Our Story : Growing Pain


os_growing pain

Our Story : Growing Pain

Sequel of Coagulation

by cloverqua | main casts Cho Kyuhyun – Im Yoona

support casts Lee Donghae – Choi Siwon – Kang Seulgi and others

genre AU – Angst – Hurt – Romance | rating PG 17 | length Threeshot

disclaimer This fanfiction is purely my own. Cast belong’s God. I just borrowed the names of characters and places. Don’t plagiat this FF! Please keep RCL!

Happy reading | Hope you like it

2015©cloverqua

.

Rasa sakit ini perlahan tumbuh, saat kau tak lagi bersamaku

.

Satu minggu berlalu, sejak kecelakaan yang menimpa Yoona. Gadis itu masih terbaring koma dan dirawat intensif di rumah sakit Seoul. Luka parah di bagian kepala sekaligus kondisi kesehatan yang menurun karena kurang asupan gizi, membuat kondisi gadis bermarga Im itu menurun. Untung saja beberapa hari terakhir kondisi Yoona membaik, meskipun ia masih terbaring koma dengan dikelilingi beberapa peralatan medis untuk menopang kelangsungan hidupnya.

Donghae tak henti-hentinya menjaga Yoona sepanjang hari. Tidak peduli seberapa lelahnya karena harus bolak-balik dari tempatnya bekerja—rumah sakit—rumah hanya demi menjaga adik sepupu yang sangat ia sayangi. Sejak gadis itu kehilangan orang tuanya, Yoona tinggal bersama keluarga Donghae yang notabene satu-satunya kerabat yang dimiliki Yoona. Tak heran jika Donghae menganggap Yoona seperti adiknya sendiri.

“Kau sudah datang?”

Laki-laki itu menoleh ke arah wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibunya—Im Hyunri. Ibunya merupakan kakak kandung dari mendiang ayah Yoona. Setelah mendengar kecelakaan yang menimpa keponakannya, Ny. Hyunri ikut tinggal di rumah Donghae. Sebelumnya ia dan sang suami tinggal di Incheon, sementara putra mereka memilih menetap di Seoul.

Donghae mengangguk pelan, lalu kembali menatap Yoona yang masih terbaring di ranjang. Sorot matanya sendu, menyiratkan rasa cemas yang begitu luar biasa terhadap kondisi Yoona. Ia ingin gadis itu secepatnya pulih dan kembali seperti semula.

“Bagaimana kondisi Yoona, eomma?” tanya Donghae, berharap ada kabar baik tentang gadis itu.

Ny. Hyunri menggeleng pelan, “Masih tetap sama.”

Hembusan nafas panjang keluar dari sela-sela bibir Donghae. Laki-laki itu menunduk lemas dan semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Yoona.

“Oh iya, kenapa aku tidak melihat Kyuhyun? Apa kau belum memberitahu kondisi Yoona padanya?”

Donghae tersentak saat mendengar nama Kyuhyun meluncur bebas dari Ny. Hyunri. Matanya berkilat, menandakan betapa dirinya sangat membenci laki-laki bermarga Cho itu. Ucapan sang ibu berhasil membuatnya menggali memori tentang perlakuan Kyuhyun pada Yoona, sampai kondisi Yoona terpuruk seperti sekarang.

Eomma jangan pernah menyebut nama itu lagi,” suara Donghae sedikit meninggi dan membuat sang ibut terheran dengan raut wajah bingung.

“Apa maksudmu?”

“Karena dialah yang menyebabkan Yoona seperti ini!” Donghae tak bisa lagi menahan emosinya yang selama ini ia pendam.

Ny. Hyunri semakin bingung saat melihat reaksi Donghae yang begitu murka, hanya karena ia menyebut nama Kyuhyun. Donghae tidak heran dengan reaksi sang ibu, karena selama ini hanya tahu Kyuhyun adalah kekasih Yoona, namun belum mengetahui jika hubungan mereka sudah berakhir.

“Selamat siang.”

Obrolan pasangan ibu dan anak itu terhenti sejenak ketika seseorang datang dan menyapa keduanya. Kini pandangan mereka tertuju pada sosok laki-laki dengan jas putih dan alat stetoskop yang selalu dibawanya.

“Selamat siang, Dokter Lee,” sapa Ny. Hyunri sambil membungkuk hormat, sementara Donghae hanya menunduk sekilas pada dokter yang bertugas menangani kondisi Yoona—Lee Jongsuk.

“Kami akan kembali memeriksa kondisi Yoona,” ucap Jongsuk seraya melirik suster yang mendampinginya. Setelah mendapat anggukan dari Ny. Hyunri dan Donghae, keduanya berjalan mendekati ranjang Yoona.

//

Kyuhyun berdiri termangu di tepi kolam renang yang berada di belakang rumah. Pandangannya beralih pada cincin yang melingkar di salah satu jari tangannya. Kini Kyuhyun sudah resmi bertunangan dengan Seulgi. Keinginan terbesar Kyuhyun yang akhirnya bisa dicapai. Namun, entah kenapa laki-laki itu merasakan keadaan yang sebaliknya.

Semangat yang sempat terlihat di wajah Kyuhyun setiap kali membahas hubungannya dengan Seulgi, seolah meredup seiring sorot matanya yang tak lagi bersinar seperti sebelumnya. Ada perubahan setelah laki-laki itu bertunangan dengan Seulgi. Kyuhyun berulang kali sering melamun dengan raut wajah yang menyimpan kesedihan.

“Kau melamun lagi,” suara seseorang berhasil membuyarkan lamunan Kyuhyun, membuat laki-laki itu menoleh cepat ke arah belakang. Ia hanya bereaksi datar saat melihat kedatangan Siwon, kemudian kembali menatap kolam renang sambil menghembuskan nafas panjang.

Siwon mencibir sikap Kyuhyun yang belakangan ini terlihat aneh di depannya. Ia heran, kenapa sahabatnya itu sama sekali tidak menunjukkan aura kebahagiaan pasca bertunangan dengan Seulgi.

“Aku heran padamu. Setelah bertunangan dengan Seulgi, seharusnya kau terlihat bahagia dan memikirkan rencana pernikahan kalian. Tapi belakangan ini aku justru melihatmu sering melamun dan murung,” Siwon mendecak kesal sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

“Dia tidak datang, hyung …,” setelah cukup lama diam, akhirnya Kyuhyun mengeluarkan suara, meskipun terdengar sangat pelan.

“Siapa?”

“Yoona. Dia tidak datang di acara pertunanganku dengan Seulgi,” lanjut Kyuhyun seadanya dengan tatapan terus tertuju pada kolam renang.

Siwon terbelalak, “Kau mengundang Yoona untuk datang di acara pertunangan kalian? Kau gila, Kyu!”

Hyung …,” suara Kyuhyun terdengar parau dengan sorot mata yang berubah sendu.

“Kau sama sekali tidak memikirkan perasaan Yoona. Setelah apa yang kau lakukan padanya, kau pikir gadis itu akan datang ke acara pertunangan kalian? Tentu saja tidak, Kyu. Dia tidak akan mau datang kecuali otaknya sudah tidak waras,” cecar Siwon emosi.

Seperti ada gembok besar yang langsung mengunci rapat-rapat mulut Kyuhyun. Siwon benar, tidak seharusnya Kyuhyun mengharapkan kedatangan gadis itu. Kini bahkan laki-laki itu menyesal karena pernah mengucapkan permintaan yang hanya semakin melukai perasaan Yoona.

“Seorang gadis tidak akan sanggup melihat laki-laki yang dicintainya bertunangan dengan gadis lain. Kau memilih mengakhiri hubungan kalian begitu saja setelah 3 tahun, hanya demi kembali pada Seulgi. Tidakkah luka yang kau torehkan di hati Yoona sangatlah besar? Dia pasti sangat sulit menerima kenyataan pahit ini, meskipun bagimu ini adalah kenyataan yang manis karena kau sudah berhasil kembali pada gadis masa lalumu itu,” jelas Siwon panjang lebar.

“Apa kau … sama sekali tidak mendengar kabar tentang Yoona? Kau tidak menghubungi atau bertemu dengan Donghae-hyung?” tanya Kyuhyun tiba-tiba terdengar panik. Ia ingat pertemuannya terakhir kali dengan Yoona di mana gadis itu tampak memprihatinkan.

“Kau pikir aku masih berani bertemu atau menghubungi Donghae, setelah apa yang kau lakukan pada adik sepupunya?” Siwon mendesah kesal sambil mengusap wajahnya dengan kasar, “Aku benar-benar merasa bersalah pada Yoona. Seharusnya sejak awal aku tidak pernah mengenalkan Yoona padamu, jika akhirnya kau hanya melukai perasaan gadis itu.”

Kyuhyun kembali terdiam, dengan kepala tertunduk dan tangan yang sedikit gemetar. Tiba-tiba saja ia merasakan sesak di dada, seolah mempunyai firasat buruk terhadap Yoona.

//

“Bagaimana perkembangan kondisi Yoona, Dokter Lee?” tanya Ny. Hyunri dengan raut wajah cemas. Namun terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat Yoona menjalani operasi karena kecelakaan yang dialaminya.

“Dari hasil pemeriksaan, kondisinya sudah membaik. Kita hanya tinggal menunggu dia terbangun dari masa koma,” terang Jongsuk sambil tersenyum.

“Tapi … kira-kira berapa lama lagi? Ini sudah hampir 1 minggu. Kenapa Yoona belum sadar juga?”

“Donghae …,” Ny. Hyunri langsung menggenggam erat tangan putranya, berusaha menenangkan Donghae yang terlihat kalut.

“Maafkan saya. Soal itu, saya tidak bisa memastikan kapan dia akan terbangun dari masa koma,” Jongsuk sedikit tertunduk sambil memandangi grafik perkembangan kondisi Yoona.

Donghae kembali mendesah, sementara Ny. Hyunri mengusap bahunya yang gemetar.

“Bolehkah saya bertanya sesuatu?” Jongsuk mendongak dan menatap dua orang di depannya dengan sorot mata serius, “Apakah … ada seseorang yang sedang ditunggu Yoona?”

“Apa maksud pertanyaanmu, Dokter Lee?” Donghae mengerutkan dahi sambil melirik ibunya yang juga bereaksi sama.

“Saya hanya menebaknya saja. Setiap kali saya mendekati ranjang Yoona, entah kenapa saya bisa merasakan kesedihan yang seolah mengikatnya. Sekalipun kondisinya mulai membaik, saya merasa jika Yoona sama sekali tidak mempunyai semangat untuk hidup,” lanjut Jongsuk dan seketika membuat Donghae dan Ny. Hyunri terbelalak.

“Donghae, jika firasat Dokter Lee benar, kurasa Yoona menunggu kedatangan Kyuhyun. Sebaiknya kau coba hubungi dia. Minta padanya agar dia mau datang ke sini,” pinta Ny. Hyunri sedikit mendesak hingga memancing emosi Donghae.

“Setelah apa yang dilakukannya pada Yoona, aku tidak mau menghubunginya. Apalagi memintanya datang untuk menemui Yoona. Tidak akan,” tolak Donghae dengan tegas.

“Lupakan sebentar masalah yang terjadi antara mereka. Ini demi kebaikan Yoona. Siapa tahu, setelah Kyuhyun datang menemuinya, kondisinya akan semakin membaik dan Yoona bisa terbangun dari masa komanya,” ucap Ny. Hyunri mencoba mengesampingkan permasalahan yang antara Yoona dan Kyuhyun, yang baru saja diketahuinya dari Donghae. Terlepas dari bagaimana perasaan mereka yang kesal karena keputusan Kyuhyun, ini bukan saatnya mengutamakan ego dan harga diri. Apapun harus dilakukan untuk mengembalikan kondisi Yoona seperti semula, termasuk meminta Kyuhyun menemuinya sekalipun laki-laki itu sudah bertunangan dengan gadis lain.

Donghae mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Suasana hatinya mulai stabil dan emosinya perlahan mereda.

“Hubungi Kyuhyun. Suruh dia datang ke sini untuk menemani Yoona sampai terbangun dari masa koma,” lanjut Ny. Hyunri lembut sambil menggenggam tangan Donghae.

Donghae kembali bungkam, tidak tahu lagi harus berkata apa saat melihat keseriusan di wajah sang ibu dan juga Jongsuk. Ia pun mengangguk, mengikuti saran ibunya untuk menghubungi Kyuhyun. Jujur saja, meskipun kebencian Donghae terhadap Kyuhyun kian bertambah semenjak kecelakaan yang menimpa Yoona, ia juga menyadari jika laki-laki itu adalah satu-satunya orang yang bisa mengembalikan kondisi Yoona seperti semula.

//

DRRT!

Siwon terkesiap ketika mendengar dering ponsel yang berbunyi keras. Laki-laki itu terbelalak setelah mengetahui Donghae yang sedang meneleponnya. Ia melirik sekilas ke arah Kyuhyun yang sedari tadi menatapnya dengan raut wajah penasaran.

Yeoboseyo …,” sapa Siwon dengan nada setenang mungkin.

Siwon-ah¸ kau di mana sekarang?” tanya Donghae. Suaranya yang terdengar parau membuat Siwon terheran hingga mengerutkan dahi.

“Aku di rumah Kyuhyun. Selama ini kau ke mana saja? Kenapa tidak menghubungiku?” Siwon akhirnya meluapkan kekesalan yang selama ini ditahan, sebab Donghae seperti menghilang bak ditelan bumi setelah hubungan Yoona dan Kyuhyun berakhir. Agaknya Donghae memang menjaga jarak dengan Siwon dan Kyuhyun. Sudah pasti karena ia ikut terluka dengan apa yang dialami Yoona.

Maaf, ada banyak hal yang sedang kuurus. Bisakah kau berikan ponselmu pada Kyuhyun? Aku ingin bicara dengannya,” jawab Donghae dengan nafas yang memburu, hingga Siwon menatap Kyuhyun dengan raut bingung. Tak pelak reaksinya itu membuat Kyuhyun semakin didera rasa penasaran. Terlebih saat Siwon menyodorkan ponsel kepadanya.

“Donghae ingin bicara denganmu,” ucap Siwon sebelum Kyuhyun bertanya.

Kyuhyun menelan saliva-nya, sebelum mengambil ponsel yang diberikan Siwon. Ia mengatur nafasnya sejenak kemudian mendekatkan ponsel itu ke telinga.

“Ini aku,” Kyuhyun tidak tahu lagi harus berbicara apa saat kembali berkomunikasi dengan Donghae. Setelah ia berpisah dengan Yoona, komunikasinya dengan laki-laki itu terputus hingga sekarang.

Aku tidak akan berbicara banyak. Jadi, dengarkan baik-baik apa yang akan kukatakan,” suara Donghae terdengar tegas dengan ucapan yang lancar tanpa jeda.

Kyuhyun mengerutkan dahinya, semakin penasaran dengan arah pembicaran mereka, “Ne, katakan saja.”

Datanglah ke rumah sakit Seoul sekarang,” lanjut Donghae, kali ini laki-laki itu menaikkan volume suaranya hingga membuat kerutan di dahi Kyuhyun semakin kentara.

“Rumah sakit Seoul? Untuk apa aku—” belum selesai Kyuhyun bertanya, kalimatnya terhenti ketika Donghae memotong ucapannya. Perlahan bola mata Kyuhyun membesar setelah mendengarkan lanjutan dari kalimat Donghae.

“Apa? Yoona kecelakaan dan sekarang … koma?” saat itu juga ponsel Siwon terlepas dari genggaman tangan Kyuhyun. Beruntung Siwon dengan sigap berhasil menangkap ponselnya sebelum terjatuh.

Siwon memandangi Kyuhyun yang kini berdiri mematung di sebelahnya. Ia bisa melihat tubuh Kyuhyun yang menegang. Kedua bahunya naik turun, bersamaan nafasnya yang menderu. Siwon bahkan dikejutkan dengan cairan bening yang mulai keluar dari mata Kyuhyun.

“Kyu, kau kenapa?” Siwon panik ketika melihat Kyuhyun memegangi dadanya. Sementara laki-laki itu hanya menggeleng dan tanpa sepatah katapun tiba-tiba saja pergi ke arah luar rumah.

“Kyuhyun!” Siwon tak punya pilihan selain mengejar Kyuhyun yang terus berlari keluar rumah.

Ahra (kakak kandung Kyuhyun) yang tengah mengobrol bersama Seulgi sebelum menemui Kyuhyun dan Siwon, keduanya terkejut ketika melihat dua laki-laki itu berlari keluar rumah.

“Siwon!” Ahra segera memanggil Siwon yang sedikit tertinggal dari Kyuhyun. Laki-laki itu langsung berhenti saat Ahra dan Seulgi berjalan menghampirinya.

“Ada apa? Kenapa Kyuhyun terlihat panik seperti itu?” tanya Ahra penasaran.

Siwon menggeleng, “Aku juga tidak tahu. Setelah menerima telepon dari Donghae, tiba-tiba saja Kyuhyun bersikap seperti itu. Aku akan menyusulnya sekarang. Nanti kuhubungi lagi.”

Ahra berusaha menahan Siwon karena masih penasaran, namun laki-laki itu sudah terlanjur berlari meninggalkannya dan Seulgi.

Eonni, apa terjadi sesuatu?” Seulgi bingung dan hanya menatap Ahra dengan raut wajah cemas.

“Aku juga tidak tahu. Kita tunggu saja kabar dari mereka,” Ahra mengusap lembut tangan Seulgi yang memeluk erat lengannya. Dalam hatinya ia terus memikirkan sikap sang adik yang terlihat kacau. Kira-kira apa yang disampaikan Donghae hingga membuat Kyuhyun panik seperti itu?

Sedetik kemudian, mata Ahra membulat sempurna ketika ia berhasil mengingat seseorang yang ada kaitannya dengan Donghae. Mungkinkah sikap Kyuhyun ada hubungannya dengan Yoona?

//

Ny. Hyunri bersandar di bahu kanan Donghae, sembari duduk pada kursi tunggu yang disediakan di area tunggu yang berdekatan dengan kamar Yoona. Raut kelelahan terlihat jelas di wajah ibu Donghae tersebut.

“Sebaiknya eomma pulang dan beristirahat. Biar aku yang menjaga Yoona di sini,” saran Donghae sembari menggenggam tangan sang ibu. Ny. Hyunri menggeleng, menandakan betapa ia ingin tetap menjaga Yoona sampai gadis itu terbangun dari masa koma. Wanita paruh baya itu memang sudah menganggap Yoona seperti anak kandungnya sendiri.

Keduanya kembali membisu dalam keheningan yang menjadi ciri khas suasana rumah sakit. Tak banyak yang mereka lakukan selain memanjatkan doa untuk kesembuhan Yoona, juga menanti kedatangan seseorang yang mereka yakini mampu menjadi penyemangat gadis itu untuk terbangun dari masa koma.

DRAP! DRAP!

Derap langkah kaki perlahan terdengar hingga akhirnya berganti suara saat pintu terbuka. Pasangan ibu dan anak itu menoleh kompak, tepatnya pada si pemilik langkah kaki yang baru saja datang. Kini pandangan keduanya terpusat pada sosok laki-laki yang terlihat kacau. Rambut yang sedikit berantakan disertai keringat yang keluar dari pelipis, serta nafas yang tersengal hingga laki-laki itu harus berulang kali menelan saliva sembari mengatur nafas.

“Kyuhyun?” Ny. Hyunri berdiri kemudian memeluk laki-laki itu dengan erat, bahkan meneteskan air mata. Sementara Kyuhyun hanya berdiri mematung dengan tubuh yang menegang. Kedua bahunya naik turun dan sedikit gemetar, tanda bahwa ia sangat shock dengan kabar yang baru saja diterimanya.

Donghae sedikit terkejut ketika berhasil melihat sorot mata Kyuhyun yang berbeda. Ia bisa menangkap kekhawatiran yang begitu besar dari raut wajah mantan kekasih Yoona tersebut.

“Apa … yang sebenarnya terjadi pada Yoona?” tanya Kyuhyun tergagap.

Donghae hanya diam, membiarkan sang ibu masih menangis dalam pelukan Kyuhyun. Sedangkan pandangan Kyuhyun sudah tertuju pada pintu yang menjadi pembatas antara tempat Yoona dirawat dan ruang khusus untuk menunggu pasien.

“Masuklah,” titah Donghae singkat. Ia masih berdiri dan hanya mengedikkan dahunya ke arah pintu kamar Yoona.

Kyuhyun menelan saliva-nya, perlahan mulai melangkah mendekati pintu yang ditunjuk Donghae. Entah kenapa laki-laki itu seperti kehabisan tenaga hingga kakinya terasa lemas dan sulit untuk menapak. Semakin mendekati pintu tersebut, tangan Kyuhyun gemetar hebat seiring dadanya yang bergemuruh.

Sejenak Kyuhyun memejamkan mata, menarik nafas panjang hanya untuk sekedar menenangkan diri. Jemarinya mulai memegang gagang pintu, lalu menggesernya agar pintu bisa terbuka. Ia masih menunduk dan menatap kedua kakinya yang mulai memasuki ruang tempat Yoona dirawat. Setelah Kyuhyun kembali menutup pintu, ia mendongak sampai matanya berhasil menangkap sosok gadis yang terbaring lemah dengan dikelilingi berbagai peralatan medis.

Tes.

Cairan bening itu spontan keluar dari pelupuk mata Kyuhyun. Semakin mendekati ranjang Yoona, Kyuhyun bisa merasakan sakit yang begitu amat menyiksa hingga membuatnya langsung terduduk lemas di samping ranjang.

“Yoona …,” suara Kyuhyun nyaris tidak bisa keluar karena tertahan oleh isak tangis yang semakin menjadi. Pemandangan yang baru saja dilihatnya ini membuat Kyuhyun menggali memori saat ia terakhir kali bertemu dengan Yoona. Ketegaran yang berusaha diperlihatkan gadis itu, namun tidak sebanding dengan kondisi fisik yang kurus dan melemah. Tak hanya pertemuan terakhir dengan gadis itu, memori saat ia masih berhubungan dengan gadis itu kembali memenuhi Kyuhyun. Bagaimana gadis itu menunjukkan cintanya pada Kyuhyun melalui berbagai bentuk perhatian yang tidak akan pernah tergantikan olah siapapun, termasuk Seulgi.

Setelah melihat kondisi Yoona, Kyuhyun tidak pernah tahu kalau pada akhirnya ia mulai menyadari bahwa gadis itu amatlah penting baginya.

//

Donghae berjalan menghampiri Kyuhyun yang baru saja selesai menemui Yoona. Tanpa segan laki-laki itu langsung melayangkan satu pukulan keras hingga tepat mengenai bagian bibir Kyuhyun. Ny. Hyunri sedikit berteriak ketika melihat Kyuhyun jatuh tersungkur di lantai, dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.

Di saat bersamaan, Siwon yang berhasil melacak keberadaan Kyuhyun datang dengan wajah panik. Ia segera menarik Donghae untuk menjauh dari Kyuhyun yang masih dibantu berdiri Ny. Hyunri.

“Kau puas sekarang? Setelah apa yang kau lakukan padanya, kau puas membuat Yoona seperti ini?” Donghae mengeluarkan amarahnya yang selama ini ditahan karena menjaga perasaan Yoona.

“Apa yang sudah kau katakan padanya sehingga ia kehilangan konsentrasi mengemudi?” tanya Donghae dingin dengan tatapan tajam menusuk.

Kyuhyun terbelalak ketika mendengar penuturan Donghae yang mulai bercerita kronologi kecelakaan yang menimpa Yoona.

“Kalau saja hari itu aku melarangnya untuk datang menemuimu, dia tidak akan kecelakaan dan berakhir seperti ini!” teriak Donghae mulai hilang kendali.

“Donghae, tenanglah!” Siwon mengusap bahu Donghae yang naik turun, meskipun ia tahu percuma saja menenangkan laki-laki yang tengah dikuasai emosi tersebut.

“Yoona … kecelakaan pada hari itu?” leher Kyuhyun seperti tercekat ketika melihat anggukan Donghae.

“Kau tahu, aku ingin sekali membunuhmu, Cho Kyuhyun,” ucap Donghae sarkastik sambil mengatupkan bibirnya, “Tapi aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa hanya kau yang bisa mengembalikan Yoona seperti semula.”

Kyuhyun mendongakkan kepala hingga pandangannya bertemu dengan Donghae. Ia bisa merasakan kebencian dari Donghae.

“Kau hanya kuizinkan menemani Yoona sampai dia terbangun dari masa koma. Setelah itu, jangan harap kau bisa muncul lagi di hadapannya,” tegas Donghae sebelum ia berlalu dari hadapan Kyuhyun dan Ny. Hyunri. Ia memutuskan keluar untuk menenangkan diri setelah emosinya meledak.

“Aku akan menyusulnya. Kalian jangan khawatir,” sahut Siwon memecah keheningan di antara mereka usai kepergian Donghae.

Ny. Hyunri menghela nafas sambil memandangi Kyuhyun yang tertunduk lemas. Ia tahu putranya telah berhasil membuat hati Kyuhyun tercabik-cabik karena ucapannya.

“Ini bukan salahmu. Semua sudah suratan takdir dari Tuhan, Kyu …,” ucap Ny. Hyunri sambil mengusap bahu Kyuhyun yang gemetar hebat.

Kyuhyun menggeleng, ia kembali mengingat ucapan terakhirnya yang meminta Yoona untuk menghadiri acara pertunangannya dengan Seulgi. Hal itulah yang membuatnya yakin jika Yoona kehilangan konsentrasi mengemudi karena permintaannya tersebut.

“Tidak, ahjumma. Ini salahku. Aku yang sudah membuat Yoona seperti ini,” suara Kyuhyun terdengar parau seiring isakan tangisnya yang perlahan terdengar, “Ini salahku!”

Ny. Hyunri tak kuasa menahan tangisnya saat melihat Kyuhyun dipenuhi rasa penyesalan hingga laki-laki itu tampak tak berdaya di depannya. Ia meraih tubuh Kyuhyun ke dalam dekapannya. Ny. Hyunri bisa merasakan kesedihan Kyuhyun yang begitu mendalam. Walaupun laki-laki itu tak pernah mengatakannya, Ny. Hyunri tahu jika Kyuhyun amat mencintai Yoona. Laki-laki itu hanya terlalu egois untuk mengakui perasaanya sendiri, sehingga dengan mudah terpengaruh oleh kisah masa lalu yang dianggap jauh lebih berarti dibandingkan kisah barunya dengan Yoona.

//

Kyuhyun duduk termenung di samping ranjang Yoona. Penampilannya terlihat kacau dengan mata sembab dan rambut yang sedikit acak-acakan. Ia bahkan rela mengabaikan jam makan malam hanya demi menjaga Yoona. Sudah berulang kali Ny. Hyunri menyuruh Kyuhyun untuk makan, namun selalu ditolaknya dengan halus.

DRRT!

Kyuhyun sama sekali tak terpengaruh ketika menyadari ponselnya kembali berdering. Laki-laki itu hanya menghela nafas sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana, kemudian dengan sengaja mematikan ponsel tersebut. Sekilas ia bisa melihat panggilan masuk yang didominasi oleh Seulgi. Kyuhyun tahu gadis itu tengah cemas karena ia sama sekali tidak memberi kabar, bahkan belum kembali ke rumah sampai jam 10 malam.

Malam ini Kyuhyun memutuskan menginap di rumah sakit. Tapi keputusan itu rupanya tidak hanya berlaku untuk hari ini saja. Ia bahkan sudah memilih untuk kembali ke sisi Yoona, membayar atas semua perlakuan yang ia berikan pada gadis itu. Ia tidak peduli dengan status pertunangannya dengan Seulgi, karena saat ini yang ada dalam kepalanya hanya Yoona.

Kyuhyun sadar jika selama ini ia telah bersikap egois, seolah tidak punya pendirian hingga harus terbelenggu pada dua gadis, Yoona dan Seulgi. Namun setelah merenungi semua perbuatannya beberapa hari terakhir ini, Kyuhyun menyadari jika ia telah berbuat salah. Tidak seharusnya ia menerima permintaan Seulgi yang ingin kembali padanya. Seharusnya ia tetap bersama Yoona yang telah memberikannya perhatian begitu besar, bahkan saat ia terpuruk pasca ditinggal Seulgi sebelumnya.

“Mau sampai kapan kau tidur terus, hm?” Kyuhyun mulai bersuara saat ujung jemarinya meraih lalu menggenggam tangan Yoona dengan erat.

“Apa kau belum puas membuatku tersiksa seperti ini?” isak tangis kembali terdengar dari Kyuhyun. Laki-laki itu terus menangis dalam keheningan yang memenuhi ruang tempat Yoona dirawat. Selain tangis Kyuhyun, hanya terdengar suara mesin kardiograf yang berada di dekat ranjang.

“Kumohon buka matamu, Yoong …,” Kyuhyun semakin tak kuasa menahan tangisnya kala memanggil nama kesayangan gadis itu.

Kyuhyun mengutuk kebodohannya yang selama ini telah menyia-nyiakan gadis sebaik Yoona. Ia tidak pernah tahu jika dirinya bisa merasakan sakit yang begitu menyiksa kala melihat Yoona terbaring lemah seperti ini. Perlahan tapi pasti, mata Kyuhyun terbuka dan ia menyadari jika gadis itu memiliki tempat di hati Kyuhyun, bahkan sebenarnya sudah menggeser posisi Seulgi.

“Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” ucap Kyuhyun lirih, “Izinkan aku untuk membayar apa yang sudah kulakukan padamu. Aku ingin membalas cintamu yang sangat tulus untukku.”

Kyuhyun bangkit berdiri lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Yoona. Ia mendaratkan kecupan yang cukup lama di kening gadis itu, sebelum akhirnya mendekatkan bibirnya tepat di telinga kanan Yoona.

“Aku mencintaimu.”

Saat kau tak lagi bersamaku, aku tersiksa karena rasa sakit yang perlahan tumbuh dalam diriku. Aku merasa bahwa diriku adalah laki-laki terbodoh sedunia, karena telah melepas gadis sebaik dirimu. Betapa aku sangat terlambat menyadari perasaanku yang begitu mencintaimu.

Tuhan, aku menyesal karena sudah melukai perasaan Yoona. Kumohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Izinkan aku untuk membahagiakan Yoona dan tetap berada di sisinya untuk selamanya.

­-TO BE CONTINUED-

A/N : Sequel dari FF Coagulation saya buat dalam bentuk threeshot (soalnya saya sudah terlanjur nulis kepanjangan, termasuk idenya juga) dan saya juga bingung ini nanti ending-nya mau gimana. Ada saran?😀 Maaf kalau jadinya malah ancur gini^^’

Eniwei, Happy KyuNa Day! Semoga saja tahun ini ada moment mereka yang kembali bermunculan (saya kangen berat sama moment mereka😦 ).

92 thoughts on “Our Story : Growing Pain

  1. whardatoenn says:

    Aku sepertinya pernah baca ff ini un. Tapi aku baca lagi karena series ketiganya muncul. Dan aku lupa series pertamanya hehe
    Nyesek banget baca ini un. Aku bisa rasain kemarahan Donghae😥

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s