My Wife’s Pregnant


my-wifes-cloverqua

My Wife’s Pregnant

Sequel of Happy News

by cloverqua | main casts Cho Kyuhyun – Im Yoona

support cast Lee Hyukjae

genre Comedy – Family – Romance | rating PG 17 | length Oneshot

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2015©cloverqua

[Poster by hipxteur]

 

“Kau baik-baik saja?”

Sang empunya suara itu menatap cemas ke arah istrinya—Yoona. Bagaimana tidak? Makan malam yang seharusnya terasa nikmat, justru tidak berlaku bagi wanita tersebut. Paras cantiknya kini terlihat pucat dan sedikit berkeringat.

Tanpa mengatakan apapun, Yoona mengangguk pelan. Tanda bahwa dirinya baik-baik saja dan tak ingin membuat suaminya—Kyuhyun, merasa khawatir. Sayang, kenyataannya wajah Yoona semakin terlihat pucat. Ia bahkan sampai menunduk dan tangannya meremas saputangan yang tersedia di meja. Jelas memperlihatkan kondisi Yoona tidak baik-baik saja.

“Yoong . . .”

Yoona menutup mulutnya, ketika rasa mual begitu terasa dalam perutnya.

“Maaf.” Sedetik kemudian, Yoona bangkit dan berlari menuju wastafel yang berada di dapur. Kyuhyun bisa mendengar suara Yoona saat wanita itu berusaha memuntahkan sesuatu. Kekhawatiran semakin menguasai dirinya. Pria itu hanya menghela nafas, merasa kasihan dengan kondisi sang istri yang tiap harinya selalu mengalami hal sama.

Kondisi itu berlangsung semenjak usia kandungan Yoona memasuki bulan ke-4. Yoona menjadi sering muntah karena rasa mual yang dirasa wajar pada ibu yang tengah hamil.

Kyuhyun berdiri dari kursi, kemudian berjalan menuju dapur untuk memastikan kondisi Yoona. Ia mendapati istrinya tengah membasuh mulut.

“Benar tidak apa-apa? Bagaimana jika kita pergi ke dokter?” tanya Kyuhyun cemas. Tangannya mengusap punggung Yoona saat wanita itu kembali siap untuk memuntahkan sesuatu.

Yoona kembali membasuh mulut, kemudian menggeleng pelan.

“Tidak perlu, Kyu. Kurasa ini wajar bagi seorang ibu yang tengah hamil,” jawabnya berusaha terlihat tenang di depan Kyuhyun.

“Tapi belakangan ini kau jadi sering muntah, berbeda dari sebelumnya. Hampir setiap hari kau seperti ini, Yoong,” ucap Kyuhyun. Suaranya terdengar berat karena sangat mencemaskan Yoona.

“Aku hanya khawatir dengan kondisi kesehatanmu dan juga buah hati kita,” lanjutnya.

Yoona terkekeh pelan. Sambil membasuh tangan, mata wanita itu melirik Kyuhyun yang berdiri di sebelahnya.

“Sungguh, Kyu. Aku tidak apa-apa,” jawabnya.

“Kau yakin?” tanya Kyuhyun lagi.

Yoona memutar tubuhnya, agar bisa berhadapan dengan Kyuhyun. Ia mengangguk pelan sambil memasang senyum terbaiknya. Namun, sedetik kemudian wajah Yoona kembali berubah pucat. Akhirnya ia kembali gagal mengendalikan diri. Yoona kembali muntah.

“Seperti ini kau bilang baik-baik saja?” Kyuhyun mendesis pelan.

Yoona kembali membasuh mulutnya, setelah merasa lebih baik. Ia melirik Kyuhyun yang menatapnya dengan raut kecemasan. Dalam kepalanya, berbagai analisa penyebab dirinya yang belakangan ini selalu muntah kembali muncul. Meskipun ia sendiri masih ragu untuk membenarkannya.

“Kyu, ada yang ingin kukatakan padamu,” ucap Yoona tiba-tiba.

Dahi Kyuhyun berkerut. Ia bingung kenapa Yoona tidak menatapnya, namun justru memandangi kaca yang ada di atas wastafel.

“Aku tidak tahu, apakah yang ada dalam pikiranku benar atau salah. Aku bahkan juga tidak enak mengatakannya padamu,” lanjut Yoona.

Kerutan di dahi Kyuhyun semakin kentara, “Apa yang sebenarnya kau bicarakan? Aku tidak mengerti, Yoong.”

Yoona terdiam sejenak, kemudian memposisikan tubuhnya agar berhadapan dengan Kyuhyun. Kini keduanya saling bertatapan satu sama lain, dengan raut wajah yang berbeda. Kyuhyun terlihat bingung sementara Yoona tampak menahan sesuatu.

“Aku tidak tahu—” Yoona menggigit bibir bagian bawahnya. “Kenapa setiap kali melihat wajhmu aku ingin muntah?”

“A—apa?” Kyuhyun terlalu shock dan hanya melongo di depan Yoona.

“Kyu, maaf . . .”

Sedetik kemudian, Yoona berbalik menghadap wastafel dan kembali muntah.

Apa maksudnya ini? Jadi, yang membuat Yoona selalu muntah seperti ini hanya karena melihat wajahku? batin Kyuhyun frustasi.

.

.

.

Yoona membuktikan ucapannya. Setiap kali bertatap muka dengan Kyuhyun, ia akan berlari menuju wastafel terdekat dalam rumahnya. Memuntahkan sesuatu yang biasa dilakukan kebanyakan ibu hamil. Hanya saja, Yoona memiliki perbedaan dengan mereka. Alasan yang membuatnya merasa muntah bukan karena aroma makanan atau minuman seperti pada umumnya.

Wajah Kyuhyun. Entah kenapa Yoona selalu muntah jika melihat wajah Kyuhyun. Sekuat tenaga ia berusaha menahan rasa mual. Tidak ingin melukai perasaan suaminya. Namun tetap tidak berhasil.

“Sudahlah, Yoong. Kau jangan menahannya lagi. Aku tidak apa-apa,” Kyuhyun mencoba menerima kebiasaan aneh istrinya ketika mengandung anak pertama mereka.

Sedetik kemudian, Yoona langsung melesat pergi dari ruang tengah. Meninggalkan Kyuhyun yang terdiam dengan wajah melasnya.

“Mimpi apa aku?” pikirnya sambil memijat kening. Bibirnya sedikit mengerucut, seiring desahan pelan yang keluar. Ia harus terbiasa dengan kebiasaan aneh Yoona, yang membuatnya harus kehilangan waktu untuk bermesraan dengan istrinya tersebut.

.

.

.

.

.

.

“Jujur saja, ini pertama kalinya aku mendengar kasus seperti yang kau alami.”

Kyuhyun mendongakkan kepala. Menatap pria yang baru saja datang ke ruang kerjanya.

“Apa pendapatmu, hyung?” tanya Kyuhyun dengan wajah frustasi. Pria yang dipanggilnya ‘hyung’ adalah sahabat, sekaligus rekan kerjanya—Lee Hyukjae. Tapi lebih senang dipanggil Eunhyuk.

“Kebanyakan wanita yang sedang hamil, merasa mual jika mereka mencium aroma sesuatu. Entah masakan, makanan, minuman atau semacamnya,” lanjut Eunhyuk. Sekarang pria itu mencoba bersikap cerdas di depan Kyuhyun. Wajah serius dengan tangan yang mengusap dagu berulang kali. Berlagak layaknya detektif yang sedang memecahkan kasus.

Hampir saja tawa Kyuhyun meledak. Sungguh apa yang dilakukan Eunhyuk, malah membuatnya geli. Bukannya terlihat cerdas, Eunhyuk justru tampak bodoh dan sok tahu.

“Kau belum menikah. Bagaimana kau bisa tahu soal hal itu, hyung?

Gurat kekesalan seketika muncul di wajah Eunhyuk. Terlebih saat mendengar tawa kecil Kyuhyun. Apa yang didengarnya jelas telah menyindir statusnya yang masih lajang.

“Ya! Aku tahu karena aku punya kakak perempuan yang sudah menikah dan punya anak!” Eunhyuk berteriak kesal sambil mengerucutkan bibirnya.

“Kau sengaja memamerkan kehidupan pernikahmu padaku yang masih berstatus lajang? Sungguh keterlaluan,” umpatnya lagi.

Sesuai perkiraan, Eunhyuk mengamuk tiap kali membahas statusnya yang masih lajang. Entah apa yang membuat pria itu tak segera mengakhiri kesendiriannya. Padahal usianya sudah mendekati 28 tahun.

“Aku hanya bercanda, hyung,” jawab Kyuhyun ringan. Senyum lebar masih terpatri di wajahnya yang semula terlihat kesal dan kini telah berganti dengan kegembiraan. Tampaknya, menjahili Eunhyuk adalah hobi yang harus dilakukan Kyuhyun tiap kali ia merasa kesal.

Eunhyuk mencibir reaksi santai Kyuhyun, “Berhentilah menjadikanku sebagai objek pelampiasan kekesalanmu.”

Kyuhyun terkekeh. Sedetik kemudian wajahnya kembali terlihat serius.

“Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Kyuhyun sedikit menggaruk kepala. Sesekali ia menunduk, tampaknya mulai lelah dengan kondisi yang dialami Yoona.

“Entah sampai kapan, kondisi Yoona seperti ini. Aku sangat merindukan saat di mana aku bisa menatap Yoona sepuasnya,” lanjutnya dengan desahan kecil.

Eunhyuk terdiam. Ia merotasikan bola matanya, tanda bahwa pria itu tengah berpikir keras mencari solusi.

“Aish, aku juga tidak tahu,” Eunhyuk pun menyerah sambil mengedikkan bahu. “Bagaimana—jika kau mengganti wajahmu saja?”

Kyuhyun melototi Eunhyuk, atas saran konyol yang baru saja keluar dari mulutnya.

“Kau gila, hyung. Untuk apa aku mengganti wajahku?” Kyuhyun menggeleng cepat, tidak setuju dengan pendapat Eunhyuk.

Eunhyuk terkekeh, “Hanya ini yang terlintas dalam kepalaku.”

“Aish, sudahlah!” Kyuhyun berteriak frustasi. “Aku yakin masalah ini tidak akan berlangsung lama. Apa menurutmu, dia akan selalu muntah sampai usia kandungannya 9 bulan? Kudengar dari eomma, ada masa tertentu di saat wanita yang sedang hamil mengalami muntah. Kebanyakan dari mereka juga mengidam sesuatu.”

Eunhyuk mengangguk-anggukan kepalanya. Kali ini memilih menjadi pendengar setia dari Kyuhyun. Ia pun turut sependapat dengan apa yang baru saja diucapkan pria itu.

“Jadi, apa saja yang sudah diminta Yoona selama masa ngidam?” tanya Eunhyuk penasaran. Ia tak tahu, kenapa dirinya selalu tertarik dengan kehidupan Kyuhyun dan Yoona. Bahkan sebelum kedua orang itu menikah.

Kyuhyun menggeleng, sedikit mengerutkan dahinya, “Belum ada, hyung. Selama 3 bulan awal kehamilan, dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya sering muntah begitu memasuki usia 4 bulan kandungan. Alasannya karena melihat wajahku.”

Bibir Eunhyuk kembali melengkung. Ingin rasanya ia tertawa terbahak mendengar kisah Kyuhyun. Ini pertama kalinya ia mendengar seorang ibu yang sedang hamil, justru muntah ketika melihat wajah suaminya sendiri.

DRRT!

Pembicaraan keduanya tersela oleh kerasnya dering ponsel Kyuhyun. Sang pemilik ponsel pun segera menghentikan pembicaraan. Memilih fokus terhadap panggilan masuk pada ponselnya. Ia tersenyum lebar, mengetahui nama Yoona tertera pada layar ponsel.

Ne, ada apa?” tanya Kyuhyun pada Yoona.

Eunhyuk hanya menatap Kyuhyun yang sedari tadi tersenyum tanpa henti. Ia terkekeh pelan, karena Kyuhyun berhasil membuatnya geli. Beberapa kali wajah Kyuhyun tampak ekspresif. Padahal lawan bicara di ponsel sama sekali tidak melihatnya.

“Baiklah, akan kusampaikan padanya. Sampai jumpa nanti malam,” Kyuhyun segera mengakhiri pembicaraan setelah Yoona menyampaikan sesuatu.

“Ada apa?” Eunhyuk mengerutkan dahinya. Penasaran dengan obrolan Kyuhyun dan Yoona.

Kyuhyun masih memandangi layar ponselnya, “Yoona mengajakmu untuk makan malam bersama di rumah kami.”

“Eh?” Eunhyuk melongo kaget. “Jinjja?

Anggukan pelan Kyuhyun membuat Eunhyuk terdiam, bingung.

“Kau bisa datang kan, hyung?” tanya Kyuhyun lagi, memastikan.

Eunhyuk mengangguk pelan. Tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya.

“Kenapa dia tiba-tiba mengajakku untuk makan malam bersama kalian? Tidak biasanya,” tutur Eunhyuk.

“Entahlah, aku juga tidak tahu. Kuharap kau tidak melakukan hal buruk saat makan malam nanti,” timpal Kyuhyun sambil memicingkan matanya.

“Ya! Apa maksud ucapanmu?!”

Belum selesai Eunhyuk mengeluarkan kata-kata protesnya, Kyuhyun sudah tertawa terbahak melihat ekspresi wajahnya.

.

.

.

Yoona mengamati meja makan yang kini sudah dipenuhi berbagai hidangan lezat untuk makan malam. Ia tersenyum puas dengan hasil masakan yang baru saja selesai dibuatnya. Tangannya bergerak melepas apron yang melekat di tubuhnya. Ia pun bersiap-siap mengganti pakaian untuk menyambut kedatangan Kyuhyun dan Eunhyuk.

Kini Yoona sudah duduk di depan kaca rias. Sengaja ia memoles wajahnya dengan make up natural. Ia bahkan juga menyisiri rambutnya agar terlihat rapi. Sesaat mata Yoona melihat foto pernikahannya dengan Kyuhyun yang terpantul dari kaca rias. Yoona lekas berdiri lalu berjalan mendekati foto besar yang dipajang di salah satu sudut ruang.

Mata Yoona menelisik satu per satu bagian wajah Kyuhyun. Suaminya itu terlihat tampan dengan setelan tuxedo berwarna hitam dengan dalaman kemeja putih. Bibirnya kembali melengkung. Sementara tangannya perlahan mengusap perutnya yang kini terlihat membesar dibanding sebelumnya.

Sedetik kemudian, lagi-lagi Yoona merasakan mual. Ia berjalan cepat menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar.

Aigo, kenapa aku selalu muntah jika melihat wajah Kyuhyun? Entah itu secara langsung atau hanya melalui foto,” desis Yoona bingung. Ia membasuh mulutnya kemudian mengusap pelan perutnya.

“Anakku, apa yang sebenarnya kau inginkan, eoh? Tidakkah kau kasihan dengan ayahmu yang tersiksa karena kami tidak bisa saling bertatapan?” ucapnya berinteraksi dengan bayi dalam kandungannya. Sudut bibirnya sedikit tertarik. Ia sendiri merasa geli sekaligus bersalah pada Kyuhyun. Tapi mau bagaimana lagi. Kondisi itu bawaan dari anak dalam kandungannya dan Yoona tidak bisa mengelaknya.

TING! TONG!

Yoona terkesiap saat mendengar suara bel rumah. Ia pun bergegas keluar dari kamar lalu berjalan menuju pintu rumah. Ditariknya kenop pintu hingga memperlihatkan dua sosok pria yang masih mengenakan setelan jas lengkap. Wajah keduanya tampak lelah, usai bekerja selama seharian.

“Oh, kau sudah pulang,” ucap Yoona pada Kyuhyun. Ia langsung mengalihkan matanya agar tidak bertatapan dengan Kyuhyun. Yoona memilih untuk melihat Eunhyuk yang berdiri di sebelah suaminya.

Oppa, sudah lama kau tidak datang ke sini,” teriak Yoona senang. Kedua tangannya langsung melingkar di sekitar pinggang Eunhyuk. Membuat pria itu terkesiap. Sekaligus membuat Kyuhyun membulatkan matanya, terlalu kaget dengan apa yang dilakukan istrinya.

SET!

Kyuhyun lekas menarik Yoona agar wanita itu berpindah di dekatnya. Wajahnya merah padam dengan mata yang sedikit melotot. Dahinya berkerut, tanda bahwa ia tak suka dengan apa yang baru saja dilakukan Yoona.

“Apa yang kau lakukan?” desis Kyuhyun.

Yoona terdiam sejenak. Wajahnya terlihat datar dengan pandangan yang terus tertuju pada Eunhyuk.

“Ya! Kenapa kau tidak mau melihatku?” Kyuhyun tampaknya lupa tentang kondisi Yoona. Selalu muntah jika melihatnya. Kemarahan sudah menguasai dirinya, karena Yoona terlihat lebih memperhatikan Eunhyuk dibanding dirinya.

“Kau lupa? Aku akan muntah jika melihat wajahmu. Karena itu aku tidak melihatmu,” jawab Yoona sepelan mungkin. Tapi Eunhyuk tetap berhasil mendengarnya.

“Dan kau memilih melihatnya?” Jari telunjuk Kyuhyun langsung menunjuk Eunhyuk yang sedari memperhatikan mereka. “Kau bahkan langsung memeluknya lebih dulu daripada aku, Yoong.”

Oh, lihatlah wajah Kyuhyun sekarang. Tampaknya pria itu tengah terbakar api cemburu. Kewibawaan yang selama ini melekat pada dirinya, luntur seketika. Kyuhyun terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk.

“Maafkan aku, Kyu. Apa yang kulakukan barusan, itu refleks. Kurasa karena aku sedang mengidam sekarang,” lanjut Yoona, berupaya menenangkan emosi suaminya.

Kyuhyun menaikkan salah satu alisnya, “Memangnya kau mengidam apa, Yoong?”

Hening. Dua pria itu saling memandang dan menunggu Yoona untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun. Wanita itu hanya terkekeh sambil menunduk. Jari telunjuknya bergerak perlahan dan mengarah pada Eunhyuk.

“Eunhyuk-oppa. Itulah alasan kenapa aku mengundang Eunhyuk-oppa datang ke sini. Tiba-tiba saja aku ingin bertemu dan melihatnya, juga memberikan perhatian untuknya,” jawab Yoona sambil tersenyum lebar.

“APA?” Kyuhyun dan Eunhyuk berteriak kaget.

Kajja, oppa . . .” ajak Yoona sambil menarik lengan Eunhyuk, mengajaknya masuk ke dalam rumah. Sementara Kyuhyun, ia persis seperti pria yang dicampakkan. Cemburu? Sudah jelas. Tapi ia hanya bisa melihat istrinya bergelayut manja pada Eunhyuk, tanpa berkomentar apapun.

.

.

.

Suasana makan malam yang menyenangkan, itulah yang diharapkan Kyuhyun. Sayang, pria itu harus betah melihat istrinya memberikan perhatian pada pria lain. Kalau saja Kyuhyun bisa menolak, sudah ia lakukan sejak Eunhyuk datang ke rumahnya. Tapi, setiap kali mengingat apa yang dilakukan istrinya terkait masa ngidam, Kyuhyun hanya bisa menonton dan memilih melahap makanannya secara brutal.

Oppa, kau mau makan lauk ini?” tanya Yoona menawari Eunhyuk.

Eunhyuk tersenyum miris menanggapi perlakuan Yoona. Sejujurnya ia merasa tak enak pada Kyuhyun. Ia sadar betul jika sahabatnya itu tengah dibakar api cemburu.

Oppa?

Eunhyuk terkesiap saat Yoona kembali memanggilnya. Pria itu hanya menganggukan kepalanya, tanpa berkata apapun. Membiarkan Yoona melayaninya dengan begitu baik. Entah bagaimana perasaan itu tiba-tiba muncul. Eunhyuk merasa seperti dilayani oleh seorang istri.

“Te—terima kasih,” Eunhyuk sangat gugup menanggapi perhatian yang diberikan Yoona. Matanya melirik sekilas ke arah Kyuhyun. Ia bisa melihat tatapan tajam menusuk dari Kyuhyun. Seolah berkata ‘Awas kau!’

Eunhyuk menelan saliva-nya. Situasi tak nyaman itu justru membuatnya tak bisa menikmati hidangan yang sebenarnya terasa lezat.

“Oh, oppa, ada butir nasi yang menempel,” seru Yoona.

Eunhyuk hanya menaikkan salah satu alisnya. Lalu berusaha mengambil butir nasi yang dimaksud Yoona. Karena ia tidak bisa melihat letak persisnya, pria itu belum berhasil mengambilnya.

“Di sini, oppa . . .”

Kyuhyun membelalakkan matanya, ketika melihat tangan Yoona menyentuh sudut bibir Eunhyuk. Kemarahan pria itu tak bisa ditahan lagi. Kyuhyun sudah mencapai batas kesabarannya.

TRANG!

Terdengar suara cukup keras saat Kyuhyun membanting peralatan makan di atas piringnya. Pria itu segera bangkit lalu berjalan keluar meninggalkan ruang makan. Tanpa sepatah katapun dan sukses membuat Yoona serta Eunhyuk menoleh kaget ke arahnya.

Yoona menunduk, bersamaan desahan nafas pelan yang keluar dari sela-sela bibirnya. Ia sadar, sikapnya telah membuat Kyuhyun marah besar.

Oppa, maaf,” ucap Yoona singkat. Tanpa senyum dan hanya dengan wajahnya yang datar.

Eunhyuk terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Yoona dengan teliti. Ia menangkap gurat kesedihan pada wanita itu. Sedetik kemudian, Eunhyuk mencoba tersenyum untuk Yoona. Dengan tujuan agar wanita itu tak lagi merasa sedih atau terlalu banyak pikiran. Hal ini akan mempengaruhi kondisi kehamilannya.

“Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti jika Kyuhyun bersikap seperti itu,” ujar Eunhyuk. Ia meraih gelas lalu meneguk air untuk diminumnya.

“Jika aku berada di posisinya, aku juga akan marah, melihat istriku sendiri justru memberi perhatian pada pria lain,” lanjut Eunhyuk sambil terkekeh.

Bibir Yoona melengkung tanpa sadar. Lalu berganti menjadi tawa kecil. Reaksinya itu pun mengundang tawa bagi Eunhyuk. Keduanya justru tertawa bersama mengingat kejadian konyol yang dialami Yoona, selama masa awal kehamilannya. Mulai dari kebiasaan muntahnya tiap kali melihat wajah Kyuhyun. Sekarang, Yoona justru ingin sekali memberikan perhatiannya pada Eunhyuk, yang notabene adalah sahabat Kyuhyun sendiri.

Tangan Eunhyuk bergerak ke arah perut Yoona. Tanpa meminta izin Yoona terlebih dahulu, Eunhyuk langsung mengusap perut Yoona dengan lembut.

“Apa kau sudah puas mengerjai ayahmu?” tanya Eunhyuk. Yoona tersenyum geli mendengar pertanyaan yang dilontarkannya.

“Kau tidak kasihan pada orang tuamu? Mereka jadi tidak bisa bermesraan,” lanjut Eunhyuk diiringi tawa Yoona. Eunhyuk pun turut tertawa bersama Yoona.

.

.

.

Eunhyuk sudah mengenakan coat saat bersiap pergi meninggalkan rumah Kyuhyun dan Yoona. Makan malam bersama mereka baru saja berakhir. Sedari tadi Yoona terus mengumbar senyum, tapi tidak dengan Kyuhyun. Wajah pria itu tertekuk, memperlihatkan betapa suasana hatinya sangat tidak baik.

“Terima kasih untuk makan malamnya,” ucap Eunhyuk pada Kyuhyun dan Yoona. Ia tersenyum ke arah Yoona, lalu berganti pada Kyuhyun meskipun hanya dibalas ekpsresi kesal oleh sahabatnya tersebut.

“Masuklah, Yoong. Aku akan mengantar Eunhyuk-hyung sampai depan,” titah Kyuhyun, dengan nada suara yang begitu dingin.

Ne,” jawab Yoona singkat lalu membungkuk pada Eunhyuk, sebelum masuk ke rumahnya.

Kajja, hyung,” ajak Kyuhyun yang memilih jalan mendahului Eunhyuk. Sikapnya itu hanya bisa ditanggapi tawa oleh Eunhyuk.

Kyuhyun dan Eunhyuk berjalan menuju mobil Eunhyuk yang terparkir di depan rumah.

“Aku pamit,” ucap Eunhyuk sambil membuka pintu mobilnya. Kyuhyun hanya membalasnya dengan anggukan pelan.

Tanpa diduga, Eunhyuk menutup kembali pintu mobilnya. Ia bermaksud menenangkan suasana hati Kyuhyun sebelum pergi.

“Maaf, jika kedatanganku justru membuat suasana hatimu buruk, Kyu,” ucap Eunhyuk seraya tersenyum.

Kyuhyun terdiam sejenak. Tidak seharusnya ia begitu marah pada Eunhyuk. Apa yang dilakukan Yoona bukanlah kemauannya sendiri, melainkan bawaan dari anak mereka yang berada dalam kandungan Yoona.

Kyuhyun menghela nafas, sembari memijat keningnya, “Ini bukan salahmu, hyung. Aku hanya tidak bisa mengendalikan emosiku, maaf.”

“Tak apa. Wajar saja jika kau marah. Suami mana yang tidak tahan jika istrinya memberikan perhatian pada pria lain?” Eunhyuk tertawa cukup keras. Kepribadiannya yang dikenal sebagai moodmaker, nyatanya ampuh membuat Kyuhyun tersenyum. Walaupun hanya sekedar senyuman tipis.

“Aku jadi ingat sesuatu,” ucap Eunhyuk tiba-tiba. Ia lalu memasang wajah jahil dan tersenyum lebar ke arah Kyuhyun.

“Dulu, kau pernah mengatai wajahku jelek. Sekarang, saat Yoona mengandung anak kalian, dia justru muntah setiap kali melihat wajahmu. Bahkan Yoona mengidam untuk memberikan perhatian padaku. Mungkinkah, ini karma untukmu?”

Seperti ada palu besar yang langsung memukul kepala Kyuhyun. Tubuhnya seketika mematung, bahkan Kyuhyun tak mengatakan apapun lantaran menyadari kesalahan yang pernah dilakukannya.

“Kyu?” Eunhyuk mengerutkan dahinya saat mendapati Kyuhyun menatapnya dengan ekpsresi shock.

“Sepertinya—kau benar, hyung,” Kyuhyun menundukkan kepalanya. Ia merasa malu pada Eunhyuk, juga pada dirinya sendiri.

“Maafkan aku,” lanjut Kyuhyun.

Tangan Eunhyuk menepuk pelan bahu Kyuhyun, “Sudahlah, tidak apa-apa. Jangan terlalu kau pikirkan. Aku sudah memaafkanmu.”

“Aish, bodohnya aku. Kenapa aku tidak menyadarinya?” runtuk Kyuhyun sambil memukuli keningnya.

“Meskipun aku kasihan dengan kondisimu ini, aku senang karena anakmu sudah membalaskan rasa kesalku. Setiap kali kau mengatai wajahku jelek,” Eunhyuk tertawa lepas usai mengatakan rentetan kalimat tersebut.

Hyung . . .” Kyuhyun merengek keras karena tawa Eunhyuk yang tak kunjung berhenti.

Eunhyuk menghentikan tawanya, lalu berdeham pelan. Ia kembali memasang senyum lebar di wajahnya.

“Sudah ya, aku pamit. Semoga Yoona tidak lagi muntah jika melihat wajahmu,” Eunhyuk kembali tertawa saat pria itu hendak masuk ke mobilnya.

Kyuhyun hanya mengerucutkan bibirnya dan mendengus kesal. Namun wajahnya kesalnya langsung berganti senyum saat mobil Eunhyuk mulai melaju pelan meninggalkannya. Ia membalas lambaian tangan Eunhyuk, sebelum masuk ke dalam rumah.

“Ya, semoga saja,” Kyuhyun mengiyakan pesan terakhir yang diucapkan Eunhyuk. Lalu mengingat kembali kesalahan yang pernah dibuatnya dulu, saat ia begitu senang mengejek wajah Eunhyuk. Jika dihubungkan dengan kondisi Yoona sekarang, sepertinya ini memang karma yang harus diterima Kyuhyun.

.

.

.

KLEK!

Yoona baru saja keluar dari kamar mandi. Ia terlihat sudah mengganti pakaiannya. Mata wanita itu langsung menangkap Kyuhyun yang sudah duduk di ranjang. Sesaat wajah Yoona terlihat kaget, karena ia tidak mengetahui kapan Kyuhyun kembali ke kamar.

Saat ini, Yoona hanya bisa melihat punggung pria itu. Tampaknya, sang suami sengaja duduk membelakanginya.

Yoona menghela nafas, sambil mengusap perutnya. Ia tahu, Kyuhyun marah besar terhadapnya. Tanpa perlu menanyakan penyebabnya, Yoona juga sudah tahu. Tidak lain adalah kejadian saat makan malam tadi.

“Kyu?”

Tak ada suara yang terdengar untuk menjawab panggilan Yoona.

“Kyu?” Yoona mengulang lagi panggilannya. Kali ini terdengar sangat lembut. Ia bahkan sudah duduk di belakang Kyuhyun. Tangannya perlahan mengusap pelan bahu Kyuhyun yang terasa menegang.

“Kau marah padaku?” tanya Yoona lagi.

Kyuhyun menggeleng pelan, “Tidak. Aku marah pada diriku sendiri.”

Dahi Yoona berkerut, tanda bahwa ia tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan Kyuhyun. Karena penasaran, Yoona berpindah posisi. Kini ia sudah duduk di depan Kyuhyun, pada sofa yang letaknya berdekatan dengan ranjang mereka.

“Marah pada dirimu sendiri? Kenapa?” cecar Yoona penasaran.

Kyuhyun tersenyum tipis, “Karena kesalahanku, aku harus menerima perlakuan konyol darimu.”

Kerutan di dahi Yoona semakin kentara. Ia hanya duduk dengan tatapan kosongnya ke arah Kyuhyun.

“Sudahlah, yang penting sekarang—” Kalimat Kyuhyun mendadak terhenti, ketika pria itu menyadari bahwa Yoona sedari tadi memandanginya.

Yoona kembali mengerutkan dahinya, saat Kyuhyun justru memandanginya secara intens.

“Kyu?”

“Yoong, apa—kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun ragu.

Yoona mengangguk yakin, “Ne, aku baik-baik saja. Kenapa?”

“Kau tidak merasa mual? Sedari tadi kau memandangiku kan?” tanya Kyuhyun lagi. Tangannya bahkan mengusap wajah Yoona dan istrinya tersebut tetap bersikap tenang.

Hening. Yoona terlihat begitu menggemaskan dengan wajah polosnya. Matanya perlahan membulat sempurna, ketika berhasil menyadari sesuatu.

“Eh, kau benar. Aku tidak merasa mual saat memandangimu. Itu artinya—”

“Artinya kita bisa saling bertatapan dan melakukan hal seperti biasa?”

Yoona mengangguk pelan, dengan senyum manis yang terpatri di wajahnya. Sedetik kemudian terdengar teriakan keras dari Kyuhyun, bersamaan pelukan erat yang diberikan pria itu pada Yoona.

“Aku senang sekali, Yoong. Akhirnya aku bisa terbebas juga dari penderitaan ini,” seru Kyuhyun senang. Begitu senangnya ia sampai mendaratkan kecupan berulang kali di pipi dan kening Yoona.

Yoona tersenyum geli mendengar kata ‘penderitaan’ yang meluncur bebas dari mulut Kyuhyun. Suaminya itu terlihat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah besar.

Daebak, bagaimana rasa mual ini tiba-tiba menghilang?” pikir Yoona sambil mengusap perutnya. Hal yang sama juga dilakukan Kyuhyun. Ia juga mengecup perut Yoona, seolah ingin berterima kasih pada anak mereka.

“Sepertinya karena Eunhyuk-oppa tadi mengusap perutku,” lanjut Yoona. “Dia bertanya pada anak kita, apakah sudah puas mengerjai ayahnya?”

“Benarkah?” Kyuhyun terkejut mengetahui Eunhyuk mengusap perut Yoona. Sempat ada rasa kesal yang menghinggapi Kyuhyun. Tapi, hal itu tidak lagi menjadi masalah karena ia merasa sangat senang. Yoona tidak lagi muntah jika melihat wajahnya. Mungkin, karma untuknya sudah berakhir. Jadi, ia bisa menikmati kembali moment romantis yang selalu dilakukannya bersama Yoona.

“Untuk merayakannya, bagaimana jika besok malam kita makan bersama di restoran? Sudah lama kan kita tidak pergi bersama?” tawar Kyuhyun antusias.

Yoona mengangguk semangat, “Ne, aku mau. Ajak Siwon-oppa juga ya?”

Hening.

Senyum Kyuhyun langsung hilang saat mendengar nama ‘Siwon’ keluar dari mulut Yoona. Pria yang tidak lain adalah sepupunya.

“Siwon-hyung? Untuk apa kita mengajaknya?” tanya Kyuhyun mulai panik. Meskipun begitu, ia berusaha bersikap setenang mungkin.

Yoona terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia tersenyum lebar sambil memamerkan giginya yang berjejer rapi. Tangan kanannya langsung menunjuk ke arah perut.

“Kali ini—aku mengidam Siwon-oppa. Aku ingin bertemu dan menghabiskan makan malam bersamanya,” lanjut Yoona dengan senyum lebar di wajahnya.

Kyuhyun mematung. Kebahagiaan yang dirasakannya langsung terganti dengan kemalangan yang siap menghampirinya kembali. Apalagi jika mengingat kasus yang serupa dengan Eunhyuk. Kyuhyun ingat, ia sempat menganggap bahwa dirinya lebih tampan dari Siwon. Apakah—karma untuk Kyuhyun belum berakhir?

“Hanya Siwon-hyung saja kan?” Kyuhyun bertanya dengan nada melas.

Yoona mengangguk, “Untuk besok malam, hanya Siwon-oppa. Tapi, selanjutnya aku ingin makan malam bersama juga dengan Sehun. Berikutnya Chanyeol, lalu masih ada Donghae-oppa, Minho, Kai dan—”

BRUK!

Yoona terkesiap saat mendengar suara keras yang menghentikan kalimatnya. Ia memandangi sekeliling dan tidak melihat Kyuhyun di depannya. Mata Yoona langsung membulat sempurna ketika mendapati suaminya sudah jatuh terkapar di lantai. Kyuhyun tampak memprihatinkan. Tatapannya kosong dengan wajahnya yang terlihat shock.

“Kyu, kau kenapa? Kyu?” Yoona panik dan mengguncang-guncangkan tubuh Kyuhyun, tapi tetap tak ada reaksi.

Kyuhyun hanya tertawa miris dengan posisinya yang masih berbaring di lantai. Kepalanya sekarang dipenuhi bayang-bayang makan malam bersamanya dengan Yoona, yang harus dihadiri para pria yang telah disebutkan oleh istrinya itu. Sepertinya—Kyuhyun harus bersabar lebih keras menghadapi masa ngidam Yoona, yaitu ingin makan malam bersama dengan pria-pria yang pernah menyukai istrinya tersebut.

-THE END-

A/N : Ini sequel dari Happy News. Kalau di FF sebelumnya, Kyuhyun dan Yoona bermesraan terus. Di sini aku buat Kyuhyun justru merana karena acara ngidam Yoona *senyum evil* maaf ya kyu, hehe😄

Untuk 6 bulan ke depan, mungkin aku bakal jarang publish FF. Soalnya mau fokus total sama skripsi. Sebelum-sebelumnya mau fokus, tapi ada aja godaannya, hehe. Mohon pengertiannya ya. Tenang aja, FF-nya akan tetap dilanjut kok. Tapi, mungkin dalam waktu yang cukup lama, maaf *bow*

Terima kasih sudah membaca😉❤

 

47 thoughts on “My Wife’s Pregnant

  1. syalala says:

    yaaaaahhhh aku malah baca ini duluan taunya ini sequel toh heheh maklum readers baru jd gatau mana aja yg harus dibaca dulu hehehe btwwww ini ceritanya lucu banget hahaj bisa2nya begitu, malah kan kalo hamil enakan manja2an sama suami hahahaha tp kyuhyum sabar bgtttt loh walaupun terakhirnya terkapar cuma karena baru ngebayangin doang hahah kocak abisss ngalak lah aku baca endingnya jahahahaha lanjut duluuu baca yg lain hehehe

  2. Ana29 says:

    Ahaha sakit ye bang? Karma tu nganggep diri lo ganteng sendiri. Keren eonni, mau baca before story dulu deh😀

  3. Widya Choi says:

    Wkwkwk ksian bgt kyu,, nympe bininy mual2 gt liat wjah suaminy. Lain kali muka ny d umpetin dlm helm dlu oppa, biar yoona ny g muntah2 trz :p ..
    Haha kirain pndrtaan kyu udh slsai, tnyt msh akan blanjut. Y udah met mnikmti aj y oppa

  4. pinkphire says:

    AAAAAA SENENG BANGET KETEMU WP INI LAGII<3333 aku udah tau wp ini dari 2013 terus aku jadi jarang baca ff lagi dan pas aku lagi suka baca ff lagi tahun 2014 awal, aku nemunya malah yoongexo, jadi aku lanjut baca yoongexo aja. Eh dari yoongexo ketemu wp ini lagii♡♡♡♡♡ kangen banget sumpaaahhh=)) otidak sifat musketeer ku kambuh lagi♡♡♡♡♡

  5. destyadella says:

    akhirnya author yg paling kece comeback juga hehe..
    wahh lucu banget, kalo ada yg nyata kaya gitu suaminya harus mestii sabar tuhh wkwk… semangat ya eonni buat skripsinya semoga lancar..😉;)
    fighting!!

  6. Chogyuyoong says:

    nah loe…. s kynhyun kena karma….
    gmna klo d khidupan nyata nya ntar kyk gtu ya…. s kyu kn suka ngejahilin hyung nya d suju…

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s