Closer [2]


closer2CLOSER

by cloverqua | main casts Im Yoona – Cho Kyuhyun

support casts Shim Changmin – Victoria Song – Park Chanyeol – Kwon Yuri and others

genre Friendship – Romance – School Life | rating PG 15 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2014©cloverqua

[Poster by ladyoong’s art]

TEASER | 1ST

 

Noona tidak boleh pergi . . .”

Yoona tak bergeming dengan larangan yang dilontarkan Chanyeol. Gadis itu tetap sibuk bersolek, di depan kaca rias dalam kamarnya. Kini ia tampil cantik dengan simple dress selutut berwarna pastel. Luka di lututnya sudah mengering, namun masih berbekas dan terasa sedikit sakit.

Wae? Apa alasanmu melarangku pergi malam ini?” Yoona melanjutkan kegiatan menyisir rambutnya dan hanya melirik Chanyeol dari pantulan kaca rias.

“Pertama, lututmu masih sakit. Kedua, untuk apa kau pergi bersama Jongsuk-hyung? Jelas-jelas hubungan kalian sudah berakhir,” jawab Chanyeol sambil memasang wajah kesal.

Yoona meletakkan sisir, lalu memutar tubuhnya menghadap Chanyeol. Ia tersenyum lebar seraya berjalan mendekati sang adik.

“Tidak boleh jika aku pergi bersama mantan kekasihku?” tanya Yoona lagi. “Sudahlah, kami hanya pergi jalan-jalan dan makan malam bersama. Memangnya apa yang akan kami lakukan?”

Chanyeol menggigit bagian bawah bibirnya. Sorot matanya terlihat cemas.

“Aku punya firasat yang tidak enak, noona. Seperti ada hal buruk yang akan terjadi padamu.”

Yoona tertawa geli. Ia memang tidak bisa menolak sikap protective sang adik yang jauh lebih dominan, dibandingkan para mantan kekasihnya terdahulu. Gadis itu mengusap bahu Chanyeol dan memasang senyum tercantiknya.

“Jangan khawatir. Aku bisa menjaga diri,” ujar Yoona. Ia meraih coat yang terpasang di balik pintu kamar, juga tas kecil yang tersampir di meja rias.

“Aku pergi dulu,” pamit Yoona seraya berjalan keluar kamar.

Chanyeol mendesah pelan, kecewa lantaran sang kakak tak mau mendengarkan ucapannya. Lelaki itu berjalan mengekori Yoona yang sudah tiba di ruang tengah.

“Yoona, kau mau ke mana?” tanya Im Jungsoo—ayah Yoona dan Chanyeol.

“Aku ada janji dengan temanku, appa. Kami hanya pergi jalan-jalan dan makan malam bersama,” jawab Yoona. Ia berlari-lari kecil mendekati ayahnya yang masih asyik menonton TV. Gadis itu mengalungkan kedua tangannya di leher Jungsoo.

Appa, aku pergi dulu,” pamit Yoona seraya mengecup pipi sang ayah.

Jungsoo hanya mengangguk dan menoleh sekilas ke arah Yoona yang sudah berjalan meninggalkan ruang tengah.

Wae? Kenapa kau diam saja?” Jungsoo mengerutkan dahinya saat menyadari keberadaan putranya. Terlebih karena Chanyeol hanya diam tanpa berkata apapun.

Chanyeol menggeleng, “Tidak ada apa-apa.”

“Ngomong-ngomong, memangnya kakakmu itu pergi dengan siapa? Teman? Atau kekasihnya?” tanya Jungsoo menginterogasi.

“Bukan teman ataupun kekasih. Tapi, mantan kekasih,” jawab Chanyeol jujur.

“Mantan kekasih? Siapa?” Jungsoo terkejut mendengar jawaban Chanyeol. Pasalnya, ia tak pernah mendengar jika Yoona dekat atau bahkan menjalin hubungan dengan seseorang.

Appa sama sekali tidak tahu jika kakakmu itu punya kekasih,” Jungsoo tersenyum tipis, namun raut wajahnya masih terlihat kaget. “Lalu—jika mereka sudah putus, kenapa sekarang mereka pergi bersama? Apa mereka akan berbaikan lagi?”

“Sebenarnya bukan hanya Jongsuk-hyung saja yang mantan kekasih noona.”

Kerutan di dahi Jungsoo semakin kentara, “Jongsuk? Maksudmu—mantan kekasihnya yang pergi dengan Yoona malam ini?”

Chanyeol mengangguk pelan, menatap datar ke arah Jungsoo.

“Mantan kekasih Yoona bukan hanya dia? Apa maksud ucapanmu, Yeol? Appa benar-benar tidak mengerti.”

Chanyeol menghela nafas pelan dan hanya menunduk dalam di depan Jungsoo. Ia bepikir, bagaimana caranya menyudahi kebiasaan Yoona sebagai playgirl. Ia tidak mau lagi kakaknya itu mempermainkan perasaan laki-laki yang menyukainya.

Apakah aku harus menceritakan semuanya pada appa? Kurasa appa bisa membantuku menghentikan kebiasaan buruk Yoona-noona, batin Chanyeol.

“Im Chanyeol?”

Chanyeol terkesiap dan tersadar dari lamunannya. Lelaki itu berjalan mendekati Jungsoo yang masih menatapnya dengan raut bingung.

“Jika aku menceritakan semuanya, maukah appa membantuku?”

.

.

.

Yoona menyantap hidangan steak kesukaannya. Gadis itu sudah bersama Jongsuk, di sebuah restoran steak terkenal di kota Seoul. Meski berstatus sebagai mantan kekasih, Jongsuk masih memperlihatkan perhatiannya pada Yoona. Tapi ia tak sadar, tindakannya justru membuat Yoona merasa risih.

“Jangan lakukan itu! Kau tahu kan, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa,” tegas Yoona saat Jongsuk mengusap pipinya yang terkena saus steak.

Jongsuk tersenyum, “Aku hanya ingin membersihkan noda saus di pipimu. Tidak boleh?”

“Cukup katakan saja. Aku bisa membersihkannya sendiri,” balas Yoona lalu mengambil kain yang sudah disediakan.

“Hei, bisakah kau tidak terlalu kasar malam ini?”

Yoona mengangguk, “Tentu. Asalkan kau sadar diri untuk tidak terlalu perhatian padaku. Kau harus tahu batasan antara kita, Tuan Lee Jongsuk.”

Jongsuk mendesah pelan. Ia menggelengkan kepalanya, lalu fokus kembali dengan steak miliknya. Meski sudah diperingatkan, tetap saja lelaki itu mencuri pandang ke arah Yoona.

“Berhenti memandangiku seperti itu,” tukas Yoona ketus tanpa melihat Jongsuk sedikitpun.

“Hebat. Kau bahkan tahu jika aku sedang memandangimu,” Jongsuk terkekeh pelan. “Jangan-jangan kau yang sedari tadi memandangku tanpa henti?”

Yoona meremas peralatan makannya, melempar tatapan tajam menusuk pada Jongsuk. Lelaki itu tersenyum, sambil sesekali meneguk minuman.

“Jangan mengacaukan suasana hatiku dengan pernyataan bodohmu itu. Atau aku akan pergi sekarang juga,” ancam Yoona seraya bangkit dari kursinya.

SET!

Jongsuk menahan langkah Yoona dengan menarik tangan gadis itu. Ia menghela nafas, tak habis pikir dengan sikap kasar yang diperlihatkan Yoona padanya malam ini. Jika mengingat kejadian di masa lalu—saat mereka masih menjalin hubungan, gadis itu sangat patuh dan penurut padanya. Tak pernah sekalipun mengeluarkan kata-kata pedas seperti malam ini. Atau, saat itu Yoona hanya berpura-pura bersikap baik? Inikah sifat asli seorang Im Yoona?

“Baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun untuk mengacaukan suasana hatimu. Maaf,” sahut Jongsuk, sorot matanya memohon pada Yoona untuk kembali duduk pada posisi semula.

Yoona menyilakan rambutnya ke atas telinga, lalu mengikuti perkataan Jongsuk untuk kembali duduk. Gadis itu melanjutkan kembali kegiatan makannya. Setelah memastikan Yoona sudah duduk, Jongsuk kembali pada posisinya dan melanjutkan hal yang sama. Keduanya larut dalam keheningan dan hanya fokus menikmati makanan masing-masing. Tanpa berbicara sepatah kata pun.

Selesai menikmati makan malam, Yoona dan Jongsuk berjalan berdampingan, menyusuri jalanan yang diterangi lampu kota dan dipenuhi masyarakat yang ingin menghabiskan waktu malam mereka.

Luka di lutut Yoona, meski sudah mengering tetap saja menyulitkan langkahnya. Hal itu terihat dari langkahnya yang tertatih-tatih. Beberapa kali Yoona merintih kesakitan. Meskipun suaranya terdengar pelan, namun Jongsuk tetap bisa mendengarnya.

“Kau kenapa?”

“Tidak apa-apa,” Yoona menggeleng dan melanjutkan langkahnya. Namun ia justru kehilangan keseimbangan saat kakinya tak sengaja terantuk batu kecil. Akibatnya, Yoona jatuh terduduk dan lagi-lagi lututnya yang terluka membentur jalanan.

“Aww . . .” Yoona berteriak kesakitan sambil memegangi lututnya. Kontan saja reaksinya itu mengundang kepanikan Jongsuk.

“Kau baik-baik saja?” Jongsuk mengusap bahu Yoona dan mencoba mencari sumber yang membuat Yoona merasa kesakitan. Saat ia mengalihkan pandangan pada lutut yang dipegang Yoona, mata lelaki itu pun membulat sempurna.

“Ini luka yang kudapat saat aku bermain basket di sekolah tadi siang. Bukan karena terjatuh di sini,” ucap Yoona sebelum Jongsuk menanyainya.

“Benarkah? Tapi—sepertinya lututmu kembali terluka. Kuantar kau pulang, supaya lukamu bisa segera diobati,” ucap Jongsuk cemas. Ia membantu Yoona berdiri dan tanpa sadar kedua tangannya memegang bahu Yoona.

Yoona melepas tangan Jongsuk yang memegangi bahunya. Gadis itu hanya tersenyum tipis, “Tidak perlu. Lagipula, aku masih ingin jalan-jalan denganmu.”

Jawaban Yoona sempat membuat wajah Jongsuk memerah. Lelaki itu menunduk di hadapan Yoona.

“Kau jangan salah menilai jika aku masih mempunyai perasaan padamu. Aku hanya ingin jalan-jalan saja malam ini,” sahut Yoona cepat karena tak ingin Jongsuk salah paham padanya.

Jongsuk mendongakkan kepalanya, lalu ia menarik tangan Yoona agar gadis itu berbalik menghadapnya.

“Lain kali saja. Aku akan mengantarmu pulang sekarang,” ucap Jongsuk dan tanpa menunggu respon Yoona, ia langsung membawa gadis itu pergi.

“Lee Jongsuk!”

DEG!

Jongsuk terdiam saat mendengar suara lelaki yang memanggilnya. Tubuhnya menegang saat melihat sekelompok orang yang berjalan mendekatinya.

“Kim Woo Bin?” Yoona tak dapat menyembunyikan rasa kagetnya, melihat lelaki yang baru saja menjadi mantan kekasihnya kemarin, sudah berada di depannya. Ia melirik Jongsuk yang hanya mendesah pelan. Yoona bisa menangkap kegelisahan yang mendera lelaki itu. Ia juga penasaran, kenapa Woo Bin bisa tahu nama Jongsuk? Ada hubungan apa antara mereka?

Woo Bin berdiri tepat di depan Jongsuk dan Yoona. Sementara keempat rekannya tampak menunggu di belakang lelaki itu.

“Jongsuk-ah, tugasmu sudah selesai. Serahkan gadis itu padaku.”

Mata Yoona melebar, setelah mendengar ucapan Woo Bin. Dahinya berkerut, ia tidak mengerti dengan pembicaraan dua lelaki di depannya itu. Bahkan ia tak tahu apa hubungan mereka. Kenapa terlihat sudah saling mengenal satu sama lain?

“Apa maksud ucapanmu?” Yoona bertanya pada Woo Bin.

Woo Bin tersenyum sinis, lalu menepuk bahu Jongsuk, “Temanku ini sedang membantuku untuk membawamu padaku, Nona Im.”

“A—apa? Teman?” Yoona menoleh kaget ke arah Jongsuk. “Kalian berteman? Jadi, kau sengaja mengajakku pergi hanya untuk membawaku pada Woo Bin?”

Jongsuk terdiam, tidak menjawab pertanyaan Yoona.

“Jawab aku!” teriak Yoona.

“Bukan teman seperti pada umumnya. Kami hanya senasib karena sama-sama berstatus mantan kekasihmu. Aku sengaja mengajakmu pergi, untuk membawamu pada Woo Bin. Agar dia bisa membalas dendam padamu,” jawab Jongsuk.

PLAK!

Yoona mendaratkan tamparan keras di pipi Jongsuk, hingga meninggalkan warna merah pada wajah lelaki itu. Jongsuk menghela nafas, ia sadar tamparan itu memang pantas untuknya.

“Aku tahu aku salah, dan kau berhak marah padaku,” sahut Jongsuk. “Tapi, aku sudah memutuskan untuk melindungimu. Aku tidak akan membiarkan Woo Bin melakukan hal buruk padamu.”

Pernyataan Jongsuk mengejutkan semua orang yang ada di sekitarnya, khususnya Woo Bin.

“Apa maksud ucapanmu?”

“Maafkan aku. Tapi, aku tidak bisa membiarkanmu bersikap buruk pada Yoona,” ulang Jongsuk.

“Kenapa?” Woo Bin mengepalkan tangannya. “Kau masih menyukainya?”

Jongsuk terdiam, namun anggukan pelan darinya sudah cukup memberikan jawaban yang diinginkan Woo Bin.

“Jelas-jelas dia juga mencampakkanmu. Kau masih menyukainya? Benar-benar bodoh,” sahut Woo Bin.

“Kau yang menawariku rencana ini untuk membalas dendam pada Yoona. Alasanmu karena kita senasib, sama-sama menjadi korban dari permainan gadis ini. Lalu—bagaimana bisa sekarang kau memutuskan untuk menghalangi tindakanku?”

“Aku tahu!” Jongsuk berteriak keras. “Aku memang orang yang sudah menawarimu rencana ini. Tapi, aku sudah memutuskan untuk menghentikannya. Jadi kumohon pergilah dan jangan ganggu Yoona.”

BUG!

Woo Bin melayangkan pukulan keras pada Jongsuk, hingga pria itu jatuh tersungkur. Yoona nyaris berteriak saat melihat perlakuan Woo Bin pada Jongsuk. Ia menatap tak percaya pada lelaki yang tengah mengerang kesakitan itu. Jongsuk yang semula merencanakan hal buruk padanya, tiba-tiba justru berbalik melindunginya.

“Kau tidak bisa dipercaya. Tidak bisa diajak kerjasama,” runtuk Woo Bin. “Tapi, kau harus tahu satu hal. Kau telah salah langkah, mengajak orang sepertiku untuk melakukan balas dendam pada gadis ini. Aku bukan tipe orang yang suka menjilat ludah sendiri. Setiap keinginan yang sudah terucap dari bibirku, tidak akan pernah aku ingkari. Aku akan tetap melakukan hal buruk pada gadis ini.”

Woo Bin menarik lengan Yoona, membuat gadis itu merintih kesakitan. Jongsuk beranjak bangkit dan berupaya melepaskan cengkeraman Woo Bin dari Yoona. Namun ia dihalangi oleh keempat rekan Woo Bin yang langsung memberinya pukulan.

“Lepaskan aku!” Yoona meronta agar bisa melepaskan diri dari Woo Bin. Namun bukannya menuruti kemauan Yoona, Woo Bin justru semakin mengeratkan cengkeraman tangannya dan membuat Yoona semakin kesakitan.

Jongsuk berusaha melawan keempat rekan Woo Bin yang memberikan pukulan padanya. Setidaknya ia berhasil membalas pukulan mereka, meskipun tetap jatuh tersungkur lantaran jumlah lawan yang lebih banyak.

Yoona memukuli dada Woo Bin saat lelaki itu justru memeluknya dengan begitu erat. Ia bahkan berniat mencium bibir mungil Yoona.

“Kenapa kau menolak? Bukankah selama kita berpacaran, kita belum pernah melakukannya?” ejek Woo Bin dengan tawa remehnya.

“Lakukan saja dalam mimpimu!” amuk Yoona mulai frustasi. Ia mencoba menendang kaki Woo Bin, tapi lututnya yang terluka membuat Yoona kembali merintih kesakitan. Ia tak bisa berbuat apapun untuk menghindari aksi gila Woo Bin.

Dari kejauhan, tampak sosok lelaki yang sedari tadi mengamati situasi yang menimpa Yoona. lelaki itu tidak lain adalah Kyuhyun, yang kebetulan baru saja membeli barang sesuai perintah ibunya. Awalnya Kyuhyun tidak tertarik dengan keributan tersebut. Namun saat mengenali sosok gadis yang tengah berupaya melepaskan diri, Kyuhyun tak bisa lagi menahan keinginannya untuk membantu Yoona.

“Bukankah dia—” Kyuhyun mencoba mencermati dari jauh, sebelum ia berjalan mendekati mereka. Lelaki itu mempercepat langkahnya.

Kyuhyun langsung menarik Woo Bin yang sebentar lagi akan merebut ciuman Yoona. Ia memukul wajah Woo Bin sampai lelaki itu terjatuh di jalanan.

Woo Bin mengusap sudut bibirnya, lalu menoleh ke arah Kyuhyun.

“Siapa kau?” amarah Woo Bin memuncak. “Jangan ikut campur urusan kami!”

“Aku berhak ikut campur, karena kau sudah membuat keributan di tempat umum,” Kyuhyun berkilah dan sesekali melirik pada Yoona yang masih terlihat shock. Gadis itu menatapnya dengan sorot mata cemas.

“Dasar tidak sayang nyawa,” Woo Bin tersenyum sinis lalu menendang perut Kyuhyun hingga lelaki itu nyaris jatuh. Rahang Kyuhyun mengeras, seiring bibirnya yang mengatup rapat-rapat. Ia membalas serangan Woo Bin dengan hal yang sama.

Keempat rekan Woo Bin terpancing emosi oleh tindakan Kyuhyun. Mereka lalu beralih menyerang Kyuhyun, membiarkan Jongsuk yang terbaring tak berdaya dengan luka di sekujur tubuh akibat perlakuan mereka.

Kyuhyun dengan sigap menangkis serangan lawan. Ia tampak lihai menghindari pukulan-pukulan yang mengarah padanya. Namun, jumlah lawan yang lebih banyak tetap menyulitkan Kyuhyun. Ia harus rela menerima pukulan lagi di bagian perut serta sudut bibir kirinya.

“Cepat pergi dari sini!” Kyuhyun mengeluarkan ponselnya saat keempat rekan Woo Bin kelelahan menghadapinya. “Atau aku akan memanggil polisi untuk menangkap kalian?”

Woo Bin berdiri dari posisinya, ia tersenyum sinis ke arah Kyuhyun. Tangannya mengusap bagian sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.

“Cih, kalian benar-benar membosankan,” umpat Woo Bin. “Sudahlah, ayo pergi. Aku tidak punya hasrat lagi untuk berurusan dengan mereka.”

Sebelum Woo Bin pergi, ia sempat melirik tajam ke arah Yoona.

“Dengar, Nona Im Yoona. Ini baru awal dari pembalasanku. Bersiaplah,” ancam Woo Bin seraya tersenyum menyeringai. Lalu memberi isyarat pada rekannya untuk meninggalkan lokasi. Keempat rekan Woo Bin hanya mengangguki perintahnya, sambil berjalan mengekori Woo Bin di belakangnya.

Yoona mendesah kesal, lalu beralih memandangi Jongsuk yang terbaring di atas jalanan.

“Jongsuk! Buka matamu!”

Kyuhyun menoleh karena suara panik Yoona yang berulang kali memanggil Jongsuk. Lelaki itu dalam kondisi tak sadarkan diri akibat luka yang didapatnya.

“Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit,” ujar Kyuhyun.

Yoona mengangguk dan menuruti saran Kyuhyun. Dibantu beberapa orang yang ada di sekitar lokasi, Jongsuk dibawa menuju mobil Kyuhyun. Mereka segera pergi menuju rumah sakit terdekat agar Jongsuk bisa mendapatkan pertolongan pertama.

.

.

.

Ruang tengah terasa sunyi, hanya terdengar suara langkah kaki Chanyeol yang sedari tadi mondar-mandir di depan TV. Ia berulang kali melirik jam dinding. Untuk kesekian kalinya ia mendesah pelan, sambil memandangi layar ponselnya. Sudah sejak 1 jam yang lalu, ia mengirim pesan pada Yoona, namun hingga jam 10 malam, tak ada balasan yang ia peroleh.

“Yoona belum membalas pesanmu?” Jungsoo mengalihkan perhatian Chanyeol agar menoleh padanya.

Ne, appa. akan kucoba menghubunginya sekali lagi,” ucap Chanyeol. Setelah menekan tombol speed dial-up, ia dekatkan ponselnya pada telinga.

Yeoboseyo. . .

“Ah, noona! Akhirnya kau menjawab teleponku,” Chanyeol berseru sambil menghela nafas lega. “Kau di mana sekarang? Kenapa sudah hampir jam 10 malam belum pulang?”

Jungsoo berjalan mendekati Chanyeol saat menyadari wajah putranya tampak serius dan cemas.

“Rumah Sakit Seoul? Baiklah, aku akan segera ke sana,” ucap Chanyeol.

Jungsoo menahan langkah Chanyeol yang sudah bersiap pergi meninggalkan ruang tengah.

“Ada apa? Siapa yang sedang berada di rumah sakit Seoul?”

Noona dan Jongsuk-hyung terlibat keributan dengan siswa dari sekolah lain. Jongsuk-hyung terluka karena menerima pukulan. Sekarang mereka sedang berada di Rumah Sakit Seoul, appa,” jawab Chanyeol.

“Benarkah? Kalau begitu, appa ikut denganmu,” ucap Jungsoo dan berjalan mengekori Chanyeol. Keduanya bergegas pergi menuju lokasi tempat Yoona berada.

.

.

.

Yoona memandangi layar ponselnya, setelah selesai menerima telepon dari Chanyeol. Gadis itu beralih menatap pintu ruang UGD yang masih tertutup rapat. Sudah hampir setengah jam tapi dokter yang menangani Jongsuk tak kunjung keluar untuk memberikan laporan pemeriksaan.

Jujur saja, Yoona memang masih kesal dengan sikap Jongsuk yang bersekongkol dengan Woo Bin. Namun ia tidak bisa menolak kenyataan, jika pada akhirnya Jongsuk justru berusaha melindunginya hingga rela mendapat pukulan dari rekan Woo Bin. Ia merasa bersalah pada lelaki itu.

Kyuhyun datang sambil membawa dua cup kecil kopi hangat. Ia menyodorkan salah satunya untuk Yoona.

“Minumlah. Ini akan membuatmu merasa lebih tenang,” ujar Kyuhyun.

“Terima kasih,” balas Yoona.

Kyuhyun mengambil posisi duduk di sebelah gadis itu. Sambil meneguk kopi miliknya, sesekali ia mengamati raut kecemasan di wajah Yoona.

“Jangan khawatir. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Tim medis sudah memberikan pertolongan untuk temanmu,” sahut Kyuhyun berusaha menenangkan Yoona.

Yoona tersenyum, “Dia satu sekolah dengan kita. Secara tidak langsung juga temanmu.”

“Benarkah?” Mata Kyuhyun membulat sempurna. “Pantas. Aku seperti pernah melihatnya.”

“Sekali lagi terima kasih, Kyuhyun-ssi,” sahut Yoona.

Kyuhyun menoleh kaget, “Kau tahu namaku?”

“Yuri yang mengatakannya padaku. kau satu kelas dengannya kan?”

Bibir Kyuhyun melengkung sempurna, membuat wajahnya terlihat tampan. Lelaki itu mengulurkan tangannya pada Yoona.

“Kita belum berkenalan secara resmi,” ujar Kyuhyun tersipu.

Yoona terdiam sejenak, memilih memandangi Kyuhyun yang sedari tadi mengumbar senyum padanya. Sesaat ada rona memerah di pipi Yoona. Ia menyambut uluran tangan Kyuhyun.

“Yoona,” gadis itu bersalaman dengan Kyuhyun. Tapi, entah kenapa Kyuhyun menjabat tangannya cukup lama. Membuat Yoona bingung dan hanya menatap lurus pada tangan mereka.

“Ah, maafkan aku,” Kyuhyun segera melepas tangannya. Ia meringis dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Merasa malu dengan tindakan bodohnya. Yoona tersenyum simpul melihat kelakuan Kyuhyun.

KLEK!

Pintu ruang UGD terbuka, bersamaan dengan seseorang yang berpakaian serba putih keluar dari dalam ruangan. Yoona dan Kyuhyun bergegas menghampirinya.

“Dokter, bagaimana kondisinya?”

“Jangan khawatir, temanmu baik-baik saja. Dia sudah siuman,” ucap dokter tersebut. “Luka yang diperolehnya memang cukup parah, tapi kami sudah mengobatinya. Kami sarankan agar temanmu menjalani rawat inap selama 3 hari.”

Yoona dan Kyuhyun menghela nafas lega. Keduanya saling memandang dengan senyum mereka.

“Terima kasih atas bantuanmu, dokter,” ucap Kyuhyun.

“Baiklah, kalian bisa menemuinya sebentar. Sebelum kami memindahkannya ke ruang rawat inap,” suruh dokter tersebut sebelum meninggalkan Yoona dan Kyuhyun.

Keduanya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam ruangan. Mereka melihat Jongsuk sudah dalam kondisi sadar, meski masih terlihat lemas. Yoona berjalan pelan mendekati ranjang Jongsuk. Lelaki itu tersenyum padanya.

“Kau baik-baik saja?”

Jongsuk mengangguk, “Ne, maaf sudah membuatmu terlibat dalam masalah ini.”

Yoona tersenyum, “Seharusnya aku yang minta maaf. Kau seperti ini, karena aku. Terima kasih sudah melindungiku.”

“Aku memang pantas mendapatkannya,” jawab Jongsuk sambil tertawa pelan. Ia lalu melirik Kyuhyun yang berdiri di sebelah Yoona.

“Bukankah—kau siswa baru di sekolah kami?” tanya Jongsuk saat mengenali wajah Kyuhyun.

Ne, ini pertemuan pertama kita. Cho Kyuhyun,” jawab Kyuhyun sambil mengulurkan tangan.

“Lee Jongsuk. Terima kasih atas bantuanmu hari ini,” sahut Jongsuk.

Kyuhyun tersenyum lebar, “Ah, bukan apa-apa. Aku hanya kebetulan lewat.”

DRAP! DRAP!

Terdengar langkah kaki yang menghampiri ruang UGD. Pintu pun terbuka lebar dan memperlihatkan sosok wanita paruh baya—tidak lain adalah ibu Jongsuk, Jung Seon Mi.

“Anakku?” Seon Mi langsung berlari mendekati ranjang putranya dengan wajah yang diselimuti kecemasan. “Kau baik-baik saja?”

“Bagaimana eomma tahu jika aku ada di sini?”

“Yoona yang memberitahuku,” ucap Seon Mi, lalu menoleh pada Yoona.

Jongsuk menatap Yoona dengan raut bingung, bermaksud meminta penjelasan gadis itu.

“Kebetulan aku menyimpan nomor ibumu. Karena itulah aku memberitahunya,” jawab Yoona. Bagaimana pun mereka memang pernah berpacaran. Tak heran jika Yoona juga memiliki nomor ponsel ibu Jongsuk. Lelaki itu termasuk mantan kekasihnya yang menjalin hubungan cukup lama dibandingkan mantan kekasih Yoona lainnya. Setelah gadis itu berpisah dari cinta pertamanya.

“Yoona-ssi, terima kasih sudah membawa putraku ke sini,” ucap Seon Mi sembari memeluk Yoona.

“Tidak, ahjumma. Aku yang salah karena membuat Jongsuk seperti ini. Dia berusaha melindungiku dari mereka dan mendapat perlakuan keras hingga harus menderita seperti sekarang. Aku benar-benar menyesal, maafkan aku,” sesal Yoona seraya membungkuk.

Seon Mi tersenyum, “Tidak apa-apa. Semua sudah terlanjur terjadi. Asalkan kau dan Jongsuk dalam kondisi selamat.”

Kyuhyun terdiam dan hanya memandangi ketiga orang itu dengan raut datarnya. Saat menyadari Seon Mi meliriknya, Kyuhyun secara spontan membungkuk pada wanita paruh baya itu.

“Dia satu sekolah dengan kami. Kyuhyun yang sudah membantu Jongsuk melawan mereka, ahjumma,” sahut Yoona sebelum ibu Jongsuk itu melemparkan pertanyaan.

“Benarkah?” Seon Mi tersenyum ke arah Kyuhyun. “Terima kasih sudah menolong anakku, Kyuhyun-ssi.”

Ne, ahjumma,” balas Kyuhyun. “Sebaiknya kami pulang dulu. Jongsuk harus banyak beristirahat.”

Yoona mengangguk, sependapat dengan Kyuhyun. Keduanya pun membungkuk pada Seon Mi sebelum pergi keluar meninggalkan ruang UGD. Yoona menutup pintu dengan pelan agar tak menimbulkan suara berdecit.

“Di mana alamat rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang,” tawar Kyuhyun.

Yoona menggeleng, “Tidak perlu. Aku sudah menelepon adikku untuk menjemputku.”

Ada raut kekecewaan di wajah Kyuhyun, lantaran tak bisa mengantar Yoona pulang. Namun, lelaki itu berusaha tetap tersenyum di depan Yoona.

Yoona memandangi wajah Kyuhyun yang kini tengah menunduk. Ia baru sadar, jika sudut bibir Kyuhyun berdarah dan lelaki itu belum mengobatinya. Yoona mengeluarkan saputangannya, lalu mengusapkannya pada sudut bibir Kyuhyun yang berdarah.

Kyuhyun dibuat bengong dengan sikap mengejutkan Yoona. Ia menatap gadis itu dengan ekspresi datar.

Yoona mengalihkan pandangannya dan saat itulah matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Kyuhyun. Keduanya saling menatap dengan tatapan kosong.

Noona!

Suara keras seseorang berhasil membuat keduanya terkesiap dan kembali bersikap biasa. Mereka mendapati sosok lelaki berperawakan jangkung tampak berlari dengan diikuti pria paruh baya di belakangnya.

“Yeol?” Yoona menghampiri Chanyeol yang datang bersama ayahnya. Sesaat ada wajah bingung pada Yoona, ketika mengetahui sang ayah juga ikut menjemputnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jungsoo sambil mengusap wajah Yoona. Anggukan pelan putrinya tersebut membuat kecemasan yang sempat memenuhi wajahnya, hilang dalam sekejap. Ia tersenyum lega, memeluk putrinya begitu erat untuk melepaskan ketegangan yang melanda dirinya.

Perhatian Jungsoo beralih pada Kyuhyun yang sedari tadi memandanginya dengan mata menyelidiki. Ia pun melakukan hal yang sama, bahkan berjalan mendekatinya.

“Kau—” Jungsoo mencoba mengingat memori yang muncul kala melihat wajah Kyuhyun dari dekat.

“Jungsoo-ahjussi?” Kyuhyun berseru sambil menjentikkan jari.

“Kyuhyun-ssi?” Reaksi serupa juga diperlihatkan Jungsoo setelah mengenali sosok Kyuhyun. Ia tanpa ragu langsung memeluk lelaki itu dengan wajah gembiranya.

“Tidak kusangka bertemu kau di sini. Kapan kau kembali ke Korea Selatan?” tanya Jungsoo antusias.

“Belum lama, ahjussi. Kurang lebih, sekitar 2 minggu yang lalu,” jawab Kyuhyun.

Keduanya tidak menyadari ada orang lain yang sedari tadi memandang mereka. Yoona dan Chanyeol, mereka saling memandang dengan kerutan di dahi masing-masing.

“Kalian sudah saling mengenal?”

Jungsoo mengangguk saat mendengar pertanyaan Yoona, “Appa belum bercerita pada kalian. Saat appa melakukan perjalanan bisnis ke Perancis, Kyuhyun yang membantuku mencarikan alamat rekan bisnis appa. Setelah urusan bisnis selesai, Kyuhyun juga menemani appa untuk berkeliling kota Paris. Usianya yang sama dengan Yoona, membuat appa sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Oh iya, kenapa kau bisa bersama dengan Yoona?”

“Dia menolongku dan Jongsuk dari keributan dengan siswa sekolah lain,” jawab Yoona.

“Dan dia adalah siswa baru di sekolah kami, appa,” sambung Chanyeol.

“Benarkah?” Mata Jungsoo membulat sempurna dengan bibir yang ikut melengkung, hingga memperlihatkan wajah tegasnya yang tampan. “Jadi, akhirnya kau masuk ke Seoul High School?

Ne, ahjussi,” Kyuhyun menunduk malu dan sesekali mencuri pandang ke arah Yoona. gadis itu masih menatapnya dengan raut kaget. Tidak menduga jika Kyuhyun dan ayahnya sudah saling mengenal.

“Mungkin kalian sudah saling mengenal atau bertemu di sekolah, tapi akan lebih baik jika aku mengenalkannya padamu secara resmi. Mereka adalah anakku, Im Yoona dan Im Chanyeol,” ucap Jungsoo.

Karena Kyuhyun sudah berkenalan dengan Yoona lebih dulu, lelaki itu hanya tinggal bersalaman dengan Chanyeol yang menyambutnya dengan ramah.

“Terima kasih sudah menolong kakakku lagi, hyung,” Chanyeol dengan sengaja melontarkan kata ‘lagi’ dan sukses membuat kerutan di dahi ayahnya terlihat.

“Apa maksud ucapanmu, Yeol?”

Chanyeol terkekeh, “Kyuhyun-hyung sudah mengobati lutut noona saat terjatuh di lapangan basket tadi siang.”

Yoona mendengus tak senang dengan kebiasaan Chanyeol bermulut besar, mengatakan semua hal yang dirasa tidak penting pada ayahnya. Matanya mengintimidasi ke arah Chanyeol—seolah berkata ‘Awas, kau ya!’. Tapi Chanyeol hanya menanggapinya dengan santai dan tenang.

Aigo, aku tidak tahu jika kalian sudah sedekat itu,” Jungsoo menggelengkan kepalanya sambil berdecak kagum.

“Tidak seperti itu, appa. Kami berbeda kelas dan baru bertemu dua kali saja,” Yoona mengelak lantaran tak mau sang ayah salah paham.

Jungsoo dan Chanyeol saling memandang dan tertawa geli, melihat reaksi Yoona yang mengerucutkan bibirnya. Sementara Kyuhyun hanya bengong dengan ayah dan anak yang saling menertawakan satu sama lain.

“Baiklah, sebaiknya kita harus pulang sekarang. Lagipula, besok pagi kalian harus bersekolah,” ajak Jungsoo. “Sampai jumpa lagi di lain waktu. Kalau sempat, datanglah ke rumahku, Kyuhyun-ssi.”

Ne, ahjussi. Lain waktu aku pasti akan datang berkunjung,” Kyuhyun mengawasi Yoona untuk menunggu reaksinya. Sesuai dugaan, gadis itu mengeluh, seolah tak setuju dengan rencananya tersebut. Tapi itu justru membuatnya penasaran dan semakin ingin untuk pergi ke rumah Yoona.

.

.

.

.

.

.

Bunyi lonceng sekolah terdengar cukup keras. Siswa-siswi yang baru saja memasuki gedung Seoul High School segera mempercepat langkah mereka agar tak ketinggalan jam pertama pelajaran. Hal itu juga dilakukan oleh Yoona dan Chanyeol. Keduanya memang sedikit datang terlambat, tidak seperti biasanya yang selalu datang tepat waktu. Tampaknya kejadian semalam cukup menyita tenaga mereka hingga membuat keduanya sama-sama bangun kesiangan

Noona, kau baik-baik saja?” Chanyeol terlihat cemas dengan langkah kaki Yoona yang tertatih-tatih. Luka di lututnya memang memaksa gadis itu tak bisa berlari secepat biasanya. Apalagi semalam Yoona terjatuh kembali hingga menyebabkan luka pada bagian lutut yang sama.

“Apa saja yang sudah kau katakan pada appa?” tanya Yoona dengan mata menginterogasi.

Chanyeol terkesiap, ia hanya meringis dan memposisikan dirinya menghadap pada Yoona.

“Aku tidak mengatakan apapun,” jawab Chanyeol, lalu perlahan memutar tubuhnya dan berlari meninggalkan Yoona sebelum kakaknya itu berteriak memakinya.

“IM CHANYEOL!” Yoona tak peduli dengan tatapan semua orang akibat suara kerasnya. Gadis itu sangat kesal pada Chanyeol. Bagaimana tidak? Tampaknya sang adik sudah memberitahu ayah mereka tentang kebiasaan Yoona yang selalu berganti kekasih. Karena pengakuan Chanyeol itulah, Yoona harus menerima ceramah panjang lebar dari sang ayah ketika mereka tengah menikmati sarapan.

*flashback*

“Mulai sekarang, kau dilarang keras untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Sampai kau berhasil diterima di Seoul National University.”

Yoona menatap tak percaya pada Jungsoo, “Apa maksud appa berkata seperti itu?”

Appa, sudah mendengarnya dari Chanyeol. Selama ini, ternyata kau punya kebiasaan buruk hingga mendapat julukan playgirl di sekolah. Bagaimana bisa anakku bertingkah memalukan seperti ini,” sesal Jungsoo seraya memijat keningnya.

Chanyeol langsung menunduk begitu mendapat tatapan tajam dari Yoona.

Appa, tidak seperti itu. Aku hanya—”

“Sebentar lagi kau naik ke kelas 3. Appa tidak mau kau menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Fokuslah belajar untuk ujian kelulusan dan ujian masuk perguruan tinggi. Ini juga berlaku untuk Chanyeol,” tegas Jungsoo.

Ne, appa,” balas Chanyeol menyanggupi perintah ayahnya.

“Dan kau, Im Yoona. Appa masih memberimu izin untuk berteman dengan laki-laki manapun, tapi tidak untuk berkencan dengan mereka. Tunggu sampai kau masuk ke perguruan tinggi,” lanjut Jungsoo. “Oh iya, appa sarankan jika nantinya kau ingin mempunyai kekasih, sebaiknya pilih saja Kyuhyun. Appa akan sangat mendukung jika kau berhubungan dengannya.”

Mata Yoona nyaris keluar saat mendengar nama Kyuhyun tak luput dari pembicaraan. Bahkan menjadi satu-satunya orang yang sudah direstui oleh Jungsoo.

“Kau belum menjawab permintaan appa,” ulang Jungsoo karena Yoona tidak merespon pernyataannya.

“Baik, aku akan menuruti permintaan appa. Aku akan fokus belajar untuk ujian kelulusan dan ujian masuk perguruan tinggi. Tapi, appa harus tahu satu hal. Memangnya siapa yang mau berkencan dengan Kyuhyun? Aku sama sekali tidak tertarik dengannya, bahkan untuk menjadi kekasihnya. Tidak akan pernah.”

*end flashback*

Yoona meremas kedua tangannya, mengumpat Chanyeol habis-habisan karena sudah membuatnya dalam kondisi sulit. Gadis itu membuang nafas kasar sambil mendongakkan kepalanya, menatap langit yang sebenarnya tampak cerah, namun terlihat mendung baginya. Habislah sudah, waktu Yoona untuk bersenang-senang dan menikmati saat paling menyenangkan ketika ia mempermainkan para laki-laki yang begitu tertarik untuk menjadi kekasihnya. Ia tak bisa lagi melanjutkan perannya sebagai playgirl.

“Selamat pagi!”

Yoona melonjak kaget saat mendengar suara Kyuhyun menyapanya. Gadis itu menoleh dengan tatapan kesal dan sukses membuat Kyuhyun terkejut.

“Selamat pagi!” Yoona membalas dengan ketus lalu mempercepat langkahnya menuju kelas. Ia tak mau jika harus berjalan bersama dengan lelaki itu.

Kyuhyun mengernyitkan dahinya, bingung dengan reaksi Yoona yang begitu kesal padanya. Ia hanya tersenyum dan kembali berjalan mengikuti Yoona.

.

.

.

“Berhenti menjadi playgirl?

Yoona menatap malas ke arah Sooyoung dan Yuri. Dua sahabatnya itu tampak kaget dengan mulut setengah terbuka. Mereka baru saja mendengar cerita yang dibeberkan Yoona terkait larangan ayahnya untuk menjalin hubungan dengan lelaki manapun, sebelum ia berhasil diterima di Seoul National University.

“T—tapi bagaimana bisa ayahmu tiba-tiba berkata seperti itu?” tanya Yuri heran.

“Semua terjadi karena bocah tengik itu,” Yoona menunjuk ke arah Chanyeol yang tengah asyik menikmati waktu istirahat bersama Minho dan Jiyeon. Adik lelakinya itu kembali meringis sambil melambaikan tangannya pada Yoona.

“Dia membeberkan kebiasaanku yang selalu berganti kekasih pada appa. Itulah sebabnya, appa melarangku untuk menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Sebelum aku berhasil diterima di Seoul National University,” lanjut Yoona.

Hening. Yuri dan Sooyoung menatap Yoona yang kini tertunduk lesu. Yoona berharap, dua sahabatnya itu akan menghiburnya. Tapi kejadian selanjutnya, justru jauh dari apa yang ia harapkan.

“HORE!” Yuri dan Sooyoung berteriak senang. Keduanya saling ber-high five ria. Kontan saja reaksinya itu menyulut kemarahan Yoona.

“Reaksi macam apa itu? Memangnya kalian tidak sedih dengan apa yang menimpaku?”

“Tidak sama sekali. Kami justru senang mendengarnya,” jawab Sooyoung santai. “Akhirnya, kau bisa berhenti juga untuk menjadi playgirl, Yoong.”

“Sooyoung benar. Kami sangat senang mendengar berita bahagia ini,” sambung Yuri tak kalah berbeda.

Yoona membanting peralatan makannya, “Aish, kalian benar-benar menyebalkan.”

“Sudahlah, Yoong. Ayahmu itu benar. Kurasa Chanyeol juga sangat memikirkan masa depanmu. Apa kau tidak lelah menjalani kehidupan seperti itu? Kau tidak takut jika salah satu dari mantan kekasihmu akan membalas dendam dengan melakukan hal yang buruk terhadapmu?”

DEG!

Yoona mendadak bungkam setelah mendengar pernyataan Yuri. Ia kembali teringat dengan peristiwa semalam, di mana ia hampir saja menjadi korban akibat ulah Woo Bin. Jika diingat kembali, sikap Woo Bin sangatlah wajar. Karena semua ini salah Yoona. Ia yang sudah menyakiti lelaki itu hingga menimbulkan dendam dalam diri Woo Bin. Bahkan, Jongsuk yang semula bersekongkol dengan Woo Bin, akhirnya turut menderita saat harus memutuskan untuk melindunginya.

Wae? Kenapa kau diam saja?” tanya Sooyoung bingung.

“Tidak apa-apa,” jawab Yoona cepat dan fokus kembali pada makanannya. Saat Yoona hendak menyuapkan makanan ke mulutnya, ia terkejut ketika menyadari seluruh siswa ataupun siswi yang berada di cafetaria, melirik ke arahnya sambil berbisik.

Yuri dan Sooyoung juga menyadari suasana aneh yang terjadi di cafetaria. Terlebih saat mengetahui Yoona terlihat tak nyaman dengan suasana tersebut.

“Yoong, sebenarnya ada desas-desus tentangmu yang sudah menyebar,” bisik Yuri.

“Desas-desus?”

“Kudengar dari beberapa siswa, Jongsuk tidak masuk sekolah. Kata mereka, dia masuk rumah sakit setelah mendapat pukulan dari Woo Bin dan rekannya. Peristiwa keributan itu terjadi kemarin malam. Dan alasan yang membuat keributan itu terjadi, adalah kau,” lanjut Yuri.

“Semalam—kau memang pergi bersama Jongsuk kan?” tanya Sooyoung penasaran. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Cih, tidak kusangka berita itu tersebar begitu cepat,” sesal Yoona sambil meneguk minumannya.

“Jadi itu benar? Kau dan Jongsuk terlibat keributan dengan Woo Bin dan rekannya?”

Ne, itu benar. Awalnya, Jongsuk bersekongkol dengan Woo Bin untuk melakukan hal buruk padaku. Dia sengaja mengajakku pergi berkencan semalam, untuk membawaku pada Woo Bin. Tidak kusangka, dia justru berbalik melindungiku hingga rela menerima pukulan dari Woo Bin dan rekannya,” jawab Yoona. Yuri dan Sooyoung saling menatap dengan raut kaget mereka.

“Jongsuk bersekongkol dengan Woo Bin, tapi justru berbalik melindungimu?” Sooyoung berdecak kagum mendengar pengakuan Yoona. “Apa—dia masih menyukaimu?”

“Entahlah,” Yoona hanya mengedikkan bahu dan kembali menyantap makanannya.

“Lalu—kenapa ada yang mengatakan jika Kyuhyun jika terlibat dalam kejadian semalam?”

Yoona terdiam sejenak, lalu menghela nafas pelan.

“Dia hanya kebetulan lewat di sekitar lokasi kejadian. Lalu menolong kami agar bisa terbebas dari Woo Bin dan rekannya,” lanjut Yoona. Gadis itu memijat keningnya, merasa lelah dan enggan untuk bercerita lebih lanjut tentang peristiwa semalam.

“Kau mau ke mana?” tanya Yuri bingung begitu melihat Yoona tiba-tiba bangkit berdiri.

“Kembali ke kelas. Nafsu makanku hilang karena situasi tidak nyaman di sini,” jawab Yoona cuek dan terus berjalan meninggalkan meja yang ia gunakan sebelumnya.

Tanpa diduga, Kyuhyun baru saja tiba di cafetaria bersama Siwon. Ia pun tidak bisa menghindar saat harus bertemu dengan Kyuhyun. Keduanya terdiam dan hanya saling memandang satu sama lain. Kontan saja pertemuan mereka membuat seisi cafetaria menjadi heboh. Terlebih saat Kyuhyun melambaikan tangan pada Yoona.

Semua mata terpusat pada Kyuhyun dan Yoona. Itulah yang membuat Kyuhyun bingung, namun membuat Yoona merasa risih. Gadis itu berjalan melewati Kyuhyun sambil menunduk, dan tidak mau melihat padanya. Hal itu jelas saja membuat Kyuhyun semakin bingung, hingga memutuskan untuk mengejar gadis yang baru saja mengabaikannya itu.

“Ada apa dengan mereka?” Sooyoung tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya melihat pemandangan aneh yang terjadi antara Yoona dan Kyuhyun. Yuri hanya mengedikkan bahu, lalu melirik pada Chanyeol yang sedari tadi juga mengawasi sikap kakaknya. Lelaki itu menggeleng, tidak bisa memberikan penjelasan yang diinginkan Yuri.

“Kurasa memang terjadi sesuatu antara Kyuhyun dan Yoona,” gumam Sooyoung kembali berspekulasi sesuai pikirannya.

Yuri yang biasanya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, justru sependapat dengan Sooyoung. Bagaimana pun, interaksi antara Yoona dan Kyuhyun cukup menarik perhatian semua orang dan membuat siapapun yang melihatnya menjadi penasaran.

Di sisi lain, Yoona terus berjalan menyusuri lorong sekolah. Gadis itu bermaksud kembali ke kelasnya.

“Yoona!”

Begitu menyadari Kyuhyun mengejar dan memanggilnya, Yoona semakin mempercepat langkah kakinya. Tapi karena lututnya yang terluka, Yoona tak bisa menghindari Kyuhyun saat lelaki itu sudah berhasil berdiri tepat di depannya. Yoona mendesah tak senang dengan sikap Kyuhyun yang menyusulnya.

“Jangan menghalangiku!”

“Kenapa kau menghindariku?” tanya Kyuhyun polos.

“Siapa yang menghindarimu? Aku hanya ingin kembali ke kelasku,” jawab Yoona sedikit berteriak. Lalu mendesis kesal, lantaran reaksinya berhasil mengalihkan perhatian semua orang. Ia mengalihkan perhatiannya dari Kyuhyun, mencoba melewati lelaki itu namun kembali dihalangi.

“Apa maumu?!” bentak Yoona.

“Kenapa sikapmu berbeda dengan sebelumnya? Tidak bisakah kau bersikap lembut pada temanmu?”

“Sejak kapan aku berteman denganmu?” Yoona mulai frustasi dengan kepolosan Kyuhyun.

“Hei, masa kau lupa? Semalam, aku sudah menolongmu dan Jongsuk agar terbebas dari keributan. Kita sudah berkenalan dan menghabiskan waktu bersama semalam. Ah, aku juga sudah mengenal baik ayahmu. Bagaimana bisa kau menganggapku bukan temanmu?”

Yoona menatap tak percaya dengan ucapan Kyuhyun. Ia memandang sekeliling, semua siswa kembali heboh akibat pernyataan Kyuhyun.

“Kau ini—tidak bisakah mengecilkan suaramu?”

Kyuhyun mengernyitkan dahinya. Belum mengerti dengan arah pembicaraan mereka. Sementara Yoona tampak memberi isyarat pada Kyuhyun untuk melihat ke sekeliling mereka. ia baru sadar jika sedari tadi menjadi pusat perhatian.

“Kenapa? Kau terganggu dengan mereka?”

“Tentu saja! Memangnya kau tidak?” Yoona tidak bisa lagi menahan emosinya yang meluap.

“Tidak. Untuk apa peduli dengan mereka? Memangnya mereka punya hak untuk mengatur dan menilai kehidupanku?” tanya Kyuhyun lagi.

Sejak mengetahui dirinya menjadi populer di sekolah, Kyuhyun sudah tidak peduli lagi dengan pendapat seluruh siswa-siswi, terkait tindakan yang ia lakukan selama di sekolah maupun di luar sekolah. Ia heran, kenapa teman-teman di sekolahnya selalu gemar bergosip tentang kehidupan pribadi orang lain.

Sebenarnya Kyuhyun sudah tahu, jika kejadian semalam yang melibatkannya dengan Yoona dan Jongsuk, telah diketahui oleh seluruh penghuni sekolah. Hal itu membuatnya sadar, reaksi Yoona padanya kali ini, tidak lain disebabkan berita tersebut.

“Kau ini benar-benar orang yang aneh,” desis Yoona mengolok sikap Kyuhyun yang membuatnya kehilangan muka di hadapan semua orang.

Yoona mendorong tubuh Kyuhyun agar bisa melewatinya. Namun lagi-lagi usahanya gagal. Kyuhyun menarik tangan Yoona lalu memutar tubuh gadis itu, memposisikan mereka tampak seperti pasangan kekasih yang hendak berciuman.

Tak pelak sikapnya itu membuat semua orang yang melihat, khususnya para siswi penggemar Kyuhyun, menjerit histeris. Siwon yang datang menyusul Kyuhyun juga dibuat terkejut oleh ulahnya.

“Lepaskan aku!” bisik Yoona mengintimidasi. Ia meronta agar Kyuhyun mau melepaskannya.

“Tidak mau. Aku akan selalu memegangimu seperti ini, sampai kau tidak bersikap kasar padaku,” ujar Kyuhyun.

“Apa?” Yoona menatap tak percaya. “Kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Dan—kenapa juga aku harus bersikap lembut padamu?”

Seolah ada hal lain yang merasuki diri Kyuhyun, hingga membuatnya terdiam dan tak segera memberikan jawaban untuk Yoona. Mata lelaki itu terlalu fokus pada wajah Yoona yang begitu dekat dengannya.

Kyuhyun—ia begitu terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Yoona. Dahi, alis, mata, hidung, hingga bibir, semuanya tampak indah di mata Kyuhyun. Aroma madu yang tercium dari rambut kecokelatan Yoona, membuat mata Kyuhyun terpejam sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Belum pernah ia merasakan getaran yang luar biasa ketika bertemu dengan gadis seperti Yoona.

“Lepaskan aku, Cho Kyuhyun.”

Suara Yoona berhasil membuyarkan lamunan Kyuhyun. Bibir lelaki itu melengkung sempurna. Siapapun yang melihatnya, pasti akan terpesona dengan ketampanan yang dimiliki Kyuhyun, apalagi saat lelaki itu tersenyum seperti sekarang. Tapi tidak berlaku untuk Yoona. Gadis itu terlalu kesal dengan ulah Kyuhyun yang membuatnya malu di hadapan semua orang.

“Tidak mau,” tolak Kyuhyun ringan. Ia mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telinga Yoona.

“Aku hanya mengatakan sekali saja, jadi dengarkan baik-baik,” bisik Kyuhyun. Sementara Yoona berusaha menjauhkan wajahnya dari lelaki itu. Tapi Kyuhyun terlalu dekat dengannya.

Kyuhyun tersenyum untuk kesekian kali, “Sikapku ini, bukan hanya agar kau bersikap lembut padaku. Tapi—karena aku sudah tertarik padamu, Im Yoona.”

-TO BE CONTINUED-

A/N : Akhirnya bisa juga tulis kelanjutan FF ini. Jujur saja, banyak yang berubah lho dari ide awal. Sepertinya aku masih ingin memasukkan karakter Jongsuk dan Woo Bin dalam cerita, habis lagi suka banget sama dua cowok kece ini *lol* (>///<)

Oke, untuk karakter Changmin dan Victoria, kemunculan mereka masih lama. Ya, karena nantinya cerita ini tidak hanya membahas kehidupan sekolah mereka tapi juga kehidupan mereka setelah masuk perguruan tinggi. (Kebayang nggak berapa chapter jadinya ini FF? Kekeke)

Yoona emang terpaksa berhenti jadi playgirl, tapi karakternya nggak bakal berubah begitu aja kok. Dan, Kyuhyun bakalan kerja keras untuk mendapatkan cinta Yoona, apalagi jika saingannya banyak (maybe)😀

Segini aja deh, curhatan dari saya hehe. Penasaran sama kelanjutannya? Tunggu aja ya😉❤

60 thoughts on “Closer [2]

  1. raraprameswari says:

    Kalo Kyuhyun suka sama Yoona berarti dia harus bersaing sama cowok kece lainnya dong? Wuahhhh gak bisa bayangin gimana nantinya,dari sini udah ketauan cuman Kyuhyun yang dikasih restu Jungsoo buat pacaran sama Yoona wkwkwk perjuangan Kyuhyun bakal panjang tuh kalo sikap Yoona nya masih cuek gini. Ditunggu ya kelanjutannya😉

  2. Kim rae gun says:

    Waduuuuhh .. Waduuuuhhh … Waduuuuuuhh apakah yoong bnr” pensiun dri “playgirl” ??
    Apakah kyu bner” bisa ngerubah sifat yoong ??? Omooo penasaraaan !!

  3. ai_evilligator says:

    ternyata blog eonni udah g hiatus lg, pas mampir ada ff baru lg, double deh seneng’a…he ><
    cerita'a bagus + menarik lg, jd bkin penasran sma kelanjutn'a…
    d tunggu next part'a… ^^

  4. neesstt says:

    Ya mskipun kyuhyun bnyak saingannya, tpi kn uda direstui sma appa ny yoona kkk ^^ ,, uaa bklan bnyak y chapter ny?? , klo gtu cpet dilanjut deh eonn🙂 ,)

  5. destyadella says:

    wahhh seru eonni ceritanya…
    kok appanya yoona seneng bgt ya kalo yoona eonni sama kyu oppa? akh kyu oppa juga sdkt agresif lg,jd makin seru ajah
    oh yaa eonni jgn lama” ya lanjutannya
    fighting ( ‘-‘)9

  6. Widya Choi says:

    Tu kan woobin bls dendam. Untung aj jongsuk g jd bpihak k woobin.
    Nah loh yoona lgsg d kasih lampu ijo tu am appany kalo pcran am kyu. Ayo kyu yg smangat y, taklukan yoona :p

  7. Shantynet_15 says:

    Aku kira ini bakalan END thor😄
    Sampai 1000 chapter juga gak papa, seperti sinetron Indo ‘tersanjung’ :p *Abaikan
    Ahh, lelet nih Kyuhyunnya tinggal Chup(?) apa susahnya sih *plak* -_-
    Next. Fighting! ^^

  8. Rin Cho says:

    kyaaa^^^ lanjut lanjut. udah penasaran bgt hehe. suka karakter yoona di sini. Author yang kece Lanjutkan secepatnya ya!!! keep writing^^

  9. wiranti says:

    Tuh kan woon bin opa balas dendam -_- semoga aja yoong berubah semenjak kehadiran kyupa. Hhehhe. Tp bener juga apa kata author , buat yoong jangan gampang jatuh cinta sama kyupa. Hehehehe. Di tunggu next nya thoorr

  10. sifatmi says:

    Sumpahhhhh gregetann bacanya hahha stuju sma ide authorr kyuhyun harus berkerja keras untuk ngedapatin yoona karna sainganya banyak sekali termasuk jongsuk oppa, pnasaran bangett next chapternya jeball ditunggu thor

  11. ipyasyfia says:

    Daebak! Kece banget karakternya yoona. Apalagi sikap kyuhyun maju terus pantang mundur. Keren!
    Sampe perguruan tibggi ya? Wah…. bisa-bisa nyaingin episodenya dramkor nih! Hehehe… Kalo bisa sampe marriednya ya….
    Sincerely-nya ditunggu lho! FIGHTING!

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s