Secret Admirer [1]


secret-admirer

Secret Admirer

by cloverqua | main casts Cho Kyuhyun – Im Yoona

support casts Lee Hyukjae – Choi Siwon and others

genre Campus Life – Romance | rating PG 15 | length Chaptered

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2015©cloverqua

[Poster by bekey @ CafePoster]

 

“KYAAA … OPPA!”

Jeritan histeris terdengar dari segerombol gadis yang berdiri di tepi lapangan basket. Ketiga pemuda yang tengah bermain basket dengan pemuda lain menjadi alasan utama para gadis itu mengerumuni lapangan basket. Mereka tak peduli suara keras yang mereka timbulkan mampu menyedot perhatian seluruh penghuni Universitas Kyunghee, asalkan bisa melihat ketiga pemuda yang menyandang predikat mahasiswa populer.

Cho Kyuhyun, Lee Hyukjae, dan Choi Siwon adalah ketiga pemuda yang tengah digandrungi para gadis di kampus mereka. Mereka berstatus sebagai mahasiswa tingkat dua di jurusan Digital and Art Design, Universitas Kyunghee yang berlokasi di Suwon. Sejak tampil dalam acara pensi yang dikhususkan untuk mahasiswa baru di tahun pertama kuliah mereka, ketiganya menjelma menjadi mahasiswa populer di kampus tersebut. Aksi panggung mereka begitu memukai, hingga mampu membuat histeris semua orang yang menyaksikan pertunjukan mereka, terutama para gadis. Layaknya seorang idola, mereka bahkan mempunyai penggemar masing-masing yang senantiasa mengikuti ke manapun mereka pergi.

“Terima kasih,” Hyukjae tergolong orang yang begitu mudah menerima hadiah pemberian para penggemar mereka, baik berupa makanan ataupun minuman. Usai bermain basket, pemuda itu akan menghampiri gadis-gadis yang sudah menunggu mereka hingga berjam-jam, demi menyerahkan hadiah yang sengaja dibawa untuk ketiganya.

Siwon menatap Hyukjae dengan geli, saat pemuda itu tampak kesulitan membawa beberapa kotak bekal dan botol minuman. Sementara Kyuhyun memilih memandang ke arah lain, tepatnya pada sosok gadis yang tengah berjalan menuju arah perpustakaan.

“Apa yang sedang kau lihat, Kyu?” suara Hyukjae berhasil mengalihkan perhatian Kyuhyun.

Kyuhyun melirik sekilas pada Hyukjae dan Siwon. Kedua sahabatnya itu sudah asyik menikmati makanan dan minuman, bersama pemuda lainnya yang turut bermain basket dengan mereka. “Bukan apa-apa,” jawabnya seraya meraih satu botol minuman lalu meneguk air tersebut hingga setengahnya.

Hyukjae menjadi penasaran ketika Kyuhyun kembali memperhatikan arah lain. Mata Hyukjae terlihat lebih sipit dari biasanya, seolah sedang berusaha mencari sesuatu yang menjadi perhatian Kyuhyun.

“Hei, bukankah dia Im Yoona? Gadis pendiam dari kelas B?” Hyukjae menyikut lengan Siwon agar pemuda itu mengikuti arah pandangannya. “Kau sedang melihat gadis itu, Kyu?” Hyukjae spontan melontarkan pernyataan pada Kyuhyun. Seringaiannya terlihat ketika menyadari jika seorang gadislah yang tengah menjadi perhatian Kyuhyun.

“Siapa bilang aku sedang melihatnya,” Kyuhyun menyanggah dugaan Hyukjae sambil menghabiskan minumannya.

“Sudahlah, mengaku saja,” Hyukjae memukul pelan pundak Kyuhyun. “Menurutku dia memiliki paras yang cantik. Sayangnya, dia terlalu pendiam untuk dijadikan teman,” lanjut Hyukjae dengan melahap satu potongan sushi.

Siwon tersenyum geli melihat ekspresi kecewa Hyukjae, “Kau ingin berteman dengannya? Tanyakan saja pada Jinri. Bukankah gadis itu satu-satunya orang yang berhasil menjadi teman Yoona?”

“Benarkah? Jinri berteman dekat dengan Yoona?” mata Hyukjae melebar, “Wah, kenapa kau tidak mengatakannya padaku, Kyu?”

Bibir Kyuhyun beringsut, “Kenapa kau menyalahkanku? Jinri saja tidak pernah bercerita padaku.”

“Kau sepupunya. Mana mungkin Jinri tidak pernah menceritakan soal Yoona padamu?” cecar Hyukjae curiga.

“Memang tidak pernah,” pungkas Kyuhyun. Ia berdiri dari posisi semula, kemudian mengambil tasnya yang berada di dekat Siwon. Tanpa sepatah katapun, Kyuhyun meninggalkan area lapangan basket.

“Kau mau ke mana?” Hyukjae berteriak karena kepergian Kyuhyun secara tiba-tiba.

Siwon menahan tawanya yang nyaris meledak, “Kau membuatnya marah. Makanya dia pergi.”

Selanjutnya hanya terlihat wajah Hyukjae yang mendengus kesal karena disalahkan atas kepergian Kyuhyun.

//

Jelang jam makan siang, perpustakaan Universitas Kyunghee selalu dipenuhi oleh pengunjung yang sebagian besar adalah mahasiswa yang berkuliah di sana. Perpustakaan yang terkenal akan keindahan bangunan dan banyaknya buku yang disediakan, selalu menjadi daya tarik tersendiri dari Universitas Kyunghee.

Salah satu yang senang mengunjungi perpustakaan ini adalah Im Yoona, gadis yang berstatus sebagai mahasiswi jurusan Digital and Art Design. Ia selalu menghabiskan waktu senggangnya di perpustakaan. Tidak hanya untuk mengerjakan tugas kuliah, tapi untuk mengisi kegiatan selagi menunggu jam kuliah selanjutnya.

Yoona berjalan menyisiri deretan rak buku yang berjejer rapi. Ia tengah mencari buku referensi terkait materi salah satu mata kuliahnya.

“Itu dia,” ia bergumam pelan setelah berhasil menemukan buku yang dicari.

SET!

Tiba-tiba Yoona merasakan sentuhan tangan seseorang yang mendahuluinya meraih buku tersebut. Gadis itu menoleh ke samping dan ia mendapati Kyuhyun sudah berdiri di sebelahnya. Ia memang berbeda kelas dengan pemuda itu, tapi Yoona mengetahui sosok Kyuhyun dari Choi Jinri—sepupu Kyuhyun yang merupakan teman sekelas Yoona, bahkan sudah menjadi teman dekatnya. Yoona juga tahu jika Kyuhyun adalah mahasiswa populer di kampus mereka, bersama Hyukjae dan Siwon.

“Kau ingin meminjamnya juga?” Kyuhyun bertanya pada Yoona ketika menyadari gadis itu terus memandanginya.

Yoona menggeleng pelan, “Tidak, aku bisa mencari buku lain.” Ia kemudian berjalan melewati Kyuhyun untuk mencari buku lain dengan materi yang tidak jauh berbeda dari buku tersebut.

“Kalau kau mau, aku akan meminjamkannya padamu begitu aku selesai membacanya,” tawaran Kyuhyun membuat langkah Yoona terhenti. Gadis itu memutar tubuhnya dan kembali menghadap Kyuhyun.

“Kau tidak mau?” Kyuhyun mengulang pertanyaannya karena Yoona tidak memberikan respon. Gadis itu bungkam dan menghadiahi sorot mata bingung pada Kyuhyun.

Sekian detik, Yoona tak kunjung memberikan respon, sebelum akhirnya gadis itu menjawab, “Terserah kau saja.”

Kyuhyun menganggukan-anggukan kepala, tanda sedang mempertimbangkan jawaban yang diberikan Yoona. “Baiklah, nanti akan kupinjamkan padamu setelah selesai membacanya,” jawabnya tetap pada tawaran pertama. Kyuhyun berjalan melewati Yoona yang masih menatapnya. Kerutan di dahi gadis itu kian kentara.

“Rupanya kau di sini,” Yoona menoleh saat mendengar suara yang membuyarkan lamunannya. Ia mendapati Jinri sudah berjalan menghampirinya. Gadis yang memiliki rambut sebahu itu terlihat memamerkan giginya yang rapi. Kontan saja sikap Jinri membuat Yoona menautkan kedua alisnya. Seperti sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan Jinri selanjutnya.

“Kau sudah mengerjakan tugas dari Dosen Han?” tepat dugaan Yoona, Jinri datang menemuinya untuk membahas tugas kuliah mereka. Sebelum Jinri mengutarakan niatnya lebih jelas, Yoona sudah menebak jika gadis itu belum mengerjakan tugas dan hendak meminta bantuan Yoona untuk mengajarinya.

“Kau ingin aku mengajarimu supaya tugas kuliahmu segera selesai?”

Jinri tersenyum lebar dan tanpa malu menganggukan kepalanya, “Kau memang teman terbaikku.” Satu kalimat yang sering diucapkan Jinri setelah berhasil membujuk Yoona untuk membantunya mengerjakan tugas kuliah.

Jinri menjadi satu-satunya orang yang bisa berteman dekat dengan Yoona yang notabene dikenal sebagai gadis pendiam di kampus mereka. Salah satu yang membuat Jinri tertarik dengan Yoona adalah kecerdasan yang dimiliki gadis itu. Jinri sudah mengamatinya dari reaksi Yoona yang begitu cepat dalam menerima materi setiap mata kuliah. Jinri juga bisa melihat jika Yoona adalah sosok yang baik. Namun setiap kali melihat sorot mata Yoona, Jinri menangkap ketakutan yang begitu besar dalam diri Yoona. Gadis itu seperti sengaja menarik diri dari kehidupan sosial.

Jinri menjadi penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada Yoona. Ia rela melakukan apa saja agar bisa berteman dengan Yoona. Berulang kali Yoona menghindar, Jinri pantang menyerah dan terus mendekatinya. Ketulusan yang ada dalam Jinri itulah yang membuat Yoona luluh dan akhirnya mau berteman dengan Jinri.

Dari pertemanan yang mulai terjalin selama 6 bulan, Jinri mengetahui alasan Yoona enggan untuk berteman dengan siapapun. Gadis itu mempunyai masa lalu yang kelam, di mana ia pernah dimanfaatkan oleh teman sekelasnya saat duduk di bangku SD.

Waktu itu, Yoona dikenal sangat cerdas dan selalu mendapatkan ranking di kelas. Sikapnya yang baik, ramah, dan suka menolong orang, ternyata justru disalahgunakan oleh teman sekelasnya. Secara tidak langsung ia ditindas, berulang kali Yoona dimintai bantuan untuk mengerjakan tugas sekolah.

Pernah satu kali Yoona menolak permintaan mereka, karena merasa lelah dan tidak seharusnya ia mengerjakan tugas sekolah siswa lain. Hal itu membuat dirinya dijauhi teman-teman sekelasnya. Secara sengaja, mereka yang memanfaatkan Yoona langsung menyebarkan cerita negatif tentang dirinya.

Yoona kecewa dengan perlakuan mereka, hingga membuatnya terpuruk dan enggan berteman dengan siapapun. Ia merasa jika selama ini tidak ada yang pernah tulus untuk berteman dengannya.

Sejak saat itu, Yoona tidak mau berteman dengan siapapun ketika menginjak bangku SMP. Tanpa disadari, kebiasaan itu justru berlangsung hingga awal perkuliahan, sebelum akhirnya ia bisa berteman dengan Jinri.

//

Jelang jam makan malam, Jinri baru tiba di rumah Kyuhyun. Ia memang tinggal di rumah Kyuhyun sejak bangku SMA. Orang tuanya menitipkan Jinri pada orang tua Kyuhyun selama mereka tinggal di Inggris karena tuntutan pekerjaan. Jinri memang dekat dengan Kyuhyun, tidak hanya karena mereka berstatus sebagai sepupu, tapi keduanya kerap saling membantu satu sama lain.

“Kau baru pulang?”

Jinri mengangguk ke arah Kyuhyun yang tengah berada di ruang santai. Pemuda itu sedang berbaring di atas sofa, sambil membaca buku referensi mata kuliah yang dipinjamnya di perpustakaan. Jinri berjalan mendekati Kyuhyun. Wajahnya ia dekatkan pada sampul buku yang dibaca Kyuhyun.

“Bukankah kau sudah meminjamnya beberapa hari yang lalu?” tanya Jinri sambil mengerutkan dahi. “Kenapa meminjamnya lagi?”

“Tidak apa, aku hanya ingin membacanya lagi,” Kyuhyun bereaksi santai. Ia tetap fokus pada buku yang dibacanya, tanpa melirik sedikitpun ke arah Jinri.

“Dasar aneh,” cibir Jinri lalu bersiap meninggalkan Kyuhyun untuk pergi ke kamarnya.

“Kenapa baru pulang?” tanya Kyuhyun sebelum Jinri masuk ke kamar.

“Aku menyelesaikan tugas kuliahku yang harus dikumpulkan besok,” Jinri merenggangkan anggota tubuhnya yang terasa pegal karena berkutat terlalu lama dengan tugas kuliahnya. “Untung saja Yoona mau membantu dan mengajariku. Jadi tugas kuliahku cepat selesai dan aku bisa tidur nyenyak malam ini.”

“Temanmu yang pendiam itu?”

Jinri memutar kedua bola matanya dengan malas, “Dia menjadi pendiam karena ada alasannya.”

Usai mengatakannya, Jinri kembali masuk ke kamar, mengabaikan Kyuhyun yang terlihat masih ingin berbicara dengannya.

“Payah. Selalu saja meminta bantuan orang lain untuk mengerjakan tugas kuliah,” ledek Kyuhyun tanpa diketahui gadis itu. Kyuhyun beranjak dan mengubah posisinya menjadi duduk di sofa. Ia meraih ponsel yang diletakkan di atas meja dekat sofa. Jari-jemari tangannya bergerak lincah saat menuliskan sebuah pesan.

Tanpa diketahui siapapun, Kyuhyun sudah mempunyai rutinitas setiap malamnya, mengirim pesan pada seseorang. Selesai ia melakukannya, bibir Kyuhyun selalu melengkung, memperlihatkan senyum bahagia. Terkadang ia memejamkan matanya sambil menggenggam erat ponselnya, sambil menunggu balasan pesan yang telah dikirimnya.

//

Yoona merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar begitu sampai di rumah. Beruntung ia bisa mendapatkan bis sebelum jam makan malam tiba. Sambil melepaskan rasa lelah, gadis itu memandangi langit-langit kamar. Ia kembali teringat ucapan Jinri sebelum keduanya keluar dari perpustakaan, beberapa saat yang lalu.

Cobalah berinteraksi kembali dengan orang-orang sekitarmu. Aku tahu, kau trauma dengan masa kecilmu. Tapi, tidak ada salahnya kau tetap berinteraksi dengan mereka. Aku yakin dengan kerpibadianmu yang baik, banyak orang yang akan senang berteman denganmu. Atau, kau juga bisa mendapatkan kekasih dan itu akan membuat hari-harimu semakin menyenangkan, Yoong.

Yoona menggelengkan kepala setiap kali mengingat rentetan kalimat yang diucapkan Jinri. Kekasih? Untuk memiliki teman saja sulit apalagi kekasih.

“Mana ada pemuda yang mau dengan gadis sepertiku,” Yoona menghela nafas seraya memijat kening. Ia merasakan pusing di kepala karena terlalu lelah setelah seharian penuh menghabiskan waktunya di kampus.

DRRT!

Perhatian Yoona beralih ketika mendengar bunyi ringtone ponselnya. Tanpa sempat bangun, ia mencoba meraih ponsel yang diletakkan di atas meja berdekatan dengan ranjang. Begitu melihat nama kontak yang baru saja mengiriminya pesan, Yoona segera bangun dan kini dalam posisi duduk di atas ranjang. Bibir gadis itu melengkung sempurna, tanda bahwa ia sangat senang dengan pesan yang dikirim oleh seseorang. Seseorang yang tidak dikenal oleh Yoona, namun mengaku pada gadis itu jika ia adalah pengagum rahasianya. Secret admirer.

Jangan lupa untuk makan malam dan beristirahat

Hampir setiap hari Yoona mendapatkan pesan serupa begitu memasuki jam makan malam. Kejadian ini sudah berlangsung sejak 3 bulan yang lalu, saat pertengahan semester kedua, di tahun kuliah pertama Yoona.

Yoona sempat mencurigai Jinri adalah orang yang memberikan nomor ponselnya pada pemuda misterius itu. Namun segera terbantahkan oleh pengakuan Jinri yang tidak pernah memberikan nomor ponsel Yoona pada siapapun. Ia menepati janjinya untuk menghormati privasi Yoona dan itu terbukti. Hanya saja, Yoona terlanjur penasaran, bagaimana pemuda itu bisa memperoleh nomor ponselnya? Selama ini Yoona hanya memberikan nomor ponsel itu pada pihak otoritas kampus dan Jinri. Mustahil jika pemuda itu nekat menanyakan nomor ponselnya pada pihak otoritas kampus.

Yoona tidak ingat kapan terakhir kali ia menyerah untuk mengabaikan pesan yang dikirimkan orang itu. Tanpa disadari, Yoona mulai terbiasa hingga akhirnya saling berbalas dengan secret admirer-nya tersebut.

Ia menggenggam erat ponselnya, tanpa sadar tersenyum seorang diri di kamar. Yoona benar-benar penasaran dengan pemuda yang mengaku berkuliah di tempat yang sama dengan Yoona. Jika benar adanya, kemungkinan besar pemuda itu selalu berada di sekitarnya. Terbukti dari pesan yang dikirimkan pemuda itu untuk Yoona, seolah tahu apa saja yang dilakukan Yoona selama berada di kampus.

“Haruskah aku menanyakannya pada Jinri?” selama ini Yoona tidak pernah menceritakan sosok secret admirer-nya itu pada siapapun, termasuk ibunya dan Jinri.

“Yoona, makan malam sudah siap,” terdengar suara wanita bersamaan ketukan pintu di kamar Yoona. Gadis itu berjalan mendekati pintu sebelum ibunya masuk ke kamar.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu sedikit pucat,” Hwang Minji—ibu Yoona, tangannya mengusap lembut wajah gadis itu ketika menyadari ekspresi lelah dari sang putri.

Yoona mengangguk pelan, “Ne, aku baik-baik saja. Mungkin hanya kelelahan.”

“Ya sudah, kita makan malam bersama. Setelah itu baru kau istirahat,” ajak Nyonya Im seraya menarik Yoona keluar dari kamar. Tangan Yoona bergelayut manja di lengan Nyonya Im. Jika sudah di rumah, Yoona memang kerap memperlihatkan sikap manjanya pada sang ibu.

Semenjak Yoona memilih untuk jauh dari kehidupan sosial, Nyonya Im adalah satu-satunya orang yang bisa diajak Yoona untuk berbagi keluh kesah. Kondisi Yoona yang menjadi pendiam di kalangan teman-temannya, membuat Nyonya Im merasa sedih.

Saat usia Yoona 8 tahun, ayah Yoona meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya. Itu adalah waktu yang bersamaan dengan perlakuan teman-teman Yoona, di mana Yoona selalu dimanfaatkan oleh mereka di sekolah. Kondisi Yoona kian terpuruk, bahkan nyaris tidak pernah bicara dengan ibunya. Barulah ketika Yoona mulai memasuki bangku SMP, gadis itu mencoba kembali bangkit seperti semula. Tapi, sikap pendiam dan menarik diri dari kehidupan sosial terlanjur melekat pada diri Yoona.

“Yoona, cobalah untuk berinteraksi lagi dengan teman-temanmu,” ucap Nyonya Im di sela-sela makan malam bersama dengan Yoona, “Itu akan jauh lebih baik daripada kau selalu menghabiskan waktumu seorang diri.”

“Sudah ada Jinri,” jawab Yoona singkat. Ia tak mengindahkan perhatiannya pada Nyonya Im. Gadis itu tetap fokus pada makanannya.

“Maksud eomma bukan Jinri, tapi temanmu yang lain. Di usiamu yang sekarang, sudah saatnya kau mempunyai kekasih. Apa kau tidak ingin mempunyai seseorang yang special dalam hidupmu?” cecar Nyonya Im hingga membuat Yoona tak berkutik di depannya.

“Astaga, kenapa eomma mengatakan hal yang sama dengan Jinri?” Yoona mendesis pelan sambil meraih segelas air putih di atas meja.

“Berhentilah menjauhi kehidupan sosial. Manusia tidak bisa hidup seorang diri, mereka pasti memerlukan bantuan orang lain,” Nyonya Im sampai bosan mengatakan hal serupa tiap kali berbicara dengan Yoona.

“Bagiku eomma dan Jinri sudah cukup,” Yoona mendesah pelan dan hanya melirik sekilas pada Nyonya Im.

“Jinri tidak selamanya ada untukmu, dia pasti juga mempunyai kesibukan lain. Kau hanya tinggal bersama eomma. Jika suatu saat eomma pergi, siapa yang akan menjagamu?” Nyonya Im menuangkan segelas air putih lagi untuk Yoona. Keseriusan terlihat jelas di wajah Nyonya Im. Ia terlihat semakin tua dengan warna rambutnya yang dulu hitam, kini mulai didominasi warna putih.

Eomma, kenapa berbicara seperti itu?”

Eomma hanya ingin kau bahagia. Seperti gadis kebanyakan, mempunyai banyak teman bahkan seseorang yang lebih dari sekedar teman,” Nyonya Im memberikan tatapan hangat untuk Yoona, “Apa yang selama ini kau anggap sebagai zona amanmu, eomma rasa justru membuatmu semakin jauh dari orang-orang. Kembalilah seperti Yoona yang dulu. Gadis yang selalu ceria dan suka menolong siapapun. Kau hanya butuh keberanian untuk membela diri, jika ada dari mereka yang berbuat buruk padamu. Bukan menjauhi seperti yang kau lakukan selama ini.”

Bibir Yoona terkatup rapat. Rasanya apa yang diucapkan Nyonya Im begitu menohok untuknya. Sudah 10 tahun Yoona menjalani kehidupan sebagai gadis pendiam ketika berada di luar rumah. Jujur saja, Yoona ingin keluar dari zona amannya selama ini. hanya saja gadis itu masih terlalu takut untuk memulainya lagi dari awal. Ia takut jika nantinya kejadian di masa kecil akan terulang kembali.

“Lakukan ini bukan hanya untukku, tapi juga untuk mendiang ayahmu,” tangan Nyonya Im menggenggam erat tangan Yoona, “Jangan takut untuk memulainya lagi dari awal. Kau pasti bisa.”

Tanpa berkata apapun, Yoona hanya menganggukkan kepala. Seolah ada sesuatu yang menggerakkan hati Yoona untuk menyanggupi saran Nyonya Im.

Selesai makan malam, Yoona kembali ke kamar untuk beristirahat. Semua pembicaraan yang dilakukannya bersama sang ibu terus terngiang dalam kepala Yoona. Tangan gadis itu meraih ponsel yang sengaja ia tinggalkan di atas ranjang. Yoona berniat menghubungi Jinri, untuk sekedar meminta saran atas apa yang diucapkan ibunya.

“Sudah pasti Jinri akan setuju dengan ucapan eomma,” Yoona meletakkan kembali ponselnya lalu menyenderkan punggungnya pada tepian ranjang. Tiba-tiba saja raut wajah Yoona berubah, ketika gadis itu teringat kembali dengan secret admirer-nya. Entah keberanian itu muncul dari mana, Yoona spontan mengirim pesan lebih dulu pada pemuda itu. Selama ini pemuda itulah yang lebih dulu mengirim pesan pada Yoona.

Haruskah aku keluar dari zona amanku selama ini?

Yoona menggenggam erat ponselnya, berharap jika pemuda itu akan membalas pesan yang ia kirim. Sepertinya pemuda itu tahu jika Yoona dikenal sebagai gadis pendiam di kampus mereka. Bisa dilihat dari beberapa pesan yang dikirim pemuda itu untuknya. Pemuda itu selalu meyakinkan Yoona untuk mencoba berinteraksi dengan orang-orang sekitar.

Mata Yoona membulat ketika merasakan getaran di ponselnya. Jari-jemari tangannya bergerak lincah untuk membuka pesan yang baru saja masuk. Ia yakin jika pesan itu adalah balasan dari secret admirer-nya.

Kau bahkan sudah keluar dari zona amanmu

Ini pertama kalinya kau mengirim pesan padaku lebih dulu

Isi pesan tersebut sukses membuat Yoona terharu. Gadis itu bisa merasakan matanya yang mulai berair.

“Benar, sebaiknya aku mencoba untuk memulainya lagi dari awal,” Yoona memantapkan hatinya untuk mengikuti apa yang sudah disampaikan ibunya. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Selagi ada kesempatan, Yoona pasti bisa mengembalikan kepercayaan dirinya yang sempat hilang. Ia bisa kembali menjadi sosok Yoona yang dulu, sebagai gadis ceria dan ramah pada siapa saja. Bukan lagi sebagai gadis pendiam yang selalu menarik diri dari kehidupan sosial.

.

.

.

.

.

BRAK!

Perhatian Kyuhyun, Hyukjae, dan Siwon teralih begitu saja saat mendengar suara keras dari arah lain. Segerombol gadis tengah berhenti di depan gadis lain yang menundukkan kepala. Mata gadis itu tertuju pada beberapa buku yang jatuh berserakan di lantai.

“Ya, Im Yoona! Perhatikan jalanmu!” bukan kata maaf yang diperoleh Yoona melainkan umpatan dari salah seorang gadis yang baru saja menabraknya. Ketiga gadis itu menatap sinis lalu melenggang begitu saja, tanpa membantu Yoona membereskan buku-bukunya. Kejadian itu sempat mengundang perhatian semua orang yang baru saja tiba di kampus. Mereka ikut kesal dengan ulah ketiga gadis itu yang dianggap tidak mempunyai sopan santun.

“Aku tahu Yoona memang gadis pendiam. Tapi apakah pantas jika mereka memperlakukannya seperti itu? Mereka sama sekali tidak mempunyai sopan santun,” Hyukjae menggelengkan kepala setiap kali mengingat ulah ketiga gadis yang menabrak Yoona. “Dasar, sepagi ini sudah membuat keributan di lingkungan kampus.”

“Bukankah gadis-gadis itu penggemarmu?” tanya Kyuhyun sambil melirik Hyukjae.

“Tidak, mereka penggemarmu, Kyu,” Hyukjae menjawab ketus karena mengenali ketiga gadis itu yang selalu menyerukan nama Kyuhyun tiap kali bertemu dengan mereka. Mereka adalah Kang Haewon, Baek Mirae, dan Kang Sora, mahasiswi dari jurusan Theater and Film. Mereka berparas cantik dan memiliki postur tubuh layaknya model. Namun sayang, kepribadian mereka tidaklah baik seperti wajah mereka. Mereka terkenal sombong dan selalu centil di hadapan mahasiswa lain.

“Benarkah?” Kyuhyun hanya mengerutkan dahinya dan bersikap santai.

“Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada Siwon,” Hyukjae melirik ke samping tapi pemuda yang dibicarakannya tidak ada. Sedetik kemudian Hyukjae berhasil menemukan Siwon sudah menghampiri Yoona yang masih sibuk memunguti beberapa buku yang berserakan di lantai.

“Kau baik-baik saja?” Siwon bertanya saat membantu Yoona membereskan buku-buku yang dibawa gadis itu.

Yoona sedikit terkejut dengan kedatangan Siwon. Gadis itu hanya mengangguk pelan dan langsung berdiri seperti semula. Siwon menyodorkan buku yang dipegangnya pada Yoona.

“Terima kasih,” tanpa mengangkat wajahnya, Yoona membalas tindakan Siwon yang membantunya.

Siwon tersenyum, “Ini pertama kalinya aku mendengar suaramu. Lain kali kita harus mengobrol bersama.”

“Apa?” Yoona tersentak kaget dan spontan mendongak ke arah Siwon. Pemuda itu tersenyum melihat reaksi polos Yoona. Tanpa berkata apapun, Siwon berjalan meninggalkan Yoona menghampiri Kyuhyun dan Hyukjae yang sedari tadi menunggunya. Sementara Yoona masih berdiri mematung dengan tangan yang memegang buku dalam dekapannya.

DRRT!

Suara bunyi ponsel yang berdering membuat Yoona segera mengais isi tasnya. Gadis itu segera membuka pesan yang baru saja masuk.

Lain kali berhati-hati jika sedang berjalan

Untung kau baik-baik saja

Yoona memelototi layar ponsel usai membaca isi pesan tersebut. Secepat kilat gadis itu mengedarkan pandangannya, berusaha mencari sang secret admirer yang baru saja mengiriminya pesan. Pemuda itu tahu dengan apa yang baru saja dialami Yoona. Sudah jelas jika ia berada di lokasi yang sama dengan Yoona.

Mata Yoona justru menangkap sosok Siwon yang berjalan melewatinya bersama Kyuhyun dan Hyukjae. Pemuda itu kembali melempar senyum untuknya. Sikap yang sama juga dilakukan Hyukjae. Berbeda dengan Kyuhyun, ia tampak cuek dan melenggang begitu saja saat melewati Yoona.

Yoona memutar tubuhnya dan memandangi punggung ketiga pemuda itu. Ia bisa merasakan debaran yang begitu kuat setelah membaca pesan dari secret admirer-nya.

“Apa mungkin dia salah satu dari mereka?” pikirnya bingung namun segera ia tepis anggapan tersebut, “Kurasa itu mustahil.”

//

Kelas praktek dari Dosen Han baru saja selesai. Semua mahasiswa yang mengikuti kuliah tersebut langsung berhamburan keluar setelah didahului Dosen Han. Jinri dan Yoona turut keluar dengan wajah lelah mereka.

“Aigo, setiap kali mengikuti kuliah Dosen Han energiku langsung terkuras habis. Aku jadi lapar dan ingin makan sebanyak mungkin,” Jinri memegangi perutnya yang sedari tadi bersenandung ria karena kelaparan. Yoona tertawa melihat reaksi Jinri.

“Eh, ini pertama kalinya aku melihatmu tertawa lepas seperti itu?” Jinri berdecak kagum pada Yoona, “Kau tahu, kau terlihat semakin cantik saat tertawa.”

“Ja—jangan menggodaku,” Yoona menutupi wajah dengan kedua tangan karena malu. Terlebih ketika ia menyadari teman-teman sekelasnya yang tidak sengaja berjalan melewatinya juga berhasil melihat ekspresinya saat sedang tertawa. Beberapa dari mereka juga memperlihatkan reaksi yang sama dengan Jinri.

Jinri tersenyum nakal sambil mengedipkan matanya berulang kali, “Apa ada sesuatu yang membuatmu senang? Sepertinya mood-mu hari ini berbeda dari biasanya.”

Yoona tidak menjawab, ia memalingkan wajah sambil menyisiri rambutnya dengan jemari tangan. “Aku sudah memutuskannya,” ucapnya tiba-tiba saat berjalan bersama Jinri.

Jinri menautkan kedua alisnya, sebelum beralih memandangi Yoona yang masih menatap lurus ke depan.

“Memutuskan apa?” kerutan di dahi Jinri kian kentara. Sesekali ia memanyunkan bibir lantaran Yoona tak kunjung memberikan pertanyaan.

“Aku—akan mencoba untuk berinteraksi kembali dengan orang-orang di sekitarku. Kurasa apa yang kalian katakan benar. Tidak seharusnya aku menarik diri dari kehidupan sosial. Masa laluku yang kelam, bukan berarti menghalangiku untuk tetap menjalin hubungan pertemanan dengan siapapun,” untuk pertama kalinya Yoona berbicara cukup banyak pada Jinri. Seperti yang sudah diduga, Jinri terbengong hingga berhenti melangkah. Tak ubahnya seperti robot mainan yang kehabisan daya baterai.

“Jinri, kau kenapa?” giliran Yoona yang terlihat bingung saat mendapati Jinri berhenti di belakangnya. Sedetik kemudian Jinri langsung menyusul posisi Yoona, kemudian menggenggam erat kedua tangannya.

“Astaga, aku tidak menyangka jika hari ini akan datang. Hari di mana menjadi titik balik dari seorang Im Yoona,” Jinri berlagak bak seorang artis yang tengah melakoni adegan drama. Spontan saja Yoona menutupi wajahnya karena malu dengan reaksi berlebihan Jinri.

“Sejujurnya aku masih merasa gugup setiap kali ingin berbicara dengan orang lain,” ujar Yoona seraya menundukkan kepalan, “Kurasa aku terlalu lama menjadi gadis pendiam hingga lupa bagaimana caranya memulai percakapan.”

Sambil memamerkan deretan giginya yang rapi, Jinri merangkul Yoona dengan semangat, “Tenang saja, aku akan membantumu. Tunggu sebentar.”

Yoona memandangi gerak-gerik Jinri saat gadis itu mengais isi tas, lalu mengeluarkan ponsel yang sudah berada dalam genggamannya.

“Kau di mana sekarang?” Jinri memasang wajah serius ketika berhasil mendengar suara seseorang yang dihubunginya.

“Makan siang? Apa aku dan temanku boleh bergabung dengan kalian?” tanya Jinri antusias. Ia tidak menyadari perubahan raut wajah Yoona yang sedari tadi masih dirangkulnya. Gadis itu tampak menelan saliva-nya. Wajahnya sedikit menegang, seolah bisa menebak apa yang direncanakan Jinri.

“Baiklah, kami ke sana sekarang,” Jinri menyudahi obrolannya dan segera memasukkan ponsel ke dalam tas.

“Siapa—yang baru saja kau telepon?” Yoona bertanya dengan kerutan di dahi.

“Kyuhyun, dia sedang makan siang bersama Hyukjae dan Siwon. Ayo kita susul mereka. Aku akan mengenalkanmu pada mereka,” Jinri menarik tangan Yoona saat gadis itu berusaha menolaknya, “Kau bilang ingin kembali berinteraksi dengan orang-orang di sekitarmu? Jika kau berkenalan dengan mereka, akan lebih mudah bagimu untuk beradaptasi.”

“Tidak mau. Aku belum siap,” Yoona menguatkan pijakan kakinya agar tidak mudah ditarik oleh Jinri.

“Tidak ada penolakan. Siap atau tidak kau harus segera memulainya sekarang juga,” Jinri mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik Yoona supaya mau mengikuti kemauannya.

//

Jinri tidak main-main dengan rencananya. Gadis itu sukses membuat Yoona seperti patung di hadapan ketiga pemuda yang berstatus sebagai mahasiswa populer di kampus mereka. Jinri sengaja meninggalkan Yoona seorang diri bersama Kyuhyun, Hyukjae, dan Siwon. Setelah memesan makanan, Jinri langsung pergi ke toilet. Padahal gadis itu tidak benar-benar ingin pergi ke sana. Itu hanya sebuah alasan untuk meninggalkan Yoona bersama ketiga pemuda itu.

Yoona terus menunduk saat tiga pasang mata itu terus menatap ke arahnya. Yoona tidak tahu lagi harus bicara apa. Bibirnya terasa kelu karena rasa gugup yang menguasai dirinya. Belum lagi pandangan semua orang yang berada di cafetaria kampus.

“Jadi, namamu Im Yoona?” Hyukjae bersuara karena situasi sekitar mereka berubah canggung. Yoona hanya mengangguk pelan tanpa mengatakan apapun. Sesekali gadis itu menghela nafas pelan karena merasa gugup.

“Jinri sudah memperkenalkan namanya, untuk apa kau bertanya lagi?” Siwon menyikut lengan Hyukjae sambil berbisik pada pemuda itu. Hyukjae hanya membalasnya dengan kedipan mata dan sukses membuat Siwon bergidik jijik.

“Namaku Hyukjae, senang berkenalan denganmu,” dengan penuh percaya diri, Hyukjae langsung mengulurkan tangan pada Yoona. Gadis itu menyambut uluran tangan Hyukjae dengan ragu-ragu.

“Astaga, jangan tegang seperti itu. Santai saja,” Hyukjae mengayun-ayunkan tangan Yoona hingga membuat mata gadis itu terbelalak. Ia berusaha menciptakan suasana yang santai agar Yoona tidak merasa kaku di hadapan mereka.

“Ya, Lee Hyukjae! Kau membuatnya kaget,” umpat Siwon kesal sambil menarik tangan Hyukjae agar terlepas dari tangan Yoona.

“Kenapa? Aku terlalu senang berkenalan dengannya. Tidak hanya berparas cantik, tapi dia juga memiliki suara yang bagus. Aigo, kenapa baru sekarang aku mendengar suaramu?” Hyukjae langsung bungkam saat mendapat tatapan tajam dari Kyuhyun yang sedari tadi hanya mengamati tingkahnya. Hyukjae meringis dan segera meneguk minumannya.

“Maafkan atas sikapnya. Dia memang selalu seperti ini,” Siwon berbisik ke arah Yoona, kemudian melakukan hal yang diperbuat Hyukjae sebelumnya, “Namaku Siwon. Senang bertemu denganmu lagi.”

Yoona menyambut uluran tangan Siwon sambil tersipu. Akhirnya ia mengetahui nama pemuda yang telah menolongnya pagi tadi. Kini pandangan Yoona beralih pada sosok Kyuhyun yang hanya menatapnya dengan ekspresi datar.

“Kyuhyun,” pemuda itu hanya mengatakan namanya dengan singkat tanpa senyum sedikitpun. Hal itu sempat membuat tubuh Yoona yang jauh lebih rileks kembali menegang.

“Kau ini, tidak bisakah bersikap lembut pada seorang gadis? Terlebih pada teman sepupumu sendiri,” Hyukjae mencibir sikap Kyuhyun yang dinilai dingin terhadap Yoona, “Jangan hiraukan anak ini. Dia memang selalu bersikap acuh pada gadis, karena dia belum pernah berpaca—AWW! Kenapa kau menginjak kakiku?”

Kyuhyun semakin kesal dengan reaksi Hyukjae yang membongkar tindakannya. Pemuda yang bermulut ember itu masih sibuk mengusap kakinya yang terasa nyeri setelah diinjak oleh Kyuhyun.

“Hmmpff….,” tiba-tiba terdengar tawa yang tertahan saat Hyukjae memasang wajah konyol ke arah Kyuhyun. Ketiga pemuda itu menoleh ke sumber suara, mereka mendapati Yoona sudah tertunduk dengan tawa yang sedari tadi ia tahan.

“Apa aku terlihat begitu lucu?” Hyukjae tersenyum lebar dengan ekspresi senangnya. Yoona mendongakkan kepala dengan tangan yang menutup mulutnya. Begitu melihat wajah Hyukjae, gadis itu kembali tidak bisa menahan tawanya.

“Hei, dia tertawa. Ini sungguh pemandangan yang langka,” Hyukjae semakin memandangi Yoona wajah sumringahnya. Sementara Siwon tidak bisa berhenti tersenyum ke arah Yoona. Kyuhyun masih terlihat cuek, tapi sesekali pemuda itu turut tersenyum pada Yoona.

Ekspresi Yoona yang tengah tertawa membuatnya semakin terlihat cantik. Tak heran jika ketiga pemuda di depannya, juga pemuda lain yang berhasil menangkap ekspresi wajah Yoona yang tidak pernah mereka lihat, menjadi terkesima dengan kecantikan gadis yang semula dikenal pendiam itu.

“Hei, kalian berhentilah menggoda Yoona! Khususnya kau, Lee Hyukjae! Dia terlalu baik untuk casanova sepertimu,” suara Jinri langsung menyela keasyikan yang dinikmati para pemuda saat memandangi wajah Yoona.

“Ya, apa maksud ucapanmu, Choi Jinri?!” umpat Hyukjae terpancing emosi.

“Hyukjae adalah orang yang harus kau hindari, Yoong. Dia itu terkenal dengan rayuan gombalnya,” ucap Jinri setengah berbisik pada Yoona.

“Kyu, sepupumu membuatku marah. Lakukan sesuatu padanya!” Hyukjae menyikut lengan Kyuhyun untuk meminta pembelaan darinya.

“Kenapa? Apa yang dikatakan Jinri adalah sebuah kebenaran,” Kyuhyun menjulurkan lidahnya pada Hyukjae. Ia puas membuat malu pemuda itu di depan Yoona. Balasan atas apa yang diperbuat Hyukjae pada Kyuhyun sebelumnya.

Untuk kesekian kali, Yoona hanya tertawa melihat tingkah konyol dari Hyukjae. Pemuda itu memang telah berhasil membuat suasana hatinya menjadi lebih rileks. Tanpa sadar, Yoona mulai mendapatkan kembali kepercayaan dirinya untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitar. Semua itu berkat Jinri.

Saat Yoona teringat sesuatu, gadis itu spontan mengais isi tasnya untuk mengambil ponsel. Ia penasaran apakah secret admirer-nya akan mengiriminya pesan lagi. Dugaan Yoona pun tidak meleset, ia kembali mendapatkan pesan dari pemuda misterius itu.

Kau terlihat semakin cantik saat tertawa

Yoona langsung mengamati seisi cafetaria, berusaha mencari keberadaan pemuda yang ia yakini adalah secret admirer-nya. Sayangnya ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan pemuda itu. Sampai akhirnya ia tidak sengaja kontak mata dengan Kyuhyun. Gadis itu langsung menunduk dan fokus pada makanannya.

“Kau baik-baik saja?” Jinri menyadari perubahan raut wajah Yoona. Gadis itu langsung membalasnya dengan anggukan pelan dan membuat Jinri merasa lega.

“Terima kasih,” Yoona berbisik pada Jinri yang langsung membalasnya dengan tersenyum. Keduanya pun kembali mengobrol dengan Kyuhyun, Hyukjae, dan Siwon.

Tanpa mereka ketahui, ada tiga gadis yang sedari tadi mengawasi mereka. Ketiga gadis itu adalah penggemar Kyuhyun yang menabrak Yoona tadi pagi, yakni Haewon, Mirae, dan Sora, Mereka tampaknya tidak suka dengankemunculan Yoona yang tiba-tiba berkenalan dengan ketiga pemuda itu.

“Untuk apa Jinri memperkenalkan gadis itu pada mereka? Benar-benar membuatku kesal,” gerutu Sora sambil mengibaskan rambutnya yang panjang.

“Haewon, kita tidak bisa tinggal diam saja. Kita harus melakukan sesuatu pada gadis itu,” Mirae mengepalkan tangan dengan pandangan yang terus tertuju pada Yoona.

“Kau benar, gadis itu harus diberi pelajaran,” sahut Haewon sambil memukul pelan dinding tembok di dekatnya. Gadis itu langsung melenggang pergi dari cafetaria, diikuti Mirae dan Sora di belakangnya.

-TO BE CONTINUED-

A/N : Aku minta maaf karena belum bisa melanjutkan FF Chaptered (Sincerely, Closer, dan Return). Belakangan ini memang moody banget. Kemarin-kemarin baru setengah nulis kelanjutan Sincerely. Eh, akhirnya lebih fokus sama FF ini. Rencana awal FF ini aku buat oneshot. Ternyata sampai cerita belum selesai udah mencapai 28 halaman (8000an kata). Karena terlalu banyak, aku ubah jadi twoshot, tapi ini masih ragu juga, ada kemungkinan bisa tambah lagi jadi threeshot *authornya plin-plan nih*^^’

Oke, segini saja yang bisa aku sampaikan. Mohon maaf kalau jadi jarang banget publish FF. Ini aja termasuk pelampiasan gegera kesel sama aplikasi skripsi yang masih error😄 (refreshing lagi hehe). Untuk sementara FF Chaptered bakal ke-pending dulu. Ya, karena mood menulisku justru lagi pengen nyelesain FF ini. Maaf *bow*

Terima kasih sudah membaca❤😉

129 thoughts on “Secret Admirer [1]

  1. onlysjk says:

    Suka deh kyuhyun jadi salah satu penyemangat untuk yoona memulai interaksi lagi,. yah semoga saja yoona tau kalo secret admirer-nya ntu kyuhyun..

  2. Yui Chan says:

    saat pertama kali yoona tertawa tanpa sadar aku juga ikut tertawa…. Waw pasti cinta segitiga kyuhyun-yoona-siwon

  3. YoonG-fanfic says:

    Waaah kerenn, sukaaa kyu tampilan luarnya ga menunjukan isi hatinya…..smoga cpet dilanjut author…^_^

  4. wiranti says:

    Cie cie ternyata kyu jadi secret admirer. Hehhehe. Tp kayanya nanti pasti yoong bakal nyangka nya ke siwon deh😦 apa yg diharapkan dri 3 gadis itu ? Rencana apa ? Mudah mudah.an bisa di tolong sama kyu hehhehe. Ayyoo thoorr semangat nulis nya.

  5. Widya Choi says:

    Cie,, tnyta kyu pngemar rhasia ny yoona. Diam2 slu merhatiin yoona ni y :p :p .. Tp syg yoona kalo it kyu..
    Wehh it cwek mau ngapain? Awas aj kalo yoona d ap2in.

  6. specialsky155 says:

    Hua., aku senyum2 sendiri gara2 ngebayangin jdi yoona *.* secret admirernya kyuhyun, ditolong siwon, dan dibuat ketawa sma eunhyuk~ apalagi punya sahabat kyak jinri yg baik bgt, hah… *0*

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s