut kepanikan di wajah mereka.

“Yoona?”

Semua orang di dalam ruangan, menoleh bersamaan ke arah pria paruh baya yang baru saja memanggil putrinya—Yoona. Wanita yang tengah duduk bersebelahan dengan Kyuhyun itu, beranjak bangkit dan menghampiri orang tuanya.

“Bagaimana kondisimu? Apa kau terluka?” cecar Nyonya Im seraya mengusap wajah Yoona. Putrinya itu hanya meringis dan mengangguk pelan.

“Aku baik-baik saja. Appa dan eomma tidak perlu khawatir,” jawab Yoona seraya tersenyum. Wajah Presdir dan Nyonya Im pun berubah lega.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Aku mendapat kabar dari pihak kepolisian jika kau ada di sini,” tutur Presdir Im bingung.

“Nona Yoona baru saja menjadi korban penculikan, Presdir Im Cheonsa,” sela Kepala Polisi Jang. Suara beratnya itu berhasil membuat Presdir Im menoleh padanya. Mata ayah Yoona itu terlihat membulat sempurna. Terlalu kagetnya sampai tampak nyaris keluar.

“Korban penculikan?” Presdir dan Nyonya Im berteriak kaget.

“Benar. Dari hasil penyelidikan sementara, kelima pria yang menculik Nona Yoona termasuk salah satu sekelompok bandit yang selalu meresahkan masyarakat belakangan ini. Mereka bermaksud memeras harta Anda, dengan menculik Nona Yoona sebagai sandera mereka,” terang Kepala Polisi Jang.

Presdir dan Nyonya Im tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. Keduanya menghela nafas kasar, menatap tajam ke arah lima pria yang masih diperiksa oleh pihak kepolisian. Kelima pria itu hanya menunduk dengan wajah menyesal mereka.

“Semua kuserahkan padamu, Kepala Polisi Jang. Aku sangat berterima kasih karena kau sudah menolong putriku,” ucap Presdir Im.

Kepala Polisi Jang tersenyum malu, “Sebenarnya bukan kami yang sepenuhnya menolong Nona Yoona. Jika Tuan Cho Kyuhyun tidak memberi laporan penculikan ini, mungkin kami tidak bisa menggagalkan aksi penculikan mereka.”

Presdir dan Nyonya Im saling memandang dengan raut bingung mereka. Tatapan keduanya beralih pada pria yang menghampiri mereka. Kondisi luka di bagian bibir sudah diobati dengan perekat luka berukuran kecil. Wajahnya tak lagi kusam seperti sebelumnya, berkat Yoona yang sedari tadi membersihkan wajah Kyuhyun.

“Kau—” Presdir Im terkejut saat mengenali sosok pria yang mulai membungkuk di hadapannya.

“Senang bertemu dengan Anda, Presdir Im,” sapa Kyuhyun.

“Bukankah kau putra sulung Cho Hyunjae?” tanya Presdir Im antusias. Anggukan pelan Kyuhyun membuat pria paruh baya itu kembali tersenyum lebar.

“Kyuhyun?”

Terdengar suara seseorang dari luar ruangan. Semua mata tertuju pada sosok pria paruh baya yang langsung menyeruak masuk menghampiri Kyuhyun.

Appa?” Kyuhyun sedikit terkejut mendapati ayahnya muncul di gedung kantor Kepolisian Seoul.

Presdir Cho memandangi putranya dengan raut wajah cemas, “Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Bagaimana appa bisa tahu jika aku ada di sini?” Kyuhyun justru berbalik tanya dan mengabaikan pertanyaan ayahnya.

“Tentu saja mereka yang memberitahuku, Kyu,” jawab Presdir Cho seraya menunjuk ke arah Kepala Polisi Jang. Kyuhyun bereaksi datar dan kembali fokus pada ayahnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Presdir Cho.

Ne, aku baik-baik saja,” jawab Kyuhyun. “Hanya luka kecil dan sudah diobati.”

Presdir Cho menghela nafas lega. Wajah paniknya seketika berubah datar, saat melihat Presdir Im beserta keluarganya. Dahinya berkerut, ia beralih memandangi Kyuhyun untuk meminta penjelasan.

“Hyunjae, lama tidak bertemu,” sapa Presdir Im. “Aku tidak menduga kita akan bertemu lagi di sini. Putramu telah menolong putriku. Aku benar-benar berterima kasih padanya.”

Presdir Cho kembali mengerutkan dahinya dan melirik Kyuhyun. Putranya itu hanya memberi isyarat untuk menjelaskannya nanti setelah selesai urusan di kantor polisi.

“Benarkah?” Presdir Cho hanya bereaksi datar dan kini beralih menatap Yoona. Wanita itu tampak membungkuk padanya seraya tersenyum.

“Jika kau dan Kyuhyun tidak keberatan, bagaimana kita adakan makan malam bersama? Sebagai rasa ucapan terima kasihku pada Kyuhyun yang telah menolong Yoona. Lagipula, kita sudah lama tidak saling mengobrol satu sama lain,” usul Presdir Im tiba-tiba.

Presdir Cho melirik Kyuhyun, bermaksud meminta persetujuan dari putranya. Pria itu mengangguk pelan dengan senyum khasnya. Presdir Cho pun mengangguk ke arah Presdir Im.

“Baiklah. Kau atur saja jadwalnya,” ucap Presdir Cho.

Presdir Im tersenyum senang, lalu menepuk pelan bahu Kyuhyun. Reaksi yang sama juga terlihat pada Yoona. Wanita itu mengulum senyum pada Kyuhyun seraya menunduk. Kyuhyun berhasil melihat senyuman Yoona yang ditujukan padanya. Tanpa sadar pria itu hanya tersenyum kecil membalasnya.

“Kami harus pergi, sampai jumpa,” pamit Presdir Cho seraya berjalan melewati Presdir Im dan lainnya. Kyuhyun membungkuk ke arah Presdir Im, lalu sesekali memperhatikan Yoona sebelum berjalan menyusul ayahnya.

“Kita juga harus pulang sekarang,” ajak Presdir Im. Namun ajakannya tak direspon oleh Yoona. Wanita itu terus menatap ke arah pintu yang baru saja dilalui Kyuhyun.

“Yoona?” Nyonya Im tersenyum geli melihat reaksi putrinya yang berubah seperti patung.

Yoona terkesiap dan kembali fokus pada orang tuanya. Wanita itu langsung mengangguk dan berjalan di samping ibunya.

.

.

.

KLEK!

Pintu rumah dibuka oleh pelayan begitu Presdir Cho dan Kyuhyun tiba di rumah mereka. Keduanya masih terlihat membicarakan masalah yang baru saja dialami oleh Kyuhyun, sampai pertemuan mereka dengan keluarga Im.

“Penculikan?” Presdir Cho kaget mendengar pengakuan Kyuhyun. “Maksudmu—dia menjadi korban penculikan?”

Kyuhyun mengangguk, “Saat aku ingin menghampirinya, tiba-tiba ada sekelompok pria tak dikenal yang langsung mengepungnya. Bahkan ada mobil yang mendekat dan mereka membawa paksa Yoona masuk ke dalam mobil itu.”

Tawa Presdir Cho perlahan terdengar, “Jadi—kau mengikuti mobil itu dan berusaha menggagalkan aksi penculikan mereka? Dengan begitu, kau membuat pertemuan pertama kalian dengan sangat mengesankan.”

“Sebenarnya kejadian ini di luar dugaan, appa,” ucap Kyuhyun seraya menggaruk kepala. “Entah kenapa, aku spontan mengikuti mereka dan menyelamatkan Yoona.”

“Tak apa, menurutku itu justru bagus. Kau telah membuat pertemuan pertama kalian menjadi sangat mengesankan. Aku yakin, Yoona akan tertarik padamu. Bahkan, sepertinya Cheonsa juga sudah menyukaimu, Kyu. Di matanya, kau adalah penyelamat nyawa putrinya.”

Kyuhyun tersenyum getir. Ia mengantar ayahnya sampai kembali ke ruang kerja. Setelah itu, Kyuhyun berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat sejenak, sebelum menikmati makan malam yang sudah disiapkan.

Oppa!

Kyuhyun menoleh kaget ke arah pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka lebar. Ia mendapati kedatangan Seohyun—adik perempuan satu-satunya, sedang tersenyum menatapnya.

“Membuat kaget saja,” desah Kyuhyun seraya mengusap dada. Pria itu tengah melepaskan jas beserta dasi yang melekat di tubuhnya. Kyuhyun baru saja berencana pergi mandi karena tubuhnya yang berkeringat.

Seohyun berlari kecil membantu Kyuhyun membereskan pakaian yang langsung diserahkan pada pelayan. Mata wanita itu langsung tertuju pada sudut bibir Kyuhyun yang sudah ditutupi oleh perekat luka.

“Ada apa dengan bibirmu? Kau habis berkelahi?” tanya Seohyun kaget sekaligus panik.

Kyuhyun tersenyum, “Lebih tepatnya baru saja melakukan aksi heroic.”

Seohyun mengerutkan dahi, “Apa? Aksi heroic?

“Aku baru saja menyelamatkan seorang wanita, Seo,” lanjut Kyuhyun. “Dia hampir saja menjadi korban penculikan.”

“Benarkah?” Seohyun terlihat antusias. “Siapa wanita itu, oppa?

“Im Yoona,” jawab Kyuhyun datar. Namun sebenarnya ia berusaha menahan senyum, saat wajah Yoona kembali terlintas di kepalanya.

“Im Yoona? Ah, aku sangat mengaguminya, oppa,” teriak Seohyun histeris. Kyuhyun terlihat menatap Seohyun bingung dengan dahi berkerut.

“Kau—mengaguminya?”

Seohyun mengangguk, “Ne, kurasa tidak hanya aku. Mungkin banyak orang yang sangat mengagumi kepribadiannya. Berwajah cantik, berhati baik dan sangat dermawan, serta aktif di berbagai kegiatan sosial. Selain karena berlatar belakang sebagai putri tunggal Presdir Im Cheonsa, dia sendiri telah mendirikan yayasan amal. Dia benar-benar wanita yang hebat, oppa.”

Kyuhyun terdiam sejenak. Ia tidak tahu jika Seohyun begitu mengagumi Yoona. Pria itu tersenyum tanpa sadar dan berhasil diketahui oleh sang adik.

Oppa—apa kau jatuh cinta padanya?” tanya Seohyun tiba-tiba.

Kyuhyun menoleh kaget dengan tatapan tajamnya. “Apa? Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?”

Seohyun tersenyum, “Aku hanya menebak. Wajahmu terlihat cerah dan kau bahkan tersenyum saat kita membicarakannya.”

“Tidak, aku sama sekali tidak punya waktu untuk jatuh cinta pada seseorang,” jawab Kyuhyun kemudian.

“Apa maksudmu? Sekarang sudah saatnya kau menjalin hubungan dengan seorang wanita. Dengan begitu, kau akan—” Seohyun menghentikan kalimatnya saat Kyuhyun memasang ekpsresi wajah marah.

“Ah, baiklah. Sebaiknya kita lupakan pembicaraan ini,” ujar Seohyun seraya berjalan menuju pintu kamar Kyuhyun. “Cepatlah mandi lalu ke ruang makan. Jangan sampai kau melewatkan makan malammu, oppa.”

Kyuhyun memandangi Seohyun sampai keluar dari kamarnya. Pria itu menghela nafas kasar. Ia merasa bersalah pada Seohyun karena telah bersikap dingin.

Seohyun sendiri masih berdiri di depan kamar Kyuhyun dengan wajah sedihnya. Ia kembali memikirkan reaksi Kyuhyun soal Yoona.

“Benarkah oppa tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita? Apa dia masih belum bisa melupakan wanita itu?” gumam Seohyun merasa sedih.

Seohyun berjalan pelan menuju kamarnya. Ia duduk di ranjang kamar, sembari menatap sebuah figura foto yang berada di meja sebelah ranjang. Raut wajahnya kembali murung setiap kali ia melihat foto dirinya bersama Kyuhyun, beserta orang tuanya—saat sang ibu masih ada di tengah keluarga mereka. Ibu mereka telah meninggal akibat penyakit kanker, 6 tahun silam.

Eomma, bagaimana kabarmu di sana?” ucap Seohyun seraya terisak. “Aku sangat merindukan suasana saat eomma masih bersama kami.”

Kesedihan yang dirasakan Seohyun bukan tanpa alasan. Semenjak sang ibu meninggal, suasana kekeluargaan di rumah mereka langsung sirna. Ayahnya dan Kyuhyun cenderung lebih fokus dengan pekerjaan mereka. Beruntung Seohyun masih mendapat perhatian dari dua orang itu, walaupun tidak sesering sebelumnya.

Hanya yang cukup disayangkan, perubahan sikap yang paling terlihat adalah Kyuhyun. Kakaknya itu cenderung bersikap dingin, tidak lagi sehangat sebelumnya. Seohyun sangat memahami perubahan sikap sang kakak. Kyuhyun memang sangat menyayangi ibunya. Wajar jika Kyuhyun begitu terpuruk semenjak sang ibu meninggal. Selain itu, kesedihan selanjutnya yang menerpa Kyuhyun, juga berpengaruh besar pada perubahan sikapnya. Dikhianati oleh wanita yang begitu dicintainya hanya demi pria lain, padahal Kyuhyun sudah berkorban cukup banyak untuk wanita itu.

Kyuhyun yang dikuasai emosinya, memutuskan untuk tidak berhubungan dengan wanita, setelah memiliki masa lalu yang begitu kelam dalam kisah asmaranya. Kyuhyun memilih fokus dengan pekerjaan, sampai ia menjadi sukses seperti sekarang ini bersama sang ayah. Seohyun menyadari jika Kyuhyun menjadi sangat arogan dan ambisius. Sepertinya, dampak dari pelarian masalah hidupnya lantaran tak kuat menanggung kesedihan pasca ditinggal sang ibu serta wanita yang sangat dicintainya.

Kalau saja ada seseorang, yang begitu tulus mencintai Kyuhyun dan mampu membuat pria itu kembali hangat seperti dulu, Seohyun pasti sangat senang.

Seohyun mengambil majalah yang memuat foto Yoona sebagai sampul. Ia tersenyum memandangi wanita itu.

“Mungkin—dia bisa mengembalikan sosok kakakku seperti dulu,” gumam Seohyun seraya mengusap foto Yoona.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan hampir jam 11 malam. Namun Yoona masih terjaga di kamarnya. Tak seperti biasanya, malam ini wanita itu sulit untuk tidur. Bukan karena tengah memikirkan masalah yang berat. Ia justru terlalu asyik melamunkan Kyuhyun—pria yang telah menarik perhatiannya sejak mereka bertemu. Bahkan telah menyelamatkannya dari bahaya.

“Cho Kyuhyun,” Yoona bergumam pelan seraya memejamkan mata. Mencoba membayangkan kembali wajah Kyuhyun. Setelah wajah pria itu melintas dalam kepalanya, semburat rona merah menghiasi wajah Yoona. Bibir wanita itu melengkung sempurna. Benar-benar memperlihatkan suasana hatinya yang berbunga-bunga.

Yoona menjerit histeris, walau tanpa suara lantaran tak ingin membangunkan semua orang yang tengah tertidur pulas. Ia memegangi kedua pipinya yang terasa panas. Yoona menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia berjalan turun dari ranjang, lalu mendekati balkon kamarnya. Posisi kamarnya yang berada di lantai 2 cukup menguntungkan Yoona jika dalam kondisi sulit tidur seperti sekarang. Yoona hanya tinggal pergi ke balkon untuk menikmati suasana di malam hari. Juga memandangi indahnya pemandangan bulan yang begitu memukau.

Bulan memancarkan sinarnya dengan sangat sempurna. Yoona mengeratkan jaket yang dikenakannya. Udara cukup dingin malam ini, sampai terasa menusuk tulang. Yoona menghela nafas dengan pandangan mata yang terus tertuju pada bulan. Untuk sesaat, Yoona kembali melihat sosok Kyuhyun dalam bulan itu. Yoona terkesiap dan menggeleng cepat. Ia berulang kali mengusap kedua matanya. Melihat kembali bulan itu yang hanya memancarkan sinarnya, bukan sosok pria yang sedari tadi ada dalam benak Yoona.

Yoona tersenyum geli. Memikirkan apa yang tengah dirasakannya membuat wanita itu menggelengkan kepala. Jantungnya berdebar, tidak seperti malam-malam biasanya.

“Apa yang sebenarnya terjadi denganku?” gumam Yoona bingung seraya menutup wajahnya karena malu.

Suasana yang sama juga tengah dirasakan Kyuhyun. Tidak seperti biasanya ia sulit tidur hingga menjelang jam 12 malam. Pria itu masih terjaga di kamarnya. Ia memandangi saputangan pemberian Yoona yang telah dicuci. Untuk kesekian kalinya, bayang wajah Yoona terlintas dalam kepala Kyuhyun.

Kyuhyun menggeleng cepat seraya mengusap wajahnya. Ia dibuat bingung dengan apa yang tengah dialaminya sekarang. Tak pernah Kyuhyun merasa gelisah seperti ini sebelumnya. Bisa dibilang, ini pertama kalinya sejak ia berpisah dengan mantan kekasihnya, dan itu semua karena Yoona.

“Aku pasti sudah gila,” gumam Kyuhyun seraya mengacak rambutnya.

Kyuhyun terdiam sejenak. Ia kembali teringat dengan permintaan ayahnya, tentang rencana mendekati Yoona hanya untuk mendapatkan akses ke dalam perusahaan ayah Yoona. Entah kenapa muncul perasaan ragu dalam diri Kyuhyun. Walau belum memulainya, Kyuhyun merasa tidak yakin apakah dirinya mampu melakukan permintaan sang ayah. Karena sejak pertemuannya dengan Yoona, Kyuhyun tidak bisa mengendalikan jantungnya yang berdebar tidak karuan. Berulang kali Kyuhyun berusaha menenangkan diri, tetap saja ia merasakan rasa gugup yang begitu luar biasa. Sampai-sampai membuatnya sulit untuk tidur. Siapa lagi penyebabnya jika bukan Yoona. Wanita itu dalam sekejap telah memenuhi kepalanya.

Aneh. Memang sangat aneh. Tapi ini fakta dan itu terjadi pada Kyuhyun.

“Kenapa kau terlihat sangat mempesona tiap kali tersenyum?” gumam Kyuhyun bingung sebelum ia mulai terlelap tidur.

.

.

.

.

.

.

“Wah, lihat siapa yang datang ke rumah kita?”

Suara keras Nyonya Im berhasil membuat Yoona yang baru saja bangun langsung berlari turun ke lantai dasar. Ia terkejut saat melihat kedatangan Kris yang sudah rapi dengan pakaian casual­, bahkan membawa sebuah bingkisan.

“Kris?” Yoona berdiri di belakang ibunya dengan raut wajah bingung sekaligus kaget. Kris hanya tersenyum melihat Yoona di depannya.

“Apa aku datang terlalu pagi?” tanya Kris seraya menunjuk piyama yang masih dikenakan Yoona.

Yoona menyadari keteledorannya. Wajah wanita itu memerah dan ia hanya meringis ke arah Kris. Sementara Nyonya Im tak bisa menahan tawanya melihat reaksi putrinya.

“Oh, bukankah kau Kris?” suara Presdir Im menyela pembicaraan ketiga orang itu. Kris langsung membungkuk dan menjabat tangan Presdir Im dengan wajah cerah. Kemudian Kris memeluk Nyonya Im dan tersenyum pada keduanya.

“Apa kabar, ahjussi, ahjumma? Lama tidak bertemu,” sapa Kris senang.

“Kapan kau tiba di Korea Selatan?” tanya Nyonya Im antusias.

“Kurang lebih 1 minggu yang lalu,” jawab Kris seraya tersenyum.

“Kau tinggal cukup lama di Canada. Kudengar perusahaan ayahmu sangat sukses. Selamat ya,” puji Presdir Im.

“Dia bahkan sudah tumbuh menjadi pria dewasa dan sangat tampan. Aku sampai hampir tak mengenalimu, Kris,” sambung Nyonya Im.

Kris hanya mengangguk dan tersenyum senang mendengar pujian Presdir dan Nyonya Im. Kris menyodorkan bingkisan yang dibawanya kepada Nyonya Im. Wanita paruh baya itu terlihat senang menerimanya.

“Ini pemberian dari ibuku. Bukan apa-apa, tapi—semoga kalian senang menerimanya,” ujar Kris tersipu.

“Ah, kau tidak perlu repot-repot seperti ini,” sahut Nyonya Im berusaha bersikap biasa. Padahal terlihat sekali jika sangat senang dengan bingkisan yang dibawa Kris.

“Lalu, ada apa kau pagi-pagi datang ke sini?” tanya Presdir Im bingung.

Kris menunduk dalam seraya terkekeh pelan. Ia melirik Yoona yang sedari tadi masih berdiri di belakang ibunya.

“Selain berkunjung, aku ingin mengajak Yoona jalan-jalan denganku,” ucap Kris.

“Jalan-jalan?” Yoona terlihat kaget dengan mata membulat sempurna.

“Benarkah? Kalau begitu, ikutlah dengan kami untuk sarapan bersama. Sepertinya, kau harus menunggu cukup lama sebelum Yoona benar-benar siap kau ajak pergi,” jawab Nyonya Im.

Yoona mengernyitkan dahi sambil menatap bingung sang ibu. Nyonya Im terlihat melirik putrinya, begitu juga dengan Presdir Im. Mata mereka langsung tertuju pada penampilan Yoona yang masih mengenakan piyama. Menyadari arah tatapan orang tuanya, Yoona tersenyum malu dan segera berlari menuju kamarnya kembali. Kris tak bisa menahan tawanya saat melihat gelagat Yoona yang terlihat lucu di matanya.

.

.

.

TING! TONG!

“Siapa?” Taeyeon membuka pintu rumahnya begitu mendengar bel berbunyi. Ia terkejut mengetahui sosok pria sudah berdiri di depan rumahnya. Terlebih ketika Taeyeon sangat mengenali pria itu.

“Kyuhyun?” Taeyeon tak dapat menyembunyikan rasa kagetnya. Bahkan sampai lupa untuk berbicara secara formal. “Ah, maaf. Maksudku Kyuhyun-ssi . . .”

Kyuhyun tersenyum, “Tak apa. Tidak perlu bersikap terlalu formal, Taeyeon. Panggil saja seperti Leeteuk memanggilku.”

Taeyeon tersipu malu. Namun sedetik kemudian, ia teringat sesuatu yang memenuhi pikirannya. Kenapa Kyuhyun mendadak muncul di rumahnya? Bagaimana pria itu bisa datang ke rumahnya?

“Bagaimana—kau tahu rumahku?” tanya Taeyeon penasaran.

“Leeteuk yang memberitahuku,” jawab Kyuhyun singkat. “Apa kedatanganku mengganggumu?”

“Ah, tidak. Tidak sama sekali,” jawab Taeyeon cepat. Kyuhyun tersenyum menanggapi reaksi Taeyeon. Hal itu membuat wanita di depannya tersipu malu.

“Apa kau sudah makan siang?”

“Apa?” Taeyeon bereaksi kaget saat mendengar pertanyaan Kyuhyun. Wanita itu berdeham pelan seraya merapikan rambutnya. Ia berusaha mengendalikan debaran jantungnya yang tidak karuan.

“Setidaknya kau berhutang sesuatu padaku. Bukankah aku pernah menolongmu?” tanya Kyuhyun lagi. Ia terkekeh pelan sampai memamerkan giginya yang rapi.

Taeyeon tak dapat menahan tawanya, “Jadi—kau ingin aku mentraktirmu makan siang?”

Kyuhyun mengangguk. Penampilannya terlihat berbeda, dengan mengenakan kemeja bermotif kotak warna merah serta celana berbahan jins warna hitam. Ia terlihat jauh sederhana dengan pakaian casual-nya, dan tetap terlihat tampan.

“Baiklah, tunggu sebentar,” ucap Taeyeon kembali masuk ke rumah. Sementara Kyuhyun menunggunya di depan rumah, tepatnya deretan kursi yang dikhususkan untuk tamu.

Di dalam kamarnya, Taeyeon terlihat panik dan gugup. Ia membuka lemari pakaiannya dan dilanda kebingungan, pakaian mana yang harus dikenakannya. Entah kenapa ia merasa akan pergi berkencan dengan Kyuhyun.

“Aish, untuk apa aku repot-repot seperti ini?” gumam Taeyeon setelah mengambil pakaian ke-4 yang menurutnya bagus untuk dikenakan.

“Kami kan hanya pergi makan siang bersama. Bukan berkencan,” lanjut Taeyeon menyadari kebodohannya.

Taeyeon terlihat mengambil salah satu pakaian bergaya santai namun tetap memiliki kesan feminim. Ia tersenyum dan segera mengenakan pakaian tersebut. Setelah itu, Taeyeon merapikan rambutnya seraya memoles wajahnya dengan make-up natural.

Tak ingin membuat Kyuhyun menunggu terlalu lama, Taeyeon bergegas keluar dari kamar dan menghampiri Kyuhyun yang kini sudah berdiri di dekat mobil.

“Aku sudah siap,” ucap Taeyeon seraya tersenyum. Kyuhyun hanya mengangguk dan menyuruh Taeyeon masuk ke dalam mobilnya. Mereka pun pergi untuk menikmati makan siang bersama.

Namun yang sebenarnya, Taeyeon sama sekali tak menyadari alasan Kyuhyun mengajaknya pergi berdua. Diam-diam, Kyuhyun mengajak wanita itu pergi lantaran ingin mengorek informasi lebih dalam tentang Yoona.

.

.

.

Kris dan Yoona berjalan memasuki sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Seoul. Yoona terlihat bingung. Sedari tadi wanita itu menatap Kris dengan tanda tanya besar di wajahnya.

“Kenapa?” Kris menyadari jika Yoona memandanginya.

“Untuk apa kita pergi ke sini?” tanya Yoona penasaran.

Kris menunjuk ke arah toko yang menjual berbagai perhiasan. “Aku butuh bantuanmu memilihkan kado untuk ibuku.”

“Kado ibumu?”

“Sebentar lagi ibuku ulang tahun,” jawab Kris kemudian.

“Benarkah?” Yoona tiba-tiba berteriak antusias. Ia pun langsung menarik lengan Kris hingga membuat pria itu menatapnya bingung.

“Kalau begitu tunggu apalagi, cepat kita beli kado untuk ibumu,” ajak Yoona semangat. Kris tersenyum melihat perubahan raut wajah Yoona yang semula bingung menjadi jauh bersemangat.

Yoona menarik Kris masuk ke dalam toko perhiasan tersebut. Keduanya langsung sibuk memilihkan perhiasan yang akan dijadikan sebagai kado ulang tahun ibu Kris.

Kris senang karena ia tak salah mengajak Yoona. Wanita itu memiliki selera yang bagus dalam memilihkan perhiasan yang sekiranya cocok untuk sang ibu.

“Bagaimana jika kalung ini?” tanya Yoona seraya menunjuk ke arah kalung yang dipajang di etalase. Ia menyuruh sang penjaga toko untuk memperlihatkan kalung itu padanya.

Kris memperhatikan kalung yang dipilih Yoona. Kalung liontin itu terlihat sangat cantik dengan bentuk hati yang sempurna.

“Bagaimana?” tanya Yoona seraya tersenyum. “Ini memang sederhana. Tapi, kau bisa memasukkan foto di dalamnya. Bukankah akan bagus jika kau memasukkan foto keluargamu dalam liontin itu. Pasti ibumu akan sangat senang menerimanya.”

Bibir Kris melengkung sempurna, “Kau benar. Kalung ini memang sederhana tapi memiliki kesan yang begitu mendalam. Baiklah, aku ambil kalung ini.”

Penjaga toko segera membungkus kalung yang dipilih Kris. Selagi menunggu, Yoona tampak asyik melihat-lihat perhiasan lainnya yang dipajang. Kris diam-diam memperhatikan Yoona yang tak henti-hentinya mengumbar senyum saat memandangi aneka perhiasan tersebut.

Mata Kris berhasil menangkap perhiasan yang tengah dipandangi Yoona. Sebuah kalung dengan bandul kecil berbentuk bunga.

“Apa yang sedang kau lihat?” tanya Kris penasaran.

Yoona menoleh kaget karena Kris sudah di belakangnya, “Ah, bukan apa-apa.”

Kris mencoba melihat lebih dekat kalung yang diduga menarik perhatian Yoona.

“Apa sudah selesai?” tanya Yoona memastikan.

Kris mengangguk. Namun matanya terus tertuju pada etalase di depannya. “Bisakah kau mengambilkannya untukku, Yoong?” pinta Kris pada Yoona agar mengambilkan kalung yang dibeli untuk ibunya.

Yoona tersenyum dan mengangguki permintaan Kris. Ia berjalan mendekati kasir untuk mengambil kalung tersebut. Sementara Kris tersenyum memandangi Yoona dari belakang. Rupanya ia sengaja mengalihkan perhatian Yoona. Kris langsung memanggil penjaga toko lainnya.

“Aku ingin membeli kalung ini. Tolong bungkuskan dengan hati-hati supaya tak ketahuan olehnya,” ucap Kris seraya menunjuk kalung yang dilihat Yoona sebelumnya.

“Baik, Tuan . . .”

Bibir Kris terus melengkung saat kalung itu mulai dibungkus oleh penjaga toko. Ia memandangi Yoona yang masih berdiri di dekat kasir. Wanita itu mengajaknya untuk keluar dan Kris memberi isyarat untuk menunggu sebentar lagi. Yoona membalas Kris untuk menunggunya di luar toko. Kris mengangguki. Ia justru senang lantaran Yoona tidak tahu jika Kris membeli sebuah kalung lagi untuk Yoona.

.

.

.

“Benarkah—Im Yoona adalah temanmu?”

Taeyeon terkejut mendengar pertanyaan Kyuhyun. Ia tengah menikmati steak di salah satu restoran yang berada di kawasan pusat perbelanjaan terbesar di Seoul.

Ne, itu benar,” jawab Taeyeon masih terkejut. “Kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang Yoona?”

Kyuhyun tersenyum seraya menggeleng, “Ah, tidak. Aku hanya bertemu dengannya kemarin. Aku jadi teringat ucapan Leeteuk. Dia bilang, kau adalah teman Yoona.”

Taeyeon mengangguk, “Kami berteman sejak duduk di bangku SMA sampai sekarang. Hanya saja, beberapa hari terakhir ini aku belum bertemu lagi dengannya. Kurasa dia benar-benar sibuk dengan yayasan amal miliknya.”

Kyuhyun mengangguk-angguk, sambil kembali melanjutkan makan siangnya.

“Di mana kau bertemu dengan Yoona?”

Kyuhyun nyaris tersedak karena pertanyaan Taeyeon. Namun beruntung ia berhasil mengendalikan diri dengan segera meneguk minumannya.

“Kemarin, saat aku tak sengaja melewati kawasan rumahnya. Dia hampir saja menjadi korban penculikan. Beruntung aku masih bisa mengejar mobil yang membawanya pergi sehingga dia bisa diselamatkan,” ucap Kyuhyun kemudian.

“Korban penculikan?” Mata Taeyeon melebar setelah mendengar pengakuan Kyuhyun. “Ah, aku tidak menduga jika kejadian buruk itu bisa menimpanya. Tapi, dengan latar belakang keluarganya, tak heran banyak pihak yang berniat buruk pada keluarganya. Mereka berupaya mencari cara untuk bisa memeras harta Yoona beserta keluarganya.”

“Benarkah?” Sesaat wajah Kyuhyun terlihat cemas. Entah mulai mencemaskan Yoona atau tidak, hanya Kyuhyun sendiri yang tahu.

Taeyeon memandangi Kyuhyun. Raut wajah Kyuhyun yang terlihat begitu antusias saat membicarakan Yoona, membuat wanita itu menyimpan rasa penasaran yang begitu besar. Tapi, ia tak mau terlalu memikirkannya lantaran lebih fokus dengan kebersamaan yang tengah dilewatinya dengan Kyuhyun.

Dua jam berlalu, setelah Kyuhyun dan Taeyeon menikmati makan siang bersama. Keduanya tengah berkeliling sembari menikmati suasana keramaian di pusat perbelanjaan.

DRRT!

Taeyeon terkejut saat menyadari ponselnya tiba-tiba berdering. Ia melihat nama Leeteuk tertera di layar ponsel. Jari tangannya bergerak cepat menekan tombol berwarna hijau.

Yeoboseyo . . .”

Suasana yang begitu ramai membuat Taeyeon kesulitan mendengar suara Leeteuk. Ia pun berniat mencari tempat yang sepi untuk menerima telepon dari pria itu.

“Kyu, maaf. Aku harus menerima telepon,” pamit Taeyeon. Kyuhyun hanya mengangguk dan mempersilakan wanita itu pergi sejenak darinya.

Sembari menunggu Taeyeon kembali, Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Pria itu tersenyum tipis, saat mengingat suasana keramaian pusat perbelanjaan yang dulu sering didatanginya bersama mendiang sang ibu.

Kyuhyun mencoba memperhatikan arah lain, mencari sesuatu yang sekiranya menarik. Tiba-tiba raut wajah Kyuhyun berubah. Mata pria itu membulat sempurna, saat ia mengenali sosok wanita yang tengah asyik bersenda gurau bersama pria.

“Yoona?” Kyuhyun tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.

Yoona yang terlihat oleh Kyuhyun tengah asyik menikmati ice cream bersama Kris, di sebuah kursi yang biasa digunakan oleh pengunjung pusat perbelanjaan. Kyuhyun melihat dua orang itu tampak asyik dan mesra. Tiba-tiba Kyuhyun merasakan ada yang aneh dalam dirinya. Ia tidak tahu, kenapa hatinya terasa panas melihat Yoona bersama pria lain.

“Siapa pria yang sedang bersamanya?” gumam Kyuhyun penasaran.

“Kyuhyun?”

Suara Taeyeon berhasil mengalihkan perhatian Kyuhyun. Pria itu terkesiap dan langsung menoleh ke arah Taeyeon.

“Sudah selesai?” tanya Kyuhyun.

“Ngg . . . sebenarnya aku merasa tidak enak padamu, Kyu. Leeteuk baru saja meneleponku. Dia memintaku datang ke apartemennya untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya,” jawab Taeyeon.

“Benarkah? Kalau begitu, lebih baik kau segera pergi menemui Leeteuk. Dia pasti sedang kesulitan dan sangat membutuhkan bantuanmu,” ucap Kyuhyun. “Dasar, Leeteuk. Di akhir pekan tetap saja sibuk dengan pekerjaannya.”

“Benar tidak apa-apa? Aku sungguh merasa tidak enak padamu, Kyu,” ujar Taeyeon.

Kyuhyun tersenyum seraya mengusap bahu Taeyeon, “Sungguh aku tidak apa-apa. Haruskah aku mengantarmu ke tempat Leeteuk?”

Taeyeon menggeleng, “Ah, tidak perlu. Aku bisa datang sendiri ke apartemennya.”

Kyuhyun mengangguk lagi dan tersenyum. Taeyeon menunduk sejenak untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.

“Hati-hati di jalan. Terima kasih sudah mentraktirku makan siang,” ucap Kyuhyun. “Lain kali, biar aku yang mentraktirmu.”

Taeyeon tertawa kecil menanggapi ucapan Kyuhyun, “Baiklah, aku pamit. Sampai jumpa lagi.”

“Sampaikan salamku untuk Leeteuk,” lanjut Kyuhyun dan dibalas anggukan Taeyeon. Wanita itu berjalan meninggalkan Kyuhyun seorang diri.

Kyuhyun segera mengalihkan perhatiannya ke arah Yoona. Ia bernafas lega saat mendapati Yoona masih berada di tempat semula. Kyuhyun terdiam sejenak. Ia ragu apakah dirinya harus mendekati Yoona dan berpura-pura tak sengaja bertemu?

Kyuhyun memandangi lagi sosok pria yang asyik berbicara dengan Yoona. Rasa penasarannya pada pria itu mendorongnya untuk mendekati mereka.

“Ah, sudahlah. Terlanjur melihatnya berada di sini. Sayang jika aku melewatkan kesempatan ini,” gumam Kyuhyun. Perlahan kakinya mulai berjalan mendekati tempat Yoona.

.

.

.

“Kau hampir saja menjadi korban penculikan?”

Yoona mengangguk saat Kris kembali melontarkan pertanyaan yang sama. “Sudah berapa kali kau bertanya itu, Kris. Aku sampai bosan mendengarnya.”

Ia memang tengah bercerita dengan Kris terkait kejadian buruk yang menimpanya kemarin. Sejak Yoona membeberkan kejadian tersebut, Kris tak bisa menyembunyikan rasa kaget sekaligus bersalahnya pada Yoona.

“Maaf, aku hanya—” Kris mendesah pelan seraya menggaruk kepalanya. “Aish, seharusnya aku mengantarmu sampai ke rumah. Kalau saja aku melakukannya, pasti kejadian buruk itu tidak akan menimpamu. Aku benar-benar menyesal, maafkan aku.”

Yoona terkejut saat melihat wajah murung Kris. Pria itu menunduk dalam di depannya.

“Sudahlah, Kris. Ini bukan salahmu,” Yoona merasa tak enak pada Kris yang seolah menyalahkan dirinya sendiri.

“Tapi—”

“Setidaknya aku baik-baik saja kan?” potong Yoona seraya tersenyum. “Untung saja ada seseorang yang menyelamatkanku. Kalau tidak, mungkin sekarang ini aku masih berada di tangan para penculik itu.”

“Menyelamatkanmu? Siapa?” Kris menjadi penasaran dengan seseorang yang telah menyelamatkan Yoona.

“Dia—”

“Sebentar, Yoong,” Kris memotong kalimat Yoona saat menyadari ponselnya berdering. Rupanya Kris mendapat telepon dari ibunya. Yoona hanya mengangguk dan membiarkan Kris berkutat dengan ponsel.

Yeoboseyo . . .”

Yoona terlihat asyik menghabiskan ice cream miliknya sambil memandangi sekeliling.

Ne, ada apa eomma meneleponku?” Meskipun berdarah China-Canada, Kris sudah terbiasa menggunakan percakapan bahasa Korea. Hal itu wajar mengingat ia tinggal cukup lama di Korea Selatan sebelum pindah ke Canada. Kurang lebih sekitar 10 tahun.

“Baik, aku akan ke sana sekarang. Tunggu aku,” ujar Kris sebelum memutus obrolannya.

Yoona memperhatikan wajah Kris yang terlihat bingung usai menerima telepon dari ibunya. Tak pelak raut wajah Kris itu membuat dahi Yoona berkerut.

“Ada apa?” tanya Yoona penasaran.

“Ibuku tiba-tiba menyuruhku untuk datang menjemputnya di rumah nenek. Supir pribadi ibuku tengah membawa mobil ke bengkel karena mengalami kerusakan. Aku harus pergi ke rumah nenekku sekarang,” jawab Kris.

“Kalau begitu kau harus secepatnya ke rumah nenekmu. Jangan sampai membuat ibumu terlalu lama menunggu, Kris,” ujar Yoona.

Kris terdiam. Wajahnya kembali murung. Ia merasa bersalah pada Yoona.

“Maafkan aku, Yoong. Lagi-lagi aku tidak bisa mengantarmu pulang sampai ke rumah. Padahal kau sudah menemaniku membelikan kado untuk ibuku. Aku benar-benar minta maaf,” ucap Kris menyesal.

Yoona tertawa kecil, “Sudahlah, jangan merasa bersalah seperti itu. Aku tidak apa-apa.”

“Tapi—aku khawatir jika kau pulang sendirian. Bagaimana jika terjadi hal buruk lagi padamu seperti kemarin?”

Yoona menepuk bahunya perlahan seraya tersenyum, “Jangan khawatir. Aku bisa menjaga diri. Tenang saja.”

“Kau yakin?” tanya Kris memastikan. Melihat wajah meyakinkan Yoona, Kris tak punya pilihan lain. Ia terpaksa berpisah dengan Yoona dan tak bisa mengantar wanita itu pulang ke rumah, lantaran Kris harus pergi menjemput ibunya.

“Baiklah, kau harus berhati-hati. Jika ada apa-apa, segera hubungi aku, arraseo?

Yoona mengangguk yakin, “Ne, arraseo.”

“Ini untukmu. Terima kasih kau sudah bersedia menemaniku jalan-jalan hari ini,” Kris tampak menyodorkan tas kecil yang dibawanya untuk Yoona. Wanita itu mengernyitkan dahi saat menerima benda pemberian Kris tersebut.

“Apa ini?” tanya Yoona penasaran.

“Kau akan tahu setelah membukanya nanti,” jawab Kris. “Sampaikan salamku untuk ahjussi dan ahjumma. Aku pamit.”

Yoona tersenyum geli dan hanya mengangguk pelan. Ia melambaikan tangan ke arah Kris yang sudah berjalan meninggalkannya.

Yoona membuka isi tas tersebut. Rasa penasarannya semakin menjadi kala ia mendapati sebuah kotak kecil berwarna merah di dalamnya.

“Apa yang diberikannya untukku?” gumam Yoona penasaran.

“Tak disangka bertemu denganmu di sini . . .”

Yoona terkesiap saat mendengar sebuah suara di belakangnya. Ia memutar tubuhnya, menghadap ke arah pria yang diyakininya pemilik suara tersebut.

“Cho Kyuhyun?” Yoona tak bisa menyembunyikan rasa kaget sekaligus senang saat bertemu dengan pria itu.

Kyuhyun berjalan mendekati Yoona. Rupanya pria itu sengaja menunggu Yoona sendirian, daripada harus mendekatinya saat bersama pria lain.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Kyuhyun bersikap biasa.

“Oh, aku datang ke sini bersama temanku. Aku membantu temanku untuk membelikan kado ibunya,” jawab Yoona. “Kau sendiri sedang apa di sini?”

“Jalan-jalan,” jawab Kyuhyun singkat.

“Sendirian?”

Kyuhyun menggeleng, “Tidak, aku juga datang bersama temanku. Tapi, dia pergi lebih dulu karena ada urusan mendadak.”

Yoona tertawa pelan, “Kenapa kau bisa senasib denganku? Temanku juga pergi karena harus menjemput ibunya.”

“Benarkah? Kebetulan sekali. Apa kau ingin pulang bersamaku?” tawar Kyuhyun kemudian.

“Apa?” Yoona nyaris berteriak karena terlalu kaget dengan tawaran Kyuhyun. “Apa tidak merepotkanmu?”

Kyuhyun tersenyum, “Sama sekali tidak. Aku justru senang melakukannya.”

Wajah Yoona kembali bersemu merah. Ia hanya berdeham pelan seraya memandangi Kyuhyun yang tengah tersenyum padanya.

“Baiklah,” jawab Yoona bersedia. “Terima kasih sudah mau mengantarku pulang. Sepertinya hutang budiku padamu menjadi bertambah.”

Kyuhyun tertawa kecil, “Kalau begitu—kau harus memikirkannya sebaik mungkin. Balasan apa ang akan kau berikan padaku, untuk membayar hutang budimu itu.”

Bibir Yoona melengkung sempurna. Ia tak bisa menahan tawanya setelah mendengar ucapan Kyuhyun tersebut.

Keduanya pun memutuskan untuk pulang bersama. Kyuhyun dan Yoona turun ke lantai dasar menaiki lift. Mobil Kyuhyun memang terparkir di basement. Kondisi pusat perbelanjaan cukup ramai, mengingat saat itu adalah akhir pekan. Banyak pengunjung yang datang untuk menghabiskan akhir pekan mereka di tempat tersebut.

Awalnya Kyuhyun dan Yoona menaiki lift berdua saja. Namun tiba-tiba ada pengunjung yang cukup banyak masuk ke dalam lift tersebut. Akibatnya, Kyuhyun dan Yoona langsung merapat ke bagian pojok lift. Yoona tak punya pilihan, selain menghadap ke arah Kyuhyun dengan jarak yang begitu dekat. Posisi keduanya persis seperti pasangan kekasih yang hendak berpelukan di tempat umum. Baik Yoona maupun Kyuhyun, wajah keduanya sama-sama memerah. Keduanya bahkan menyadari jika jantung mereka berdebar-debar.

“Maaf,” Yoona merasa bersalah lantaran menimbulkan suasana canggung di antara mereka.

Kyuhyun memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia bingung dengan suasana hatinya yang mendadak bergejolak akibat situasi tersebut.

SET!

Yoona terkejut saat menyadari tangan Kyuhyun sudah melingkar di pinggangnya. Wanita itu tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya dan hanya memandangi Kyuhyun dengan tatapan bingung.

“Kau terlihat tidak nyaman karena berusaha menjaga jarak denganku,” ucap Kyuhyun. “Aku melakukannya, agar kau merasa nyaman.”

Mendadak wajah Kyuhyun memerah. Pria itu segera mengalihkan pandangannya dari Yoona. Sementara wanita yang tengah dipeluknya itu hanya mengulum senyum. Ia berulang kali menghela nafas untuk menenangkan diri dan mengendalikan debaran jantungnya. Tanpa Yoona sadari, Kyuhyun melakukan hal yang sama.

Rupanya, kejadian di dalam lift itu berhasil mendekatkan keduanya. Yoona, semenjak Kyuhyun menolongnya, tak bisa menyembunyikan ketertarikannya pada pria itu. Sementara Kyuhyun, ia tak tahu kenapa dirinya begitu larut dalam suasana kebersamaannya dengan Yoona. Walau hanya sebentar, Kyuhyun tak bisa mengendalikan rasa gugupnya yang selalu muncul tiap kali berinteraksi dengan Yoona.

Dengan kejadian hari ini, sepertinya tak mudah bagi Kyuhyun untuk tetap fokus pada rencananya bersama sang ayah. Rencana untuk mendekati Yoona karena ingin memperoleh akses yang mudah, dalam upaya menguasai perusahaan ayah Yoona. Belum dimulai saja, Kyuhyun sudah bekerja keras mengendalikan dirinya, yang sebenarnya mulai terpikat pada Yoona. Bagaimana jika Kyuhyun semakin intensif berhubungan dengan Yoona? Akankah ia berhasil menjalankan misi sesuai permintaan sang ayah? Atau justru gagal lantaran tak bisa menahan perasaan cintanya pada Yoona, yang bisa datang kapan saja seiring berjalannya waktu?

.

.

.

.

.

-To Be Continued-

Halo, kembali lagi dengan kelanjutan FF ini. Ada yang udah bisa nebak alur ceritanya? Sebenarnya aku sendiri juga masih menerawang ceritanya ini akan seperti apa selanjutnya *lho*😄 *senyum evil*

Oke, moment KyuNa memang belum banyak. Insya Allah, part selanjutnya aku tambahin deh. Semoga kalian suka🙂 Dan seperti biasa mohon maaf kalau kurang memuaskan + typo jika ada, hehe😀 *bow*

Terima kasih sudah membaca FF ini❤😉

­-cloverqua-

69 thoughts on “Sincerely 2

  1. whardatoenn says:

    Syaaah kyuhyun ambil kesempatan euy. Menang banyak lah si Kyu. Makin penasaran sama rencana kyuhyun akan berhasil apa nggak. Dan gimana reaksi yoona setelah tau rencana Kyuhyun. Hmm

  2. Dyan says:

    Cielahh. .bang epil memanfaatkan kesempitan dalam kesempatan. .hh
    tuh bang belum mulai aja udah ragu,mending gak usah lakuin rencana b0doh mu itu

  3. RikaYoonhae says:

    Sepertinya kyu sudah mulai suka sama yoona nih hihi seneng deh bacanya, perbanyak moment mereka. Y thor gomawo and fighting

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s