Closer [1]


closerCLOSER

by cloverqua | main casts Im Yoona – Cho Kyuhyun

casts Shim Changmin – Victoria Song – Park Chanyeol – Kwon Yuri and others

genre Friendship – Romance – School Life | rating PG 15 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

TEASER

Gadis itu berdiri di depan pintu gerbang sekolahnya. Ia tersenyum menyeringai. Matanya memandangi ponsel yang berada di tangan. Sedari tadi jemari tangannya tampak sibuk menuliskan sebuah pesan—untuk kekasihnya.

Berbeda dengan gadis kebanyakan yang menulis pesan mesra untuk pasangannya. Ia justru menuliskan sebuah pesan singkat dengan maksud mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu. Hubungan yang baru terjalin kurang dari 2 bulan, tiba-tiba ingin diakhirinya begitu saja.

Jika orang yang baru mengenal gadis itu, tentu akan heran dengan sikapnya. Tapi tidak dengan seluruh siswa di sekolahnya. Mereka justru hafal kebiasaan gadis itu. Kebiasaan yang suka berganti pasangan kekasih, dengan membuat siswa populer baik di sekolahnya maupun sekolah lain bertekuk lutut di hadapannya. Setelah mengencani lelaki yang dipilihnya, gadis itu akan mencampakkannya dalam waktu singkat.

Julukan ‘playgirl’—rasanya tepat untuknya. Sebagian orang menyayangkan kebiasaan buruknya tersebut. Selain memiliki paras cantik dan berotak cerdas, latar belakang keluarganya juga termasuk orang yang terpandang. Adik lelakinya pun bersekolah di tempat yang sama. Bahkan termasuk siswa populer di sekolah mereka.

Keduanya sama-sama populer, karena wajah cantik dan tampan yang dimiliki masing-masing. Sama-sama pintar, supel dan ramah kepada siapa saja. Hingga banyak menarik perhatian lawan jenis mereka. Perbedaanya, terletak dalam hal asmara. Jika sang kakak lebih senang mempermainkan para lelaki hingga mendapat julukan ‘playgirl’, sang adik justru sangat memilih gadis yang ingin dikencaninya. Sikap keduanya dalam urusan asmara bisa dibilang berbanding terbalik—180 derajat. Benar-benar sangat berbeda.

Gadis yang disebut ‘playgirl’ itu bernama Im Yoona. Bersama adik lelakinya—Im Chanyeol, saat ini mereka tengah menunggu mobil yang terlambat datang menjemput mereka.

Noona, kenapa kau tersenyum seperti itu?”

Yoona yang baru saja mengirim pesan pada sang kekasih, melirik Chanyeol yang sudah berdiri di sebelahnya.

“Menurutmu kenapa?” Yoona justru berbalik tanya dan membuat dahi sang adik berkerut.

“Ah, jangan katakan kau sedang merencanakan sesuatu lagi,” tebak Chanyeol sudah hafal dengan kakaknya.

Yoona tersenyum menyeringai, “Sayangnya memang seperti itu, Yeol.”

Chanyeol memalingkan wajahnya, seraya menghela nafas pelan. Rasanya ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tak lama setelah pembicaraan singkat itu, muncul seseorang dengan motor sport Honda berwarna merah-hitam. Sang pengemudi langsung memberhentikan motornya tepat di depan Yoona dan Chanyeol. Ia segera membuka helm yang dikenakan, sebelum turun dan berjalan mendekati keduanya.

Chanyeol melirik Yoona, ketika menyadari pengemudi motor tersebut adalah Kim Woo Bin—kekasih kakaknya saat ini.

Hyung?” Chanyeol mencoba menetralisir suasana sebelum memanas. Ia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, setelah melihat wajah Woo Bin yang memerah. Mata yang berkilat memperlihatkan amarahnya. Bibir lelaki itu mengatup rapat-rapat dan nafasnya menderu tak beraturan.

Sayangnya panggilan Chanyeol diabaikan oleh Woo Bin. Perhatian lelaki itu lebih terpusat pada Yoona. Berbeda dengan sebelumnya, perhatian kali ini bukanlah perhatian lembut seperti biasanya. Dengan tangan yang mengepal, jelas terlihat Woo Bin dalam kondisi dikuasai emosi.

“Kau sudah membaca pesanku?” tanya Yoona singkat. Raut wajah datar dan suara yang begitu tenang, membuat Woo Bin tersenyum sinis padanya.

“Apa maksudnya ini?” Woo Bin berbalik tanya sambil menunjukkan isi pesan yang dikirim Yoona.

“Kau belum mengerti juga? Haruskah aku mengatakannya lagi di sini?”

Woo Bin tak tahan lagi dengan sikap Yoona yang terkesan meremehkannya. Tangan lelaki itu terangkat mengarah pada wajah gadis itu.

“Tahan, hyung!” Chanyeol dengan sigap menahan tangan Woo Bin, sebelum sukses mendarat di pipi Yoona.

Woo Bin menepis tangan Chanyeol, “Kakakmu ini sudah menghancurkan perasaanku. Aku berhak memberinya pelajaran.”

Chanyeol melirik Yoona yang terlihat santai. Lelaki itu hanya mendesah pelan dan merasa gemas dengan sikap kakaknya.

“Kim Woo Bin, kedatanganmu ke sini sia-sia. Aku tidak mau bertemu lagi denganmu, jadi—” Yoona melenggang pergi dari hadapan Woo Bin dan memilih membelakanginya.

“Jangan temui aku lagi,” lanjut Yoona. Perhatiannya beralih pada sebuah mobil BMW hitam yang berhenti di depannya. Ia masuk ke dalam mobil, tanpa menunggu respon dari Woo Bin—lelaki yang baru saja resmi menjadi mantan kekasihnya.

Chanyeol berdiri mematung—memandangi wajah marah Woo Bin. Ia menelan saliva-nya. Lelaki jangkung itu merasa takut dengan Woo Bin, yang siap meledak kapan saja seperti bom waktu.

“Yeol, kau tidak masuk?” suara keras Yoona berhasil mengalihkan perhatian Chanyeol. Gadis itu melirik dari jendela mobil yang setengah terbuka.

Chanyeol terkesiap, lalu berjalan mendekati mobil yang dikemudikan oleh supir pribadi keluarga mereka. Ia menyempatkan diri untuk membungkuk ke arah Woo Bin, walaupun tahu tak ada gunanya ia melakukan itu.

Begitu Chanyeol masuk ke dalam mobil, Supir Jang—supir pribadi Chanyeol dan Yoona, langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil pun melesat jauh meninggalkan Seoul High School.

Woo Bin mengepalkan tangan, menatap tajam mobil yang dinaiki Yoona dan Chanyeol. Ia abaikan pandangan beberapa siswa yang sedari tadi berbisik meliriknya. Hati dan harga diri lelaki itu sudah hancur dalam hitungan detik tanpa alasan yang jelas. Ia tak habis pikir kenapa Yoona begitu mudah mengakhiri hubungan mereka dengan menyebut kata ‘bosan’.

Woo Bin mengumpat habis-habisan, menyadari kesalahannya. Kesalahan yang mempercayai Yoona adalah gadis baik-baik. Faktanya, seperti yang dikatakan kebanyakan orang jika Yoona ternyata memang gadis yang suka mempermainkan perasaan lelaki. Entah sudah berapa orang yang menjadi korban Yoona, dan mereka menyerah lalu memilih melupakan Yoona daripada harus berurusan panjang dengan gadis itu.

Kali ini—sepertinya Yoona akan mendapat masalah. Woo Bin tak bisa semudah itu memaafkan perbuatan yang dilakukan Yoona padanya.

“Awas kau, Im Yoona. Akan kubuat kau menyesali perbuatanmu ini . . .”

.

.

.

Lorong sekolah terlihat sepi, hanya beberapa siswa yang masih berlalu-lalang di sekitarnya. Kebanyakan dari mereka terlibat aktif dalam berbagai kegiatan klub, atau sekedar menjalankan tugas piket sesuai jadwal masing-masing.

Seperti yang dialami Kwon Yuri—gadis yang tidak lain adalah sahabat Yoona namun berbeda kelas. Ia terpaksa pulang terlambat, lantaran harus mengawasi teman-teman sekelasnya yang bertugas piket. Tentu hal ini wajib dilakukannya, karena Yuri adalah ketua kelas. Yuri merupakan siswi dari kelas 2-1. Sementara Yoona adalah siswi di kelas 2-2, bersama teman lainnya—Choi Sooyoung. Ketiganya adalah sahabat karib sejak kecil hingga sekarang.

Yuri melirik jam tangannya. Ia berjalan cepat karena ingin segera sampai di rumah. Hari ini ia sudah berjanji pada ibunya untuk menemani pergi berbelanja.

“Permisi, agassi . . .”

Suara seseorang berhasil menghentikan langkah Yuri. Gadis itu menoleh ke pemilik suara yang memanggilnya. Mata Yuri terbelalak—melihat sosok lelaki berjalan mendekatinya.

“Kau memanggilku?” tanya Yuri lekas fokus dan tak ingin berlama-lama kagum dengan sosok lelaki tersebut.

Lelaki itu mengangguk, “Ne, apa kau tahu di mana ruangan Guru Lee Hyori?

“Guru Lee Hyori?” tanya Yuri lagi.

Ne, kau tahu di mana ruangannya?”

Yuri tersenyum, “Tentu. Aku bisa mengantarmu ke sana.”

Walau tengah diburu waktu, Yuri tetap tak melupakan tanggung jawabnya sebagai ketua kelas. Jika ada orang lain yang ingin bertemu dengan wali kelasnya, tentu Yuri harus mengantarkannya bertemu dengan sang wali kelas.

TOK! TOK!

Yuri mengetuk pintu ruang guru, sampai mendengar suara wanita yang membalasnya. Yuri berjalan masuk ke dalam ruang guru tersebut.

Seosaengnim, ada yang ingin bertemu denganmu,” jawab Yuri. Sebelumnya ia membungkuk untuk memberi salam pada wanita yang masih berkutat di depan layar komputer itu.

“Oh, sudah datang rupanya,” ucap Guru Lee. Ia bangkit dari kursi dan berjalan mendekati Yuri, lalu melirik ke arah lelaki yang berada di belakangnya. “Kau Cho Kyuhyun?”

Lelaki yang dipanggil Cho Kyuhyun itu membungkuk dan memberi salam pada Guru Lee, “Ne, aku Cho Kyuhyun.”

“Bagaimana kau bisa datang bersama Yuri?” tanya Guru Lee heran.

“Aku hanya membantunya datang ke sini, seosaengnim,” lanjut Yuri.

“Benarkah? Kebetulan sekali, kau ada di sini. Aku bisa meminta bantuanmu,” Guru Lee.

Yuri mengernyitkan dahi. “Bantuan?”

“Dia adalah siswa baru di sekolah kita. Mulai besok, dia akan masuk di kelas kita. Otomatis, Kyuhyun berada di bawah pengawasanmu,” jawab Guru Lee. “Kyuhyun-ssi, dia adalah Kwon Yuri, ketua kelas di kelas barumu—kelas 2-1.”

Yuri menatap kaget ke arah Kyuhyun yang tersenyum padanya. Ia sama sekali tidak tahu jika lelaki itu adalah siswa baru di sekolahnya, bahkan menjadi teman sekelasnya.

“Senang berkenalan denganmu. Terima kasih sudah mengantarku ke sini, ketua kelas,” ujar Kyuhyun seraya mengulurkan tangan.

Yuri tersenyum lalu menyalami Kyuhyun, “Panggil saja Yuri. Karena kita satu kelas, kurasa tidak perlu menggunakan bahasa terlalu formal.”

“Baiklah, Yuri. Sekali lagi terima kasih,” ucap Kyuhyun.

“Aku ucapkan selamat datang di Seoul High School. Jangan terlambat di hari pertamamu besok,” sahut Yuri mengingatkan. Ia menoleh ke arah Guru Lee lalu membungkuk ke arah wali kelasnya tersebut, sebelum berjalan keluar meninggalkan ruang guru.

Sesekali Yuri melirik pintu ruang guru. Gadis itu tersenyum. Ia senang mendapat teman baru di sekolahnya. Meski baru pertama kali bertemu, Yuri memiliki kesan jika Kyuhyun adalah orang yang menyenangkan dan mudah berteman dengan siapa saja. Terlihat dari keramahan Kyuhyun saat berbicara dengannya.

“Sepertinya besok sekolah akan heboh dengan kehadirannya. Aku yakin, anak itu akan menjadi siswa populer di sekolah ini,” gumam Yuri sebelum meninggalkan ruang guru.

.

.

.

Menjelang makan malam, sudah menjadi kebiasaan bagi Chanyeol untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah. Otaknya yang encer memang memudahkan lelaki itu untuk mengerjakan soal-soal pelajaran yang rumit dengan begitu cepat dan tepat.

“Akhirnya, selesai juga tugas sekolahku,” Chanyeol meletakkan pensil sambil menutup buku. Ia melirik jam yang berada di meja belajar. Sebentar lagi jam makan malam tiba.

Chanyeol terdiam sejenak. Peristiwa sepulang sekolah kembali terlintas dalam benak Chanyeol. Hal itu membuat rasa penasarannya muncul dan mendorongnya untuk melihat kondisi sang kakak.

Dengan langkah pelan, Chanyeol membuka pintu kamar Yoona yang berada tepat di depan kamarnya. Ia sengaja tak mengetuk pintu, agar bisa langsung masuk ke dalam kamar kakaknya.

Ternyata apa yang dibayangkan Chanyeol meleset. Ia tak mendapati kondisi sang kakak yang murung. Yoona justru terlihat berkutat di meja belajar. Hal itu membuat dahi Chanyeol berkerut.

Noona?

Yoona menoleh saat Chanyeol memanggilnya, “Sebentar, Yeol. Aku harus menyelesaikan tugas sekolah ini.”

Kerutan di dahi Chanyeol kian kentara. Lelaki itu berjalan mendekati Yoona. Ia mengamati gelagat kakaknya yang terlihat santai, bahkan cenderung lebih fokus dengan tugas sekolah.

“Sudah selesai?”

“Sebentar lagi,” Yoona mempercepat gerakan tangannya. Tingkat konsentrasinya naik, ketika menyelesaikan satu soal terakhir dari tugas sekolahnya tersebut.

Chanyeol memilih duduk di ranjang Yoona—yang berdekatan dengan meja belajar. Ia menunggu Yoona selesai dengan tugasnya, sebelum mengajak gadis itu makan malam bersama ayah mereka.

“Selesai!” Yoona berteriak senang sambil menutup buku yang berada di atas meja. Ia memutar kursinya menghadap Chanyeol.

Noona, kau benar-benar sulit dimengerti,” ucap Chanyeol kemudian dan sukses membuat dahi Yoona berkerut.

“Apa maksudmu?”

“Berwajah cantik, berotak cerdas, ramah dan supel pada siapa saja. Lalu—masih ada latar belakang keluarga kita yang dianggap kebanyakan orang adalah keluarga terpandang. Tapi, kenapa dalam hubungan asmara kau begitu buruk? Kesan negatif justru melekat pada dirimu,” jelas Chanyeol panjang lebar.

Yoona hanya meringis dan enggan menanggapi penjelasan Chanyeol. Pasalnya, ia sudah sering mendengar celotehan Chanyeol terkait kepribadiannya.

“Tidak bisakah kau berhenti melakukannya?” pinta Chanyeol. Yoona yang sedari tadi menunduk, kini terlihat menatap Chanyeol. Wajah serius lelaki itu membuat Yoona terdiam.

“Apa kau masih belum bisa melupakan orang itu? Sehingga kau melampiaskan kemarahan dan kebencianmu dengan mempermainkan perasaan laki-laki yang menyukaimu?” tanya Chanyeol lagi.

Wajah Yoona berubah. Ia yang awalnya cuek, mulai terpengaruh dengan pembicaraan Chanyeol.

“Aku ingin kau kembali seperti dulu, noona,” pinta Chanyeol.

Yoona tidak menjawab. Ia memilih bungkam seraya bangkit dari kursinya. Gadis itu keluar dari kamar begitu saja, tanpa mengatakan apapun pada Chanyeol.

Reaksi Yoona membuat Chanyeol menghela nafas kasar. Ia bingung dan tidak tahu harus berkata apa untuk menyadarkan kakaknya. Dari hati yang terdalam, Chanyeol ingin Yoona berhenti mempermainkan laki-laki yang menyukainya. Karena apa yang dilakukan gadis itu sama saja menyiksa diri sendiri.

Chanyeol tahu, apa yang dilakukan Yoona bukan tanpa alasan. Perubahan sikap—khususnya dalam hal asmara memang berubah drastis. Semenjak gadis itu dicampakkan oleh mantan kekasihnya ketika berusia 14 tahun.

Berulang kali Chanyeol menguatkan Yoona yang begitu terpuruk dalam kesedihan. Ia tahu sang kakak begitu mencintai lelaki itu—yang merupakan cinta pertama Yoona. Bahkan mungkin hingga saat ini, Yoona masih memikirkan cinta pertamanya tersebut.

Namun, kemarahan dan kebencian yang terlanjur menguasai hati Yoona, akhirnya tak bisa dibendung lagi hingga menyebabkan kepribadian Yoona mengalami perubahan besar. Khususnya dalam hal asmara. Hanya demi melampiaskan kemarahan dan kebencian pada cinta pertamanya itu—Yoona yang semula gadis baik-baik, berubah 180 derajat menjadi sosok badgirl dalam hal asmara. Ia tak lagi mengutamakan rasa cinta dalam setiap hubungan yang dijalaninya. Melainkan menganggap hubungan asmara itu adalah sebuah permainan yang bisa diakhiri sesuka hatinya.

.

.

.

.

.

.

Pembicaraan yang dilakukan Chanyeol semalam, berhasil mempengaruhi suasana hati Yoona. Namun gadis itu tetap berusaha bersikap tenang. Chanyeol sendiri sudah meminta maaf dan menyesali ucapannya. Ia mengaku hanya merasa khawatir dan peduli dengan kebahagiaan kakaknya. Yoona tahu itu—Chanyeol memang sosok adik yang sangat perhatian padanya.

Pagi ini—suasana di Seoul High School menjadi heboh. Ruang guru dipenuhi siswa-siswi yang sudah tiba di sekolah. Sosok lelaki yang tengah mengobrol dengan Guru Lee itu—berhasil menarik perhatian semua orang.

Yoona dan Chanyeol yang baru saja tiba di sekolah, tentu heran dengan keramaian yang terjadi di ruang guru. Terlebih mereka juga melihat sosok Yuri dan Sooyoung dalam keramaian tersebut.

Noona!” Chanyeol berteriak memanggil Yuri dan Sooyoung. Kedua gadis itu menoleh kompak ke arahnya. Mereka langsung berlari menghampiri Yoona dan Chanyeol.

“Kalian baru sampai?” tanya Sooyoung.

Yoona mengangguk, lalu melirik ke arah ruang guru, “Ada apa? Kenapa semua berkumpul di sana?”

“Ada siswa baru di sekolah kita. Kata Yuri, dia masuk di kelasnya,” jawab Sooyoung.

“Siswa baru di kelasmu?” tanya Yoona penasaran.

Ne, siswa baru itu akan masuk di kelasku,” lanjut Yuri. “Kemarin aku sudah bertemu dengannya, saat pulang sekolah. Aku mengantarnya untuk bertemu dengan Guru Lee.”

“Lalu—kenapa semua orang berkumpul di sana?” tanya Yoona lagi dan mendapat tatapan tajam dari Sooyoung.

“Kenapa kau tidak bisa menebaknya, noona? Pasti siswa baru itu memiliki kelebihan yang menarik perhatian semua orang,” potong Chanyeol terkekeh.

“Adikmu saja langsung tahu. Kenapa kau tidak bisa menebaknya?” protes Sooyoung. “Siswa baru itu sangat tampan. Dalam sekejap, dia sudah menjelma menjadi idola di sekolah ini.”

“Benarkah?” Yoona hanya bereaksi datar dan melenggang pergi meninggalkan dua sahabat sekaligus adiknya.

“Yoong, kau mau ke mana?” tanya Sooyoung heran.

“Sebentar lagi pelajaran pertama dimulai. Tentu kau tidak mau mendapat omelan dari Guru Kim kan?”

Sooyoung menepuk keningnya, “Astaga, kau benar. Jam pertama adalah kelas Guru Kim. Kita harus bergegas masuk, Yoong.”

Yuri tertawa melihat reaksi Sooyoung yang lari terbirit-birit mengejar Yoona. Namun tawanya tak berlangsung lama, saat ia melihat Chanyeol justru terdiam di sebelahnya.

“Ada apa?” tanya Yuri penasaran.

“Tak ada apa-apa,” jawab Chanyeol singkat.

Yuri melipat kedua tangannya, “Jangan berbohong padaku.”

Chanyeol menghela nafas. Ia memang tidak bisa berkelit jika sudah berhadapan dengan Yuri.

“Seperti biasa, ini tentang kakakku,” lanjut Chanyeol. “Kapan dia akan berhenti menjadi ‘playgirl’ dan kembali menjadi gadis baik-baik seperti dulu?”

Yuri terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia membelakkan matanya pada Chanyeol. “Apa—Yoona melakukannya lagi?”

Chanyeol mengangguk, “Ne, dia baru saja memutuskan Woo Bin-hyung kemarin.”

“Apa?” Yuri tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. “Hubungan mereka sudah berakhir?”

“Aku sungguh lelah melihatnya, noona. Aku kasihan dan khawatir pada kakakku. Jika dia seperti ini terus, bukankah itu menyiksa dirinya sendiri? Selain itu—Woo Bin-hyung berbeda dengan mantan-mantan kekasih Yoona-noona sebelumnya. Aku yakin dia akan menuntut balas atas perlakuannya kemarin,” jelas Chanyeol panjang lebar.

Yuri memandangi wajah Chanyeol yang kalut. Ia bisa melihat betapa lelaki itu sangat mengkhawatirkan kakaknya. Yuri sependapat dengan Chanyeol. Ia juga merindukan sosok Yoona seperti dulu—gadis yang sangat mengutamakan perasaan cinta dalam menjalin sebuah hubungan asmara. Bukan gadis yang mengabaikan perasaan cinta dan menganggap sebuah hubungan asmara hanyalah sebuah permainan.

.

.

.

Suasana di kelas 2-1 mendadak ramai, khususnya ketika memasuki jam istirahat. Sejak masuknya Cho Kyuhyun secara resmi di kelas tersebut, kelas 2-1 semakin sering dikunjungi oleh siswi. Sebelumnya sudah ada Choi Siwon yang juga termasuk siswa populer—dengan wajah tampan, tubuh atletis, kepribadian yang baik serta berlatar belakang keluarga pengusaha ternama di Korea Selatan. Kini ditambah kehadiran Kyuhyun—tentu membuat kelas 2-1 menjadi salah satu tempat favorit bagi siswi yang begitu mengidolakan keduanya.

Tak butuh waktu lama, Kyuhyun bisa membaur begitu cepat dengan teman-teman sekelasnya, termasuk Siwon. Dua lelaki itu sudah terlihat akrab. Saat ini mereka tengah berjalan menyisiri lorong kelas, selagi jam istirahat masih berlangsung. Siwon menemani Kyuhyun untuk berkeliling sekolah agar semakin mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

“Jadi, kemarin kau bertemu dengan Yuri saat akan menemui Guru Lee?” tanya Siwon di sela-sela menemani Kyuhyun berkeliling sekolah.

Kyuhyun mengangguk, “Maaf aku sudah merepotkanmu.”

“Tidak masalah, aku sama sekali tidak merasa repot. Justru aku senang melakukannya. Lagipula, kau sudah menjadi temanku. Mana boleh aku mengabaikan siswa baru seperti dirimu. Bisa-bisa, kau tidak pulang dalam kondisi selamat,” ucap Siwon dengan nada bercanda. Kyuhyun yang tidak mengerti maksud perkataan Siwon, terlihat mengerutkan dahinya.

“Kau pasti tidak mengerti maksudku,” tebak Siwon terkekeh. “Lihatlah sekeliling. Banyak orang yang sedari tadi memperhatikanmu.”

Kyuhyun mengikuti ucapan Siwon. Seketika mata lelaki itu membulat sempurna. Benar saja yang dikatakan Siwon. Semua orang—khususnya para siswi—terus memperhatikannya dengan tatapan beragam.

“Apa ada yang salah denganku?” tanya Kyuhyun bingung.

Siwon tertawa kecil, “Sama sekali tidak. Hanya—wajahmu terlalu tampan sehingga mereka begitu terpesona padamu. Sadarilah, dalam waktu singkat kau sudah menjadi idola baru di sekolah ini.”

Mendengar hal itu, Kyuhyun tersenyum lebar sampai memamerkan giginya yang berjejer rapi. Hal itu membuat para siswi yang berada di sekitar mereka menjerit histeris.

Kyuhyun dan Siwon berjalan menuju cafetaria sekolah. Kehadiran keduanya kontan mengundang perhatian siswa-siswi yang tengah menikmati jam istirahat. Namun tidak untuk sosok gadis yang sedari tadi tampak asyik bersenda gurau dengan dua sahabatnya. Rupanya reaksi berbeda gadis itu, justru membuat Kyuhyun penasaran dengannya.

“Siapa yang sedang mengobrol dengan Yuri?” tanya Kyuhyun seraya menunjuk ke arah Yuri—bersama gadis yang telah menarik perhatiannya.

Siwon memperhatikan arah yang ditunjuk Kyuhyun, “Oh, itu dua sahabatnya sejak kecil. Mereka memang berbeda kelas. Tapi—jika sudah memasuki jam istirahat, mereka akan selalu menghabiskan waktu bersama di cafetaria ini.”

“Kau juga mengenal mereka?” tanya Kyuhyun penasaran.

“Aku mengenal mereka cukup baik, meski kami tidak terlalu dekat,” jawab Siwon. Ia menatap bingung ke arah Kyuhyun yang sedari tadi tak bergeming dari posisinya.

“Kau tertarik dengan salah satu dari mereka?” tanya Siwon kemudian.

Kyuhyun terkesiap lalu menggeleng cepat, “Tidak.”

Siwon tersenyum, “Jika kau memang tertarik dengan salah satu dari mereka, kuharap bukan gadis yang duduk di tengah itu.”

Seketika mata Kyuhyun terbelalak. Ia menoleh kaget dan memandangi Siwon dengan tatapan bingung. Gadis yang menarik perhatian Kyuhyun adalah gadis yang duduk di tengah, antara Yuri serta gadis berperawakan jangkung itu. Pernyataan Siwon barusan jelas mengundang tanda tanya besar dalam benak Kyuhyun.

“Kenapa?”

Siwon kembali tersenyum santai, “Suatu saat nanti, kau akan tahu.”

Kerutan di dahi Kyuhyun semakin terlihat. Ia tidak mengerti dan dibuat penasaran oleh ucapan Siwon.

.

.

.

Yoona meneguk minumannya. Ia duduk di antara Yuri dan Sooyoung—yang saat ini masih asyik menikmati makanan yang sudah dipesan. Seperti biasa, memasuki jam istirahat mereka akan menghabiskan waktu di cafetaria sekolah.

“Bukankah itu Siwon dan siswa baru di kelasmu?” suara Sooyoung berhasil mengalihkan perhatian Yuri dan Yoona. Dua gadis itu menoleh kompak ke arah yang ditunjuk Sooyoung. Mereka melihat sosok Siwon bersama siswa baru tampak berjalan meninggalkan cafetaria.

Ne, di hari pertama sekolahnya, Kyuhyun sudah bisa membaur dengan teman-teman sekelas. Termasuk Siwon yang duduk bersebelahan dengannya.”

“Kyuhyun?”

Yuri terkekeh, “Ah, maksudku siswa baru itu. Namanya Cho Kyuhyun. Sebelumnya ia tinggal di Perancis sejak usia 10 tahun sampai akhirnya kembali ke Korea Selatan bersama ibunya. Sementara ayahnya masih tetap tinggal di Perancis karena urusan pekerjaan.”

“Dalam waktu singkat kau sudah tahu banyak tentang siswa baru itu. Hebat,” ejek Yoona sambil tertawa kecil.

“Dia sendiri yang menceritakannya saat perkenalan di depan kelas. Tentu aku tahu,” balas Yuri sambil mengerucutkan bibir. Lalu dengan brutal menghabiskan makanan miliknya.

Yoona tak bisa menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah Yuri. Begitu juga dengan Sooyoung.

Di sela-sela kebersamaan mereka, muncul seseorang yang langsung mengambil posisi duduk—tepat di depan Yoona. Yuri dan Sooyoung terkejut dengan kemunculannya. Sementara Yoona hanya tersenyum santai ke arah siswa tersebut.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Yoona meneguk minumannya sambil menunggu jawaban dari lelaki itu. Lelaki itu hanya meringis dan justru merebut gelas Yoona.

“Lee Jongsuk?” Yoona mulai terpancing emosi dengan sikap lelaki itu—Lee Jongsuk, salah satu mantan kekasih Yoona saat mereka berada di tingkat 1.

“Kudengar kau sudah putus dari Woo Bin,” jawab Jongsuk kemudian.

Yoona tersenyum sinis, “Wah, cepat sekali kau mendapatkan informasinya.”

“Tentu saja. Informasi tentang dirimu, pasti dengan mudah dan cepat akan kudapatkan,” sahut Jongsuk bangga.

“Lalu?”

Jongsuk tersenyum menyeringai, “Kau sudah putus dengan Woo Bin. Itu artinya—kau tidak keberatan jika malam ini kita pergi berkencan?”

Yoona tertawa sinis, “Kau ingin mengajak mantan kekasihmu ini berkencan?”

“Memangnya kenapa?” Jongsuk tidak terpengaruh dengan reaksi Yoona yang terkesan meremehkan. “Tidak ada salahnya jika kita kembali berkencan seperti dulu.”

Yuri dan Sooyoung saling memandang. Dua gadis itu terdiam melihat sahabat mereka tengah berbicara dengan sang mantan kekasih.

“Ayolah, Im Yoona. Sudah lama kita tidak pergi bersama seperti dulu,” Jongsuk mulai tak sabar menunggu jawaban dari Yoona.

“Baiklah, aku tidak keberatan. Aku terima ajakanmu,” jawab Yoona dengan senyum smirk-nya.

Jongsuk tersenyum menyeringai. Tangannya lalu menyentuh pipi kanan Yoona yang langsung ditepis oleh gadis itu.

“Sampai bertemu nanti malam,” ucap Jongsuk.

Yoona hanya menghela nafas seraya menatap tajam ke arah Jongsuk yang mulai berjalan meninggalkan mereka. Sepeninggalan lelaki itu, Yoona langsung meneguk habis minumannya.

“Kenapa kau menerima ajakannya? Apa kau bermaksud menjalin hubungan kembali dengan Jongsuk?” cecar Sooyoung bingung. “Dan—apa yang kudengar tadi? Kau sudah putus dengan Woo Bin? Bagaimana bisa?”

“Pertanyaanmu banyak sekali, Choi Sooyoung,” protes Yoona. “Siapa bilang aku akan kembali berpacaran dengan Jongsuk?”

“Lalu—kenapa kau menerima ajakannya?”

“Menerima ajakannya pergi bersama bukan berarti aku akan kembali berpacaran dengannya kan?” Yoona menyibakkan rambutnya seraya mendesah. “Lagipula—statusku sekarang single. Aku berhak pergi dengan lelaki manapun yang aku mau.”

Sooyoung menatap tak percaya ke arah Yoona. Sepertinya kebiasaan buruk Yoona itu semakin parah.

“Kau memang benar-benar seorang playgirl, Yoong,” respon Yuri singkat dan dibalas anggukan Sooyoung. Keduanya sudah bosan dengan kehidupan asmara Yoona sebagai playgirl. Yoona hanya tersenyum datar menanggapi reaksi kedua sahabatnya.

.

.

.

Chanyeol menunggu Yoona di lapangan basket—yang berada tak jauh dari pintu gerbang utama. Tangannya bergerak lincah memainkan bola basket yang dipegangnya. Suasana sekolah mulai sepi—mengingat jam pelajaran sekolah sudah usai. Hari ini Chanyeol sengaja menyempatkan diri untuk bermain basket dengan temannya—Choi Minho, selesai pulang sekolah. Lantaran supir pribadi mereka yang datang terlambat karena harus mengantarkan sesuatu ke perusahaan ayah mereka.

“Yoona-noona belum datang?” tanya Minho.

Chanyeol menggeleng, “Dia bilang harus mengembalikan buku ke perpustakaan. Sebentar lagi juga datang.”

Minho mengangguk, “Berikan bolanya padaku. Tanganku sudah gatal ingin memasukkannya ke dalam ring itu.”

DAK!

Bola basket itu dilempar ke arah Minho dan langsung ditangkap dengan begitu baik. Tangan Minho bergerak lentur men-dribble bola itu sambil belari menuju ring basket. Sementara Chanyeol masih sibuk mencari keberadaan kakaknya yang tak kunjung datang.

KLANG!

Minho berhasil memasukkan bola dengan cemerlang. Namun keberhasilannya itu sama sekali tidak menarik perhatian Chanyeol.

Noona!” Chanyeol berteriak keras saat melihat Yoona berjalan ke arahnya. Minho yang tengah mengambil bola ikut menoleh ke arah gadis itu.

“Kenapa kau menyuruhku datang ke sini?” tanya Yoona bingung.

“Aku baru saja mendapat telepon dari Supir Jang. Dia datang terlambat karena disuruh appa mengantarkan sesuatu ke perusahaan,” jawab Chanyeol. “Jadi—aku ingin kau menunggu Supir Jang di sini bersamaku. Selagi aku bermain basket dengan Minho dan Jiyeon.”

“Tidak mau. Aku pulang sendiri saja,” tolak Yoona sambil berjalan melewati Chanyeol namun berhasil dicegah.

“Tidak! Kau tidak boleh pulang sendirian. Noona harus pulang bersamaku seperti biasa,” cegah Chanyeol.

Yoona melirik heran. Chanyeol tampak begitu possessive padanya hari ini. “Kenapa?”

“Aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu,” lanjut Chanyeol seraya membuang muka.

“Kau takut Kim Woo Bin melakukan sesuatu padaku?” tanya Yoona langsung mengerti sikap adiknya tersebut. “Memangnya apa yang akan dilakukannya?”

Chanyeol mendesah, “Aku tahu persis sifatnya, noona. Dia itu berbeda dari mantan-mantan kekasihmu yang dulu. Woo Bin-hyung tidak akan melepaskanmu begitu saja. Dia pasti akan melakukan hal buruk untuk membalas apa yang kau lakukan kemarin.”

Yoona meneliti raut wajah Chanyeol. Adiknya itu terlihat serius dan tidak main-main dengan ucapannya. Tak ada alasan bagi Yoona untuk tidak percaya pada Chanyeol. Karena adiknya dan Woo Bin memang telah saling mengenal sejak lama—saat bertemu dalam pertandingan basket antar sekolah tingkat SMP dulu.

“Baiklah, aku ikuti saranmu. Tapi—kau jangan melarangku untuk pergi bersama Jongsuk malam ini,” ujar Yoona kemudian dan disambut tatapan kaget dari Chanyeol.

“Jongsuk-hyung? Kau ingin pergi dengannya malam ini?”

Yoona mengangguk dengan senyuman lebar. Ia berjalan menuju tepi lapangan basket sambil mengedipkan mata pada Chanyeol.

Noona!” Chanyeol dibuat gemas oleh pengakuan Yoona tentang rencananya yang akan pergi bersama Jongsuk. “Jelas-jelas hubungan kalian sudah berakhir, kenapa kau ingin pergi dengannya?”

Yoona tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepala. Gadis itu malah menjulurkan lidah ke arah Chanyeol.

“Aish, noona memang menyebalkan,” gerutu Chanyeol lalu bergegas menghampiri Minho yang hanya tersenyum geli melihat keduanya. Chanyeol menyuruh Minho untuk memulai permainan basket.

Tiba-tiba muncul seorang gadis yang berlari-lari kecil mendekati lapangan basket. Gadis itu datang membawa empat botol minuman dingin.

Eonni!

Yoona menoleh ke arah gadis yang datang menghampirinya. Dengan sigap ia membantu gadis itu membawakan dua botol minuman dingin dari tangannya.

“Jiyeon-ah, kenapa membawa minuman banyak sekali?” tanya Yoona bingung.

Park Jiyeon—teman sekelas Chanyeol sekaligus kekasih Minho, tersenyum santai menanggapi pertanyaan Yoona.

“Tentu saja untuk kita berempat,” jawab Jiyeon kemudian. Ia letakkan dua botol minuman tersebut, barulah meletakkan tasnya di dekat tas Chanyeol dan Minho. Jiyeon langsung menarik tangan Yoona dan menggiringnya ke tengah lapangan basket.

“Mau ke mana?”

“Bermain basket dengan mereka,” Jiyeon menarik Yoona semakin mendekati tengah lapangan. “Ayo, eonni.”

“Tidak mau,” tolak Yoona. Namun Jiyeon bersi keras menarik Yoona dan tidak menggubris penolakan gadis itu.

Yoona menyerah dan menuruti saja kemauan Jiyeon. Chanyeol dan Minho berteriak melihat kedatangan mereka ke tengah lapangan. Dua tim langsung terbagi, Chanyeol-Yoona dan Minho-Jiyeon.

Permainan basket berlangsung seru. Mereka tampak menikmatinya dan begitu kompak dengan tim masing-masing. Yoona yang awalnya tidak tertarik dengan permainan itu justru terlihat sangat menikmati. Chanyeol melirik ke arah Yoona. Lelaki itu tersenyum. Ia senang karena bisa melihat kembali senyuman kakaknya seperti dulu.

“Yeol, kita harus mengalahkan Minho dan Jiyeon!” teriak Yoona bersemangat.

Chanyeol mengangguk, “Baiklah, noona. Ayo kita kalahkan mereka.”

Minho dan Jiyeon menyoraki Chanyeol dan Yoona yang berniat mengalahkan mereka. Permainan pun semakin sengit dan terasa semakin menyenangkan dengan diwarnai gelak tawa.

Dari kejauhan, Kyuhyun yang baru saja ingin pulang sekolah, berhasil menangkap suasana ramai di lapangan basket. Kyuhyun mencoba memperhatikan keempat orang yang tengah bertanding basket. Menyadari salah satu dari mereka adalah gadis yang menarik perhatiannya saat jam istirahat, Kyuhyun lekas berjalan cepat mendekati lapangan basket.

Mata Kyuhyun terus tertuju pada Yoona—gadis yang dilihatnya saat mendatangi cafetaria sekolah bersama Siwon. Ekspresi wajah Yoona yang begitu ceria saat bermain basket membuat Kyuhyun tersenyum tanpa sadar. Sedetik pun pandangan Kyuhyun tak beralih dari sosok Yoona.

Di tengah permainan, bola basket tanpa sengaja terlempar cukup jauh dan mendekati Kyuhyun. Yoona berusaha mengejar bola tersebut. Ia melihat Kyuhyun hanya berdiri diam dan tidak menyadari bola basket yang siap mengenai kepalanya. Yoona mempercepat laju larinya dan berteriak ke arah Kyuhyun.

“AWAS!”

Kyuhyun terkesiap saat mendengar peringatan untuknya. Lelaki itu membelakkan matanya ke arah bola basket yang semakin mendekatinya.

HUP!

Yoona melompat sekuat tenaga untuk menangkap bola tersebut sebelum mengenai Kyuhyun dan berhasil. Namun—ia gagal mengendalikan keseimbangan tubuh hingga membuatnya jatuh tersungkur. Tak pelak kejadian itu membuat Kyuhyun, serta Chanyeol, Minho dan Jiyeon berlari panik menghampirinya.

Noona!” Chanyeol berlari mendekati Yoona dengan wajah paniknya. Disusul Minho dan Jiyeon. Sementara Kyuhyun sedikit terlambat karena shock dengan kejadian mengejutkan tersebut.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun panik sekaligus merasa bersalah.

Yoona belum menjawab. Dari raut wajahnya—sangat terlihat jika gadis itu merasa kesakitan.

Eonni, lututmu berdarah!” Jiyeon menjerit histeris saat menyadari cairan kental berwarna merah keluar dari lutut Yoona.

Kyuhyun langsung mengeluarkan saputangan dari tasnya. Dengan hati-hati, ia mengikatkan saputangan itu pada lutut Yoona yang terluka.

“Setidaknya ini bisa menghentikan darah yang keluar,” ujar Kyuhyun. “Tapi, tetap harus segera diobati.”

Yoona memperhatikan lutut kanannya yang baru saja dibalut oleh saputangan Kyuhyun. Tindakan pertolongan pertama yang dilakukan Kyuhyun berhasil mengurangi rasa sakit di lututnya.

“Terima kasih,” ucap Yoona. Sesekali ia menahan rasa sakit yang masih menderanya.

Kyuhyun menunduk, “Maafkan aku. Kau terluka karena salahku yang tidak segera menghindari bola.”

Yoona tersenyum menanggapi reaksi Kyuhyun. Chanyeol membantunya berdiri. Sementara Minho dan Jiyeon mengambilkan tas milik keduanya.

“Kita akhiri saja permainan ini. Sebaiknya kalian pulang agar lukanya bisa segera diobati,” ujar Minho dan dibalas anggukan Chanyeol.

Ne, kebetulan Supir Jang sudah datang. Kita pulang sekarang,” ajak Chanyeol pada Yoona. Ia menoleh ke arah Kyuhyun yang masih terlihat merasa bersalah.

“Terima kasih untuk saputangannya,” ucap Chanyeol pada Kyuhyun. “Begitu sampai di rumah, luka di lutut kakakku akan segera diobati.”

Kyuhyun terkejut mengetahui dua orang itu adalah kakak-beradik. Ia tampak membungkuk ke arah Chanyeol yang lebih dulu membungkuk padanya. Chanyeol memapah Yoona menuju mobil BMW hitam yang mulai memasuki gerbang sekolah. Sesekali Yoona melirik ke arah Kyuhyun yang masih berdiri terpaku pada posisinya.

Setelah Chanyeol dan Yoona masuk ke dalam mobil, Minho dan Jiyeon turut bergegas meninggalkan lapangan basket. Keduanya membungkuk pada Kyuhyun yang segera dibalas oleh lelaki itu.

Mobil yang dinaiki Chanyeol dan Yoona sudah tidak terlihat, namun Kyuhyun belum bergerak dari posisinya. Hatinya diliputi perasaan cemas yang begitu besar pada kondisi Yoona.

“Ah, aku lupa menanyakan namanya,” runtuk Kyuhyun sambil menepuk keningnya. Lelaki itu mengusap wajahnya dan berulang kali mengatur nafas. Ia berusaha bersikap tenang. Namun debaran jantungnya yang kian kuat justru membuat lelaki itu salah tingkah.

Bayang-bayang wajah Yoona kembali terlintas dalam kepalanya. Kyuhyun mengingat kembali bagaimana kejadian mengejutkan itu terjadi hingga menyebabkan lutut Yoona terluka. Namun—yang sebenarnya Kyuhyun ingat bukan kejadian barusan melainkan sosok Yoona yang telah mencuri perhatiannya sejak tadi siang.

“Kuharap dia baik-baik saja . . .”

-TO BE CONTINUED-

Ini pertama kalinya aku nulis FF di mana karakter Yoona jadi badgirl. Maaf kalo absurd.😀

P.S : Maaf, untuk Sincerely-nya belum dilanjut *bow*

92 thoughts on “Closer [1]

  1. neesstt says:

    Wah karakter yoona beda ni dri biasa ny,🙂 keren2,, ada woo bin jga aku jdi kebayang young do jdi ny kkkk , mudah2an woo bin gk ngerencanain yg aneh2

  2. Nani hunhan says:

    Wah, critanya menarik n jrang bnget yoona berkarakter bad girl gtu😉
    aigoo, kyuhyun kpikirn keadaan yoona thuc😀
    chanyeol syang bnget sih ma kkaknya..
    Sblumx, aku readers bru d’sni kyaknya😀 ffnya keren

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s