Our Story : Destiny


os_destiny

Our Story : Destiny

Sequel of Coagulation

Author : cloverqua (@cloverqua) // Main Casts : Cho Kyuhyun and Im Yoona

Support Casts : Lee Donghae, Choi Siwon, and others

Genre : AU, Hurt/Comfort, and Romance // Rating : PG 17 // Length : Threeshot

2015©cloverqua

Growing Pain | This is Really Goodbye

 

10 years later

Samchon!”

Kyuhyun mendongak. Pria itu terkejut mendapati sosok gadis mungil yang sudah masuk ke dalam ruang kerjanya.

“Hana-ya, apa yang sedang kau lakukan di sini?” Kyuhyun memperhatikan sekeliling, “Mana ibumu?”

Eomma sedang menjenguk temannya, samchon,” gadis yang bernama lengkap Choi Hana itu tersenyum lebar. “Aku bosan, jadi aku datang saja ke ruangan samchon,” lanjutnya.

Kyuhyun menghela napas, “Apa kau tidak tahu jika samchon juga sedang bekerja?”

“Aku tahu, sangat tahu,” Hana memasang senyum terbaiknya, “Hanya saja, aku senang melihat samchon sedang memeriksa pasien. Samchon terlihat sangat keren. Aku ingin sekali menjadi dokter seperti samchon.”

Kyuhyun tersenyum, “Ya sudah, kau boleh menunggu di sini. Tapi kau tidak boleh mengganggu pekerjaan samchon, mengerti?”

Hana mengangguk, lalu menarik kursi lain dan duduk di sebelah Kyuhyun. Gadis itu bersemangat ketika ada pasien yang masuk ke dalam ruangan. Mengamati bagaimana Kyuhyun melayani dan memeriksa pasien tersebut, mata Hana semakin berbinar.

Bicara soal Kyuhyun, sekarang pria itu bekerja sebagai dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Seoul. Sejak kecil, ia memang sudah bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Kyuhyun sempat mengambil studi di bidang kedokteran di salah satu universitas yang ada di Seoul, namun ia menundanya lantaran fokus dengan kehidupan pernikahannya bersama Seulgi. Kondisi kesehatan Seulgi, memaksa Kyuhyun untuk memberikan perhatian penuh pada wanita itu.

Satu tahun menjalani kehidupan rumah tangga bersama Seulgi, kondisi wanita itu semakin memburuk. Mencoba bertahan dan terus bertahan, namun akhirnya Seulgi menyerah dengan penyakit leukimia yang menderanya. Rasa sedih tak pernah hilang dari diri Kyuhyun. Bagaimana pun ia pernah mencintai Seulgi. Setidaknya ia sudah mewujudkan keinginan Seulgi untuk menikah dengannya.

“Kyuhyun-ah!”

Eomma!” Hana berlari menghampiri sosok wanita yang baru saja muncul di ruangan Kyuhyun, “Apa eomma sudah selesai?”

Wanita itu—Ahra, yang kini berstatus sebagai istri dari Choi Siwon—sahabat Kyuhyun. Kadang Kyuhyun heran dengan paras yang dimiliki sang kakak, sekalipun usianya sudah lebih dari 30, kakaknya itu tetap terlihat cantik. Seperti awet muda.

“Ya, eomma sudah selesai,” jawab Ahra tersenyum, “Kau masih ingin di sini?”

Hana mengangguk, “Aku ingin menghabiskan waktu bersama samchon.”

Kyuhyun mengernyit, “Eh, bukankah kau bilang hanya menunggu ibumu yang sedang menjenguk temannya? Kenapa tiba-tiba ingin menghabiskan waktu bersamaku?”

“Itu memang benar,” Ahra menegakkan tubuhnya, “Tapi, Hana bilang mau ikut ke sini karena ingin menemuimu.”

“Karena appa dan eomma sangat sibuk dengan pekerjaan mereka. Kupikir hanya samchon yang bisa menemaniku menikmati waktu liburan sekolah,” jawab Hana santai namun sukses membuat Kyuhyun mendelik.

Ahra terkikik saat melihat reaksi Kyuhyun, “Mau bagaimana lagi, Kyu. Restoran benar-benar ramai, apalagi jika musim liburan sekolah seperti ini. Kau sendiri juga tahu ‘kan, pekerjaan Siwon—”

“Ya ya ya, aku mengerti,” Kyuhyun berdecak, “Aish, kalian memang pasangan yang kompak.”

Ini bukan kali pertama bagi Kyuhyun menggantikan peran Ahra dan Siwon dalam mengasuh Hana. Entah sudah berapa kali—sampai tidak terhitung, Kyuhyun memang sering menemani Hana di saat orang tuanya sibuk dengan pekerjaan. Ahra yang memang tertarik dengan bidang kuliner, mendirikan sebuah restoran yang menyajikan makanan khas Korea. Restoran yang didirikan Ahra terbilang sukses, dengan dibukanya 2 cabang di Incheon dan Busan—setelah sebelumnya mendirikan restoran pertama di Seoul.

Sementara Siwon, yang memiliki kemampuan di bidang manajemen dan bisnis, akhirnya menggantikan ayah Kyuhyun untuk mengelola perusahaan mereka. Seharusnya Kyuhyun yang memimpin perusahaan tersebut, namun mengingat kondisinya yang lebih memilih profesi sebagai dokter, maka perusahaan dipimpin oleh Siwon.

//

Ahra duduk sejenak di salah satu kursi yang biasa digunakan pasien, sementara Hana sudah keluar untuk sekedar berkeliling area rumah sakit tempat Kyuhyun bekerja. Wanita itu menatap Kyuhyun serius, mengamati semua kegiatan sang adik yang sedang sibuk membereskan beberapa berkas.

“Ngomong-ngomong, apa sampai sekarang kau masih mencari keberadaan Yoona?”

“Ya,” Kyuhyun menjawab singkat, “Sepertinya dia masih berada di Jepang.”

“Sampai sekarang kau masih mencintainya?”

“selamanya aku akan tetap mencintai Yoona,” Kyuhyun menghela napas, “Walaupun aku tahu dia sudah menjadi milik pria lain.”

“Lalu, apa rencanamu jika sudah bertemu dengannya? Apa kau ingin merebutnya dari Jongsuk?”

Kyuhyun mendongak, pancaran matanya mulai meredup setelah Ahra menyebut nama pria yang berstatus sebagai suami Yoona.

“Jika aku melakukannya, maka aku akan menjadi pria yang sangat jahat,” Kyuhyun menundukkan kepala, “Aku hanya ingin melihatnya saja, memastikan bahwa dia benar-benar hidup bahagia.”

Ahra tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya setiap kali melihat sang adik tampak menderita seperti sekarang. Selama ini, Kyuhyun selalu bersikap baik-baik saja di hadapan semua orang. Bahkan setelah kepergian Seulgi, Kyuhyun selalu mencoba untuk tetap tersenyum di hadapan siapapun, termasuk orang tuanya sendiri. Hanya Ahra yang bisa memahami bagaimana Kyuhyun sangat menderita dengan perasaan cintanya yang begitu terikat pada Yoona, padahal wanita itu sudah resmi menikah dengan Jongsuk—hanya berselang beberapa bulan setelah pernikahan Kyuhyun dan Seulgi.

“Kyu, apa kau percaya pada takdir yang sudah digariskan Tuhan?”

“Tentu saja, noona. Aku selalu mempercayainya,” jawab Kyuhyun sedikit bingung dengan pertanyaan Ahra.

Ahra tersenyum, “Mungkin, sekarang kau belum bersatu dengan Yoona. Tapi, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bisa saja, kau dan Yoona nantinya akan bersatu dan hidup bahagia. Seperti keinginanmu dan juga pesan terakhir Seulgi.”

“Itu keinginan yang terlalu muluk. Bagaimana bisa aku bersatu dengan Yoona, jika dia sendiri sudah—”

“Kita tidak pernah tahu apa yang direncanakan Tuhan untuk kehidupan kita, Kyu,” Ahra memotong ucapan Kyuhyun. “Aku percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik untukmu. Firasatku mengatakan … kau dan Yoona berjodoh.”

Kyuhyun terdiam, ucapan Ahra selalu berhasil menenangkan suasana hatinya. Ia bisa melihat, betapa sang kakak berusaha keras untuk menghiburnya. Hal itu membuat Kyuhyun tanpa sadar tersenyum, terlebih dengan sorot mata hangat yang diberikan Ahra.

“Semoga saja, noona.”

//

Sambil mengusap tengkuknya karena terasa kaku, Kyuhyun berjalan menyisiri lorong rumah sakit. Hana yang tak kunjung kembali ke ruang kerjanya, memaksa Kyuhyun untuk mencari gadis itu. Untung saja tidak sulit bagi Kyuhyun untuk menemukan keberadaan Hana, karena ia tahu persis tempat favorit keponakannya itu tiap kali mengunjungi tempatnya bekerja.

Sebuah taman yang sengaja dibuat oleh pihak rumah sakit—khususnya untuk pengunjung dan pasien agar bisa menikmati udara segar di sana. Ada air mancur yang berada di tengahnya, sehingga menambah suasana asri dan sejuk di sekitar taman.

Awalnya Kyuhyun bersikap biasa setelah menemukan keberadaan Hana, namun dahinya lantas berkerut karena gadis itu ternyata sedang bersama seorang anak laki-laki. Tampaknya salah satu pasien di rumah sakit. Bisa dilihat dari pakaian khusus pasien yang dikenakan anak laki-laki itu.

“Hana-ya!” suara Kyuhyun berhasil membuat gadis itu menoleh padanya.

“O—samchon!” teriakan Hana jauh lebih keras, sampai-sampai membuat anak laki-laki di sebelahnya ikut menoleh.

Kyuhyun mengamati sosok ‘teman baru’ yang duduk di sebelah Hana. Anak laki-laki itu mengulum senyum kepada Kyuhyun, membuatnya sedikit terkejut karena ekspresi wajahnya saat tersenyum mengingatkan Kyuhyun pada seseorang.

“Kami baru berkenalan dan sudah menjadi teman, samchon,” ucap Hana membuyarkan lamunan Kyuhyun, “Namanya Jonghyun.”

Kyuhyun tersenyum, “Halo, aku paman Hana.”

Jonghyun membungkuk hormat, “Namaku Jonghyun, ahjussi.”

“Apa yang terjadi padamu? Sampai kau dirawat di sini,” Kyuhyun bertanya setelah duduk di samping Hana—yang sekarang berada di tengah antara dirinya dan Jonghyun.

“Kemarin aku baru saja menjalani operasi usus buntu, ahjussi. Sekarang sedang masa pemulihan,” jawab Jonghyun.

“Benarkah? Apa sekarang sudah merasa lebih baik?”

Jonghyun mengangguk, “Tapi dokter menyuruhku untuk menjalani perawatan di rumah sakit selama beberapa hari, paling tidak sampai kondisiku benar-benar pulih.”

“Sudah seharusnya begitu, karena yang terpenting adalah makanan yang harus dikonsumsi tidak boleh sembarangan. Apalagi setelah kau menjalani operasi usus buntu,” Kyuhyun tersenyum kemudian mengusap lembut kepala Jonghyun, “Kau harus mendengarkan apa yang mereka katakan, mengerti?”

“Ya,” Jonghyun tersenyum.

“Aku akan sering mengunjungimu, Jonghyun,” sahut Hana dan membuat Kyuhyun mengernyit, sementara Jonghyun tampak senang dengan penuturannya.

“Benarkah?”

Hana mengangguk, “Aku akan menemanimu agar kau tidak kesepian. Lagipula, orang tuaku sangat sibuk dan aku pun tak bisa menikmati liburan sekolahku. Aku sering ke sini untuk menemui samchon, jadi aku bisa datang kapan saja untuk menemuimu.”

“Terima kasih, Hana,” pipi Jonghyun sedikit menggembung saat ia tersenyum, menambah kesan menggemaskan pada wajahnya. Begitu pun Hana, yang tak kalah berbeda dengan Jonghyun. Kyuhyun dibuat takjub dengan kedekatan dua anak kecil di depannya dalam waktu singkat.

.

.

.

.

.

3 days later

Seoul Hospital, Seoul

07.56 KST

“Kau memang gemar meminum kopi hitam.”

“Jungsoo-hyung?” Kyuhyun sedikit kaget dengan kedatangan seniornya—Park Jungsoo. Pria yang usianya terpaut 5 tahun di atasnya itu menarik kursi, lalu duduk di depan Kyuhyun.

“Ada jadwal pagi?” tanya Jungsoo setelah memesan secangkir cappuchino. Ia ingin menikmati suasana pagi bersama Kyuhyun yang sudah lebih dulu berada di cafetaria.

Kyuhyun mengangguk, lalu memperhatikan seorang gadis yang mengantarkan pesanan untuk Jungsoo.

“Terima kasih,” Jungsoo tersenyum kepada gadis itu, selanjutnya menyesap cappuchino yang sudah ia pesan. “Ngomong-ngomong, kebiasaanmu yang gemar meminum kopi hitam itu mengingatkanku pada seseorang.”

“Seseorang?” Kyuhyun mengernyit. “Kenalanmu?”

“Ya, dulu dia adalah dokter yang bekerja di sini,” jawab Jungsoo. “Dia sama sepertimu, berperawakan tinggi, wajah tampan dan sangat cerdas. Sebelum kau yang sekarang menjadi idola di kalangan staff rumah sakit, dia yang lebih dulu menyandang gelar itu.”

“Benarkah? Aku tidak tahu soal itu,” Kyuhyun meletakkan cangkir kopi miliknya.

“Tentu saja kau tidak tahu. Kau baru bekerja di sini selama 3 tahun, sementara dia sudah lebih dulu darimu sejak—kurang lebih 10 tahun yang lalu. Tapi, dia hanya bekerja di sini selama 2 tahun, sebelum akhirnya dipindahtugaskan di rumah sakit yang berada di Jepang,” lanjut Jungsoo.

“Jadi, dia sekarang berada di Jepang?”

Jungsoo terdiam, “Sekarang tidak lagi. Dia sudah meninggal, Kyu.”

“O—maafkan aku, hyung,” Kyuhyun menurunkan tangannya dari atas meja.

“Tak apa, Kyu,” Jungsoo tersenyum tipis. “Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Tidak kusangka, di usianya yang masih muda dia justru pergi mendahuluiku. Dia mengalami kecelakaan bersama istrinya saat tinggal di Jepang. Tepat 1 tahun setelah mereka tinggal di sana.”

“Siapa nama dokter itu, hyung?” tanya Kyuhyun penasaran.

“Lee Jongsuk.”

DEG!

“Namanya Lee Jongsuk,” ulang Jungsoo karena melihat Kyuhyun yang seperti tak mendengar jawabannya.

“Kau yakin namanya Lee Jongsuk?”

“Iya, memangnya kenapa, Kyu?” Jungsoo mengernyit, “Kau mengenalnya?”

“Ti—tidak, aku hanya—,”Kyuhyun sedikit gugup—tepatnya masih shock atas kabar yang disampaikan Jungsoo. “—bagaimana dengan istrinya? Apa dia selamat dalam kecelakaan itu?”

“Ya, istrinya selamat. Saat kecelakaan itu, istrinya dalam kondisi hamil 9 bulan. Untung saja bayi dalam kandungannya selamat. Hari itu juga dia langsung melahirkan,” lanjut Jungsoo.

Kyuhyun tidak bisa berkata apa-apa. Ada perasaan sedih bercampur lega dalam dirinya.

“Aku datang di acara pernikahan mereka, Kyu. Istrinya benar-benar sangat cantik. Namanya—”

“Im Yoona.”

Jungsoo mengernyit, “Dari mana kau tahu namanya?”

Kyuhyun menghela napas, “Dia mantan kekasihku, hyung.”

“APA?!”

//

Donghae berusaha mencari keberadaan Jonghyun karena tidak ada di kamarnya. Ia berdecak kesal. Sudah selama 15 menit menyisiri area di sekitar kamar inap Jonghyun, namun anak itu tak kunjung ditemukan.

“Jonghyun, lihat apa yang kutangkap?”

Langkah Donghae terhenti ketika mendengar suara yang memanggil Jonghyun. Pandangannya tertuju pada taman, dan ia mendapati keponakan yang sedari tadi dicarinya tengah asyik bermain dengan seorang gadis. Donghae bernapas lega, kemudian berjalan menghampiri mereka.

“O—samchon!” Jonghyun terkejut dengan kedatangan Donghae, terlebih wajah kusut sang paman.

“Kenapa kau selalu pergi tanpa pamit? Bagaimana jika ibumu tahu?” Donghae menegur sikap Jonghyun.

“Maaf, aku hanya—”

Ahjussi, Jonghyun tidak bersalah. Aku yang salah karena mengajaknya ke sini.”

Donghae melirik gadis yang berdiri di sebelah Jonghyun. Gadis itu terlihat manis dengan gaya rambutnya ala ponytail. Melihat bagaimana raut wajah bersalah dari gadis itu, Donghae justru tidak merasa marah. Ia senang karena gadis itu sangat sopan.

“Siapa namamu?” Donghae sedikit berjongkok dan tersenyum.

“Hana, Choi Hana.”

Donghae mengusap lembut kepala Hana, “Terima kasih sudah menemani Jonghyun bermain. Tapi, lain kali kau harus menungguku atau ibu Jonghyun sebelum mengajaknya pergi. Mengerti?”

Hana tersenyum lalu mengangguk semangat, “Iya, aku mengerti.”

“Anak pintar,” Donghae menegakkan tubuhnya, “Ngomong-ngomong kau di sini bersama siapa?”

“Aku bersama pamanku. Dia bekerja sebagai dokter di sini,” jawab Hana.

“Jika Hana tidak datang, sesekali pamannya yang menemaniku bermain, samchon,” sambung Jonghyun.

“Benarkah?”

Hana mengangguk, kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling sampai berhenti pada sosok pria dengan jas putih yang berjalan ke arah mereka. “Ah, itu dia! Samchon!”

Donghae memperhatikan arah yang ditunjuk Hana. Bola matanya membulat sempurna, sementara tubuhnya menegang sampai sulit membuatnya bergerak.

“Kyuhyun?”

“Donghae-hyung?” reaksi yang tak jauh berbeda dengan Donghae, Kyuhyun berdiri mematung—hanya berjarak beberapa jengkal dari posisi Donghae.

Hana dan Jonghyun memandangi dua pria dewasa di depan mereka. Keduanya saling berbisik, sedikit bingung dengan reaksi Donghae dan Kyuhyun.

“Kalian sudah saling mengenal?” Hana memecah keheningan dengan suara khasnya. Jonghyun mengangguki pertanyaan yang terlontar dari Hana.

Eoh, kami sudah saling mengenal,” Donghae tersenyum getir, “Teman lama.”

Hana melirik Kyuhyun, namun hanya mendapati sang paman masih terdiam dengan wajah kagetnya.

“Lama tidak bertemu, Kyu,” Donghae mencoba bersikap setenang mungkin, menutupi rasa gugup yang sempat melandanya. “Bagaimana kabarmu?”

“Kabarku baik,” Kyuhyun menjawab singkat, “Bagaimana denganmu, hyung?”

“Aku juga baik.”

“Bagaimana dengan Yoona?”

Ahjussi, kau juga mengenal ibuku?” Jonghyun tiba-tiba menyela dengan suara kerasnya.

Kyuhyun menoleh kaget, “Ibumu? Jadi, kau—”

“Hana-ya, bisakah kau mengantar Jonghyun kembali ke kamar?” Donghae memotong ucapan Kyuhyun, membuat Hana sedikit kikuk, “Dia harus beristirahat.”

Hana memandangi Jonghyun, dan menyadari raut pucat pada anak itu. Tak punya pilihan, Hana menyanggupi permintaan Donghae. Tangannya spontan menggandeng Jonghyun, berjalan meninggalkan Donghae dan Kyuhyun yang masih berdiri, namun tak melepas pandangan mereka satu sama lain.

“Kita perlu bicara, hyung,” ucap Kyuhyun tanpa sadar mengeluarkan suara seraknya.

“Aku tahu,” jawab Donghae singkat lalu berjalan mendahului Kyuhyun. Pria itu menghela napas, sambil melirik ke arah Kyuhyun yang berjalan mengekor di belakangnya.

//

Hana membantu Jonghyun naik ke atas ranjang pasien. Dengan penuh perhatian, ia menarik selimut sampai menutupi sebagian tubuh Jonghyun.

“Terima kasih,” Jonghyun tersenyum senang. “Berkat kau, rasa bosanku berada di sini bisa terobati.”

Hana tertawa kecil, “Aku juga senang bisa menemanimu seperti ini. Orang tuaku sangat sibuk, jadi aku tidak bisa menikmati liburan sekolahku dengan mereka. Aku lebih sering menghabiskan waktu bersama pamanku.”

“Setidaknya kau tidak bernasib sepertiku. Menghabiskan liburan sekolah di rumah sakit seperti ini,” balas Jonghyun. Keduanya lalu tertawa bersama dengan wajah ceria mereka.

“Kapan kau boleh pulang?”

“Mungkin lusa,” Jonghyun mengambil rubik yang berada di atas nakas.

“Benarkah? Itu bagus sekali,” Hana berseru senang, “Masih tersisa lima hari sebelum liburan sekolah berakhir bukan?”

Jonghyun mengangguk, “Kau benar.”

“Jika nanti kau sudah pulang, bolehkah aku datang mengunjungimu? Nanti aku akan meminta samchon mengantarku ke rumahmu. Kita bisa bermain bersama,” raut wajah Hana berubah antusias dengan rencana yang mendadak muncul dalam pemikirannya.

“Tentu,” Jonghyun tersenyum senang.

“O—Hana-ya?”

Hana menoleh ke arah pintu, “Yoona-ahjumma!”

Yoona tersenyum kemudian membalas pelukan yang diberikan Hana. Ia mengusap lembut kepala Hana, “Terima kasih sudah menemani Jonghyun.”

“Sama-sama, ahjumma. Aku senang bisa bermain dengan Jonghyun,” Hana tersenyum lebar, membuat Yoona semakin gemas dengan kepribadian yang dimiliki Hana. Di matanya, Hana adalah gadis yang ceria dan penuh semangat. Ia senang Jonghyun berteman dengan Hana. Setidaknya bisa mengobati kebosanan Jonghyun selama menjalani perawatan di rumah sakit.

“Ngomong-ngomong … di mana pamanmu?” Yoona memperhatikan sekeliling karena tak mendapati keberadaan Donghae.

“Oh, sepertinya dia sedang mengobrol dengan paman Hana,” jawab Jonghyun, mendadak ia menghentikan keasyikannya bermain rubik. Teringat dengan pertemuan Donghae dan Kyuhyun.

“Apa eomma mengenal Kyuhyun-ahjussi?”

“Siapa?” Yoona sedikit kaget dengan nama yang meluncur dari bibir Jonghyun.

“Kyuhyun-ahjussi, dia paman Hana, eomma,” lanjut Jonghyun.

Yoona terdiam, berusaha mengendalikan perasaannya yang berkecamuk. ‘Mungkin saja bukan Kyuhyun-oppa, tapi orang lain yang memiliki nama yang sama dengannya’—batinnya mulai kehilangan fokus.

“Nama lengkapnya Cho Kyuhyun, ahjumma,” sambung Hana. Ucapannya sukses membuat bola mata Yoona melebar—terlihat lebih besar dari biasanya.

Hana dan Jonghyun hanya saling memandang dengan kebingungan di wajah masing-masing. Yoona tampak shock dengan berdiri mematung di depan mereka.

//

Cho Family’s House – Sangji Retzville, Gangnam-gu, Seoul

18.43 KST

Kyuhyun berjalan dengan langkah gontai memasuki halaman depan rumah. Ia renggangkan ikatan dasi yang terpasang di balik kerah kemeja. Sesekali ia menarik napas dan memijat kening karena kelelahan. Sebenarnya bukan kelelahan secara fisik, tapi secara psikis. Apalagi jika bukan karena obrolan dengan Jungsoo dan Donghae siang tadi.

Setelah mendapat informasi dari Jungsoo soal kecelakaan yang menimpa Jongsuk dan Yoona, Kyuhyun tak sabar ingin segera menemui wanita itu. Sepertinya Tuhan dapat mendengar permintaannya, ia langsung dipertemukan oleh Donghae melalui Jonghyun. Bahkan Kyuhyun tak menyadari jika pertemuannya dengan Jonghyun lewat Hana, telah membawanya semakin dekat kepada Yoona.

“Kau sudah pulang?”

Suara lembut dari Ny. Subin membuat Kyuhyun mendongak, lalu mengangguk pelan sambil memeluk wanita paruh baya itu.

“Sebentar lagi makan malam siap,” ucap Ny. Subin seraya mengusap lembut wajah Kyuhyun.

“Aku ganti baju dulu,” Kyuhyun melangkah menuju kamarnya. Ia tak menyadari perubahan raut wajah Ny. Subin yang berhasil menangkap wajah lelah darinya.

Kyuhyun melempar dasinya sembarang ke lantai, kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya memandangi langit-langit kamar, membuat pikirannya kembali menerawang—tepatnya mengingat obrolan dirinya bersama Donghae.

—flashback—

“Bagaimana kabar Yoona, hyung?”

Donghae memutar cangkir kopi yang sudah dipesannya, seolah tak ada hasrat untuk segera menikmati kopinya, “Dia baik. Seperti yang sudah kau lihat, dia sudah memiliki anak.”

“Aku tahu,” Kyuhyun sedikit menunduk, “Syukurlah jika dia baik-baik saja.”

Tak ingin memperlihatkan kesedihannya, Donghae menyesap kopi yang sudah dipesan. “Sepertinya—istrimu sangat baik dalam mengurusmu. Kau terlihat sehat.”

Mendengar penuturan Donghae, Kyuhyun tersenyum tipis, “Sudah kuduga, kau belum mengetahui kabar soal Seulgi.”

Donghae mengernyit, “Apa—maksudmu?”

“Dia sudah meninggal, hyung,” Kyuhyun letakkan sejenak cangkirnya, “Seulgi sudah meninggal 9 tahun yang lalu.”

“Apa?” wajah Donghae berubah gusar, “Kenapa?”

“Dia mengidap penyakit leukimia. Aku menikahinya karena itu adalah permintaan terakhir Seulgi. Bagaimana pun aku memang pernah mencintainya. Itulah alasan kenapa aku menyanggupi permintaan Seulgi,” jawab Kyuhyun.

“Jadi, sekarang kau berstatus duda.”

Kyuhyun mengangguk, lalu tersenyum sembari mengusap tengkuknya.

“Kenapa—tidak mencari wanita lain? Maksudku, kenapa tidak menikah lagi?”

“Aku memang berencana melakukannya, tapi aku sedang menunggu seseorang. Syukurlah, aku sudah menemukan orang itu,” jawab Kyuhyun, sedikit memancing Donghae yang semakin terlihat gusar.

“Benarkah?” Donghae tersenyum tipis di balik cangkir kopi yang sedang ia minum, “Siapa orang itu?”

Kyuhyun melirik tajam, “Adik sepupumu, Im Yoona.”

“Jangan bercan—”

“Jangan berpura-pura lagi di hadapanku, hyung!” Kyuhyun memotong ucapan Donghae dengan dingin. “Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu jika Jongsuk meninggal dalam kecelakaan 8 tahun silam.”

Tubuh Donghae menegang seketika, “Dari mana kau tahu?”

Kyuhyun tak menjawab, membiarkan Donghae bermain dengan emosinya sendiri.

“Aku tanya dari mana kau tahu?” ulang Donghae setelah menaikkan volume suaranya.

“Bukankah dulu Jongsuk bekerja di Rumah Sakit Seoul? Aku tidak sengaja mengetahuinya dari rekan kerjaku yang mengenal Jongsuk,” jawab Kyuhyun.

Wajah Donghae yang semula tegang, perlahan tampak lebih tenang dan berganti dengan raut kesedihan.

Hyung, aku tahu sikapku di masa lalu sudah sangat melukai Yoona. Aku sadar apa yang sudah kulakukan tidak hanya membuatnya terluka, tapi diriku juga tersiksa karena kehilangan wanita yang sangat berarti bagi hidupku. Aku masih mencintainya, hyung. Kumohon beri aku kesempatan kedua untuk membahagiakan Yoona,” pinta Kyuhyun.

Donghae terdiam, menyelami semua keadaan yang membuatnya dilanda kebingungan—tak tahu harus mengambil keputusan apa.

“Sebenarnya … aku berniat mencarikan sosok ayah untuk Jonghyun. Aku tak tega melihatnya tumbuh besar tanpa sosok ayah di sisinya, mengingat saat Jonghyun lahir, Jongsuk justru meninggal karena kecelakaan itu,” Donghae menghela napas, sementara Kyuhyun memilih mendengarkan ceritanya.

“Di antara semua pria yang kukenal, kurasa memang kau satu-satunya orang yang pantas menggantikan Jongsuk. Tapi, semua keputusan akhir berada di tangan Yoona. Aku tak bisa memaksanya untuk menerimamu kembali.”

Kyuhyun menggigit bagian bawah bibir, lalu menarik napas dalam-dalam, “Bagaimana … dengan ingatannya, hyung? Apakah dia sudah mengingatku?”

Donghae tersenyum tipis, “Sebaiknya kau sendiri yang memastikannya.”

—end flashback—

“O—Kyuhyun?” Ny. Subin bingung karena Kyuhyun keluar lebih dulu dari kamar, sebelum ia mengetuk pintu.

“Kau mau ke mana?” Ny. Subin terheran melihat penampilan Kyuhyun yang sudah berganti dengan pakaian santai, namun tampaknya putra bungsunya itu hendak pergi keluar rumah, “Makan malam sudah siap.”

“Ngg … ada sesuatu yang harus kuselesaikan. Aku akan segera kembali, eomma,” Kyuhyun mendaratkan kecupan singkat di pipi sang ibu, lalu melesat pergi meninggalkan Ny. Subin yang masih terbengong.

“Kyuhyun?” Tn. Kangnam yang sedang berjalan dari ruang tengah, memandang bingung karena sikap Kyuhyun yang langsung pergi dengan tergesa-gesa.

“Aku segera kembali, appa,” Kyuhyun sedikit mengeraskan volume suaranya sembari berlari keluar rumah.

Tn. Kangnam mengernyit, lalu mengalihkan pandang pada Ny. Subin yang baru turun dari kamar Kyuhyun. “Dia mau pergi ke mana?” tanyanya penasaran.

Ny. Subin tidak menjawab dan hanya mengedikkan bahu.

//

Seoul Hospital, Seoul

19.21 KST

Yoona memeluk kedua lengannya, sambil mengeratkan cardigan yang ia kenakan. Berjalan seorang diri menyisiri lorong rumah sakit, ingin mencari minuman hangat selagi Jonghyun tertidur setelah meminum obat. Yoona bersyukur kondisi Jonghyun lekas membaik pasca melakukan operasi beberapa hari lalu. Lusa putranya sudah diperbolehkan pulang.

Langkah Yoona terhenti di depan mesin minuman otomatis. Sengaja ia memilih minuman kopi, dan saat memikirkan minuman itu ia justru teringat dengan dua orang yang memiliki kesamaan.

“Bagaimana bisa kalian berdua sama-sama menyukai kopi hitam?” Yoona tersenyum tipis, lalu menunggu kopi yang sudah dipilihnya siap untuk diminum.

Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Yoona kembali ke kamar Jonghyun. Aroma khas dari kopi begitu menggoda, membuat Yoona sesekali menyesap minuman tersebut.

“Im Yoona?”

DEG!

Seperti tersengat listrik, Yoona berjengkit kaget sampai nyaris menjatuhkan cup kopi miliknya. Kakinya seolah melayang, sama sekali tak bisa merasakan pijakannya di atas lantai.

“Kyuhyun-oppa?” bibir Yoona bergetar hebat. Terlalu kaget dengan kemunculan pria itu, rasanya ia seperti lupa bagaimana caranya bernapas.

Senyum haru bercampur bahagia terpancar di wajah Kyuhyun, membuat ketegangan yang sempat melanda Yoona hilang seketika. Ia bahkan bisa merasakan matanya berair, sama seperti mata Kyuhyun yang tampak berkaca-kaca di hadapannya.

“Lama tidak bertemu.”

Menghela napas sejenak, sambil menenangkan suasana hati yang berkecamuk, Yoona hanya mengangguk pelan, “Lama tidak bertemu, oppa.”

Tak ada kesepakatan yang tercipta, namun tubuh keduanya seolah bergerak secara otomatis. Menuju tempat yang hanya bisa mereka gunakan untuk berdua saja. Sebuah pembicaraan serius sudah menanti keduanya.

.

Canggung. Kata yang tepat untuk menggambarkan suasana antara Kyuhyun dan Yoona. Jika diperhatikan dari sikap Kyuhyun, wajar saja kalau pria itu sedikit—atau sebenarnya sangat gugup setelah bertemu lagi dengan Yoona. Namun, kenapa Yoona justru memperlihatkan reaksi yang sama? Apakah ingatan wanita itu tentang sosok Kyuhyun sudah kembali?

“Bagaimana kabarmu?” tanya Kyuhyun memecah keheningan.

“Kabarku baik,” Yoona menjawab singkat, hanya menunduk dan enggan menatap pria itu. “Kau sendiri?”

Kyuhyun tersenyum, tidak masalah jika gadis itu tak ingin melihat ke arahnya, “Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Bahkan setelah bertemu lagi denganmu.”

Yoona mendongak, lalu melirik sekilas pada Kyuhyun yang didapatinya sedang memandangi arah lain.

“Kapan kau kembali dari Jepang?”

“1 bulan yang lalu.”

“Begitu rupanya,” Kyuhyun melirik Yoona, “Oh iya, bagaimana kabar Jongsuk?”

DEG!

Mata Yoona sedikit melotot. Ttangannya meremas kuat pada bagian bawah kursi yang mereka duduki. Melihat reaksi wanita itu, Kyuhyun terdiam dengan sorot mata sendunya.

“Dia—”

“Sudah meninggal.”

“Dari mana kau tahu?” Yoona menoleh kaget ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun menunduk, sekilas Yoona bisa melihat raut kesedihan di wajah pria itu.

“Rekan kerjaku. Jungsoo-hyung yang memberitahuku,” jawab Kyuhyun, “Itu pun obrolan yang tidak disengaja.”

Tidak tahu harus berkomentar apa, Yoona hanya tersenyum tipis, “Benar juga. Kau sudah bekerja sebagai dokter di sini, pasti akan mengetahui informasi itu.”

Kyuhyun terdiam, sadar jika Yoona tengah berusaha menghibur dirinya sendiri.

“Yoona, aku—”

“Oh, oppa apa kau haus?” Yoona memotong kalimat Kyuhyun dan sudah berjalan menghampiri mesin minuman otomatis di depan mereka.

Kyuhyun menghela napas, sedikit tersinggung dengan sikap Yoona yang sengaja menghindari pembicaraan yang akan disampaikannya—apalagi jika bukan keinginan Kyuhyun untuk menjalin hubungan kembali dengan wanita itu. Di samping itu masih ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Kyuhyun. Ingatan. Apakah Yoona sudah mengingat bahwa Kyuhyun adalah mantan kekasihnya?

“Ini.”

Tangan Kyuhyun terangkat, bersiap menerima cup yang dibawakan Yoona. Seketika mata pria itu membulat sempurna, setelah melihat minuman yang diberikan kepadanya. Kopi hitam.

“Dari mana kau tahu jika aku menyukai kopi hitam?”

Tubuh Yoona menegang, sampai-sampai ia berdiri mematung di tempat. Ia membuang tatapannya dari Kyuhyun, karena pria itu terus memandanginya dengan sorot mata menyelidik.

“Aku sedang bertanya padamu,” Kyuhyun mendesak, ingin memastikan pemikirannya tentang ingatan Yoona yang kemungkinan besar telah kembali.

Aksi bungkam Yoona membuat kesabaran Kyuhyun mencapai batas.

“Apa ingatanmu sudah kembali?”

“Ya,” Yoona menghela napas, kemudian menatap Kyuhyun datar, “Ingatanku memang sudah kembali, sejak kecelakaan yang kualami bersama Jongsuk-oppa.”

Mata Kyuhyun berbinar, “Benarkah? Kau sudah mengingat semuanya?”

Yoona mengangguk, “Aku ingat semuanya. Perkenalan kita melalui Siwon-oppa, hubungan kita yang terjalin selama 3 tahun, kau yang memutuskan untuk kembali pada Seulgi, sampai aku mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatanku tentang dirimu, semua yang terjadi selanjutnya sampai sekarang—semua masih membekas dalam ingatanku.”

“Syukurlah,” Kyuhyun tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, “Aku senang kau sudah mengingatku lagi. Itu artinya, kita bisa—”

“Tidak, oppa,” Yoona memotong ucapan Kyuhyun, sudah bisa menebak arah pembicaraan mereka, “Hubungan kita sudah berakhir.”

“Tapi aku ingin memulainya kembali,” Kyuhyun tak ingin mundur begitu saja, melepaskan kesempatan yang sudah ada di depan mata. “Aku tahu, aku sudah berbuat salah dengan melukai perasaanmu. Kumohon beri aku kesempatan kedua dan izinkan aku untuk memperbaiki semuanya.”

“Itu tidak mungkin, oppa,” Yoona mengepalkan tangannya, “Bukankah kau sudah menikah dengan Seulgi? Bagaimana bisa kau ingin menjalin hubungan kembali denganku?”

Mendengar nama Seulgi, Kyuhyun sadar jika Yoona belum mengetahui statusnya yang sudah menjadi duda.

“Aku memang sudah menikah dengan Seulgi, tapi dia sudah—”

“Cukup, oppa! Aku tidak ingin membicarakan apapun soal ini!” Yoona bermaksud kembali ke kamar Jonghyun, namun langkahnya terhenti karena cengkraman tangan Kyuhyun. Dengan susah payah Yoona berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman tangan Kyuhyun. Wanita itu menghadiahi sorot mata tajam untuk Kyuhyun, membuat pria itu hanya tersenyum getir karena kemarahan Yoona memang beralasan.

“Aku memang pantas mendapatkan perlakuan seperti ini darimu,” Kyuhyun menunduk, “Tapi, kau harus tahu satu hal. Perasaanku padamu sangatlah tulus. Aku menyadarinya saat kau mengalami kecelakaan dan terbaring koma selama beberapa minggu. Kondisimu itu membuatku sadar bahwa kau adalah wanita yang sangat kucintai.”

Yoona tersenyum sinis, “Jika kau memang mencintaiku, kenapa kau tetap menikahi Seulgi? Kenapa kau tidak memperjuangkan cintamu padaku, seperti aku yang berusaha mempertahankan hubungan kita meski kau masih terikat pada gadis masa lalumu itu?!”

“Itu karena aku tak punya pilihan. Seulgi, dia—”

“Sudah cukup!” mata Yoona berkaca-kaca, namun terselip kemarahan yang bercampur kekecewaan di sana. Kyuhyun bisa melihatnya dan itu membuat hatinya seperti tersayat pisau.

“Aku tidak mau mendengarkan apapun darimu, oppa. Bagiku, kesempatanmu sudah habis,” Yoona menjauh dari Kyuhyun, tak peduli pria itu terus memandanginya.

“Tidak, kesempatanku masih ada,” suara Kyuhyun membuat langkah Yoona terhenti, “Kau harus ingat, Jonghyun membutuhkan sosok seorang ayah.”

Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Kyuhyun, Yoona terus berjalan menjauhi pria itu. Meninggalkan Kyuhyun yang hanya bisa berdiri dengan raut kesedihan. “Aku mencintaimu, Yoong,” ucapnya lirih.

//

Eomma, dari mana?”

Yoona baru saja masuk ke kamar, saat Jonghyun bertanya padanya. Wanita itu terkejut mendapati Jonghyun sudah duduk bersandar di atas ranjang.

“O—eomma tidak tahu jika kau sudah bangun,” Yoona menelan saliva-nya kemudian berjalan mendekati Jonghyun, menarik sebuah kursi yang berada di dekat ranjang. “Apa kau terbangun karena mencari eomma?”

Jonghyun mengangguk, “Wajah eomma terlihat sedih. Apa terjadi sesuatu?”

Yoona menggeleng, lalu mengusap lembut kepala Jonghyun, “Tidak ada, semua baik-baik saja.”

Eomma yakin?”

“Ya,” Yoona memasang senyum terbaiknya, tak ingin membuat Jonghyun khawatir dengan kondisinya. Sampai detik ini, ia memang menyembunyikan semua masalah dari Jonghyun. Yoona berpikir bahwa dirinya harus tampak baik-baik saja di hadapan sang anak, karena tak ingin membuat Jonghyun turut bersedih.

“Jonghyun, bolehkah eomma bertanya sesuatu padamu?” Jonghyun mengangguk sembari membenarkan posisi selimutnya.

“Apa—” Yoona berdeham sejenak, “—kau menginginkan sosok seorang ayah?”

Awalnya Jonghyun terdiam, belum mengerti maksud pertanyaan Yoona. Sedetik kemudian bola matanya bersinar, “Eomma ingin menikah lagi?”

Wajah Yoona sontak memerah mendengar pertanyaan spontan dari Jonghyun.

“Ti—tidak, bukan itu maksud pertanyaan eomma,” Yoona menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.

Jonghyun meringis lebar, membuat Yoona hanya bisa tersenyum gemas melihatnya.

“Tentu saja ingin, eomma,” suara Jonghyun terdengar lirih, raut kesedihan kini tergambar jelas di wajahnya. “Aku iri melihat ayah teman-temanku yang selalu mengantar mereka ke sekolah. Mereka selalu bercerita bagaimana keseruan menghabiskan waktu di rumah bersama ayah mereka.”

Yoona terdiam, tidak tahu harus berkata apa mendengar pengakuan dari Jonghyun. Ini kali pertama baginya menanyakan masalah tersebut kepada Jonghyun, karena selama ini Yoona tak pernah mengungkitnya.

“Memang benar ada samchon yang menemaniku, tapi tetap saja rasanya berbeda. Pasti akan lebih menyenangkan jika aku menikmatinya bersama appa. Sayangnya appa sudah tiada, bahkan sebelum aku lahir ke dunia ini,” lanjut Jonghyun. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya, namun dengan cepat menghapusnya dan tersenyum karena tak ingin membuat Yoona sedih.

Dengan penuh kasih sayang, Yoona memberikan pelukan hangat kepada Jonghyun. Ia merasa bersalah karena tak pernah memikirkan perasaan Jonghyun. Terlalu egois dan terbelenggu dalam permasalahannya sendiri tanpa pernah mau menyelesaikannya. Bagaimana pun kebahagiaan Jonghyun adalah yang utama.

//

Cho Family’s House – Sangji Retzville, Gangnam-gu, Seoul

21.38 KST

Ny. Subin berdiri dari sofa yang didudukinya, begitu mendengar suara mobil Kyuhyun dari dalam rumah. Dengan antusias ia berjalan menghampiri pintu untuk menyambut putra bungsunya itu.

“Kau sudah pulang?” tanya Ny. Subin saat Kyuhyun masuk ke dalam rumah, namun seketika senyumnya memudar begitu melihat wajah sedih pria itu.

Ny. Subin semakin bingung ketika Kyuhyun langsung memeluknya, tanpa mengatakan apapun. “Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?” tanyanya cemas.

Kyuhyun mengendurkan pelukannya dari Ny. Subin, kemudian tersenyum tipis, “Aku hanya ingin memeluk eomma, dan sekarang aku sangat lapar.”

Ny. Subin tersenyum, tapi naluri seorang ibu sangatlah kuat. Ia tahu Kyuhyun sedang berbohong dan menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi, ia tak mau bertanya lebih dulu. Biar Kyuhyun sendiri yang bercerita padanya.

“Baiklah, eomma akan siapkan makan malam untukmu,” sahut Ny. Subin sembari mengusap wajah Kyuhyun dengan lembut.

Ny. Subin menata hidangan makan malam Kyuhyun di atas meja. Setelah semua siap, Kyuhyun segera menyantap masakan ibunya tersebut.

“Woah, mashita!” seru Kyuhyun yang membuat Ny. Subin tersenyum. Tingkah Kyuhyun seolah kembali seperti anak-anak.

Ny. Subin menopang dagunya dengan punggung tangan. Sorot matanya perlahan berubah serius, “Sudah siap bercerita?”

Mendengar penuturan Ny. Subin, Kyuhyun merasa tersentuh. Sejak wanita paruh baya itu menyambut kepulangannya, Kyuhyun sudah bisa menebak jika ibunya berhasil meleihat kesedihan dari wajahnya.

Kyuhyun letakkan sejenak perlatan makan, kemudian meneguk minumannya sampai habis.

“Aku … sudah bertemu dengan Yoona, eomma,” ucap Kyuhyun kemudian.

“Benarkah?” Ny. Subin membulatkan matanya, “Dia sudah pulang dari Jepang?”

Kyuhyun mengangguk, “Sudah 1 bulan dia berada di sini.”

“Lalu, bagaimana kehidupannya sekarang? Apa Yoona terlihat bahagia?”

“Aku tidak tahu,” Kyuhyun mengusap tengkuknya, “Dia sekarang sudah mempunyai anak yang usianya sama dengan Hana. Bahkan Hana sangat dekat dengan anak Yoona, karena sebelumnya dia menjalani perawatan di rumah sakit tempatku bekerja. Merreka sering bertemu dan bermain bersama.”

Ny. Subin seperti mendapat kejutan besar dengan cerita yang disampaikan Kyuhyun. Untuk sesaat, sorot matanya berubah sendu.

“Mereka keluarga kecil yang bahagia,” Ny. Subin mengusap matanya saat merasakan cairan bening yang bersiap turun. Ia kemudian mengulum senyum ke arah Kyuhyun, berusaha memberikan ketenangan pada putranya. Meski mengetahui wanita yang dicintainya hidup bahagia, Ny. Subin berasumsi jika Kyuhyun tetap merasa iri. Melihat kenyataan bahwa Yoona sudah hidup bahagia bersama pasangannya bahkan sampai mempunyai anak. Bukan dengan dirinya.

“Aku ingin menikahi Yoona, eomma.”

“Eh?” Ny. Subin memekik kaget. Ia menatap Kyuhyun, tak percaya dengan apa yang baru diucapkan putra bungsunya itu.

“Kau jangan bercanda, Kyu. Yoona sudah menikah, bahkan memiliki seorang anak.”

“Aku tahu,” Kyuhyun menunduk, “Tapi, suaminya sudah meninggal, eomma.”

“APA?” kali ini suara Ny. Subin lebih keras. Kyuhyun sudah menduga reaksi ibunya tersebut. Percayalah, tidak jauh berbeda saat ia mengetahui fakta itu dari Jungsoo.

“Suami Yoona meninggal karena kecelakaan yang mereka alami sewaktu berada di Jepang,” lanjut Kyuhyun. “Jongsuk langsung meninggal di tempat, tapi Yoona dan bayi yang dalam kandungannya selamat. Hari saat kecelakaan itu, hari di mana anak mereka lahir.”

Ny. Subin menutup mulut, menahan isak tangis yang bersiap muncul. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Yoona kala itu. Suaminya justru meninggal di hari kelahiran anak mereka. Ironis.

“Benar-benar kebetulan ya, eomma,” Kyuhyun tersenyum miris, “Kami sama-sama sudah menikah, tapi pasangan kami sudah pergi mendahului kami.”

Melihat wajah lelah Kyuhyun, Ny. Subin merasa tak tega dengan beban penderitaan yang ditanggung putra bungsunya itu. Jujur saja, ia sendiri masih tidak percaya dengan apa yang dialami Kyuhyun dan Yoona. Satu hal yang ia yakini bahwa semua ini adalah suratan takdir. Semua yang mereka alami sudah digariskan oleh Tuhan.

“Sepertinya … ini adalah takdir yang harus kalian jalani, Kyu,” setelah berhasil mengontrol emosinya, Ny. Subin kembali berbicara. Kyuhyun mensejajarkan pandangannya dengan sang ibu.

“Tuhan sedang menguji kekuatan cinta kalian, dengan melibatkan Seulgi dan Jongsuk dalam kehidupan kalian,” Ny. Subin meraih tangan Kyuhyun, lalu menggenggamnya dengan erat. “Eomma rasa, Tuhan mempertemukan kalian kembali karena ingin memberi kesempatan kedua kepada kalian. Untuk memperbaiki kesalahan yang kalian lakukan di masa lalu.”

“Jika kau memang masih mencintai Yoona, sekarang adalah waktu yang tepat bagimu untuk mendapatkannya kembali,” lanjut Ny. Subin.

Eomma sama sekali tidak keberatan dengan status Yoona? Dia janda dan sudah mempunyai anak,” ucap Kyuhyun merasa ragu dengan keputusan apa yang akan diberikan Ny. Subin. Apalagi ayahnya.

Ny. Subin tersenyum, “Memang apa bedanya denganmu, Kyu? Kau sendiri juga berstatus duda.”

Wajah tegang Kyuhyun perlahan berganti dengan senyum lebar.

“Asalkan kau hidup bahagia, eomma dan appa sama sekali tidak keberatan menerima kondisi Yoona. Bahkan kami dengan senang hati akan menganggap anak Yoona, seperti cucu kami sendiri,” ucap Ny. Subin. Bagai oase di tengah padang pasir, membuat Kyuhyun tak henti-hentinya mengulum senyum.

Kyuhyun berjalan menghampiri Ny. Subin, kemudian ia memeluknya dari belakang dengan sangat erat. “Terima kasih, eomma,” Kyuhyun mengecup pipi sang ibu.

Ny. Subin mengusap lembut wajah Kyuhyun, “Berjanjilah, kau akan hidup bahagia bersama Yoona.”

“Ya,” Kyuhyun tersenyum, “Aku berjanji, eomma.”

.

.

.

.

.

5 days later

Yoona’s House – Apgujeong, Seoul

08.07 KST

“Jonghyun!”

Jonghyun baru saja membuka pintu rumah ketika Hana berteriak menyapanya. Gadis itu melambaikan tangan, lalu dibalas senyuman lebar oleh Jonghyun.

“Hana!” Jonghyun melirik sosok pria yang berdiri di belakang gadis itu, “Kyuhyun-ahjussi!”

Kyuhyun dan Jonghyun secara spontan melakukan high five. Pemandangan itu membuat Yoona takjub. Tidak menduga jika anaknya bisa sedekat itu dengan mantan kekasihnya.

“Selamat pagi, ahjumma,” suara lembut Hana mengalihkan perhatian Yoona. Ulasan senyum di wajah gadis itu membuat Yoona ikut tersenyum.

“Selamat pagi, Hana-ya,” balas Yoona, kemudian terdiam saat melirik Kyuhyun.

Samchon, kenapa tidak menyapa Yoona-ahjumma?” dengan polos Hana berhasil membuat Kyuhyun dan Yoona merasa canggung. Pria itu hanya mengusap tengkuknya, sementara Yoona menunduk, dan melirik Jonghyun sekilas.

“Selamat pagi,” Kyuhyun menuruti permintaan Hana lantaran tak ingin mengecewakan keponakannya itu.

Yoona mengangguk pelan, “Selamat pagi, oppa.”

Jonghyun mulai tidak betah karena mereka terus berlama-lama di depan pintu. Ia menarik tangan Hana, membawa gadis itu masuk ke dalam rumah. Keduanya terlihat sangat akrab, bahkan sampai mengabaikan Yoona dan Kyuhyun yang masih berdiri di dekat pintu, dengan wajah kikuk keduanya.

“Silakan masuk,” ucap Yoona mempersilakan Kyuhyun. Pria itu hanya mengangguk, lalu melangkah masuk mengikuti Jonghyun dan Hana yang sudah berada di ruang tengah.

Sejak Jonghyun keluar dari rumah sakit, Hana terus merengek kepada Kyuhyun untuk menemaninya pergi menemui anak itu. Namun kesibukan pekerjaan Kyuhyun, memaksa Hana untuk bersabar sampai pria itu memiliki waktu luang, seperti sekarang ini.

Kyuhyun merasa senang ketika Hana mengajaknya untuk mengunjungi Jonghyun dan Yoona. Paling tidak, ada waktu baginya untuk kembali mendekatkan diri dengan Yoona. Ada kesempatan untuk menyambung kembali jalinan yang sudah putus di antara mereka. Namun, melihat bagaimana reaksi Yoona sekarang, Kyuhyun sadar bahwa wanita itu membutuhkan waktu. Ia tidak bisa memaksakan kehendaknya, karena semua keputusan akhir tetap berada di tangan Yoona.

.

Bergelut di dapur, menjadi satu-satunya alasan bagi Yoona agar bisa menghindari Kyuhyun. Beberapa kali Jonghyun mengajaknya untuk ikut bergabung bersama Hana dan Kyuhyun, Yoona selalu berdalih jika dirinya harus menyiapkan makan siang untuk mereka. Yoona merasa bersalah ketika melihat raut kekecewaan di wajah Jonghyun, namun semua segera teratasi setelah Kyuhyun memberikan pemahaman padanya.

Ajaib. Jonghyun langsung menurut begitu mendengar nasehat Kyuhyun, bahkan tampak senang menikmati kebersamaannya dengan pria itu. Bersama Hana, mereka sedang bermain ddakji. Hana yang lebih unggul dari Jonghyun, beberapa kali memenangkan permainan. Kyuhyun dengan senang hati membantu Jonghyun, sehingga keduanya berkomplot dalam satu tim untuk melawan Hana. Jelas saja, dengan bantuan Kyuhyun yang lebih pintar di antara mereka, Jonghyun akhirnya memenangkan permainan.

Yoona tak kuasa menahan tangisnya, melihat Jonghyun tampak bahagia bersama Kyuhyun. Pemandangan yang belum pernah dilihatnya ketika Jonghyun menghabiskan waktu bersama Donghae.

“Aww!” Yoona merintih kesakitan setelah jari tangannya tidak sengaja teriris pisau. Ia tertegun melihat cairan berwarna merah keluar dari jari telunjuk tangan kirinya.

Kyuhyun rupanya mendengar suara Yoona, yang membuatnya sontak berlari menghampiri wanita itu di dapur. Ia terperangah melihat tetesan darah yang keluar dari jari tangan Yoona.

“Jarimu terluka?”

Yoona masih terkejut dengan reaksi panik Kyuhyun, “Tidak apa-apa, oppa. Hanya luka kecil.”

“Luka kecil bagaimana?! Jarimu berdarah, Yoong!” Kyuhyun sedikit berteriak, membuat Yoona serasa terkena serangan jantung karena suara keras Kyuhyun.

Kyuhyun menarik napas dalam-dalam. Oke, mungkin ini memang berlebihan tapi melihat Yoona terluka seperti ini, Kyuhyun tidak bisa menahan emosinya yang begitu mencemaskan wanita itu.

“Maaf, aku sudah membentakmu,” ujar Kyuhyun seraya menunduk, “Aku hanya merasa khawatir.”

Untung saja Hana dan Jonghyun tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dapur. Kedua anak itu masih asyik bermain ddakji.

“Aku akan mengobati lukamu,” Kyuhyun bersiap keluar dari dapur, “Dan setelah ini, aku akan membantumu menyiapkan makan siang.”

Setelah kepergian Kyuhyun, Yoona masih berdiri mematung di posisinya. Entah kenapa, ia merasa senang mendapat perhatian dari pria itu. Tak bisa dipungkiri bahwa dirinya masih amat mencintai Kyuhyun.

.

Meja makan sudah dipenuhi berbagai hidangan yang dibuat Yoona dan Kyuhyun. Jonghyun dan Hana menatap takjub, lalu dengan kompak segera duduk di kursi masing-masing. Wajah mereka tak pernah berhenti memperlihatkan senyum lebar nan menggemaskan.

“Wuah, hebat!” Jonghyun melirik Yoona sekilas, “Eomma yang menyiapkan ini semua?”

Yoona terdiam sejenak, sebelum beralih melirik Kyuhyun yang sudah duduk di sebelah Hana. “Tidak semuanya. Paman Hana ikut membantu.”

Samchon memang gemar dan pandai memasak, ahjumma,” timpal Hana santai, tidak sadar telah membuat Kyuhyun tersipu. Terlebih saat Yoona menghadiahinya sorot mata menyelidik. Seingat Yoona, Kyuhyun sama sekali tidak bisa memasak. Lalu, sejak kapan pria itu bisa memiliki kemampuan memasak yang mengagumkan seperti sekarang?

“Aku ke toilet sebentar,” Kyuhyun memundurkan kursi, lalu pergi meninggalkan ruang makan.

Yoona masih memandangi Kyuhyun sampai tidak terlihat lagi, sementara Jonghyun dan Hana sudah asyik menikmati makan siang.

“Tidak kusangka ahjussi sangat pandai memasak,” Jonghyun tersenyum, “Biasanya seorang pria sangat payah dalam urusan memasak.”

Hana mengangguk, “Itu pengecualian untuk samchon.”

“Tapi—” mendadak Yoona ikut bergabung dengan obrolan Jonghyun dan Yoona, “—dulu seingatku, pamanmu sama sekali tidak bisa memasak, Hana-ya.”

“Benarkah?” Yoona mengangguki pertanyaan Hana, membuat gadis itu terdiam dengan pipinya yang sedikit menggembung.

“Aku tidak tahu, ahjumma,” Hana mengedikkan bahu, “Tapi, eomma pernah bilang padaku bahwa samchon pandai memasak setelah menikah, karena samchon harus mengurusi istrinya yang sakit parah. Bahkan setelah menjadi duda, samchon terbiasa memasak sendiri. Meskipun terkadang halmeoni yang menyiapkannya.”

“Duda? Apa maksudmu?”

“Istri samchon sudah meninggal 9 tahun yang lalu.”

KLANG!

Peralatan makan terlepas dari Yoona, seiring dengan bola matanya yang membulat sempurna. Pengakuan terakhir yang disampaikan Hana benar-benar membuatnya shock, seolah kehilangan kesadaran atas kabar mengejutkan tersebut.

“Me—meninggal?” Yoona tergagap dengan kedua matanya yang mulai berair, “Jadi, Seulgi sudah meninggal?”

“Iya,” kali ini Kyuhyun yang menjawab. Ia baru saja masuk ke ruang makan, dan tidak sengaja mendengarkan percakapan Hana dan Yoona.

Yoona membuang tatapannya dari Kyuhyun. Tidak berani menatap lantaran kondisinya yang kacau, setelah mendengar kabar tentang Seulgi. Semua berita itu membuatnya frustasi.

.

Usai menikmati makan siang, Kyuhyun mengajak Yoona untuk berbicara secara empat mata di taman belakang rumah. Hana dan Jonghyun masih asyik menonton televisi, sehingga keduanya tidak terlalu mempertanyakan urusan mereka.

“Hari itu … hari di mana aku mendatangimu saat hujan turun, lalu jatuh pingsan. Kau ingat?” Kyuhyun melirik Yoona sekilas, dan melihat wanita itu mengangguk pelan.

“Itu adalah hari di mana aku mengetahui kondisi Seulgi,” sorot mata Kyuhyun berubah sendu, “Dia didiagnosa mengidap leukimia stadium 2.”

“Sangat disayangkan, penyakitnya terungkap setelah aku mengatakan pada semua orang jika ingin membatalkan rencana pernikahanku dengan Seulgi,” lanjut Kyuhyun dan sontak membuat Yoona menoleh kaget.

“Membatalkan rencana pernikahan kalian?”

Kyuhyun mengangguk, “Karena hanya kau yang kucintai, tidak peduli kau mengingatku atau tidak, aku akan tetap mencintaimu. Tapi, aku tidak bisa memperjuangkan cintaku itu karena Seulgi harus berjuang melawan penyakitnya. Menikah denganku, itu adalah permintaan terakhir Seulgi.”

Yoona terdiam, tidak tahu harus berkata apa saat merasakan lemas di sekujur tubuh. Kondisi Seulgi yang disampaikan Kyuhyun membuat Yoona ikut merasakan kesedihan yang mendalam. Tanpa sadar cairan bening mulai mengaliri pipi.

“Seulgi dan orang tuanya, sudah tahu kalau aku mencintai wanita lain, yaitu dirimu. Setelah Seulgi meninggal, orang tuanya menyuruhku untuk mengejar kebahagiaanku sendiri, bahkan itu semua tertulis dalam surat terakhir yang ditulis Seulgi untukku,” Kyuhyun menengadahkan kepalanya, menatap langit yang mendadak terlihat mendung. Seolah bisa mengerti bagaimana suasana hatinya sekarang.

“Tapi semua terlambat,” Kyuhyun tersenyum sambil menolehkan kepalanya. “Beberapa bulan setelah pernikahanku dengan Seulgi, kau sudah menjadi milik Jongsuk.”

Tangis Yoona pecah melihat bagaimana sikap tegar yang diperlihatkan Kyuhyun di depannya. Selama ini ia mengira bahwa hanya dirinya yang menderita, tapi semua salah. Kyuhyun adalah pihak yang paling menderita.

Melihat wajah Yoona yang dibanjiri air mata, Kyuhyun merasakan sesak di dada. Ia menangkupkan kedua tangannya di wajah Yoona, dengan lembut menyeka air mata wanita itu.

“Tolong jangan menangis lagi,” bibir Kyuhyun bergetar, tanpa ragu menarik tubuh Yoona ke dalam dekapannya, “Kuharap kau mau memberiku kesempatan kedua. Aku benar-benar ingin melihatmu tersenyum bahagia, Yoong.”

Yoona semakin terisak. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa kondisi ini menimpa dirinya dan Kyuhyun. Tentunya tak ada jawaban lain, karena ini memang sebuah takdir kehidupan yang harus mereka jalani.

//

Donghae memberhentikan mobilnya, sedikit menjaga jarak dari sebuah mobil BMW berwarna hitam yang berada tepat di depan pintu gerbang rumah Yoona. Donghae memicingkan matanya, berusaha keras mengenali sosok pria dengan gadis mungil yang tertidur dalam gendongannya.

Tangan Donghae meremas setir mobil, begitu ia mengenali sosok pria tersebut yang tak lain adalah Kyuhyun, serta Hana.

“Dari mana dia tahu alamat rumah Yoona?” gumam Donghae heran.

Raut wajah serius dari Kyuhyun maupun Yoona, membuat Donghae penasaran terhadap obrolan yang mereka lakukan, sebelum Kyuhyun masuk ke dalam mobil bersama Hana. Donghae tak ingin buru-buru keluar sekarang, menunggu sampai mobil yang dinaiki Kyuhyun dan Hana pergi menjauh dari rumah Yoona.

Yoona baru saja ingin masuk ke dalam rumah, setelah Donghae keluar dari mobilnya. Kedatangan Donghae secara tiba-tiba, tentu membuat Yoona terperanjat. Ia bisa menebak jika kakak sepupunya itu melihat Kyuhyun yang baru saja pergi dari rumahnya.

Oppa, kenapa tidak memberitahuku jika ingin datang?”

Donghae tersenyum tipis menanggapi reaksi kaget Yoona, “Kenapa? Apa aku tidak boleh datang sesuka hati ke rumahmu?”

“Ah, tidak. Bukan itu maksudku,” Yoona sedikit menunduk, tak berani menatap Donghae lantaran kepergok sedang bersama Kyuhyun. Ia tidak tahu harus menjawab apa semua pertanyaan yang akan diberikan Donghae nanti. Semua yang berkaitan dengan kedatangan Kyuhyun hari ini.

“Kita harus bicara,” Donghae terdiam sejenak, “Ini soal kau dan Kyuhyun.”

Tak ada penolakan yang diberikan Yoona. Wanita itu mengangguk, lalu berjalan mengekori Donghae yang lebih dulu masuk ke dalam rumah. Yoona menyempatkan sejenak menghidangkan minuman untuk Donghae. Kini kakak sepupunya itu sedang duduk di ruang tengah.

“Aku tidak akan bertanya untuk apa Kyuhyun datang ke sini, atau dari mana dia tahu alamat rumahmu,” Donghae membuka percakapan dengan intonasi suara yang sedikit meninggi. “Melihat Hana, aku sudah tahu kalau Kyuhyun hanya menemani keponakannya yang ingin mengunjungi Jonghyun.”

Yoona terdiam. Dalam hati, ia memuji kemampuan Donghae yang bisa menebak situasi dengan akurat.

“Jadi—” Donghae berdeham pelan, “—apa kau sudah melihat bagaimana interaksi antara Kyuhyun dan Jonghyun?”

Yoona sedikit terkejut atas pertanyaan Donghae yang menjurus. “Mereka … terlihat sangat akrab. Aku tidak tahu berapa kali mereka sudah bertemu, tapi mereka terlihat nyaman satu sama lain.”

“Benarkah?” Donghae meneguk sejenak minumannya, “Lalu, apa menurutmu Kyuhyun cocok menjadi sosok ayah bagi Jonghyun?”

Oppa, tolong jangan bicara berbelit-belit,” Yoona mendesah pelan, “Katakan saja intinya.”

Melihat kesiapan Yoona, Donghae tersenyum, “Baiklah, akan kukatakan inti dari pembicaraan ini.”

“Bagaimana … jika kau menjalin hubungan lagi dengan Kyuhyun?”

Yoona tidak terkejut dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari Donghae. Sejak awal, ia sudah menduga arah pembicaraan mereka.

“Aku tidak tahu.”

Alis Donghae mengernyit, “Kau sudah tahu soal Seulgi?”

“Ya, aku baru saja mengetahuinya,” Yoona menghela napas, “Kyuhyun-oppa sudah menceritakan semuanya padaku. Dia juga memintaku untuk memberinya kesempatan kedua, agar kami bisa menjalin hubungan kembali seperti dulu.”

“Lalu apa jawabanmu?”

Yoona menggeleng, “Aku belum bisa memutuskan sekarang. Aku masih membutuhkan waktu, oppa.”

“Waktu? Berapa lama lagi waktu yang ingin kau berikan pada Kyuhyun?” tiba-tiba suara Donghae meninggi, membuat Yoona sedikit terhenyak.

“Asal kau tahu, Yoong. Kyuhyun sudah menunggumu sejak kau terbangun dari masa komamu. Setelah kecelakaan yang kau alami, 10 tahun silam,” lanjut Donghae.

Yoona bisa merasakan tubuhnya seperti kehabisan tenaga, sangat lemas—sama halnya hatinya yang tidak kuat mendengarkan penjelasan yang disampaikan Donghae selanjutnya.

“Aku baru saja bertemu Siwon. Dia menceritakan semuanya padaku soal apa yang terjadi pada Kyuhyun,” Donghae memijat pelipisnya, “Awalnya, Kyuhyun ingin mencoba untuk mendapatkanmu kembali, meski ingatanmu tentang dia sudah menghilang. Kyuhyun tak peduli, sampai ia mengatakan pada semua orang ingin membatalkan rencana pernikahannya dengan Seulgi. Jelas-jelas waktu itu mereka sudah bertunangan, tapi Kyuhyun membuang semuanya hanya demi kembali padamu.”

Mata Yoona mulai berair. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Kyuhyun waktu itu, saat dirinya sama sekali tidak mengingat sosok Kyuhyun.

“Kondisi Seulgi yang mengidap leukimia, membuat Kyuhyun tak punya pilihan selain memenuhi permintaan terakhir Seulgi, yaitu menikahinya. Siwon mengatakan, selama mereka menikah, belum pernah sekali pun mereka berhubungan intim, karena kondisi Seulgi yang semakin parah, dan … perasaan Kyuhyun yang begitu mencintaimu.”

Pertahanan Yoona gagal, wanita itu menangis sejadi-jadinya. Donghae yang melihat kondisi adik sepupunya itu tak kuasa menahan air matanya.

“Maafkan atas keegoisanku, Yoong,” ucap Donghae lirih. “Kupikir kau bisa hidup bahagia bersama Jongsuk, melupakan masa lalumu yang kelam saat bersama Kyuhyun. Ternyata aku salah. Takdir berkata lain karena Tuhan sudah lebih dulu memanggil Jongsuk, bahkan sebelum Jonghyun lahir ke dunia ini.”

Oppa … kau sama sekali tidak bersalah,” Yoona menyeka air mata yang mengalir di wajah Donghae. “Aku tahu, kau sangat memikirkan kebahagiaanku.”

Kali ini giliran Donghae yang menghapus air mata Yoona, “Seulgi dan Jongsuk, mereka berdua sengaja dihadirkan dalam kehidupanmu dan Kyuhyun, untuk menguji seberapa besar kekuatan cinta kalian. Aku yakin, sekarang adalah waktu yang tepat bagimu untuk hidup bahagia bersama Kyuhyun. Inilah jalan yang sudah ditentukan Tuhan dalam takdir hidup kalian, Yoong.”

Tangis Yoona kembali pecah. Wanita itu membenamkan wajahnya dalam pelukan Donghae.

//

From : Siwon

Donghae baru saja memberiku kabar

Yoona jatuh pingsan di rumahnya

Kyuhyun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak peduli bahaya yang mengancam keselamatannya, pikiran Kyuhyun hanya terfokus pada kondisi Yoona. Isi pesan yang diterimanya dari Siwon, membuat Kyuhyun merasa dunia seakan runtuh dalam waktu dekat.

Setibanya di rumah Yoona, Kyuhyun bergegas keluar dari mobil. Raut kepanikan terlihat mendominasi di wajahnya. Sambil mengatur napasnya, Kyuhyun menekan bel rumah. Terlalu paniknya ia sampai tak menyadari tangannya yang gemetaran.

KLEK!

Oppa?”

Kyuhyun terkejut mendapati Yoona yang baru saja membukakan pintu. Selanjutnya kerutan di dahi Kyuhyun sedikit terlihat, karena ia mendapati Yoona dalam kondisi baik-baik saja. Tak ada yang berubah sejak ia meninggalkan rumah itu 2 jam yang lalu.

“Kau … kau baik-baik saja?” pada akhirnya Kyuhyun tetap tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pada wanita itu.

Yoona mengangguk, “Aku baik-baik saja, oppa. Memangnya ada apa?”

“Siwon-hyung memberitahuku kalau kau jatuh pingsan. Aku panik sekali dan langsung datang ke sini untuk melihat kondisimu,” Kyuhyun menghela napas, “Syukurlah jika kau baik-baik saja. Aku hanya ingin memastikan kondisimu, itu saja. Aku akan pulang sekarang.”

Yoona terlihat bingung dengan situasi yang baru saja terjadi. Ia masih memandangi Kyuhyun yang mulai berjalan mendekati mobilnya. Saat Yoona menengok ke belakang, ia melihat Donghae sudah berdiri di sana. Pria itu tersenyum, memberi isyarat pada Yoona untuk menyusul Kyuhyun. Barulah Yoona sadar jika situasi ini sengaja diciptakan Donghae, tentuya bekerja sama dengan Siwon.

Tangan Kyuhyun terhenti saat memegang kenop pintu mobil. Dadanya masih bergemuruh hebat. Berulang kali ia mengatur napasnya yang tidak beraturan, sambil memejamkan matanya untuk beberapa detik agar memperoleh ketenangan.

SET!

Kyuhyun terbelalak ketika merasakan sesuatu yang memeluknya dari belakang.

“Maafkan aku,” suara Yoona terdengar lirih, diiringi isak tangis. “Aku sudah membuat oppa sangat menderita.”

Kyuhyun bisa merasakan tubuh di belakangnya itu gemetar. Dengan lembut ia mengusap tangan Yoona, secara perlahan memposisikan mereka untuk saling berhadapan. Yoona masih menangis dengan kepala menunduk. Kyuhyun mengangkat dagu wanita itu, kemudian mulai menghapus aliran air mata Yoona yang membanjiri pipi.

“Tidak, Yoong. Kau sama sekali tidak bersalah. Sejak awal, aku yang melakukan kesalahan karena tidak menghargai cintamu yang begitu tulus untukku. Aku memang pantas menerimanya,” cairan bening mulai turun dari pelupuk mata Kyuhyun. Yoona terperanjat melihatnya, dan spontan saja ia mengusap wajah Kyuhyun—menghapus sisa air mata.

Oppa ….”

Kyuhyun memandang Yoona lekat, “Kita mulai lagi dari awal. Kau mau ‘kan memberiku kesempatan kedua?”

Melihat keteduhan dan kehangatan dari sorot mata Kyuhyun, Yoona bisa merasakan ketenangan yang selama ini ia rindukan. Penantian panjang atas balasan cinta Kyuhyun, akhirnya terjawab sudah—meski harus melalui berbagai rintangan dalam kehidupan mereka.

“Iya,” Yoona mengangguk seraya tersenyum, meski wajahnya masih menyisakan air mata, “Kita mulai lagi dari awal.”

Kyuhyun tersenyum haru. Ia menatap dalam bola mata Yoona, mengunci wanita itu agar tak mengalihkan pandangan darinya. Perlahan bibir Kyuhyun dengan mulus mendarat di kening Yoona. Meninggalkan semburat rona merah di pipi wanita itu.

Eomma?”

Suara Jonghyun membuat pasangan yang baru saja kembali bersatu itu menoleh kaget. Kyuhyun dan Yoona segera melepas tangan mereka yang sempat bertaut. Keduanya tampak kikuk, sedikit bingung menjelaskan situasi yang sebenarnya kepada putra dari pernikahan Yoona dengan Jongsuk itu.

“Kyuhyun-ahjussi?” Jonghyun mengernyit, “Apakah ada barang Hana yang tertinggal?”

“Jonghyun, sebenarnya—” kalimat Yoona terhenti begitu melihat isyarat yang diberikan Kyuhyun. Ia langsung mengerti bahwa Kyuhyun memang berniat memberitahu hubungan mereka pada anak itu.

Jonghyun semakin bingung saat Kyuhyun tiba-tiba merendah di depannya, menyamakan tinggi tubuh mereka..

“Ada yang ingin ahjussi katakan denganmu,” ucap Kyuhyun sembari tersenyum.

Jonghyun terdiam sejenak, lalu melirik Yoona sekilas. “Ada kaitannya dengan ahjussi dan eomma?” tanyanya di luar dugaan seolah sudah tahu dengan gesture yang diperlihatkan Kyuhyun dan Yoona.

“Aku sudah tahu, kalau ahjussi dan eomma dulu menjalin hubungan. Aku sudah tahu semuanya,” Jonghyun tersenyum tipis, “Samchon baru saja menceritakan semuanya padaku.”

“APA?” Kyuhyun dan Yoona berteriak kaget. Pandangan mereka langsung tertuju pada Donghae yang sudah berdiri di depan pintu.

“Kata samchon dulu Kyuhyun-ahjussi melukai perasaan eomma. Apa itu benar?”

“Ya,” Kyuhyun menunduk, “Aku memang melukai perasaan ibumu. Sampai akhirnya ibumu menemukan kebahagiaan bersama ayahmu.”

“Tapi, sekarang eomma tidak bahagia lagi karena appa tidak bersama kami, ahjussi,” ucap Jonghyun dengan polosnya. “Kalau memang ahjussi pernah bersalah pada eomma, maukah ahjussi menerima hukuman?”

“Lee Jonghyun!” Yoona mulai tidak tahan dengan sikap Jonghyun yang dinilainya banyak bicara.

“Tak apa,” Kyuhyun berusaha menenangkan Yoona, lalu mengangguk yakin pada Jonghyun. “Baiklah, katakan hukuman apa yang ingin kau berikan. Ahjussi akan menerimanya.”

Jonghyun terdiam untuk beberapa detik, lalu melirik Donghae yang tampak memberi isyarat padanya. Ia kemudian memandangi Kyuhyun dengan senyum lebarnya, “Ahjussi harus menjaga kami berdua untuk selamanya.”

Mata Kyuhyun membulat, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari Jonghyun.

“Jadi, kau … bersedia menerimaku untuk menjadi ayahmu?”

Jonghyun mengangguk, “Karena sejak awal bertemu dengan ahjussi, aku sudah menyukai ahjussi. Kata eomma, appa seorang dokter dan berwajah tampan. Sama seperti ahjussi. Itulah sebabnya setiap kali bersama ahjussi, aku seperti merasa sedang bersama appa.”

Mendengar pendapat Jonghyun, Kyuhyun lantas memeluk anak itu dengan sangat erat. Yoona tak kuasa menahan air mata harunya, melihat bagaimana Jonghyun dengan terbuka menerima sosok Kyuhyun. Ia kemudian memandang Donghae yang sedang berjalan mendekat, lalu mengusap lembut bahu Yoona.

“Terima kasih, oppa,” ucap Yoona seraya memeluk Donghae.

Donghae merenggangkan pelukannya dari Yoona, lalu melirik Kyuhyun, “Kau harus menepati janjimu. Jaga Yoona dan Jonghyun baik-baik, Buatlah hidup mereka bahagia.”

Kyuhyun mengangguk, “Terima kasih, hyung.”

Jonghyun yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan tiga orang dewasa tersebut, lantas memandangi Kyuhyun dengan sorot mata yang berbinar.

“Jadi, apakah sekarang aku sudah boleh memanggil ahjussi dengan panggilan ‘appa’?” tanyanya dengan raut wajah polos.

“Apa tidak terlalu terburu-buru?” tanya Kyuhyun sedikit ragu. Setidaknya mereka hanya beberapa kali menghabiskan waktu bersama, saat Jonghyun masih berada di rumah sakit dan tentu saja hari ini ketika ia menemani Hana mengunjungi Jonghyun.

Melihat keyakinan di wajah Jonghyun, Kyuhyun tak punya alasan untuk menolaknya, “Tentu saja.”

Mata berbinar Jonghyun kini perlahan berganti dengan sorot mata haru, “Appa, aku ingin pergi jalan-jalan.”

Yoona tersenyum atas permintaan Jonghyun yang begitu polos. Sangat wajar memang, mengingat Jonghyun tumbuh besar tanpa sosok ayahnya.

“Baiklah, kajja,” Kyuhyun mengusap lembut kepala Jonghyun, menurunkan anak itu dari gendongannya.

Tangan kanan Jonghyun menggandeng tangan Kyuhyun, sementara tangan kirinya menggandeng tangan Yoona. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Ia tak berhenti tersenyum sambil memandangi ibu dan calon ayah tirinya tersebut.

Yoona dan Kyuhyun saling memandang. Keduanya tersenyum bahagia. Ini adalah awal dari kehidupan baru yang siap mereka jalani sebagai sebuah keluarga.

.

.

.

.

.

1 years later

Seoul Hospital, Seoul

12.17 KST

Yoona menggandeng Jonghyun menyusuri lorong rumah sakit. Tangan kirinya menenteng sebuah kantung yang berisi kue ulang tahun berukuran kecil. Hari ini Kyuhyun berulang tahun yang ke-30.

Jujur saja, Yoona masih serasa mimpi karena sekarang sudah resmi menjadi istri Kyuhyun. 4 bulan waktu yang dibutuhkan untuk penyesuaian kembali dalam hubungan asmara mereka. Kini usia pernikahan mereka sudah memasuki bulan ke-8. Mereka masih terbilang pengantin baru.

“O—Yoona?”

“Jungsoo-oppa?” Yoona tersenyum sumringah, kemudian bersama Jonghyun menghampiri pria itu.

“Selamat siang, ahjussi,” sapa Jonghyun ramah seraya membungkuk. Membuat Jungsoo tak bisa berhenti tersenyum melihat sikap sopan dari anak itu.

“Selamat siang, Jonghyun,” balas Jungsoo seraya mengusap kepala Jonghyun. “Kau ke sini ingin bertemu ayahmu?”

Jonghyun mengangguk semangat, “Hari ini appa berulang tahun. Kami ingin memberinya kejutan.”

“Ah iya, benar juga,” Jungsoo menepuk pelan keningnya, “Ahjussi hampir saja lupa.”

Jonghyun tertawa kecil melihat ekspresi wajah Jungsoo. Kini pria itu tampak memandang Yoona yang tengah tersenyum.

“Aku senang melihatmu bahagia seperti ini,” Jungsoo menyunggingkan bibirnya, “Aku yakin, Jongsuk juga ikut bahagia melihat kalian dari sana.”

“Terima kasih, oppa,” tanpa sadar mata Yoona berair, namun wanita itu buru-buru mengusap matanya.

Jungsoo mengangguk, “Oh iya, Kyuhyun sedang menangani pasien di lantai 2. Sebaiknya kalian tunggu saja di ruang kerjanya.”

“Baik, oppa. Tolong rahasiakan kedatangan kami,” Yoona sedikit berbisik, meminta Jungsoo bekerja sama.

Jungsoo mengacungkan jempolnya, “Tentu,” balasnya bersemangat. Ia lalu berjalan menuju arah yang berlawanan dengan Yoona dan Jonghyun.

Kajja,” Yoona menggandeng Jonghyun untuk bergegas ke ruang kerja Kyuhyun.

.

Kyuhyun merasa sangat lelah setelah mendatangi beberapa pasiennya yang menjalani rawat inap. Ia bahkan sampai melewatkan jam makan siang, dan sekarang perutnya keroncongan. Kyuhyun merogoh ponselnya dari saku jas, mencoba menghubungi telepon rumah, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Ia lalu beralih mencoba menghubungi ponsel Yoona, namun hasilnya tetap sama. Wanita itu tak kunjung menjawab panggilannya.

“Apa mereka sedang pergi?” gumam Kyuhyun bingung. Tanpa sadar ia sudah berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Ia terdiam sejenak, mencoba menghubungi ponsel kembali namun kali ini ia mendengar jawaban dari sang operator. Dengan wajah kecewa, ia mendorong pintu di depannya secara perlahan.

“KEJUTAN!”

Suara keras dari ruang kerjanya membuat Kyuhyun terkejut. Ia tidak menduga jika Yoona dan Jonghyun sudah menunggunya—dan dengan kue ulang tahun berukuran kecil di tangan mereka.

Saengil chukkae hamnidaSaengil chukkae hamnida …”

Senyum lebar terus terpatri di wajah Kyuhyun, saat Yoona dan Jonghyun sangat kompak menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. Ia kemudian berjalan mendekat, menunggu sampai lagu selesai dinyanyikan sebelum akhirnya meniup lilin yang terpasang di atas kue tersebut. Mereka langsung bertepuk tangan menyambut hari jadi Kyuhyun tersebut.

“Selamat ulang tahun, oppa,” ucap Yoona yang langsung mendapat kecupan manis di kening.

Kyuhyun memeluk Yoona, kali ini memberikan kecupan di pipi, “Terima kasih, Yoong.”

“Selamat ulang tahun, appa,” kini giliran Jonghyun yang mendapat pelukan hangat dari Kyuhyun. Pandangannya lalu beralih pada benda berukuran persegi panjang yang dibungkus kertas kado.

“Ini hadiah dariku,” ucap Jonghyun menyodorkan kotak tersebut, yang segera dibuka oleh Kyuhyun karena tak sabar ingin mengetahui apa isinya. Mata Kyuhyun langsung berbinar melihat sebuah pigura, yang di dalamnya memperlihatkan hasil tangan Jonghyun yang menggambar sosok Kyuhyun dengan setelan jas dokter yang biasa ia kenakan.

Appa menyukainya?” Jonghyun sedikit malu dengan hasil gambarnya.

Kyuhyun mengangguk semangat, “Tentu saja. Appa sangat menyukainya. Gambar yang sangat bagus. Terima kasih.”

Jonghyun tersenyum kecil saat Kyuhyun kembali memeluknya. Ia kemudian menarik tangan Yoona, “Eomma, mana kado ulang tahun untuk appa?”

Wanita itu hanya tersipu melihat bagaimana Jonghyun sangat antusias menunggu gilirannya memberikan kado untuk Kyuhyun. Ia lalu mengeluarkan sebuah benda yang menyerupai amplop, namun sudah dibungkus rapi dengan kertas kado.

“Apa ini?” tanya Kyuhyun penasaran.

“Buka saja, oppa,” jawab Yoona seraya tersenyum.

Kyuhyun membuka kado pemberian Yoona. Dahinya sedikit berkerut ketika ia mendapati sebuah amplop berwarna putih. Dengan segera Kyuhyun membuka amplop tersebut. Ia mendapati ada sebuah foto hasil USG dan selembar kertas.

“Hasil pemeriksaan kandungan?” Kyuhyun membaca tulisan dalam kertas tersebut, lalu melirik foto hasil USG yang dipegangnya. “Yoong, kau—”

“Ya, oppa. Aku hamil,” Yoona lebih dulu menjawab sebelum Kyuhyun bertanya. “Usianya sudah 6 minggu.”

“Be—benarkah?” Kyuhyun tak dapat lagi menyembunyikan rasa senangnya. Pria itu langsung memeluk Yoona untuk meluapkan kebahagiaannya. “Terima kasih, Yoong. Ini adalah kado terindah yang pernah kudapatkan sepanjang hidupku.”

Tangan Kyuhyun bergerak spontan mengusap lembut perut Yoona. Tentu pemandangan itu membuat Jonghyun terheran. Pasalnya, ia sendiri juga belum mengetahui kehamilan Yoona. Wanita itu memang sengaja merahasiakannya dari Kyuhyun dan Jonghyun. Menunggu moment yang tepat untuk memberitahu keduanya.

“Jonghyun, sebentar lagi kau akan menjadi seorang kakak,” ucap Kyuhyun lalu menuntun tangan Jonghyun mengusap perut Yoona. “Di dalam sini ada calon adikmu.”

“Benarkah?” Jonghyun melirik Yoona dengan sorot mata berbinar.

“Ya. Kau akan menjadi seorang kakak,” sahut Yoona.

“HORE!”

Yoona dan Kyuhyun tersenyum melihat bagaimana Jonghyun tampak senang mengetahui dirinya akan mempunyai seorang adik.

//

Cho Family’s House – Sangji Retzville, Gangnam-gu, Seoul

19.06 KST

Tn. Kangnam dan Ny. Subin merasa senang. Malam ini semua anggota keluarga berkumpul untuk merayakan pesta ulang tahun Kyuhyun. Mereka bisa bermain bersama cucu mereka, Hana dan Jonghyun. Terlebih sebentar lagi mereka akan mendapatkan anggota keluarga baru, yaitu buah hati dari Kyuhyun dan Yoona.

Yoona tersenyum melihat keakraban Jonghyun dengan orang tua Kyuhyun. Jonghyun dengan mudah mengambil hati kakek dan neneknya, meski mereka tidak mempunyai hubungan darah. Yoona bersyukur orang tua Kyuhyun menerima kondisinya yang sudah mempunyai anak. Sampai sekarang Yoona tidak pernah lupa, bagaimana ibu mertuanya menangis tiap kali mengingat perjalanan cintanya bersama Kyuhyun sampai akhirnya bisa bersatu seperti sekarang. Semua memang melalui jalan yang panjang, namun berakhir dengan sangat manis.

“Bagaimana kabarmu, Yoong?” suara Siwon membuyarkan lamunan Yoona. Pria itu sudah duduk di sebelahnya.

“Baik. Kau sendiri bagaimana, oppa?” tanya Yoona.

“Aku baik,” Siwon tersenyum sampai memperlihatkan deretan giginya yang rapi, “Mengetahui kau sedang hamil, Ahra jadi iri. Sekarang ia merengek padaku untuk kembali menjalani program kehamilan.”

Yoona terkikik, “Kurasa itu ide yang bagus, oppa. Bagaimana jika kalian berlibur bersama? Ya, anggap saja bulan madu kedua.”

“Ide yang bagus, Yoong!” tiba-tiba suara Ahra menyahuti usulan Yoona. Wanita itu segera duduk dan bergelayut manja di lengan Siwon. “Ayo kita pergi berlibur, yeobo.”

“Hana juga ikut?” tanya Siwon dengan polosnya.

“Aish, jika dia ikut bagaimana kita bisa melakukan ‘itu’ ?”

Wajah Siwon memerah mendengar penuturan Ahra. Sementara Yoona yang melihat sikap keduanya tak bisa menahan tawa. Tawanya terhenti sejenak ketika merasakan tarikan tangan seseorang.

Oppa?” tatapan Yoona tertuju pada Kyuhyun yang sudah berdiri di depannya.

“Ikut aku,” ucap Kyuhyun singkat.

“Ke mana?” tanya Yoona bingung.

“Sudah pasti ingin berduaan saja denganmu, Yoong,” Ahra terkikik pelan.

“Ish, kau tidak perlu iri, noona,” balas Kyuhyun sengit.

Ahra mendengus, “Untuk apa aku iri? Aku juga bisa berduaan dengan suamiku. Benar ‘kan, yeobo?”

Siwon hanya bisa pasrah menerima sikap manja dari Ahra. Kadang ia berpikir kalau Ahra seperti memiliki kepribadian ganda. Tampak sangat menakutkan jika sedang marah, tapi terlihat menggemaskan jika sedang bersikap manja.

Setelah berhasil menghindari pasangan suami-istri super sibuk itu—yang dimaksud Kyuhyun adalah Ahra dan Siwon, kini Yoona dan Kyuhyun berada di halaman belakang rumah mereka. Keduanya tengah duduk di salah satu kursi yang menghadap kolam renang.

Oppa?” Yoona sedikit bingung karena tangan Kyuhyun tiba-tiba melingkar di pinggangnya.

“Aku ingin menikmati waktu berdua saja denganmu, Yoong,” bisik Kyuhyun dengan lembut.

Pipi Yoona merona. Desahan napas Kyuhyun yang begitu dekat membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

“Yoong, kenapa wajahmu memerah? Apa kau tidak enak badan?” tanya Kyuhyun kembali dengan sikap paniknya. Nalurinya sebagai seorang dokter selalu saja membuat Kyuhyun was-was jika ada yang tidak beres dengan kondisi Yoona.

“Aku baik-baik saja, oppa,” Yoona tersipu, “Aku hanya terlalu bahagia. Kau banyak berubah. Belum pernah aku mendapatkan perhatian yang begitu besar darimu seperti ini.”

Kyuhyun mencubit pipi Yoona dengan gemas, membuat wanita itu sedikit berteriak.

“Waktu itu aku terlalu bodoh, menyia-nyiakan wanita yang begitu berharga sepertimu,” ucap Kyuhyun. “Sekarang, aku tidak ingin melewatkan kesempatan agar bisa berduaan denganmu seperti ini.”

“Ish, oppa!” Yoona kembali tersipu ketika Kyuhyun mengecup pipinya.

Kyuhyun terkikik geli, namun kemudian terdiam saat melihat raut wajah sedih Yoona. “Ada apa?” tanyanya heran, terselip rasa kekhwatiran terhadap kondisi Yoona.

“Seulgi dan Jongsuk-oppa, aku selalu memikirkan mereka. Setiap kali mengingatnya, aku merasa sedih karena mereka sudah pergi mendahului kita, oppa,” ucap Yoona.

“Kau benar, aku pun merasa sedih dengan kepergian mereka,” sahut Kyuhyun. Ia mengusap lembut wajah Yoona yang tampak murung, “Tapi, mereka akan jauh lebih sedih jika melihatmu seperti ini. Semua sudah berlalu, Yoong. Mereka tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup kita. Aku yakin, di atas sana mereka tersenyum sambil memandangi kebahagiaan yang sedang kita rasakan.”

Yoona mengangguk, lalu menyunggingkan bibirnya. Untuk beberapa detik, pandangannya tidak bisa beralih dari pandangan Kyuhyun. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya. Hanya tinggal beberapa inci saja, bibir mereka akan bersentuhan.

“Aku mencintaimu, Yoong,” bisik Kyuhyun lembut, kemudian mencium bibir Yoona dalam waktu yang cukup lama.

Yoona membuka kedua matanya, saat menyadari Kyuhyun sudah memposisikan diri seperti semula. Ia menghambur dalam pelukan Kyuhyun, dengan senyum bahagianya, “Aku juga mencintaimu, oppa.”

Seperti kisah kebanyakan orang, Kyuhyun dan Yoona berhasil melalui fase sulit dalam hidup mereka. Mereka sama-sama pernah terpuruk karena takdir yang membuat keduanya berpisah dalam waktu cukup lama. Tapi, mereka tidak bisa membenci takdir. Sebab, takdir itulah yang mempertemukan mereka untuk bersatu kembali.

-THE END-

A/N : Halo😀

Akhirnya aku bisa juga menyelesaikan kelanjutan FF ini. Jujur, part ini malah berasa kayak oneshot. Panjang banget sampe 44 halaman *lol*😄

Maaf kalau ending-nya kurang memuaskan *bow* Jujur ini sampai ganti alur yang ke-4 kali baru bisa fix selesai. Sebenarnya dari dulu aku emang lebih suka cerita yang happy ending macam ini. Tapi, tokohnya emang harus menderita dulu, ibarat kayak “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”😀

Oke, terima kasih buat kalian yang mau bersabar nungguin FF ini publish. Apalagi mesti sabar lagi baca part ini karena super duper panjang😄

Oh iya, untuk FF Remember Me kayaknya bakal aku pending dulu. Mungkin nanti mau nyempatin nulis kelanjutan FF chaptered yang lain hehe, tapi nggak bisa janji bakal publish dalam waktu secepatnya hehe.

Once again, thank you for reading guys

53 thoughts on “Our Story : Destiny

  1. Undeer says:

    Huaaaa ini bikin tersentuh banget tauuuuuuu,kalo emang takdir mah gak kemana ya. Bukti nya aja Yoona sama Kyuhyun bisa bersatu lagi,jelasss mereka udah di takdirkan bersama wkwkwk. Kerenn loh kak ceritanya 4 jempol buat kak risma 👍👍👍👍 kangen deh sama karya karya nya kak risma. Ditunggu ya kak ff KyuNa lainnya^^

  2. kimika says:

    Waktu baca awal’a udah geram sendiri karna Kyu jahat.. Ternyata bgtu kisah’a.. Haha happy ending yg bagus.. Benar2 takdir.. Tp kasian jong suk meninggal tragis sekali., yg penting KyuNa bersatu.. Hahaha ^^

  3. utusiiyoonaddict says:

    yeeeey akhrnya happy end kyuna bersatu, panjang jg ing epep aku puas, tp keknya kecepetan deh ya alur na, hana ama jonghyun jg kok dewasa bgt , tp operol kereeeen crtanya

  4. Anggun says:

    Akhirnya kyuhyun sama yoona bersatu kembali setelah melewati masa-masa sulit
    aku tunggu ff lainnya tentang kyuhyun dan yoona yah thor
    Keep Writing

  5. zubaidah says:

    Ending yang membahagiakan
    Akhirnya cinta mereka bisa bersatu
    Walau banyak rintangan dan perpisahan yang cukup lama..
    Semoga keluarga mereka selalu
    Diberi kebahagiaan..

  6. sigmakleers says:

    Yayaya finally dilanjut *terharu*😥 aaa seneng banget akhirnya happy ending :3 awalnya agak kaget liat keterangan 10years later, sad ending Kah atau berpisahkah. Ya gitulah, tapi2 awww akhirnya happy ending :3 banyak banget konflik batinnya😀 padahal cuma 2 orang yaampun hehe tapi ini keren sekaliii keep writing eonni😀

  7. ChoGyuYoong says:

    Suka ama akhirnya crtanya,.. Stlah bnyak keluar air mata n nangis bombay sekrg senyum2 sndri dc baca,..
    Author-nim thanks ya udh buat akhir yg bahagia untuk keluar kecil kyuna,..
    Saya suka semua ide crtanya author n tentunya pairingny jga..
    Keep writing author,.. Thanks

  8. Kim rae gun says:

    Kereeeeeeeennnn abiiiissss … Aq nungguinnya lamaaaaaaaaaaaaaaaaa bgt amp lupa almt situsnya … Ahahahhahaha tpi klo jodoh mah pasti ketm aja ni link nya ..

    Sooo …
    OMG soo sweet bingiiiit sih …thanks for happy ending,thor …

  9. titien says:

    yeyyy…happy end,seneng deh akhirnya kyuna bersatu.
    walaupun dari awal udah bikin nyesek tapi berakhir dgn bagagia😀
    Lanjuttttt..ff lain nya😉

  10. maya luoxi says:

    walaupun harus berpisah dgn psgan sblumnya, tak masalah, asal mrka masih saling mencintai.. mrka yg sudah pergi,pasti merestui kalian kyuna ^^

  11. kyuyoongiemussketters says:

    uaaahhh eonniii ini bner bner daebakkkkkkk sumpah ini bagus bangett ikut terharu sma keluarga kecil yoona dan kyuhyun

Don't be a siders, Musketeers

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s