Sincerely 3


sincerely2SINCERELY

by cloverqua | main casts Cho Kyuhyun – Im Yoona

casts Wu Yi Fan – Kim Taeyeon and others

genre Hurt – Romance | rating PG 15 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

Teaser + Introduce Cast | 1 | 2

Kyuhyun tiba di rumahnya—setelah ia mengantar Yoona yang tak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan tadi siang. Pria itu sampai sebelum jam makan malam. Ia berjalan gontai menuju kamarnya. Mengetahui sang kakak sudah pulang, Seohyun yang tengah asyik merangkai bunga di ruang tengah—berteriak memanggilnya.

Oppa baru pulang?” tanya Seohyun melirik Kyuhyun. Kakaknya itu hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.

Dahi Seohyun berkerut. Ia menangkap gelagat mencurigakan dari Kyuhyun. Rasa penasaran yang terlalu besar mendorongnya segera menyelesaikan rangkaian bunga miliknya. Agar ia bisa menyusul Kyuhyun untuk mencari tahu kondisinya.

Kyuhyun sudah di kamar dan tengah bersiap pergi mandi. Keringat di tubuh membuatnya merasa tak nyaman. Ditambah cuaca hari ini yang cukup panas. Kyuhyun membasuh tubuhnya dengan shower. Setidaknya ia bisa mendapatkan kembali kesegaran tubuhnya setelah pergi selama seharian ini.

Oppa?” Seohyun mencoba masuk ke kamar Kyuhyun—tanpa meminta izin kakaknya itu lebih dulu. Namun wanita itu tak mendapatkan keberadaan sang pemilik kamar. Ia hanya mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.

“Dia sedang mandi?” pikir Seohyun sambil berjalan keluar dari kamar Kyuhyun.

“Permisi, Nona Seohyun?”

Seohyun terkejut mendengar suara yang memanggil, ketika ia baru saja menutup pintu kamar Kyuhyun. Ia mendapati pria paruh baya tengah memberi salam padanya.

“Ada apa, Kepala Pelayan Huan?” tanya Seohyun pada pria yang bertugas sebagai kepala pelayan di rumahnya tersebut.

“Makan malam sudah siap. Tuan Hyunjae sudah menunggu di ruang makan,” jawab Kepala Pelayan Huan.

“Baiklah, aku akan segera ke sana,” Seohyun melirik kamar Kyuhyun lagi, sebelum berjalan melewati Kepala Pelayan Huan.

“Oh iya, kakakku sepertinya sedang mandi. Katakan padanya untuk segera menyusul ke ruang makan, begitu dia selesai mandi,” lanjut Seohyun memberitahu sang kepala pelayan yang bersiap masuk ke kamar Kyuhyun.

“Baik, Nona.”

Seohyun tersenyum simpul, lalu berbalik meninggalkan kamar Kyuhyun. Sementara Kepala Pelayan Huan masih berdiri di depan kamar—sambil sesekali melirik jam tangannya. Tanpa ia ketahui, Kyuhyun sebenarnya sudah selesai mandi. Hanya berjarak 5 menit, selesai pembicaraan yang dilakukannya dengan Seohyun.

Kyuhyun berjalan mendekati sofa di kamarnya. Sambil mengeringkan rambutnya, ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Tiba-tiba ponselnya berdering. Kyuhyun melihat nama Yoona tertera di layar ponsel.

Yeoboseyo . . .” Kyuhyun mencoba berbicara setenang mungkin, walau sebenarnya hati pria itu sedikit gugup. Beberapa jam lalu, ia memang bertukar nomor ponsel dengan Yoona. Saat pria itu mengantar Yoona.

Kau sudah sampai di rumah?

Kyuhyun tersenyum tanpa sadar, “Ne, bahkan aku juga sudah mandi.”

Benarkah?

“Kau tidak percaya? Haruskah aku memperlihatkannya padamu?” goda Kyuhyun dan langsung disambut tawa oleh Yoona.

Tidak perlu, aku sudah tahu dari aromanya. Tercium sampai sini.”

Wajah Kyuhyun memerah untuk beberapa detik—diikuti debaran jantungnya yang tak beraturan. Ia sempat terbuai oleh ucapan Yoona, namun segera fokus kembali dengan keadaan semula.

“Oh, benarkah? Hebat sekali kau bisa mencium aroma tubuhku hanya lewat ponsel ini,” puji Kyuhyun terkekeh. Lagi-lagi ia hanya mendengar tawa dari Yoona. Melalui obrolan ini, Kyuhyun bisa mengetahui jika Yoona mempunyai selera humor. Ini bisa menambah cara Kyuhyun untuk mendekati Yoona.

Di sela-sela pembicaraannya dengan Yoona, Kyuhyun mendengar suara seseorang yang tengah berbicara dengan wanita itu. Kyuhyun menebak—orang itu adalah pelayan di rumah Yoona.

“Sudah saatnya makan malam,” ucap Kyuhyun mengulangi kalimat yang disampaikan oleh pelayan Yoona.

Kau mendengarnya?

Ne, suara pelayanmu itu cukup keras. Aku bisa mendengarnya,” jawab Kyuhyun. “Kita lanjutkan nanti. Kurasa—aku juga harus segera makan malam,” lanjut Kyuhyun setelah melihat kehadiran Kepala Pelayan Huan.

Baiklah, kita lanjutkan nanti.

Kyuhyun tersenyum, lalu menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia menatapi layar ponsel yang sudah kembali ke layar semula.

“Tuan Muda . . .”

Kyuhyun memandangi Kepala Pelayan Huan yang membungkuk padanya, “Aku tahu. Aku akan segera ke ruang makan.”

.

.

.

Presdir Im dan sang istri, sedari tadi memandangi putrinya. Wajah keduanya terlihat bingung—lebih tepatnya penasaran. Bagaimana tidak? Sambil menikmati makan malam, Yoona justru asyik tertawa sendiri tanpa sadar. Sesekali Yoona terdiam untuk mengunyah makanan. Namun setelah menelannya, Yoona kembali tersenyum lebar.

“Ada hal yang membuatmu senang?”

Yoona terkesiap setelah mendengar suara sang ibu yang membuyarkan lamunannya. Wanita itu meringis dan buru-buru meneguk segelas air putih di dekatnya.

“Tidak, eomma,” elak Yoona. Meski berkata ‘tidak’, tetap saja wajahnya yang memerah telah memberikan jawaban ‘iya’.

Presdir Im tertawa kecil, “Jangan berbohong pada kami. Wajahmu itu terlihat senang dan bahagia.”

Nyonya Im mengangguk sepakat, “Benar. Kau terlihat sangat aneh.”

“Sungguh, bukan apa-apa,” Yoona berusaha mengelak dan enggan untuk bercerita banyak pada orang tuanya. Termasuk pertemuannya lagi dengan Kyuhyun hari ini.

Presdir dan Nyonya Im hanya saling memandang dengan senyum simpul mereka. Keduanya kembali melanjutkan kegiatan mereka—menyantap hidangan makan malam yang lezat.

“Oh iya, kau masih ingat dengan rencana makan malam bersama Kyuhyun dan Presdir Cho?” tanya Presdir Im menyela.

Yoona terdiam sejenak, menoleh pada ayahnya lalu mengangguk pelan.

Appa sudah menentukan waktunya?” tanya Yoona penasaran.

Presdir Im mengangguk, “Bagaimana jika akhir minggu ini? Nanti biar aku yang datang menemui Kyuhyun untuk memberitahu waktunya.”

“Tidak perlu, appa. Biar aku yang menelepon Kyuhyun dan memberitahu acara makan malam tersebut,” jawab Yoona mengejutkan. Wajahnya langsung berubah kikuk begitu menyadari ia kelepasan bicara.

“Menelepon Kyuhyun? Memangnya kau punya nomor ponselnya?” tanya Nyonya Im penasaran.

Tak ada alasan lain bagi Yoona untuk mengelak. Karena kecerobohannya sendiri, ia pun harus mengaku jika dirinya sudah berkomunikasi dengan Kyuhyun. Meski baru beberapa jam yang lalu.

Ne, eomma. Kami sudah bertukar nomor dan berkomunikasi sedikit,” jawab Yoona malu.

Presdir dan Nyonya Im saling memandang dengan raut kaget mereka. Jawaban Yoona cukup menjelaskan apa yang membuat wanita itu tampak senang malam ini.

“Ah, jadi Kyuhyun yang sudah membuatmu tampak senang malam ini?” goda Nyonya Im. Yoona hanya menundukkan kepala, enggan memperlihatkan wajahnya yang kembali memerah.

Presdir Im tertawa lepas, “Kalian sudah saling bertukar nomor, padahal baru bertemu sekali.”

“Ngg . . . sebenarnya sudah 2 kali, appa. Tadi setelah aku menemani Kris jalan-jalan, aku bertemu dengannya di pusat perbelanjaan. Karena Kris harus pulang lebih dulu untuk menemui ibunya, akhirnya aku pulang bersama Kyuhyun,” lanjut Yoona.

Nyonya Im membulatkan matanya, “Benarkah?”

Yoona melirik orang tuanya yang menatapnya kaget. Ia hanya mengangguk, seraya tersenyum lebar hingga memamerkan giginya yang rapi. Gumaman pelan kembali terdengar darinya. Sambil menutupi rona merah di wajah, Yoona segera menghabiskan makan malamnya. Ia tak mau berlarut terlalu lama dalam acara makan malam tersebut. Lebih tepatnya, tak ingin menjawab berbagai pertanyaan yang siap dilayangkan oleh orang tuanya.

“Aku sudah selesai,” ujar Yoona seiring tubuhnya yang beranjak bangkit dari kursi. Ia mensejajarkan pandangannya pada sepasang suami istri yang menatapnya dengan raut datar. Bibirnya pun melengkung sempurna, memperlihatkan betapa suasana hatinya sangat senang hari ini. Bahkan langkah kakinya saat berjalan meninggalkan ruang makan, turut mengundang sejuta tanya dalam benak orang tuanya.

“Bagaimana menurutmu?” Nyonya Im berbisik pada suaminya yang sedari tadi hanya tersenyum. “Aku belum pernah melihatnya tampak senang seperti itu. Mungkinkah—dia sedang jatuh cinta? Aku yakin orang itu adalah Kyuhyun.”

Presdir Im hanya mengedikkan bahu sambil melanjutkan makan malamnya, “Entahlah. Aku tidak mau berspekulasi terlalu jauh.”

“Hei, tidakkah kau lihat wajahnya yang memerah saat kita mengungkit nama Kyuhyun?”

“Aku tahu. Tapi, aku tidak mau buru-buru menarik kesimpulan. Lagipula, kita belum pernah melihat interaksi mereka secara langsung. Tunggulah saat acara makan malam bersama akhir pekan nanti,” balas Presdir Im seraya mengusap bahu sang istri.

Nyonya Im mengangguk setuju. Pendapat dari suaminya itu memang selalu berhasil mengurangi rasa penasarannya yang berlebihan. Khususnya jika berkaitan dengan kisah percintaan sang putri.

.

.

.

Setelah kembali ke kamarnya, Yoona terlihat sibuk memeriksa file daftar barang yang akan disumbangkan ke panti asuhan yang berada di kawasan Incheon. Kini ia tengah duduk sambil menatap layar netbook. Sesekali ia menguap akibat rasa kantuk yang menderanya. Yoona melepas kacamata yang dikenakannya, lalu melirik ke arah jam dinding di kamar.

“Sudah hampir jam 11 malam,” gumamnya pelan sambil bersiap untuk mencetak file daftar barang tersebut. Setelah file tercetak dengan rapi, Yoona memasukkanya ke dalam map yang sudah disiapkannya. Barulah ia membereskan mejanya dan bersiap untuk tidur.

Yoona mulai menaiki ranjang dengan ukuran king size yang begitu nyaman dan mewah. Tangannya bergerak pelan menarik selimut. Ia menoleh sejenak ke arah mejanya yang sudah rapi dan hanya terlihat sebuah tas kecil. Ia menepuk kedua tangannya karena teringat dengan barang pemberian Kris yang belum dibukanya.

“Hampir saja aku lupa membukanya,” ucap Yoona terkekeh seraya meraih tas kecil tersebut. Tangannya merogoh kotak kecil di dalamnya.

Perlahan ia mulai membuka kotak kecil berwarna merah tersebut. Mata wanita itu membulat sempurna, saat kotak terbuka dan memperlihatkan sebuah kalung dengan bandul berbentuk bunga.

“Bukankah kalung ini—” Yoona hanya tersenyum senang sambil memegangi kalung pemberian Kris. Ia tak mengira jika Kris akan membelikannya sebuah kalung yang disukainya. Ia pun segera memakai kalung tersebut di lehernya. Kalung itu terlihat semakin cantik saat ia kenakan. Bibir Yoona melengkung, ia sangat senang dengan hadiah pemberian Kris.

DRRT!

Yoona melonjak kaget saat mendengar dering ponselnya. Tangannya bergerak cepat mengambil ponsel yang ia letakkan di dekat bantal. Setelah melihat nama kontak di layar, Yoona tak bisa lagi menahan senyumnya yang mengembang.

Yeoboseyo . . .”

Kau belum tidur?

Yoona memejamkan matanya rapat-rapat. Tak bisa menyembunyikan kegembiraanya saat mendengar suara Kyuhyun melalui ponsel.

Yoona?

Yoona segera menyadarkan diri dari lamunan konyolnya.

Ne, ada apa?”

Kau belum tidur?

“Belum, aku baru saja selesai memeriksa file,” jawab Yoona pelan. Ia tak bisa mengendalikan rasa gugupnya setiap kali berinteraksi dengan Kyuhyun. Bahkan melalui ponsel sekalipun.

File apa?

“Oh, itu file daftar barang yang akan disumbangkan pada salah satu panti asuhan di daerah Incheon,” jawab Yoona lagi.

Yoona bisa mendengar tawa Kyuhyun. Hal itu membuat jantungnya semakin berdegup kencang.

Ternyata informasi dari majalah itu benar. Kau memang selalu aktif dalam kegiatan sosial. Aku kagum padamu.

Pujian singkat yang diucapkan Kyuhyun sepertinya berhasil membuat Yoona serasa terbang di udara. Wanita itu menutup mulutnya karena terlalu senang dengan pujian Kyuhyun.

“Kau sendiri belum tidur?”

Aku masih mempelajari bahan untuk meeting besok di kantor.

Yoona mengangguk-anggukan kepalanya. Walaupun obrolan yang mereka lakukan masih sebatas kesibukan masing-masing, Yoona tetap senang. Setidaknya ia bisa mengenal karakter Kyuhyun yang termasuk pekerja keras. Pasti pria itu sangat sibuk dengan pekerjaannya hingga harus lembur.

“Jangan bekerja terlalu lelah. Sesekali kau juga harus beristirahat,” ucap Yoona mengingatkan.

Lagi. Yoona mendengar tawa Kyuhyun.

Terima kasih sudah mengingatkanku. Ini juga berlaku untukmu.

Yoona tersenyum, “Ne, arraseo.”

Baiklah, ini sudah larut malam. Kau harus pergi tidur. Jangan sampai kau bangun dengan mata panda besok hari.

Yoona tak bisa lagi menahan tawanya, “Kau juga harus pergi tidur, Kyu.”

Ne, aku tahu. Aku juga tidak mau bangun dengan mata panda. Baiklah, selamat malam.

“Selamat malam,” balas Yoona pada Kyuhyun. Ia menjauhkan ponselnya dari telinga. Setelah sambungan terputus, Yoona masih menatap layar ponselnya. Ingin rasanya Yoona berteriak sekencang mungkin karena terlalu senang dihubungi Kyuhyun.

Yoona menarik selimut kembali sambil merebahkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamar. Semua kejadian hari ini terlintas kembali dalam benak Yoona. Jika mengingatnya, Yoona tersenyum tanpa sadar. Pemberian hadiah dari teman masa kecil sekaligus pertemuan dengan pria penyelamat hidupnya. Ini merupakan peristiwa membahagiakan yang pernah dialami Yoona.

Terlebih lagi, ia mulai berkomunikasi dengan Kyuhyun. Meski baru bertemu 2 kali, namun Yoona tak bisa menyangkal jika hatinya begitu tertarik dengan pria itu. Ia ingin mengenal Kyuhyun lebih dekat lagi.

.

.

.

.

.

.

Sinar matahari yang begitu cerah, berhasil menembus jendela kamar Kyuhyun. Namun rupanya, pemilik kamar itu sudah bangun lebih dulu sebelum matahari keluar dari peraduannya. Ia bahkan sudah terlihat rapi dengan setelan jas berwarna abu-abu serta dasi bermotif garis yang dikenakannya. Pagi ini ada meeting yang harus dilakukannya, itulah sebabnya Kyuhyun harus bangun lebih awal untuk mempersiapkan segala keperluannya.

Kyuhyun mengambil ponselnya untuk menghubungi sekertaris pribadinya—Sekertaris Kwon Yuri.

“Ini aku. Tolong kau bawa bahan materi meeting yang ada di ruanganku. Begitu tiba di kantor nanti, aku akan langsung ke ruang meeting,” titah Kyuhyun pada Yuri. Setelah memastikan wanita itu menyanggupi apa yang ia perintahkan, Kyuhyun bergegas keluar dari kamarnya sambil membawa tas kerjanya.

Keluar dari kamar, Kyuhyun langsung disambut Kepala Pelayan Huan.

“Selamat pagi, Tuan Muda,” sapa Kepala Pelayan Huan.

“Selamat pagi,” balas Kyuhyun ramah.

“Sarapan sudah siap. Tuan Hyunjae dan Nona Seohyun sudah berada di ruang makan,” lanjut Kepala Pelayan Huan.

Kyuhyun hanya mengangguk sambil berjalan menuju ruang makan. Seperti yang dikatakan Kepala Pelayan Huan, ayah dan adiknya memang sudah menikmati sarapan lebih dulu darinya.

“Selamat pagi, oppa!” Seohyun menyapanya dengan riang. Ia dengan cekatan mengambilkan sarapan sandwich untuk kakaknya tersebut.

Kyuhyun tersenyum lalu duduk di sebelah Seohyun. Ia membalas sapaan adiknya itu dengan mengacak-acak rambut Seohyun. Alhasil, sikapnya itu mendapat reaksi kesal dari sang adik.

Oppa . . .” Seohyun merengek kesal sambil merapikan kembali rambutnya. Sementara Kyuhyun hanya terkekeh pelan, kemudian mulai menikmati sarapan miliknya.

Seohyun terdiam sejenak. Ia pandangi raut wajah Kyuhyun yang terlihat berbeda dari biasanya. Sesaat, Seohyun bisa merasakan jika sikap Kyuhyun itu kembali hangat seperti sebelumnya. Kebiasaan mengacak rambutnya di pagi hari yang sangat ia rindukan. Sejak ibunya meninggal, Seohyun tak pernah melihat kebiasaan Kyuhyun tersebut. Tapi, entah kenapa hari ini Kyuhyun memperlihatkannya kembali. Mungkinkah ada sesuatu yang membuat suasana hati kakaknya itu terasa senang?

“Sudah ada kemajuan?” Presdir Cho bertanya tiba-tiba.

Kyuhyun yang masih menikmati sarapannya, terlihat mengangguk sambil menatap ayahnya. Sementara Seohyun yang duduk di sebelahnya, hanya memandangi kedua pria itu dengan kerutan di dahi.

“Kemarin aku bertemu dengannya lagi, ketika aku sedang pergi bersama temanku di pusat perbelanjaan. Karena dia sendirian, aku mengantarnya pulang. Kami juga sudah bertukar nomor ponsel,” jelas Kyuhyun. “Dan saling mengobrol melalui ponsel.”

Raut wajah Presdir Cho berubah senang mendengar pengakuan Kyuhyun. “Bagus sekali. Appa senang mendengarnya. Kau harus tetap menjaga komunikasi kalian sebaik mungkin. Jangan sampai melewatkan kesempatan yang ada untuk lebih dekat dengannya.”

Kyuhyun mengangguk, “Ne, appa.”

“Apa yang sebenarnya sedang kalian bicarakan?” Seohyun bertanya curiga dan penasaran.

“Bukan apa-apa,” jawab Kyuhyun singkat. Ia mempercepat kegiatan makannya, menoleh sekilas ke arah Seohyun yang masih menatapnya. Raut penasaran pada adiknya itu terlihat sangat jelas. Ia bahkan tak segan melototi Kyuhyun.

Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu?” Kyuhyun bersikap setenang mungkin, mencoba tak terpengaruh dengan tatapan adiknya.

Seohyun mendengus kesal. Ia melempar pandangan pada ayahnya yang hanya menatapnya datar.

“Kau tahu Im Yoona kan? Kakakmu ini sedang menjalin kedekatan dengannya,” jawab Presdir Cho mengejutkan.

Rahang Kyuhyun mengeras seketika, menyiratkan ia tidak suka jika Seohyun harus tahu tentang kedekatannya dengan Yoona. Baginya, kedekatan yang sengaja dibuat olehnya atas perintah sang ayah, pasti akan dianggap Seohyun secara berlebihan. Terlebih gadis itu sangat ingin ia memiliki kekasih.

“Benarkah?” Seohyun tersenyum lebar dengan sinar matanya yang cerah.

Kyuhyun tidak menjawab. Ia memilih bangkit dari kursinya lalu berjalan meninggalkan ruang makan. Pergi di saat seperti ini menurutnya sangat tepat, sebelum Seohyun menghujaninya dengan sejuta pertanyaan yang malas untuk dijawabnya.

.

.

.

Yoona terlihat mengecek semua barang-barang yang akan disumbangkan pada sebuah panti asuhan di daerah Incheon. Di tangannya sudah ada map yang berisi daftar barang. Ia memeriksa apakah semua barang yang tertera pada daftar, sudah dimasukkan ke dalam mobil pengangkut. Salah satu supir beserta asistennya tampak menunggu sambil membantu Yoona memeriksanya.

“Semua barang sudah masuk ke dalam mobil, Nona,” ucap Daesan—salah satu asisten supir yang turut membantunya memeriksa barang.

Yoona mengangguk seraya tersenyum, “Baiklah. Kalian harus hati-hati membawanya. Sampaikan salamku untuk pengurus panti asuhan di sana. Mungkin, aku baru bisa datang ke sana besok pagi. Karena hari ini, aku harus mengikuti rapat evaluasi terkait kegiatan amal di Nowon beberapa hari yang lalu.”

Dua pria itu mengangguk lalu pamit pada Yoona untuk mengerjakan tugas mereka. Keduanya bergegas masuk ke dalam mobil box tersebut.

Eonni . . .”

Yoona menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Bibirnya melengkung saat melihat kedatangan Sulli—gadis yang bekerja sebagai sekertaris umum di yayasan miliknya tersebut.

Ne, ada apa?” Yoona mendekat sambil merapikan rambut Sulli yang sedikit berantakan.

Sulli tersipu malu dan hanya berdeham pelan. Perlakuan yang diperlihatkan Yoona memang selalu berhasil membuat siapapun yang melihatnya merasa kagum. Yoona sama sekali tidak menjaga jarak kepada semua rekan dan karyawannya. Sudah dianggap layaknya keluarga sendiri. Termasuk Sulli, yang dianggapnya seperti adik bagi Yoona.

“Semua sudah menunggumu,” lanjut Sulli sambil memasang senyum termanisnya.

Yoona mengangguk lalu berjalan didampingi Sulli menuju ruang rapat. Bersama jajaran pengurus Yoon Foundation, Yoona akan mengikuti rapat evaluasi kegiatan amal yang mereka lakukan saat di Nowon. Setiap kali selesai melakukan kunjungan amal ke sebuah panti asuhan atau tempat lainnya, Yoona memang selalu mengadakan rapat evaluasi.

Sesekali Yoona menguap, lantaran tak bisa menghilangkan rasa kantuknya. Namun ia berusaha fokus karena tak ingin mengabaikan apa yang disampaikan oleh rekannya.

“Total dana bantuan yang kita berikan sebesar 2.500.000 won. Serta beberapa peralatan sekolah dan kebutuhan bahan pokok lainnya. Kita tahu, sebelumnya sangat sedikit donatur yang bersedia membantu Panti Asuhan Hagye-dong. Tapi, setelah apa yang kita lakukan kemarin, sekarang jumlah donatur yang bersedia membantu panti asuhan tersebut telah bertambah,” jelas Taemin—pria yang menjabat sebagai bendahara umum.

Yoona merasa senang mendengar laporan yang disampaikan Taemin.

“Syukurlah jika sekarang sudah banyak yang memberikan bantuan pada mereka,” ucap Yoona senang.

Taemin mengangguk setuju, “Kebanyakan dari donatur yang sebelumnya menolak untuk memberikan bantuan, karena mereka menilai jika panti asuhan tersebut sudah memiliki fasilitas yang layak.”

“Mungkin mereka hanya melihat dari luar bangunan saja. Sekilas, Panti Asuhan Hagye-dong memang terlihat sudah baik dan layak. Tapi, begitu kita masuk ke dalamnya, apa yang ada dalam bayangan awal hilang seketika. Fasilitas yang tersedia sangatlah minim,” sambung Donghae.

Ne, aku sependapat denganmu oppa. Banyak yang melihat dari luarnya saja, tapi mereka tidak pernah mau mencoba masuk untuk melihat secara nyata,” kata Yoona menyetujui pendapat Donghae. Pria itu memiliki jabatan ketua umum. Sementara Yoona sendiri merupakan pembina yayasan—jabatan di atas ketua umum, sekaligus pemilik dari Yoon Foundation.

“Kurasa rapat hari ini cukup. Kalian sudah bekerja dengan sangat baik. Aku ucapkan terima kasih,” lanjut Yoona menyudahi rapat evaluasi mereka. “Sekarang sudah memasuki jam makan siang. Kalian bisa beristirahat.”

Semua orang yang berada di dalam ruangan pun tersenyum puas dan terlihat senang. ya, setiap pekerjaan yang mereka lakukan memang memberi kepuasan batin tersendiri. Terlebih jika untuk membantu masyarakat yang membutuhkan uluran tangan.

Yoona berjalan keluar didampingi Sulli. Keduanya tampak saling berbicara dengan wajah senang mereka.

Eonni, aku sungguh kagum padamu. Yayasan amal ini, meski baru berjalan 3 tahun tapi sudah banyak membantu masyarakat. Kau memang hebat,” puji Sulli. “Terima kasih kau sudah memberiku kesempatan untuk bekerja bersamamu, eonni.”

Yoona menoleh sekilas sambil melempar senyum, “Bukan aku, tapi kita semua. Kita sudah sama-sama bekerja keras untuk menyukseskan yayasan ini. Seharusnya, aku yang berterima kasih pada kalian. Tanpa kalian, aku tidak mungkin bisa bekerja seorang diri.”

Noona!

Suara Taemin yang begitu keras, sukses menghentikan langkah Yoona dan Sulli. Keduanya kompak memutar tubuh mereka ke arah Taemin.

“Mau makan siang bersama?” tawar Taemin. Di belakangnya sudah ada Donghae yang berjalan mendekat.

“Aku—” Baru saja Yoona ingin menjawab, tiba-tiba muncul seseorang yang tidak asing baginya. Semua orang mengikuti arah pandangan Yoona.

“Kris?” Yoona sedikit berteriak karena terlalu kaget dengan kedatangannya.

Kris berjalan dengan tegapnya, mendekati Yoona yang berdiri di depan Donghae, Sulli dan Taemin. Ketiga orang itu hanya menatap mereka dengan ekpsresi bingung dan penasaran.

“Ada apa kau datang ke sini? Dari mana kau tahu lokasi yayasanku?” cecar Yoona melempar dua pertanyaan sekaligus.

Kris hanya membalasnya dengan senyuman, “Aku ingin mengajakmu makan siang bersama. Selain itu—memangnya aku tidak bisa mencari lokasi yayasanmu? Yoon Foundation sudah sangat terkenal. Pasti banyak orang yang tahu lokasinya.”

Yoona terkekeh, lalu menoleh ke arah tiga rekannya yang masih menunggu.

“Taemin-ah, maaf. Aku akan makan siang bersama temanku,” ucap Yoona. Jari tangannya menunjuk Kris yang masih berdiri dengan tatapan bingungnya.

“Tidak masalah, noona,” balas Taemin seraya tersenyum. Ia lalu berjalan bersama Donghae dan Sulli. Sebelumnya mereka bertiga membungkuk ke arah Kris, yang langsung dibalas hal yang sama oleh Kris.

“Kau berencana makan siang bersama rekanmu?” Kris bertanya dengan raut kagetnya. “Ah, kurasa aku datang di saat yang tidak tepat.”

Yoona tertawa kecil melihat wajah bersalah Kris. Ia hanya menggeleng pelan lalu menarik lengan Kris.

“Tidak juga. Mereka mengajakku secara spontan,” ucap Yoona. “Lagipula, aku justru senang kau datang menemuiku.”

“Benarkah?” Kris menaikkan salah satu alisnya sambil menahan tawa.

Yoona mengangguk, lalu menunjuk pada kalung yang melingkar di lehernya.

“Terima kasih. Aku sangat menyukainya,” ucap Yoona. “Sebagai gantinya, aku akan mentraktirmu makan siang.”

Tawa Kris keluar dengan mudahnya, seiring senyum mengembang di wajah Yoona. Ia tak berkata lagi dan membiarkan Yoona menariknya keluar meninggalkan Yoon Foundation.

.

.

.

SRET!

Taeyeon tak sadar jika ia menarik kertas terlalu kencang, hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Memang sudah menjadi kebiasaan, tiap kali ia tengah disibukkan memeriksa pekerjaan yang dilimpahkan Leeteuk padanya.

Seperti saat ini, ia harus memeriksa draft rancangan Leeteuk sesuai permintaan client. Ia berulang kali memindah tatapan matanya—dari layar komputer—lalu berganti pada berkas yang dipegangnya. Ia lakukan itu selama hampir 2 jam. Tentu apa yang dilakukannya ini sedikit beresiko terhadap kesehatan matanya. Beruntung Taeyeon mengantisipasi dengan mengenakan kacamata saat bekerja. Setidaknya mengurangi efek kelelahan karena terlalu lama menatap layar komputer.

Tangan Taeyeon meletakkan berkas yang diberikan Leeteuk. Ia merenggangkan tubuhnya sejenak, sebelum menyenderkan punggungnya pada kursi. Sedetik kemudian, sosok Kyuhyun terlintas dalam kepalanya. ia mengingat kembali acara makan siang bersama yang dilakukannya bersama pria itu kemarin. Tanpa sadar bibir Taeyeon melengkung sempurna tiap kali mengingat kejadian menyenangkan itu.

“Sudah selesai?”

Taeyeon terkesiap setelah mendengar suara Leeteuk. Atasannya itu tampak sudah berdiri di dekat mejanya. Taeyeon buru-buru bangkit seraya menyerahkan berkas yang baru saja selesai diperiksanya.

Ne, aku sudah memeriksa semuanya,” ucap Taeyeon. “Draft rancanganmu sudah sesuai dengan permintaan client.”

Leeteuk tersenyum puas, “Hampir saja aku frustasi karena tidak berhasil menemukan data permintaan client. Jika kau tidak datang membantuku kemarin, aku pasti akan sangat kacau hari ini.”

Taeyeon terkekeh pelan. Lalu bersiap duduk kembali ke kursinya.

“Oh iya, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Leeteuk tiba-tiba. Taeyeon menoleh sekilas dengan anggukan pelan.

“Apakah—Kyuhyun menanyakan sesuatu padamu?”

Dahi Taeyeon mengerut, menyiratkan ia tidak mengerti dengan arah pembicaraan Leeteuk.

“Kyuhyun? Menanyakan apa?”

“Sebelumnya, Kyuhyun sempat menanyakan tentang Yoona padaku. Kupikir dia pasti akan menanyakannya juga padamu. Mengingat kau dan Yoona berteman baik,” jawab Leeteuk.

DEG!

Raut wajah Taeyeon berubah datar. Tatapannya kosong. ia seperti mendapat tamparan keras di pipinya.

“Taeyeon-ah?” Suara Leeteuk lagi-lagi berhasil membuyarkan lamunan Taeyeon. Wanita itu tampak gugup dan langsung menyibukkan diri dengan beberapa map yang ada di mejanya.

“Dia sama sekali tidak menanyakan tentang Yoona padaku,” jawab Taeyeon akhirnya berbohong.

Leeteuk mengangguk-angguk, sambil memutar tubuhnya dan bersiap kembali ke ruangannya.

“Ya sudah, aku hanya ingin bertanya hal itu. Kau tidak makan siang?” tanya Leeteuk lagi. “Ini sudah saatnya jam makan siang.”

Taeyeon tersenyum tipis, “Nanti saja. Setelah aku memperbaiki laporan dalam map ini.”

Leeteuk tidak bertanya lagi. Ia melempar senyum pada Taeyeon sebelum masuk ke ruangannya.

“Jangan bekerja terlalu keras. Sesekali kau juga harus beristirahat,” saran Leeteuk terkait kondisi kesehatan Taeyeon.

Lagi. Taeyeon hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Leeteuk. Ia mengalihkan pandangan pada map yang sudah dipegangnya. Namun yang sebenarnya, wanita itu mencuri pandang ke arah pintu ruangan Leeteuk.

Taeyeon meletakkan map yang dijadikannya sebagai alibi, untuk menghindari pembicaraan tentang Kyuhyun. Rentetan kalimat yang keluar dari Leeteuk masih terngiang dalam kepalanya. jika yang dipikirkan Leeteuk itu benar, artinya—

“Apa dia mencoba mendekatiku untuk mencari informasi tentang Yoona?” gumam Taeyeon pelan. Ia mengingat kembali apa yang dikatakan Kyuhyun kemarin.

“Benarkah—Im Yoona adalah temanmu?”

Taeyeon memijat keningnya. Ia menepis semua prasangka buruknya tentang Kyuhyun. Hanya bermodalkan ucapan Leeteuk, tak ada alasan baginya untuk mencurigai Kyuhyun.

“Sebaiknya aku tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Belum tentu dia orang yang seperti itu,” gumam Taeyeon lagi seraya menghela nafas pelan.

.

.

.

Kyuhyun menopang dagunya dengan tangan, sambil menatap layar komputer di depannya. selesai melakukan meeting, Kyuhyun menghabiskan waktunya untuk mencari informasi seputar saham Im Corp. Ia baru tahu, jumlah saham yang perusahaan ayah Yoona itu sangatlah besar.

“Aku tahu perusahaan mereka memang besar. Tapi, tidak kusangka saham yang mereka miliki sebesar ini,” ucap Kyuhyun kagum. Matanya meneliti satu per satu daftar nama pemegang saham pada Im Corp. Dari sanalah ia juga mengetahui bahwa pemegang saham pada perusahaan itu juga bukan orang sembarangan. Rata-rata dari mereka adalah pengusaha yang sangat sukses di berbagai bidang.

Kyuhyun menilai, menanam saham pada sebuah perusahaan property ternama seperti Im Corp, tentu akan memberikan keuntungan tersendiri.

“Saham mereka saat ini dalam kondisi stabil,” Kyuhyun menganalisa lagi temuannya tentang informasi saham Im Corp. Ia menjadi teringat pada ayahnya—lebih tepatnya alasan kenapa ia harus mendekati Yoona untuk menguasai Im Corp. Kyuhyun beranggapan bahwa perusahaan mereka sama sekali tidak terpengaruh dengan Im Corp. Meskipun sama-sama merupakan perusahaan property, nilai saham mereka sama-sama menguat. Lalu, apa alasannya? Kenapa ayahnya begitu obsesi untuk menguasai Im Corp?

“Sebaiknya aku cari tahu, ada hubungan apa antara appa dan Presdir Im,” Kyuhyun menutup halaman web yang baru saja dibukanya. Lalu mematikan komputernya yang sudah bekerja cukup lama, sejak 4 jam yang lalu.

KLEK!

Kyuhyun yang baru saja berdiri dari kursinya, dikejutkan dengan kedatangan Seohyun. Adiknya itu sudah berlari masuk ke dalam ruangannya. Kyuhyun mendesah pelan. Seharusnya Yuri memberitahunya jika Seohyun datang.

“Maaf, aku tidak menyuruh Yuri-eonni untuk memberitahumu jika aku datang. Aku lebih senang langsung masuk ke ruanganmu seperti ini,” Seohyun seolah bisa membaca pikiran Kyuhyun. Sebelum Kyuhyun bertanya padanya, ia sudah menjawabnya lebih dulu, secara tidak langsung.

Kyuhyun terkekeh pelan, “Lalu, apa alasanmu datang ke sini?”

Seohyun berjalan mendekati Kyuhyun. Dalam hitungan detik, ia sudah bergelayut manja di lengan kakaknya.

“Aku ingin mengajakmu makan siang bersama, eotohge?” tanya Seohyun semangat.

Kyuhyun mengamati satu per satu bagian wajah Seohyun. Ia merasa curiga dengan ekspresi wajah sang adik.

“Kau tidak bermaksud mengajakku makan siang bersama hanya untuk mengorek informasi tentang yang dikatakan appa tadi pagi kan?” tanya Kyuhyun menginterogasi.

Seohyun mendesah kesal. Kakaknya itu memang tidak bisa dikelabuhi setiap kali ia mendekat untuk menanyakan sesuatu.

“Cho Seohyun?”

“Baiklah, baiklah. Aku memang ingin mengorek informasi seputar kedekatanmu dengan Yoona-eonni. Kau puas?” Seohyun menyerah dan kini terlihat menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Kalau begitu, aku menolak makan siang bersamamu,” jawab Kyuhyun santai dan bersiap kembali duduk di kursinya.

Seohyun dengan sigap berhasil menahan Kyuhyun, mencoba mengembalikan mood Kyuhyun yang terlanjur rusak oleh rencananya.

“Kita hanya makan siang saja. Aku janji tidak akan menanyakan apapun tentang kau dan Yoona-eonni,” ucap Seohyun merasa bersalah.

“Kau janji?” Kyuhyun memperlihatkan wajah seriusnya pada Seohyun. Adiknya itu mengangguk pelan.

“Baiklah, kupegang janjimu,” sahut Kyuhyun. Sesekali ia melirik Seohyun yang terlihat menghela nafas lega di sebelahnya. Kyuhyun berusaha menahan tawa. Sudah lama ia tidak mengerjai Seohyun seperti sekarang ini. Ekspresi wajah Seohyun tampak lucu di matanya, setiap kali ia mematahkan rencana sang adik ketika hendak mencari tahu kehidupan pribadinya.

Tanpa disadari Kyuhyun, Seohyun sendiri sedang mengumpatnya habis-habisan. Kesal. Seohyun sangat kesal. Kakaknya itu memang sangat tertutup jika menyangkut kehidupan pribadi, khususnya masalah wanita. Bahkan saat Kyuhyun masih memiliki kekasih, ia sama sekali tak pernah cerita tentang kehidupan percintaannya.

Kita lihat saja, oppa. Sampai kapan kau akan menutupi kehidupan pribadimu itu. Aku pasti akan mendapatkan informasi tentang kau dan Yoona-eonni, batin Seohyun.

.

.

.

“Kau belum melanjutkan ceritamu . . .”

Yoona mendongak ke arah Kris. Makanan yang masih dikunyahnya dalam sekejap sudah tertelan. Ia mengernyitkan dahinya, “Cerita apa?”

Kris menepuk pelan keningnya, “Pria penyelamatmu itu?”

“Oh, kukira apa,” Yoona meneguk minumannya sebelum menjawab pertanyaan Kris lebih jelas.

“Jadi, siapa pria penyelamatmu itu?” tanya Kris tidak sabar.

Yoona berdeham sejenak. Sesaat wajahnya memerah namun berusaha ditutupinya. Sayang, Kris terlalu jeli memandangi Yoona, sehingga ia berhasil menangkap rona merah di pipi Yoona.

“Cho Kyuhun, dia yang sudah menyelamatkanku,” jawab Yoona kemudian.

Kris mengerutkan dahinya. Ia berpikir keras, mencoba mengingat sesuatu yang tidak asing setelah mendengar nama yang keluar dari Yoona.

“Maksudmu—Cho Kyuhyun putra sulung pemilik Cho Corp?”

Yoona mengangguk, “Ne, dia yang sudah menolongku dari para penculik itu.”

Kris mengangguk-anggukan kepalanya. ia kembali fokus dengan hidangannya.

“Kalian berteman?” tanya Kris lagi. Siapapun yang melihatnya, Kris benar-benar mirip seperti detektif yang menginterogasi seseorang.

“Entah bisa dibilang teman atau tidak, yang pasti aku baru bertemu denganya 2 kali,” Yoona tersenyum kecil. “Tapi, sepertinya ayahku dan ayah Kyuhyun sudah saling mengenal. Itu hanya dugaanku saja saat melihat mereka bertemu, ketika menjemput kami di kantor kepolisian.”

Kris tidak bertanya lagi. Namun wajahnya terlihat masam, menyiratkan jika ia tidak begitu suka dengan Kyuhyun. Alasannya sudah jelas, Kyuhyun telah menjadi penyelamat Yoona yang pastinya akan memiliki kesan tersendiri bagi wanita itu. Ia menyesal, jika saja waktu itu ia mengantar Yoona sampai ke rumahnya dengan selamat, tentu pertemuan dua orang itu tidak akan pernah terjadi.

Tak jauh dari posisi Kris dan Yoona—tepatnya di pintu masuk restoran, muncul sosok Seohyun dan Kyuhyun. Rupanya tanpa sengaja, Seohyun mengajak Kyuhyun makan siang bersama, di restoran yang juga didatangi Kris dan Yoona.

Seohyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Saat itulah, ia menangkap sosok yang tidak asing. Raut wajahnya langsung berubah cerah. Tanpa mengajak Kyuhyun, ia lebih dulu berjalan mendekati orang yang baru saja dilihatnya.

Kyuhyun yang melihat sikap Seohyun hanya mengikutinya dari belakang tanpa berkomentar apapun.

“Yoona-eonni?” Seohyun tanpa ragu memanggil sosok wanita yang sedari tadi mengundang perhatiannya.

Yoona menoleh ke arah Seohyun. Dahinya berkerut. Jelas ia tidak mengenali gadis yang baru saja memanggilnya. Tapi, gadis itu justru mengenalinya.

Sedetik kemudian, pandangan Yoona beralih pada sosok pria yang berjalan mendekati mereka. Raut bingungnya langsung tergantikan oleh raut kaget.

“Kyuhyun?”

Kyuhyun sendiri juga tidak menyangka akan bertemu Yoona di restoran tersebut. Ia akui, ia sempat merasa senang, untuk beberapa menit. Rasa senang itu langsung hilang karena ia melihat Yoona bersama pria yang dilihatnya kemarin.

“Tidak kusangka bertemu denganmu di sini,”ucap Kyuhyun bereaksi santai.

Yoona tersenyum, lalu melirik Seohyun. Ia masih penasaran dengan sosok gadis yang datang bersama Kyuhyun.

“Oh, dia adikku. Cho Seohyun,” jawab Kyuhyun ketika menyadari tatapan Yoona.

Seohyun mengulurkan tangannya pada Yoona, “Seohyun.”

“Yoona.”

Senyum Seohyun kian terpancar. Ia sangat senang bisa bertemu dengan Yoona. Apalagi ia juga bersama Kyuhyun. Secara tidak langsung ia telah mempertemukan kakaknya dengan wanita itu.

Di luar dugaan justru bertemu dengan Yoona-eonni di sini. Apalagi dia sedang bersama seorang pria. Ini kesempatanku untuk membuat Kyuhyun-oppa cemburu, batin Seohyun senang.

Kris yang sedari tadi hanya mengamati, akhirnya berdeham pelan dan sukses membuat mereka menoleh padanya. Yoona tersadar dengan kecerobohannya. Ia hampir saja mengabaikan Kris.

“Dia temanku, Wu Yi Fan. Tapi lebih senang dipanggil Kris,” ujar Yoona memperkenalkan Kris pada kakak-adik di depannya.

Kris menyalami Kyuhyun dan Seohyun. Saat menyalami Seohyun, Kris tersenyum. tapi berbeda ketika ia menyalami Kyuhyun. Ia memasang wajah datar, tanpa senyum sedikitpun.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Kyuhyun. Bisa dibilang pertemuan pertama keduanya terkesan sangat dingin.

“Apa kalian berencana makan siang?” Yoona mencoba memecah keheningan di antara mereka. “Bagaimana jika kalian bergabung bersama kami?”

Kyuhyun bisa mendengar desahan pelan dari Kris begitu Yoona menawari dirinya dan Seohyun untuk makan siang bersama mereka.

“Apa kami tidak mengganggu?” tanya Seohyun.

“Sama sekali tidak,” jawab Kris cepat.

“Baiklah, kami akan bergabung bersama kalian,” sambung Kyuhyun. Ia melirik sinis ke arah Kris yang langsung membuang muka. Tak mau menatap ke arahnya.

.

.

.

Suasana makan siang yang seharusnya terasa santai, nyatanya tidak dirasakan oleh Yoona. entah kenapa ia merasa canggung, sejak bergabungnya Kyuhyun dan Seohyun. Sepertinya bukan hanya Yoona yang merasakan hal itu. Seohyun pun juga merasa demikian. Ia mengamati raut wajah kakaknya dan juga Kris. Kedua pria itu lebih fokus pada hidangan mereka dibandingkan untuk mengobrol satu sama lain.

Kris terdiam sejenak. Ia melirik Kyuhyun yang masih asyik menyantap makanan.

“Kudengar, kau telah menyelamatkan Yoona dari bahaya. Kau menggagalkan aksi penculikan yang menimpanya,” rentetan kalimat Kris sedikit memecah keheningan di antara mereka.

Kyuhyun mengangguk, namun pandangan matanya sama sekali tidak tertuju pada Kris.

“Terima kasih. Kau sudah menyelamatkannya,” balas Kris. Pria itu mencoba berkata tulus meskipun dirinya enggan melakukannya. Bagaimana pun Kyuhyun telah menyelamatkan Yoona.

“Sama-sama,” Kyuhyun membalas singkat ucapan terima kasih dari Kris. Ia kembali menyantap hidangannya. Situasi pun kembali canggung.

Yoona memandangi Kyuhyun, yang seolah tak peduli dengan sekitar. Padahal sebelumnya, Kyuhyun bersikap ramah. Tapi hari ini, pria itu terlihat sangat dingin.

Eonni, bolehkah jika sesekali aku datang ke yayasanmu?” Seohyun bertanya tiba-tiba dan membuat Yoona menoleh kaget.

“Apa?”

“Aku sangat suka kegiatan sosial. Kalau diizinkan, aku ingin membantumu di yayasan,” ulang Seohyun.

Yoona mengangguk cepat. Ia tak mau Seohyun menangkap gelagatnya yang sedari tadi memandangi kakaknya.

“Tentu, siapa saja boleh ikut membantu,” jawab Yoona.

Seohyun tersenyum senang. Ia lalu memusatkan pandangannya pada kalung yang dikenakan Yoona. Mata gadis itu pun berbinar melihatnya.

“Kalungmu cantik sekali,” Seohyun tampak begitu polos saat memuji kalung Yoona. “Apa itu pemberian seseorang?”

Mata Yoona nyaris keluar saat mendengar pertanyaan Seohyun. Ia melirik ke arah Kris yang hanya tersenyum kecil. Sementara Kyuhyun, masih sama. Tidak tertarik sama sekali dengan obrolan mereka.

Yoona mengangguk pelan, “Ne, ini memang pemberian seseorang.”

Nugu-ya?” Seohyun menoleh sekilas ke arah kakaknya. “Kris-oppa yang memberikannya?”

Gerakan tangan Kyuhyun terhenti seketika. Seohyun menahan tawa saat melihat reaksi kakaknya itu. Rupanya ia memang sengaja, memancing perhatian Kyuhyun dengan membahas Yoona dan Kris.

Kris sendiri juga menyadari perubahan raut wajah. Pria itu tersenyum menyeringai.

Ne, aku yang memberikannya,” tanpa diduga Kris justru menjawabnya, di saat Yoona hanya terdiam karena lebih fokus melihat Kyuhyun.

“Benarkah?” Seohyun lagi-lagi sengaja bereaksi heboh setelah mendengar pengakuan Kris.

Kyuhyun terdiam. Raut kekesalan terlihat jelas di wajahnya. Ia pun meletakkan peralatan makan dan bangkit berdiri.

“Maaf, aku permisi sebentar.”

Semua orang memandangi Kyuhyun yang berjalan menuju arah toilet di restoran. Seohyun tertawa kecil dan Kris hanya menggelengkan kepala sambil menyantap kembali makanannya.

Reaksi yang berbeda jelas terlihat dari Yoona. Wanita itu mencemaskan Kyuhyun, karena sikapnya benar-benar berbeda dari sebelumnya. Ia pun berinisiatif untuk menyusul Kyuhyun dan menanyakan keadaanya.

Di sisi lain, Kyuhyun yang sedang berada di toilet, terlihat tengah mencuci tangan pada wastafel yang tersedia. Berulang kali Kyuhyun membuang nafas kasar.

“Ada apa denganmu, Cho Kyuhyun? Tenanglah,” gumam Kyuhyun yang menyadari bahwa ia telah bersikap aneh. Di hadapan Yoona dan juga lainnya.

Harus ia akui, keberadaan Kris sangat mengganggunya. Ditambah Seohyun yang ia yakini dengan sengaja membuatnya cemburu dengan sosok Kris. Kalau saja ia hanya berdua saja dengan Yoona, pasti akan mudah baginya untuk mendekatkan diri dengan wanita itu. Sayang, wanita itu terlanjur sudah berada di restoran bersama Kris. Hal itulah yang membuatnya tidak suka.

Tunggu! Untuk apa aku cemburu dengan hubungan pertemanan mereka? Ayolah, Cho Kyuhyun. Kau harus fokus dengan tujuanmu. Kau tidak boleh terbawa suasana, batin Kyuhyun.

Kyuhyun segera keluar dari toilet. Pada saat yang bersamaan, Kyuhyun melihat Yoona berjalan menuju arahnya. Kyuhyun tersenyum senang. Akhirnya ada kesempatan di mana ia bisa berduaan saja dengan Yoona.

SET!

Secara tiba-tiba, Kyuhyun menarik tangan Yoona, begitu wanita itu hampir mendekatinya. Sikap mengejutkannya itu membuat Yoona kaget dan nyaris berteriak, jika jari Kyuhyun tak langsung menempel di bibirnya.

“Kyuhyun?”

Kyuhyun mengisyaratkan pada Yoona untuk mengecilkan volume suara, “Aku ingin bicara berdua saja denganmu.”

Yoona mengernyitkan dahinya. Tadinya ia ingin mencari tahu keadaan Kyuhyun. Di luar dugaan, pria itu justru ingin bicara berdua saja dengannya.

“Soal apa?”

Bukannya menjawab, Kyuhyun justru memutar tubuh Yoona. Memposisikan wanita itu agar bersender pada dinding yang berada di dekat pintu masuk toilet.

Yoona melirik ke sekitar. Ia bisa menangkap tatapan orang yang hanya tersipu melihat mereka. Jelas posisi mereka layaknya sepasang kekasih yang sedang asyik bermesraan.

Yoona menelan saliva­-nya. Kyuhyun berhasil membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Terlebih saat wajah pria itu semakin mendekat.

Kyuhyun belum berkata apapun. Tangannya justru bergerak lembut, membelai rambut panjang Yoona yang halus. Ia bisa merasakan aroma wangi dari shampoo yang dipakai Yoona.

“Kyu?” Yoona berusaha memanggil pria itu, yang dikhawatirkan akan melakukan hal yang bisa saja membuatnya pingsan saat itu juga. Apalagi jika bukan menciumnya.

Apa yang kau pikirkan, Im Yoona? Buang jauh-jauh pikiran kotormu itu, pikir Yoona.

“Apa yang ingin kau katakan?” Yoona bertanya lagi dan berhasil membuat Kyuhyun menatapnya.

Kyuhyun terdiam, ia memikirkan kembali ucapan ayahnya tadi pagi.

“Jangan sampai melewatkan kesempatan yang ada untuk lebih dekat dengannya.”

Sedetik kemudian, bibir Kyuhyun melengkung sempurna. Yoona semakin menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya yang kian memerah.

Tanpa diduga, tangan Kyuhyun justru beralih memegang dagu Yoona. Hal itu membuat keduanya saling menatap satu sama lain.

Yoona meremas bagian bawah blus panjang yang ia kenakan. Ia bisa merasakan debaran jantungnya yang kian kencang. Apalagi Yoona bisa merasakan desahan nafas Kyuhyun yang begitu dekat di wajahnya. Aroma tubuh Kyuhyun, Yoona bahkan bisa menciumnya.

Ya Tuhan, aku bisa gila karenanya, batin Yoona mulai hilang kendali diri.

“Im Yoona?”

Kyuhyun mendekatkan bibirnya di telinga Yoona. Ia mulai membisikkan sesuatu pada wanita itu.

“Maukah kau berkencan denganku?”

.

.

.

.

.

-TO BE CONTINUED-

A/N : Aku tahu ini lama sekali baru publish. Maaf ya, karena kemarin harus fokus belajar aplikasi skripsi saya. Harap dimaklumi. Semoga suka dengan kelanjutannya, terima kasih🙂

47 thoughts on “Sincerely 3

  1. whardatoenn says:

    Scene terakhir bikin hampir teriak unni😀
    Bikin ikutan deg-degan juga kkkkkkk😀
    Tapi dirusak sama ingatan Kyuhyun perihal rencana ayahnya, huhu😥

    Ayo lanjutin ff ini unni :’)

  2. Dyan says:

    Ketika scene terakhir secara beruntun gw melakukan tarik napas-sesek-buang napas-TERIAKK. . .ah walaupun m0ment cuma begini tapi berhasil buat aku teriak kaya orang gila #masih gak sadar kalo ini bulan Puasa

  3. dias puspita says:

    Wuuuihh ikut deg2 ser waktu kyu deket2 yoona,,mudah2an perasaan kyu tulus yaa…cepet d lanjuut y oeni jangan berhenti d tengah jalan,,ini ceritanya bagus lhooo…

  4. HanA says:

    Sebelumx q mnt maaf krn part 2 q g komen. ffx tambah keren thor, mdh2 kyuppa mau melupakan rencanax & bs bnr2 mencintai yoona eonni.

  5. Cho haena says:

    ah kyu oppa bilang aja oppa cemburu, udah akuin aja kalo oppa emang suka sama yoona eonni sebelum di rebut sama kris oppa.
    suka deh sama seohyun eonni yang mancing2 kyuhyun oppa.. terus eonn bikin kyu oppa tambah tambah panas lagi.

    next eonn…..

  6. Relly says:

    Iiiiihhhh Kyuhyun jual mahal ga mau ngakui bila hatinya dah jatuh cinta ama Yoona…. ksh Kris…. oooohhhh… tapi ga pa2 kris km ama soehyun aja ya….hehehe

  7. Chogyuyoong says:

    ni si kyu kayakny udh jatuh cinta ya, tapi masih menyangkal perasaannya.
    oh ,.. kasian yoona yg polos, gak tau klo kyu cuma manfaatin…
    ni ff daebak, jgn lama2 d lanjut ya…. thanks

  8. Shantynet_15 says:

    Ini pasti bakalan ada cinta segi banyak😀
    Semoga Kyu menyukai Yoong. Uhh gak sabar menantikan itu🙂
    Oh ya thor, ini ID aku yang baru *lol* yang lama : Im Shanty_
    Next. Fighting! ^^

  9. RikaYoonhae says:

    Daebak thor..ku doain smoga kyu suka beneran sma yoona biar tambah rame ceritanya heee gk sabar dengan nex partnya lanjut y thor gomawo

  10. gamepagne says:

    huaaaa akhirnya kyuhyun selangkah lebih maju juga walaupun masih kesel kenapa masih ada rencana itu padahal keliatan banget kyuhyun sama yoona saling suka. ditunggu kelanjutannya ^^

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s